
“Kakiku Telah Jauh Menempuh Jarak”
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Meninggalkan tempat aku berasal
Sebuah ruang hidup yang menyimpan arti sebuah nurani
Pada surau dengan tiang-tiang rapuhnya
Pada mushaf yang pudar menyisakan kertas berlubang-lubang
Pada suara-suara belia yang kini sudah pergi dibawa angin
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Dan kini yang kulihat di jauh sana adalah derita
Di dekat sini adalah tangis
Aku harus bagaimana?
Perlukah kusembuhkan derita itu?
Bisakah kuhapus setiap tangis?
Mana aku tahu?
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Maka akan kukisahkan padamu, kawan
Tentang orang-orang berwajah manis namun terlalu suka makan
Hidupnya adalah drama untuk merebut jatah makan sesamanya
Perutnya tak lebih besar dari perutmu, kawan
Mulutnya juga hanyalah rongga yang tak muat kepalan tangan
Namun, nafsunya lebih besar daripada Tuhan Yang Maha Besar
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Dan orang-orang rakus itu kini bertambah banyak
Sebagian mereka terlalu banyak mencampuri urusan rakyat dan berpura-pura mengurusi negara
Sebagian mereka duduk mengajarkan Matematika, bahasa, dan segala macam ajaran sekolah
Sebagian menjelma lembaga penagih utang
Yang lain lagi adalah pembantu negara di bagian agama
Masih banyak lagi, kawan
Dan bisa saja kau kenal dengan mereka
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Kulihat rumah ibadah menjulang indah
Tapi tak jauh dari sana si tua renta kelaparan di balik dinding rumah reotnya
Anak-anak putus sekolah karena tak mampu bayar spp
Di bawah bulan dan bintang banyak derita kemanusiaan
Di balik pendingin ruangan ada raga yang bahkan tak punya tempat untuk pulang
Di tumpukan uang kas ada saudara-saudara yang mati-matian melawan utang, melawan lapar, melawan kemiskinan yang tidak berkesudahan
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Orang-orang semakin gemar saling mencaci, saling menggunjing, saling membunuh
Terlalu banyak darah yang tumpah
Terlalu banyak harga diri yang hilang
Bayi-bayi berhamburan bersama ledakan
Peluru telah menembus batas-batas nurani
Ibu-ibu menjerit kehilangan buah hatinya
Bapak-bapak putus asa tak mampu menjaga anak-isterinya
Anak-anak tak tahu mengapa mereka sudah tak beribu dan tak berbapak lagi
Semua bereriak ‘tolong’!
Nafsu telah menjadi raja
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Aku ingin kembali pada kenangan saat dien pertama kali menyapa
Pada surau yang telah rapuh
Pada mushaf yang berlubang-lubang
Pada suara belia yang mengeja ‘a ba ta’
Pada ketulusan dan cinta yang tidak akan terganti
Kakiku telah jauh menempuh jarak
Dan aku rindu surau itu
No comments:
Post a Comment