Monday, January 11, 2016

"Di Batu Putu Bersama Cinta"

Oleh: Mukhlis Ahsya

“Kita terus mendaki karena kita yakin gunung ini ada puncaknya!” Sebuah teriakan meluncur menaiki tanah terjal yang hampir saja membanting ketahanan fisik. Nyaringnya menipis saat sampai di telingaku.
Aku tersenyum. Di sela sengal-sengal nafas, entah seperti apa wujud senyum itu. Saat kutoleh, seorang anak kecil bersusah payah mengejarku. Ialah Ibad, bocah kelas satu SD yang buatku takjub bukan main. Ia mendaki di keterjalan lebih dari 60 derajat, dengan kondisi medan yang baru diguyur hujan.
“Ayo, pasti ada puncaknya di atas sana!” Suara itu kembali muncul. Meski diucapkan dengan kuat, nyatanya terdengar pelan juga saat sampai di telinga. Kak Rudi, dia pemilik suara itu. Ingaatanku langsung melayang pada kegiatan semalam, mabit di Masjid Al-Amin, masjid mungil di Batu Putu, Teluk Betung Utara.
“Pekerjaan bisa mendatangkan pahala jika kita atur dengan baik. Dan pastinya jangan menghambakan diri pada manusia saat bekerja, caranya ya kerjakan baik-baik apa yang sudah ditugaskan untuk kita. Bukan karena takut pada atasan, tapi semata karena mengharap ridho dari Allah.” Begitu kata Kak Rudi, yang saat ini bekerja di sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Beliau yang dijadikan pemberi ceramah dadakan di agenda mabit kelompok ngaji Al-Mughoyyir, nyatanya tetap bisa menyampaikan materi yang berkualitas.
“Jangan menuhankan ikhtiar!” tekan lelaki yang belum terlalu lama menggugurkan status lajangnya itu. Dengan mengutip Surah Al-Ikhlas beliau melanjutkan,”Allah lah tempat kita menggantungkan segala sesuatu.”
Al-Mughoyyir; “from the circle to the world”, adalah wadah kami menimba ilmu keislaman yang dibimbing oleh Ustadz Ramadhan. Setiap hari Minggu, dari bakda magrib sampai waktu yang sulit ditetapkan, kami mencoba untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah muslim sejati, yang bangga pada agamanya, yang setia mempelajari ilmu-ilmu langit yang diturunkan ribuan tahun yang lalu. Jika tidak ada halangan, setiap seminggu sekali, secara bergiliran kami berdiskusi tentang Islam, mendengarkan shirah nabi, hafalan al-quran sedikit-sedikit, dan hafalan 10 hadis arba’in setiap satu semester. Banyak orang hebat di sini (kecuali aku), salah satu contohnya adalah Riki Septiawan. Temanku satu ini pernah bersepeda lebih dari 15 KM untuk mengaji bersama. Jarak yang fantastis jika ditempuh di bawah gelapnya malam. Tapi, nyatanya Riki pernah mencobanya, dan dia bahagia.
Islam adalah cahaya, mempelajarinya adalah cara memindahkan cahaya itu ke dalam hati. Banyak cara, banyak waktu, banyak kesempatan untuk mendalaminya ketika kita sadar bahwa itulah jalan untuk menjadikan ibadah semakin nikmat, beribadah dengan ilmu. Islam adalah cinta, karenanya hati kami lekat dalam ukhuwah, seperti malam kemarin, di Batu Putu.


Tunggu kelanjutan ceritanya di “Jalan Menuju Pacet”. Kisah pendakian yang mendebarkan.

No comments:

Post a Comment