Oleh: Mukhlis Ahsya
Di raut-raut wajah fajar, aku pernah mendengar ritme merdu yang sebenarnya tak ada. Itulah saat-saat aku terjebak dalam ilusi. Aku terlempar pada masa di mana Nafida berjarak lima meter dariku dengan senyum termanis yang ia miliki. Aku ragu, namun aku berani berkata,”Aku sungguh bersedia untuk menjadi lelaki terbaik untuk Nafida, jika dia mau.” Dengan diiringi kicau burung, renyah teriakan bocah-bocah di halaman, dehem orang-orang di sekeliling, dan lirih kata ‘iya’ dari Nafida; benar-benar menjadi ritme termerdu yang pernah bermalam di telingaku. Sebuah anggukan malu-malu menjelma bagai tarian paling mempesona di jagad ini. Kolaborasi terindah yang baru pertama kali terjamah hati. Namun, aku harus mengakui suatu kenyataan, bahwa itu semua tidak pernah terjadi. Di saat itu, di saat Nafida mengangguk malu-malu, bukan aku yang mengkhitbahnya, tapi Nopan, sahabatku sendiri. Aku hanya duduk menemani, dengan hati berderai-derai berusaha untuk mengulas senyum seikhlas mungkin.
“Kenapa kamu tidak bilang padaku jika orang yang kamu ceritakan selama ini adalah Nafida? Kenapa kamu diam saja saat aku berencana mengkhitbahnya? Aku ini sebenarnya teman seperti apa?” Kalimat Nopan setengah jam yang lalu terus terngiang dalam pikiranku. Mengobrak-abrik setiap sendi keputusan yang telah kubuat sebelumnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bingung di bagian mana aku berani membenarkan diriku. Aku bergeming menanti kalimat selanjutnya dari Nopan. Dalam waktu yang cukup lama kami membisu dalam pikiran masing-masing. Menggerakkan tubuh pun tidak. Semua berubah menjadi kesungkanan yang membiru pasi.
“Nafida sebenarnya mencintaimu, Nad.” Lirih suara Nopan mengalun, terdengar seperti bergumam. Tapi sanggup membuatku terpekik tak percaya. Aku menolehya, mengamati air wajah yang tampak penuh penyesalan. Ada getir-getir pahit yang merambat seketika ke seluruh pembuluh darahku. Mengintimidasi jantung agar berfrekuensi detak lebih kuat.
Aku memang menyukai Nafida sejak kali pertama aku mengenalnya. Setiap hal tentang teman sekelasku itu membuatku kehabisan kata untuk menerjemahkannya. Dan yang paling aku senangi adalah kepribadian Nafida yang begitu berkarakter. Ia selalu menjaga jarak dengan lelaki manapun. Tak ada satu pun lelaki yang bisa meruntuhkan ketaatannya pada agama. Namun hal itu juga yang membuatku merasa tidak selevel dengannya. Ia ibarat permata yang begitu terjaga, dan aku layaknya hiasan murahan dari sampah daur ulang. Jauh bedanya, jauh sekali. Apalagi sejak menginjak semester tujuh, ketika Nopan, teman paling akrab yang aku miliki mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah kuduga. “Di kelasmu ada bidadari kenapa tidak pernah cerita? Aku jatuh cinta, Nad. Aku jatuh hati pada Nafida. Aku ingin melamarnya setelah lulus kuliah nanti. Tidak peduli diterima atau tidak. Akan kucoba.” Dan mendengar itu tembok buatan Iskandar Zulkarnaen seolah berpindah tempat dan berdiri kokoh menyekati aku dan Nafida. Aku hanya tersenyum, sebisa mungkin kubuat manis.
“Zanad, kenapa kamu diam saja?” Suara Nopan menyentakku. Memaksaku meninggalkan kenangan dan kembali ke masa yang sedang kujalani. Masa yang sulit, dengan pernak-pernik problematika cinta yang tak kunjung kering.
“Apa hubungannya denganku, Pan? Dia isterimu, buat apa mencintaiku?”
“Cukup, Nad! Jangan mencoba untuk membohongiku! Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengopi file-mu tanpa izin. Tapi aku penasaran, dan sekarang rasa penasaranku terjawab.”
File? Aku mencoba untuk mencerna ucapan Nopan. File apa yang dia maksud?
“Kumpulan puisi dan catatan cintamu,” jelas Nopan seolah tahu kecamuk tanya dalam benakku. Aku terkejut. Sangat terkejut.
“Apa? Kamu seenaknya saja mengopi file yang bukan hakmu?” Aku tidak terima. Amarah seketika menguasaiku. Bagaimana mungkin orang sebaik Nopan mengambil hak milik orang lain tanpa izin? Rasa-rasanya mustahil. Dan file yang dimaksud Nopan adalah file paling rahasia yang aku miliki. Jika itu dibaca Nopan, berarti dia tahu segalanya tentang perasaanku pada Nafida.
“Seandainya aku bilang padamu, apa kamu akan mengizinkan, Nad?”
“Tidak! Memang seharusnya kamu tidak perlu tahu tentang semua itu. Tidak perlu tahu!” Suaraku mengeras. “Astagfirlah, tidak seharusnya aku begini,” batinku. Kutatap Nopan, terlihat butir-butir bening mengalir deras dari matanya.
“Kamu teman terbaikku, Nad. Ta … tapi, tapi apa yang telah kuperbuat padamu. Kamu pasti sakit hati, Nad. Sulit membayangkan berada pada posisimu.” Suara Nopan parau. Mengurai patah-patah setiap penyesalannya.
“Sudahlah, Pan! Yang jelas dia sudah menjadi isterimu. Jika dia memang mencintaiku, seharusnya dia tidak menerima lamaranmu, kan?”
“Itu karena dia merasa tidak pantas untukmu. Sama halnya denganmu yang merasa tidak pantas untuknya.”
Aku tertegun. Mataku menatap kosong pada lantai yang terhias oleh air mata Nopan. Namun pikiranku melejit ke seluruh penjuru jagad. Mencoba menggapai-gapai waktu yang pernah kulalui. Namun semuanya telah sirna. Nafida dan segala hal hebat tentangnya tetap tak pernah bisa kuterjemahkan. Waktu tidak mungkin ditarik lagi, ia adalah hal yang paling konsisten dengan langkah. Maju, terus ke depan tanpa peduli banyak jiwa yang tertahan oleh masa lalu.
“Seharusnya kamu bilang padaku, Nad!” Jemari pria berambut lurus itu mencengkeram kuat pundakku. Dan dengan pelan menggoncang-goncangkannya. Aku menatapnya. Terlihat matanya semakin sembab. Tidak seharusnya orang sebaik Nopan menagisi keadaan ini. Andai dia tidak tahu. Andai aku lebih cepat menghapus file itu. Mungkin keadaannya sedikit lain. Tapi aku tidak akan terjebak dalam andai yang semu dan menyesatkan. Aku berada di sini dan masa ini, dan aku harus menentukan sikap saat ini juga.
“Apa Nafida tahu kalau aku mencintainya?” tanyaku dengan pelan. Nopan menggeleng.
“Rahasiakan, Pan! Jangan sampai dia tahu! Apa yang aku rasakan biarkan jadi kenangan. Biar kita berdua yang simpan. Kita hidup di masa ini, masa di mana sekarang Nafida adalah isterimu dan aku adalah temanmu. Tak perlu kita tengok-tengok lagi ke belakang! Semua akan menjadi pembelajaran dengan sendirinya.”
Angin berhembus bak membawa keindahan semesta. Menyelinap ke setiap helai kehidupan dengan segala kisahnya. Aku dan semua cerita ini mungkin akan usang dengan sendirinya. Menemui penuntasan kisah yang selalu diharap berujung pada kebahagiaan yang kekal. Cinta tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus. Ia bilang akan ada kelok-kelok yang menyempitkan hati. Akan ada duri-duri yang dengan ikhlas menjalankan peran untuk membuat langkah semakin berat. Cinta hanya menjanjikan pilihan, bahwa setiap insan berhak memilih jalan cintanya masing-masing.
Nafida adalah hal yang tidak mungkin kulupa jika Tuhan tidak mengambil ingatan ini. Dia adalah butir-butir embun yang tertanam di hati orang lain yang masih dapat kurasa kesejukannya. Karena cinta tidak membutuhkan ruang dan waktu, ia hanya membutuhkan hati yang bernasib memilikinya. Akan semua hal yang kumiliki, tentang cinta yang terus melekat ini, biar akhir yang menerjemahkannya.
No comments:
Post a Comment