Oleh: Mukhlis Ahsya
“Cinta itu ibarat hujan, dan kita adalah bumi. Dalam satu masa kita harus terpisahkan oleh keringnya kemarau. Namun, betapa indahnya ketika kita dapati tetes pertama dari langit di ujung penantian yang penuh harapan itu. Lewat hujan Tuhan menghidupkan bumi dari matinya, lewat cinta Tuhan membuat kita benar-benar hidup. Lewat perpisahan sebuah pertemuan layak dijadikan impian yang agung. Pergilah, Mas!” Rentetan kalimat tiga tahun yang lalu tergambar jelas di ingatan Hasan, bahkan suara pengucapnya seolah terdengar lirih di telinganya. Suara isterinya yang terlihat tegar saat melepas kepergiannya menyeberang ke Tanah Harapan. Ia ingat saat bulir air mata mengalir pelan di pipi Refita, isterinya itu buru-buru mengusapnya agar tampak lebih ikhlas melepas kepergiannya.
Kini, ia bersama rombongannya duduk termenung di pelabuhan. Ia menanti seseorang yang sangat ia rindukan. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum manis dan wajah ayunya, mendengar tutur lembut dan suara indahnya saat membaca al-quran. Ia benar-benar merindukan Refita dalam pribadi yang utuh.
Kota Induk telah mati. Kota indah dalam selimut kejayaan itu telah menuai benih keserakahan makhluk paling berakal di bumi. Bumi mengamuk dan memuntahkan isinya. Kemewahan yang terjaga berabad-abad, tenggelam dalam lumpur yang ganas. Kota Induk telah hancur. Kemalangan hampir tak menyisakan sedikitpun harapan di kota yang dibangun dengan tumpahan darah itu. Meskipun lumpur menyusut dan gedung-gedung diperbaiki, namun nasib buruk belum juga merampungkan dendamnya. Pengangguran beranak-pinak dan meluas ke penjuru kota. Kriminalitas, narkoba, dan kemalasan yang telah tumbuh sejak masa kejayaan, kini menjadikan manusia sebagai inang sejatinya. Nyaris remuk keagungan kota yang dielu-elukan dunia itu.
Kapten Eng, satu-satunya pejabat pemerintah yang dapat dipercaya mengumpulkan para pria yang masih kuat fisiknya. Ia mencetuskan gagasan untuk melakukan ekspedisi. Ia menyebutnya ‘perjalanan mencari Tanah Harapan’. Pria berjiwa pahlawan itu mendapat tentangan keras dari berbagai kalangan. Idenya dianggap menyalahi aturan kota. Ia dituduh ingin menghianati kotanya sendiri. Namun, pria tegas mantan pelaut itu bersikukuh. Ia memikirkan masa depan rakyatnya. Mereka membutuhkan tempat baru yang layak untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Baginya bumi Allah itu luas. Berdiam diri di Kota Induk sama saja mebiarkan nasib buruk merenggut masa depan rakyatnya.
Kapten Eng hanya mendapat 150 pria dengan kondisi fisik baik. Tapi baginya itu sudah jauh dari cukup. Lalu mereka memulai perjalanan dengan menggunakan kapal besar dengan perbekalan yang pas-pasan. Dengan berserah diri seutuhnya pada Tuhan, mereka mengarungi luasnya lautan. Ombak beserta badai besar sempat menghajar kapal mereka. Kapten mengira mereka sudah tenggelam, namun nyatanya tidak. Ketika badai reda dan tanah harapan seolah di depan mata, Kapten Eng berbicara dengan lantang di hadapan 150 pria di depannya yang masih utuh. “Apakah selama ini kalian mencari Tuhan?” tanya pria berjenggot lebat itu. Semua terdiam. Mereka bertukar pandang, seolah saling menanyakan apa maksud pemimpinnya itu. “Ketika tadi badai dan ombak besar menerjang kita, ketika usaha maksimal yang kita lakukan seolah tidak ada gunanya, kita meminta pertolongan pada kekuatan di luar kekuatan kita. Hal yang kita mintai pertolongan di saat kita tidak mampu menolong diri kita sendiri saat di tengah lautan tadi, itulah Tuhan. Dia telah menyelamatkan kita, maka berikanlah usaha terbaik kalian. Demi jutaan mata yang menatap harap pada kita, kita harus menuntaskan ikhtiar ini. Allah bersama orang-orang yang menggantungkan harapan pada-Nya,” lanjut Kapten Eng menggelegar. Seketika dada ratusan orang di hadapannya bergetar. Hasan berulang kali mengucap takbir.
Kapal berlabuh, dan kaki mereka menginjak tanah setelah hampir tiga bulan terombang-ambing di lautan. Kapten Eng langsung membagi pria yang ada menjadi beberapa tim yang menjalankan tugas yang berbeda. Pertama mereka mencari sumber air tawar. Setelah masuk cukup jauh ke dalam hutan, akhirnya sumber air ditemukan. Masing-masing tim langsung bergerak. Ada yang melakukan penggalian, penebangan hutan, mencari makanan, mendirikan tenda, dan semua pekerjaan yang telah ditentukan sang pemimpin.
“Beri aku beberapa pria untuk mendekati pantai, Kapten! Biar kami membuat tambak untuk membudidayakan udang, lopster, dan ikan yang akan kami cari di laut,” ucap Hasan. Kapten Eng tersenyum, ia sangat setuju dengan ide Hasan.
Bersama lembut angin laut dan lambai dedaunan hutan, waktu mengalir begitu saja. Tanah Harapan telah mereka sulap menjadi ladang kehidupan. Desain perkotaan telah mereka buat, dan pembangunan terus berjalan. Kapten Eng yang sempat beberapa kali jatuh sakit mewakilkan pekerjaannya pada Hasan yang ia anggap paling mampu di antara yang lain. Hanya sayang, terjangan badai yang mengombang-ambingkan mereka di lautan membuat mereka kesulitan untuk menemukan jalur menuju Kota Induk untuk menjemput masyarakat di sana. Beberapa pria yang pakar melaut telah dikirim untuk mencari kota yang sudah mati itu, hanya saja belum juga terdeteksi. Kota yang pernah berjaya itu seolah raib.
Di Tanah Harapan, Hasan begitu rindu pada Refita. Ia belum genap 5 bulan menikahi perempuan yang amat dicintainya itu ketika akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan ia meninggalkannya saat masih hamil muda demi kebaikan orang banyak. Demi masa depan indah yang ingin dirajutnya bersama isteri yang begitu ia cinta. Setiap malam, bayang suara khas Refita saat membaca al-quran terus terngiang. Mendobrak pintu hatinya dan memasuki ruang di mana rindu bersemayam.
“Kamu rindu padanya, San?” Suara Kapten Eng mengalun pelan.
“Sangat rindu, Kapten.”
“Sama. Aku juga rindu pada isteri dan anak-anakku.” Kapten Eng menghela nafas. “Apa kamu menyesal ikut menyeberang ke Tanah Harapan ini, Nak?” lanjut Kapten. Hasan menatap wajah pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu. Matanya berkaca-kaca. Ada kilau yang berkilat-kilat di mata Kapten Eng. Hasan tahu, bukan hanya ia yang rindu, tapi semua, Kapten Eng dan ratusan pria yang ada di tanah itu, sedang didera perasaan yang aneh.
“Perpisahan itu pasti terjadi, San. Kapan pun itu, kebersamaan di dunia yang fana ini pasti berakhir. Entah itu karena keadaan seperti yang kita alami ini, atau yang jauh lebih pasti karena ajal. Di sana, San. Di tanah yang dijanjikan Tuhan sebagai pusat keindahan, baru kita akan merasakan keabadian dari sebuah kebersamaan. Hanya tinggal kita perankan sebaik mungkin apa yang sudah diamanahkan pada kita di dunia ini, siapa tahu kita mendapat hadiah surga.”
Hasan tak henti menatap pria di sebelahnya itu. Ia benar-benar mengaguminya.
***
Hasan bersama ratusan pria yang lain tetap setia menanti tiang-tiang layar menyembul dari tengah laut sana. Memboyong Refita dan jutaan orang lainnya dalam ratusan kapal besar. Surat yang dibawa merpati telah mengirim kabar tentang sudah ditemukannya Kota Induk. Kota mati itu akhirnya dapat ditemukan setelah pencarian yang memakan waktu selama tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu pula Hasan memendam rindunya.
Azan ashar berkumandang. Jiwa-jiwa dalam penatian itu beranjak dari duduk panjangnya menuju tempat pengaduan. Di Masjid yang telah mereka dirikan sujud mereka terasa lebih indah hari ini. Karena sebentar lagi rindu mereka akan terbayarkan. Usai sholat mereka lebih hati-hati saat berdoa. Tak ingin membuat Tuhan tersinggung dan membatalkan perjumpaan indah yang bertahun mereka nantikan. Mereka tulus dalam rengek pinta yang lembut. Dalam puji yang berharap terbalas indah.
Tiang layar itu benar-benar menyembul, dan terlihat lebih gagah dari biasanya. Meski terasa lebih lambat jalannya, namun akhirnya kapal-kapal itu menepi juga. Pelabuhan sekejap berubah jadi lautan manusia. Menjelma menjadi padang haru dalam iringan lagu teromanrtis sejagad.
Hasan berlari, mengamati satu per satu penumpang yang turun. Beranjak dari satu kapal ke kapal lainnya. Tapi wajah Refita belum juga terjamah matanya. Hingga matahari menyisakan cahaya jingga di gerbang malam, tapi ia belum juga menemukan belahan jiwanya itu.
“San, kita sholat magrib dulu, yuk!” ajak Kapten Eng.
“Tapi aku belum menemukan isteriku, Kapten?”
“Lebih penting mana, Allah atau isterimu?”
Hasan terdiam. Lalu dengan tubuh lesu mengikuti langkah Kapten menuju masjid. Seusai sholat Kapten Eng memperkenalkan Hasan pada isteri dan anak-anaknya. Isteri Kapten tersenyum begitu ramah.
“Kamu yang ikhlas, ya, San. Insyaallah isterimu ada di tempat yang lebih baik saat ini,” ucap isteri Kapten Eng. Hasan tidak paham. Tapi tiba-tiba dadanya terasa sesak.
“Ada apa dengan isteriku, Bu? Di mana dia?”
Mata perempuan setengah baya itu berkaca-kaca. Hati Hasan tambah kacau dibuatnya.
“Isterimu insyaallah syahid. Ia meninggal saat melahirkan anakmu. Anakmu juga meninggal bersamanya,” terang isteri Kapten dengan sangat hati-hati. Hasan tertegun. Tubuhnya terasa bergetar demi mendengar kabar itu. Otot-otot di kakinya terasa lepas semua. Ia ingin jatuh. Ia tidak kuat lagi menopang tubuh yang telah dicekam rasa rindu yang menyaraf. Rindu yang ternyata tidak mampu ia raih. Refita telah tiada. Lalu apa yang ia nanti sampai saat ini? Ia benar-benar tidak kuat. Dunia tiba-tiba tampak begitu gelap.
Angin dan dedaunan bermesraan bersama malam. Rembulan di langit sana bersinar lebih terang dari biasanya. Suasana alam yang indah itu, terasa hambar begitu Hasan membuka mata dan ingat sepenuhnya dengan apa yang ia alami.
Kapten Eng mendekatinya. Mengusap rambut tebalnya dengan penuh kasih. Pria 52 tahun itu dapat merasakan penderitaan batin yang dialami Hasan. Ia merasa getir-getir itu merambat ke hatinya juga.
“San, isteriku bilang, jika kamu sudah siuman aku disuruh menyampaikan pesan dari isterimu.” Kapten membuka pembicaraan dengan lembut. Hasan tergeragap. Ia penasaran dengan pesan dari isterinya. Seolah ada harapan yang bisa ia sentuh.
“Isterimu berpesan bahwa ia menantimu di tempat terindah yang Allah janjikan. Ia akan terus merindukanmu.”
“Sungguh, Kapten?”
Kapten Eng mengangguk. “Kalau sudah ajalnya, di Kota Induk maupun di Tanah Harapan sama saja. Kita pasti akan kembali pada-Nya. Karena tujuan kita hidup bukan untuk sekedar hidup, tapi untuk mati. Dan tujuan kita mati bukan untuk sekedar mati, tapi untuk menuju kehidupan yang sebenarnya.”
Hasan mengangguk.
“Bagaimana pendapatmu tentang Refita?”
“Dia perempuan soleha, Kapten. Dia isteri yang luar biasa.”
“Dia meninggal dalam keadaan mulia, San. Insyaallah ia benar-benar menunggumu di tempat terindah sana.”
Hasan tersenyum. Hatinya terasa lebih sejuk. Pikirannya menjadi tenang seketika. Ia berjanji akan menuntaskan amanahnya di dunia ini. Melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang Muslim sejati. Untuk sebuah pertemuan agung. Pertemuan dengan-Nya dan dengan Refita di tempat yang dijanjikan Tuhan. Untuk sebuah penuntasan rindu di tempat terbaik, ia siap untuk memperpanjang masa rindu di ruang terindah dalam hatinya. Rasa-rasanya, rindu menjadi suatu anugerah yang indah dari sebuah perpisahan.
No comments:
Post a Comment