Saturday, August 14, 2021

Naik Bis Gratis tapi Bayar

 

Kita nih satu rombongan, kira-kira 10.000 orang lah, naik bis fasilitas negara. Kok muat? Ya muat-muat aja lah, kan lagi ngayal ini mah.

Naik bis dengan  tujuan buat ngambil hadiah dari pemerintah karena kita udah kerja keras untuk negara. Bis ini gratis karena biaya operasional dan gaji petugas-patugas di bis itu udah ditanggung pemerintah. Beda-beda sih gaji petugasnya, ada yang gede banget, ada yang standar honorer. Pemerintah melarang petugas-petugas di bis itu narik ongkos perjalanan, dan juga ngelarang penumpang buat bayar atau ngasih-ngasih sesuatu ke petugas. Buat menjaga integritas lah kira-kira. 


Suatu hari ada tuh penumpang nan dermawan, merasa iba dengan petugas-petugas di bis itu. Dan si petugas sih sebenernya juga ngode-ngode gitu biar dikasih duit lah. Masak iya abis ngambil hadiah gak mau berbagi dikit aja, kan udah dianter. Ia inisiatif ngasih lah uang ke petugas dengan alasan biar tambah semangat kerjanya dan sebagai ucapan trimakaseeeh udah dilayani dengan baik. Karena mungkin lagi khilaf atau memang udah merencanakan untuk khilaf, lupa tuh petugas sama aturan yang berlaku. Ya ditrima uangnya dengan berjuta trimakasih.


Apa yang dilakukan si dermawan lambat laun diikuti oleh penumpang yang lain, karena kode-kode dari petugas bis makin kuat juga sih.  Hingga akhirnya semua penumpang bayar. Gak semua juga sih sebenernya, ada lah kira-kira 5 - 10% nya gak bayar. 


Suatu hari lagi nih, ada 10 penumpang baru di bis itu. Mereka ini kebetulan satu rombongan. Terus ada penumpang lain yang mereka kenal bilang ke mereka, ngasih tau kalau petugas bis kayaknya ngode-ngode gitu biar mereka bersepuluh ini bayar seikhlasnya. Kaget lah penumpang sepuluh ini dan terbelah jadi 2 kubu, kubu 1 mau iuran buat bayar (itung-itung sedekah katanya), sedangkan kubu 2 gak mau bayar. Ya jelas lah ya alasan si kubu 2 ini, karena ada aturan yang melarangnya. Salah dong berarti kalau bayar. Lagian di agama mereka ada dalil yang bunyinya begini: "Dari Abdullah ibn Buraidah dari ayahnya, Rasulullah saw bersabda: siapa yang kami tugaskan untuk melakukan sesuatu dan kami telah memberikan insentif untuk tugasnya itu, maka apa yang diambilnya selain dari itu termasuk “ghulul” khianat atau korup."


Masih banyak sih dalil sejenis, yang saling menguatkan melarang aktivitas semacam ini. 


Akhirnya kubu 1 bayar dan kubu 2 kagak bayar. Dan mereka sama-sama mendapatkan hadiah yang memang hak mereka.


Di lain hari protes lah si kubu 1, mengimbau agar kubu 2 tetep bayar nanti kalau naik bis lagi. Keukeh si kubu 2, ogah katanya. Ngapain bayar, orang bis gratis kok. Kalau bayar justru salah. Agak jengkel si kubu 2 sambil bilang,"Masak iya kita satu bis, sebagian bayar  tapi sebagian lain gak bayar. Situ taat aturan, tapi gak humanis, gak merhatiin perasaan orang lain."

Si kubu 2 terheran-heran. Lah ngapa kita-kita yang jadi disalahin yak? Masak iya naik bis gratis tapi bayar? Mana melanggar aturan pula. Dan gak kebayang tuh kalau 10.000 orang semuanya bayar. Berapa banyak duit yang diterima petugas-petugas bis itu??? Gokil kan...


Yang salah siapa???

Yang paling salah ya petugas-petugas bis itu kayaknya. Coba aja mereka punya integritas, jadi waktu penumpang mau bayar, mereka jawab tuh: "Maaf-maaf nih yeee. Kite2 emang gajinya kagak seberapa, tapi kite udah dibayar untuk pekerjaan ini. Jadi, kalau lu lu pada mau sedekah, kasih tuh ke orang-orang terdekat lu. Kasih ke anak-anak tetangga lu atau anak-anak  di sekitar lu yang nyaris putus sekolah, yang kagak punya hp dan kagak punya kuota internet buat sekolah daring. Kasih tuh ke temen-temen lu yang gajinya masih ratusan ribu. Intinya, kite-kite punya integritas."

Mantap bener kalau kayak gitu mah, udah macam di felm-felm. Bau surga tuh kira-kira keringet mereka.  




Petugas-petugas bis yang kurang memiliki integritas seperti ini bisa cukup mudah kita temui di negeri ini. Mereka biasanya pelayan publik yang suka bilang bayar seikhlasnya, dosen yang suka minta dibeliin ini itu ke mahasiswa bimbingannya, dll deh .. banyak banget pokoknya.


Semoga bermanfaat.

Thursday, July 12, 2018

Sukses Menulis Ala Gol A Gong

Di kalangan pegiat literasi, siapa sih yang tidak kenal Gol A Gong? Beliau adalah penulis sekaligus traveller yang telah mengunjungi banyak tempat di belahan dunia dengan bermodalkan tulisan.
Apa, sih, sebenarnya rahasia dari keberhasilan lelaki petualang ini, sehingga bisa menghasilkan banyak tulisan?
Ternyata rahasianya itu adalah ilmu. Menurut pria bernama asli Heri Hendrayana Haris ini, untuk bisa menghasilkan buku kita harus berilmu. Jadi, menulis itu bukan sekedar memindahkan hayalan dalam rangkaian kalimat, tetapi juga butuh prosedur ilmiah. Kita butuh data dan riset dalam menulis. Juga butuh pengalaman empiris, wawancara, diskusi, agar tulisan menjadi hidup. Dan yang tidak kalah penting kita harus tahu bahwa tidak ada karya yang sukses tanpa melewati proses revisi berkali-kali. Jadi naskah harus dikoreksi ulang, meminta pendapat orang lain, lalu diperbaiki lagi hingga puluhan kali.
Biar lebih mudah, Gong dalam bincang-bincang bersama pegiat literasi Metro membagi proses menulis menjadi tiga. Yaitu persiapan menulis, menulis, dan revisi.
Pertama kali yang harus dilakukan adalah persiapan. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya sematang mungkin. Mulai dari menyusun unsur intrinsik, baik itu ide cerita, tokoh, penokohan, latar, dan lain-lain. Lalu semua dirangkai menjadi sebuah outline untuk membentuk sebuah kerangka karangan. Tujuannya adalah agar tulisan yang dibuat jelas arah ceritanya.
Kedua yaitu menulis. Setelah persiapan matang, langkah selanjutnya adalah mulai menulis. Tetapi perlu diingat, jangan mulai menulis jika belum siap menulis. Jadi pastikan semua sudah benar-benar siap, sehingga nantinya proses menulis tidak berhenti di jalan.
Ketiga adalah revisi. Tulisan harus direvisi berulang-ulang agar menjadi sangat baik. Tidak ada karya yang berhasil tanpa proses revisi.
Nah itu tadi rangkaian dari hal-hal yang harus kita lakukan untuk menghasilkan karya tulis, sehingga tulisan menjadi sangat baik.
Sebagai motivasi. Semua penulis dengan karya-karya hebatnya awalnya adalah penulis pemula. Mereka bukan siapa-siapa  dan tidak dikenal. Sehingga kata Gong, semua butuh perjuangan, butuh kerja keras. Gong sendiri awalnya adalah pemuda dengan kondisi tangan kiri buntung yang merantau ke Jakarta demi mengejar impian menjadi penulis. Dan sekarang dia menjadi penulis yang luar biasa.
Oh, iya. Sekedar memberi kabar baik, bahwa insyaallah salah satu karya Gol A Gong, yaitu 'Balada Si Roy' akan diangkat ke layar lebar 2019 nanti. Tunggu aja ya. Dan jangan lupa nonton di bioskop.

Tuesday, July 10, 2018

Menyusuri Lembah Pelangi



Gak ada kata capek untuk para petualang itu bohong. Nyatanya kami capek. Hanya saja capeknya itu keren, fantastis deh.
Minggu, 08 Juli 2018 aku bersama lima orang teman berangkat menuju Ulu Belu. Kami berangkat teNamun pukul 17.30 dari Metro dengan tujuan utama Air Terjun Pelangi, Pekon Ngarip, Ulu Belu, Tanggamus.
Di dekat Bandara Radin Intan II kami mampir untuk menunaikan salat magrib. Karena bagi kami jalan-jalan sampai lupa ibadah itu adalah kepalsuan. Karena tujuan dari perjalanan bukan sekedar wisata, tapi untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah.
Dengan tiga sepeda motor, kami melanjutkan perjalanan dan di Gedung Tataan, Pesawaran, kami mampi lagi untuk makan. Jalan-jalan juga jangan sampai lupa makan. Bahaya.
Setelah melewati Pesawaran dan Pringsewu, kami akhirnya disambut dengan tulisan 'Selamat Datang di Kabupaten Tanggamus'. Meski sudah sampai Tanggamus, namun tempat tujuan kami masih jauh. Uniknya di perjalanan ini tidak ada satupun di antara kami berenam yang pernah ke Ulu Belu. Modal kami hanya google map dan tanya-tanya orang.
Memasuki daerah Gisting kami memutuskan untuk istirahat sebentar di Rest Area Tanggamus. Meregangkan otot sambil menikmati bandrek. Hanya saja kami disarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan oleh tukang parkir. Alasannya untuk berhati-hati karena kondisi sudah malam. Kami pun setuju untuk bermalam di Rest Area dan melanjutkan perjalanan selepas subuh.
Esoknya setelah sarapan dan jalan-jalan di lorong pasar Gisting, kami melanjutkan perjalanan. Meninggalkan daerah Gisting membuat kami mengerti mengapa kami dilarang melanjutkan perjalanan malam-malam. Ternyata jalanan menuju Ulu Belu semacam jalanan pegunungan. Meliuk-liuk dan sepi. Namun hal tersebut merupakan bonus karena di sepanjang perjalanan mata kami disajikan pemandangan yang sangat indah.
Sebelum ke lokasi wisata, kami mampir di masjid Nurul Iman, Pekon Datarajan, Ulu Belu. Masjidnya sangat indah dan bersih. Di teras masjid difasilitasi dispenser, gula, kopi, dan teh. Artinya boleh bikin minum gratis.
Setelah istirahat beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan menuju ke air terjun pelangi. Tapi karena masih pagi, kami jalan-jalan dulu melihat Pertamina Geothermal Energy atau lebih dikenal Pertamina Uap. Pemandangan lembah, saluran panjang, pohon, asap, dan kabut pagi benar-benar memanjakan hati. Jalan yang meliuk-liuk menambah sensasi perjalanan.
Puas di Pertamina Uap, kami meluncur menuju air terjun. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit kami pun sampai. Namun, sayangnya karena hari Senin, tempat wisata yang sedang naik daun itu sepi. Bahkan penjaganya saja belum datang.
Menuruni lembah pelangi kami disambut dengan suara-suara binatang yang bersahutan. Panorama kebun kopi membuat semangat semakin menjadi.
Akhirnya kami mendengar suara air yang begitu keras. Dan sekejap mata kami takjub dengan apa yang ada di depan kami, air terjun pelangi...

Friday, February 16, 2018

Hidup Adalah Puisi




Hidup adalah puisi
Ia menjangkau jauh hingga apa-apa yang tidak terlihat
Ia menikmati meski nyatanya derita yang ia tanggung
Ia bahagia bahkan atas sakit dan luka yang mendera

Hidup adalah puisi
Raganya di dunia, namun hati dan lakunya memandang jauh ke akhirat sana
Deritanya berkepanjangan, tapi nikmat ia rasa atas luruhnya dosa-dosa
Begitu pula atas sakit dan lukanya, ia tahu ada pengampunan baginya

Hidup adalah puisi
Ia mengingat mati bukan karena takut, tapi karena rindu
Ia tak membenci bukan karena tak mampu, tapi karena ia lebih mampu menepisnya
Ia tak kasar bukan karena terlahir lembut, tapi ia sedang berjihad melawan nafsunya

Hidup adalah puisi
Ia adalah serangkai kata yang dipilih dari kata-kata lainnya
Ia adalah perjalanan menuju kampung  yang tertulis dalam kitab langit
Ia adalah labuhan rasa menuju pemilik cinta yang sebenarnya

Hidup adalah puisi
Karena ia akan tetap hidup selama hidup itu masih ada

Tuesday, February 6, 2018

Puisi Perjalanan


“Kakiku Telah Jauh Menempuh Jarak”

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Meninggalkan tempat aku berasal
Sebuah ruang hidup yang menyimpan arti sebuah nurani
Pada surau dengan tiang-tiang rapuhnya
Pada mushaf yang pudar menyisakan kertas berlubang-lubang
Pada suara-suara belia yang kini sudah pergi dibawa angin

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Dan kini yang kulihat di jauh sana adalah derita
Di dekat sini adalah tangis
Aku harus bagaimana?
Perlukah kusembuhkan derita itu?
Bisakah kuhapus setiap tangis?
Mana aku tahu?

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Maka akan kukisahkan padamu, kawan
Tentang orang-orang berwajah manis namun terlalu suka makan
Hidupnya adalah drama untuk merebut jatah makan sesamanya
Perutnya tak lebih besar dari perutmu, kawan
Mulutnya juga hanyalah rongga yang tak muat kepalan tangan
Namun, nafsunya lebih besar daripada Tuhan Yang Maha Besar

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Dan orang-orang rakus itu kini bertambah banyak
Sebagian mereka terlalu banyak mencampuri urusan rakyat dan berpura-pura mengurusi negara
Sebagian mereka duduk mengajarkan Matematika, bahasa, dan segala macam ajaran sekolah
Sebagian menjelma lembaga penagih utang
Yang lain lagi adalah pembantu negara di bagian agama
Masih banyak lagi, kawan
Dan bisa saja kau kenal dengan mereka

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Kulihat rumah ibadah menjulang indah
Tapi tak jauh dari sana si tua renta kelaparan di balik dinding rumah reotnya
Anak-anak putus sekolah karena tak mampu bayar spp
Di bawah bulan dan bintang banyak derita kemanusiaan
Di balik pendingin ruangan ada raga yang bahkan tak punya tempat untuk pulang
Di tumpukan uang kas ada saudara-saudara yang mati-matian melawan utang, melawan lapar, melawan kemiskinan yang tidak berkesudahan

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Orang-orang semakin gemar saling mencaci, saling menggunjing, saling membunuh
Terlalu banyak darah yang tumpah
Terlalu banyak harga diri yang hilang
Bayi-bayi berhamburan bersama ledakan
Peluru telah menembus batas-batas nurani
Ibu-ibu menjerit kehilangan buah hatinya
Bapak-bapak putus asa tak mampu menjaga anak-isterinya
Anak-anak tak tahu mengapa mereka sudah tak beribu dan tak berbapak lagi
Semua bereriak ‘tolong’!
Nafsu telah menjadi raja

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Aku ingin kembali pada kenangan saat dien pertama kali menyapa
Pada surau yang telah rapuh
Pada mushaf yang berlubang-lubang
Pada suara belia yang mengeja ‘a ba ta’
Pada ketulusan dan cinta yang tidak akan terganti

Kakiku telah jauh menempuh jarak
Dan aku rindu surau itu











Saturday, January 27, 2018

Aku yang Menjagamu

Kau tahu, bahwa belajar yang sesungguhnya adalah belajar pada perjuangan
Rindu yang sesungguhnya adalah rindu pada mimpi
Cinta yang sesungguhnya adalah cinta pada kenyataan

Kau tahu, aku ingin belajar berjuang bersamamu
Membangun mimpi bersamamu
Mendapati kenyataan bersamamu

Bila kau bertanya seberapa jauh bumi yang ingin kutapaki
Maka cukup sejauh yang kakimu mampu
Bila kau lelah aku tak ingin lelah
Bila kau sakit aku tak ingin sakit
Aku yang menjagamu



Friday, November 10, 2017

Memasuki Dunia Dongeng

Kehidupan adalah hal paling rumit yang pernah kutemui, namun juga merupakan hal paling sederhana yang pernah ada. Hidup ini terlihat sederhana saat tanpa malu-malu nasib baik bergantian mendatangiku, menghantarkanku pada kebahagiaan yang terancam basi. Tapi, saat kakiku tiba-tiba terperosok pada satu hole yang awalnya tak pernah kutakuti, semua menjadi lain. Hal sekecil apapun akan terasa sulit.
Hingga di satu titik kehidupan, saat tiba-tiba air dan api berdamai, angin selalu senandungkan puisi-puisi indah, kambing berhenti mengembik, dan di lorong dunia sana cinta menjadi cahaya, aku menemukannya. Menemukan sesosok hawa yang tepat di sudut senyumnya aku merasa dapat melihat sisi damai dari dunia ini. Dia bukan perempuan berjilbab besar seperti yang kukagumi selama ini, ia selalu membiarkan rambut hitamnya berjuntai begitu saja.
“Kenapa?”
“Aku belum siap.”
“Tapi, bukankah berjilbab itu kewajiban bagi seorang muslimah?”
“Aku tahu. Tapi hatiku belum memintanya. Mungkin ini bagian dari takdir.”
Selalu itu yang ia ucap setiap kali aku menanyainya.
Di luar itu, ia adalah air bening yang terlompat dari ketinggian yang menakjubkan. Ia indah dan memberi kesejukan. Jika ia angin, maka ia adalah angin yang berhembus pelan saat matahari tak muncul di siang hari. Jika ia prajurit, maka ia adalah prajurit yang bertarung dengan dada yang dipenuhi oleh cinta. Ia perempuan yang penuh kasih, tuturnya lembut, sangat menghormati laki-laki. Ia terlahir dengan membawa nama yang anggun, Puteri.
Ia adalah temanku, sosok yang baik, penulis puisi, penulis cerita, perempuan ekspresif yang benar-benar mencerahkan dunia yang sendu ini- setidaknya- duniaku. Ia sering mengisahkan tentang legenda Gadis Bening dari lembah Leubor. Gadis yang menolak untuk jatuh cinta pada lelaki manapun. Ia memilih sendiri, hingga kehidupan seolah membencinya.
“Semua ada alasannya. Seperti kesendirian yang dipilih oleh si Gadis Bening. Ia pasti punya alasan kuat kenapa memilih kesendirian sebagai jalan hidupnya.”
“Mungkin ia pernah disakiti lelaki,” tebakku. Dengan gerak pelan Puteri menghadapkan wajahnya ke arahku. Alisnya terangkat ke atas.
“Itu kisah konvensional, Kak. Puteri Bening lain.”
“Apa Gadis Bening punya agama?” tanyaku. Tiba-tiba aku merasa tolol sekali telah mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Seperti biasa, Puteri hanya tersenyum.
“Kenapa kamu menyukai puisi?” Kucoba untuk membuat tema baru.
“Karena aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya. Puisi adalah sebuah penemuan yang mungkin akan berusia jauh lebih lama dari dunia ini. Ia adalah hal hebat yang membuatku terayun pada kehidupan yang lebih bijak, yang damai.”
“Apa Gadis Bening juga menyukai puisi?”
Perempuan berwajah cerah itu tersenyum, ada gurat-gurat geli di ujung bibirnya.
“Dia bahkan menghabiskan hari untuk menulis puisi.”
“Jika boleh kutebak, dulu banyak sekali pria yang datang melamar Gadis Bening. Tapi sayangnya, tidak ada satu pun dari pria-pria itu yang menyukai puisi, apalagi membuatnya. Jadi, kesimpulannya, jika saja waktu itu aku hidup sezaman dengan Gadis Bening, maka kemungkinan besar akulah pria yang akan mendapatkannya.”
“Kenapa begitu? Kamu suka puisi?”
“Ya. Aku bukan hanya menyukai puisi, tapi akulah puisi itu.”
“Hahaha. Kamu sudah masuk ke dunia dongeng, Kak.”
“Bukan aku, tapi kita.”
“Kita? Boleh juga.”