Friday, January 8, 2016

“Koper Hitam”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Tanah tempatku berpijak dijuluki “Bumi Petani”. Di sini aku lahir, menghirup udara dan melanjutkan wasiat orang tua. Wasiat yang tidak ditulis, tidak pula diucapkan. Sudah mengakar. Mati jika tak sudi menggenggamnya.
Bapakku sudah sirna. Lebur di lambung bumi. Mungkin saja ia sudah terbawa air, dan ditenggak akar kamboja. Sudah lama, sejak usiaku dua puluh tahun. Sejak itu wasiat harus digenggam. Walau tangan harus berkapal-kapal, robek, perih, tapi tidak akan kulepas. Aku tak tahu apa-apa tentang dunia, bapak hanya mengajariku cara menggenggam cangkul, golok, dan arit. Itulah wasiat darinya. Cita rasa seni yang kumiliki hanya seni bercocok tanam. Mungkin hanya aku yang menganggap bertani adalah seni. Aku punya alasan yang kuat. Karena di tanah lahirku ini, jika tak kuanggap bertani adalah seni, maka tak akan bisa kurasakan indahnya bekerja. Terpanggang matahari tentu bukan hal yang sepele. Keringat yang harus terkuras sepanjang hari, otot yang tak sempat mengendur lagi, juga luka yang teramat sulit dihindari, nyaris tak bisa dielakkan. Tapi saat kutuai hasinya, tak ada harganya. Aku bisa apa? Aku tidak tahu tentang dunia. Jadi, kuangap saja bertani itu seni, seniman tak terlalu mempedulikan uang, tapi lebih terpukau nilai-nilai estetika perjuangannya.
Di Bumi Petani hujan adalah sumber kehidupan. Gemah ripah loh jinawi, itu yang kami impikan saat langit menangis. Singkong yang tak sungkan-sungkan tumbuh gemulai, padi yang serempak menghijau, dan pohon karet yang tak pelit akan getah, membuat harap berjejalan di dada. Tergambar masa yang indah, saat anak-anak kami tak lagi menangis karena lapar, mereka tumbuh dengan sehatnya, matanya berbinar cerah. Masa kering, masanya tirakat. Terik panjang merenggut segalanya. Membuat anak-anak kurus_ceking, dan banyak berdiam diri di rumah. Matanya sayu menatap heran, kenapa bapak tidak lagi ke ladang?
Di Bumi Petani, setiap lima tahun sekali kami mengadakan ritual. Kami menyebutnya “Pesta Bumi”. Ini karena bumi akan menyongsong babak barunya. Ia akan memiliki sosok baru yang berkuasa di atasnya. Sosok idealis yang menjadi menara harapan umat. Yang terpancang tegak, dan menjadi tempat berpegang saat beliung kehidupan datang menjajah. Di Pesta Bumi itulah kita dapat melihat orang-orang aneh bermunculan. Berduyun-duyun menenteng koper hitam.
“Dalam koper ini berisi ini, ini, dan ini.” Nyanyian rutin yang sudah mengurat-akar. Mereka menawarkan isi koper, dan bermaksud agar kami mau menukarnya dengan suara.
Sayangnya kami harus melongo berulang-ulang. Mengelus dada setiap harinya. Kami hanya dibuali. Ditipu secara rutin. Mereka seperti penjual yang tak berpekerti. Memberi janji-janji agar pundi-pundi suara kami dapat mereka kantongi. Setelah itu, mereka menjarah segalanya. Dan yang paling tak bermoral, mereka menjarah harapan yang telah kami kumpulkan dengan susah payah.
Aku masih ingat dengan kelakuan si Udin, pengusa Bumi Petani yang dalam hitungan hari akan kadaluarsa itu. Ia dulu naik ke atas panggung, menyejajari dua pesaingnya, Kadir dan Johan. Ia letakkan koper hitam di atas meja, dan dengan sangat berwibawa berujar,”Aku punya rahasia besar. Dalam koper ini ada lumpur ajaib, jika disiramkan ke jalan akan membuatnya hitam seketika. Halus dan kokoh tiada tanding. Bisa dilewati truk raksasa dengan muatan seratus ton. Dan mampu bertahan hingga satu abad.” Kami takjub bukan main. Terbayang jelas di pelupuk mata, jalan Bumi Petani yang berlubang-lubang, berlumpur, yang sangat sulit dilewati saat hujan datang, akan berubah seketika oleh lumpur ajaib dalam koper hitam itu. Jalan akan menjadi hitam, halus, dan kokoh hingga seabad. Pastinya hasil bertani kami akan mudah dijual di negeri seberang, dengan harga yang meninggikan hidup kami. Dan harga barang-barang industri akan turun karena biaya transportasi yang lebih murah. Duuuh, indahnya … .
Apa yang ada dalam koper hitam Udin jauh lebih berharga dari milik Kadir dan Johan. Kadir hanya menawarkan air sakti yang bisa menyembuhkan kusta, sebenarnya cukup menggiurkan. Sedangkan Johan menawarkan ramuan dari Cina yang bisa membuat anak-anak kami menjadi pintar, juga sangat menarik. Tapi, Udin seolah menawarkan hujan saat kami tercekam kemarau panjang. Kami bosan dengan jalanan yang ancur-ancuran. Kami ingin seperti yang lain, dapat berkendara tanpa mengalami retak tulang, seperti naik pesawat terbang, alus. Juga dapat mengusung hasil panen dengan mudah. Udin benar-benar tahu harapan petani. Aku bahkan menangis haru dengan apa yang dijanjikan Udin, aku terpesona habis-habisan.
Tapi … .
Tetanggaku bilang Udin itu pembohong. Hingga masa kekuasaannya akan habis, jalanan masih saja begini. Tubuh terseok-seok saat melewatinya, kadang terjungkal. Tak hanya retak tulang, tapi remuk tulangnya. Lumpur ajaib itu ternyata lumpur sungguhan. Ya, jalan kami benar-benar berlumpur. Kutatapi setiap hari, tapi tak kunjung juga menghitam. Malah harapan dan suara kami yang jadi hitam, hangus oleh mitosnya si Udin.
Dulu, sebelum si tukang tipu yang bernama Udin berhasil memperdayai kami, sebenarnya kami juga sudah kena tipu yang menyakitkan. Tertipu oleh Pak Muzar dan isi koper hitamnya. Pak Muzar yang terpandang itu bilang jika di dalam kopernya ada tongkat. Tongkat yang ia dapat saat kuliah di London. Ia bilang, dengan tongkat antiknya, getah karet yang kami kumpulkan dari kebun bisa disulap jadi berbagai komoditi layak jual. Bisa jadi ban, ember, sepatu, sandal, dan lain-lain. Dengan begitu, getah karet kami akan melonjak harganya. Kata Pak Muzar,”Harga karet akan naik seratus kali lipat.”
Takjub tak terkira yang kami rasakan. Kami bisa sejahtera berkat tongkat antik dalam koper itu. Bahkan aku menebak, Pak Odon yang kebun karetnya berhektare-hektare, bisa jadi orang paling kaya di dunia. Kami menukar suara kami dengan janji Pak Muzar, dan berharap kami bisa untung berlipat-lipat. Tapi, entah apa yang terjadi. Abra Kadabra, tongkat itu benar-benar sakti tak tertandingi. Harga karet turun drastis, dari Rp. 23.000 menjadi Rp. 5.000 per kilonya. Ya ampun, tongkat dari London benar-benar membawa aura sihir yang menakutkan, seperti kutukan.
“Sudahlah, setidaknya Pak Muzar bisa membuat pertunjukan sulap yang hebat. Itung-itung untuk hiburan,” kekeh Mbah Karsan, sesepuh kampung yang terkenal keikhlasannya.
Kata Adnan, teman baikku, sebenarnya pemimpin itu kerjanya gampang. Sumber devisa begitu banyak dan ada di depan mata, tinggal pintar-pintar membuat anggaran. Aku jadi teringat dengan Aminah, isteriku yang begitu lembut. Dia tidak pernah makan bangku sekolah, menjilatpun tidak. Tapi, beras sepuluh kilo dan uang Rp. 100.000 bisa cukup untuk satu bulan, tanpa ada kas bon sama sekali. Padahal kami memiliki tiga anak dalam fase kemaruk. Di sini poinnya. Artinya, isteriku itu jago dalam membuat anggaran, keadaan telah menempanya hingga menjadi seorang manager keuangan adiluwih. Juga kemampuannya mempengaruhi kami, agar hidup jangan berlebih-lebihan, syukur harus meroket. Timbulah pikiran nakalku. Bagaimana kalau isteriku aku calonkan jadi pemimpin Bumi Petani? Jelas ia pakar soal anggaran. Tapi mana bisa? Pendidikan formal adalah syarat mutlak jika ingin jadi penguasa Bumi Petani, minimal sarjana. Lagi pula, biayanya terlampau mahal. Bisa habis trilyunan untuk kampanye dan urusan administratif lainnya. Ongkos dari mana?
Ngomong-ngomong soal minimnya anggaran dalam keluargaku, itu karena “Pesta Bumi”. Aku yang digigit trauma atas janji-janji para penguasa, akhirnya mengambil langkah ekstrim. Hasil panen kujual semua guna membayar orang pintar untuk mengajari anak sulungku hal yang luar biasa. Kuminta para orang pintar itu untuk mengajari anakku ilmu mempertajam mata. Agar anakku bisa melihat benda-benda yang tersembunyi, di balik tembok sekalipun. Tujuannya jelas, yaitu agar anakku bisa melihat isi koper hitam yang ditenteng para calon penguasa. Biar kutahu pasti, mana yang kopernya benar-benar berisi.
***
Penduduk Bumi Petani tampak kuyu saat beranjak dari rumah masing-masing. Dengan malasnya mereka berbondong–bondong ke TPS (Tempat Penjualan Suara). Mata mereka memancarkan sorot traumatik yang mendalam, sama persis dengan mataku. Kami takut rugi lagi dalam transaksi ini. Suara hanya terbuang sia-sia, janji tak kunjung juga menunjukkan buahnya. Tapi, jiwa petani adalah jiwa yang penuh dengan harapan. Bahkan, harapanlah yang membuat kami bertahan hidup. Walau dikhianati beribu kali, kami akan tetap berharap. Berharap pada koper hitam musiman yang ditenteng orang-orang aneh. Berharap kali ini koper hitam itu benar-benar berisi keajaiban.
Kali ini ada tujuh makhluk yang meneteng koper hitam. Jumlah yang fantastis. Pakaian mereka hampir serupa. Celana hitam, kemeja merah, dasi kuning, dan jas pink. Hanya alas kaki yang berbeda. Dengan berwibawa naik ke atas panggung. Menatap tajam. Seolah ingin meyakinkan kami, bahwa mereka adalah wakil Tuhan. Koper hitam diletakkan di atas meja masing-masing. Hitam pekat. Seolah habis menyerap dosa-dosa seluruh penduduk bumi. Aku coba menebak-nebak, sepertinya kali ini akan ada yang menawarkan kacang ajaib, sekali telan kenyang selamanya.
Anak sulungku sudah bersiap siaga, konsentrasi penuh. Nafasnya teratur. Matanya tajam mengancam koper-koper hitam di atas meja. Kuamati baik-baik tingkah anak itu. Sekejap tubuhnya menggigil. Matanya terbelalak. Lalu terduduk pucat pasi. Semua berlangsung begitu cepat. Aku panik dibuatnya.
Anak sulungku mengalihkan pandangan. Ia menatapku ketakutan. Kucoba membuang rasa panik jauh-jauh. Kucengkeram kedua pundaknya kuat-kuat.
“Bagaimana, ada isinya tidak?”
“Koper-koper itu…” Suara anakku tercekat. Aku berdebar penasaran. “Kopernya… berisi tuyul semua, Yah. Hati-hati! Mereka akan mencuri uang kita.”
Dummmm. Kepalaku seperti ketiban palu. Pening, berat teramat sangat. Bocah-bocah botak berkain popok tiba-tiba berlarian mengelilingiku sambil mengibas-ibaskan uang. Dan, gelap … .













No comments:

Post a Comment