Friday, January 8, 2016

“Cinta Yang Sederhana Saja”

Oleh: Mukhlis Ahsya
Mohon Tuhan, untuk kali ini saja, beri aku kekuatan tuk menatap matanya!”
Aku tersenyum, menegadahkan wajah ke langit. Dari dulu, hingga tapak kaki melangkah sejauh ini, aku masih saja menyukai syair lagu satu ini. Sheila On7. Aku ingin menertawai setiap detail akan cinta. Suatu hal yang kisahnya mencengkram dunia. Dari masa ke masa, ia tak kunjung lapuk maupun melekang. Ia tak terlihat, tapi ia ada di bagian tersembunyi dalam ruh. Ia tumbuh di suatu ruang di belantara kehidupan.
“Mana mungkin menatap mata saja tidak sanggup?” tanyaku suatu saat pada Musa. Ia adalah sahabat karibku yang pernah menjadi bulan-bulanan cinta.
“Pada dasarnya sanggup, tapi efeknya sangat mengerikan.” Wajah Musa tampak kuyu. Suaranya terdengar pasrah.
“Mengerikan bagaaimana, Sa?”
“Suatu saat aku beranikan diri menatap matanya. Kupikir kalau menatap sekilas saja dosanya palingan kecil. Tapi, setelah tatapan itu, tatapan yang untuk memulainya saja aku harus mengumpulkan keberanian dari seluruh sendi tubuhku, aku kualat.”
“Kualat?”
“Ya, kualat. Karena setelah itu aku tidak bisa melupakannya. Aku terus terbayang detik-detik itu. Aku semakin kalut. Aku merasa aneh saat namanya disebut. Aku bisa gemetaran saat bertemu dengannya. Aku benar-benar kualat.”
“Itu cinta, Sa,” tanggapku santai. Aku sudah sering membaca kisah cinta dengan segala perniknya di buku-buku sastra.
“Kalau ini cinta, kenapa membuatku payah?”
“Karena kamu tidak pantas jatuh cinta dengan cara seperti itu.” Aku sengaja membuat Musa bingung. Yang kutahu, Musa adalah orang yang paling tidak bisa dibuat penasaran.
“Tidak pantas bagaimana, Ar?”
“Entahlah, aku juga belum tahu pasti jawabannya.” Kutinggalkan Musa. Ia tampak ingin mencegahku, namun diurungkannya.
Setiap kali aku mendengar kata ‘cinta’, aku selalu ingat pada Musa Faqih. Dia adalah lelaki yang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tidak jatuh cinta. Lebih tepatnya ia belum mau jatuh cinta di saat ia belum siap. Dan dia berhasil untuk tidak jatuh cinta, kecuali pada Ketty Navia. Perempuan satu ini membuat semuanya menjadi lain bagi Musa. Dia harus mengakui, sehebat apapun usahanya menepis perasaannya, ia tetap merasakan hal yang sama, cinta. Musa pernah bilang padaku bahwa ia sangat menderita memiliki perasaan seperti itu. Tapi ia tidak bisa apa-apa, ia tak pernah meminta dan juga tak berharap memiliki keinginan seperti itu. Perasaan itu hadir begitu saja.
Musa, sahabatku itu, unggul dalam banyak sisi. Ia mampu meroketkan impiannya hingga tak terjamah lagi oleh akal makhluk sesederhana diriku. Dan sejak itu, ia mulai petualangannya dengan menyusur lembah, menerabas semak tanpa hiraukan keringat dan darah meleleh di pori-porinya secara bersamaan. Dia selalu menghargai usaha, baginya sekecil apapun usaha akan tetap menyumbang perubahan yang berarti. “Langkah kecil sangat berarti dalam meneyelesaikan suatu pendakian panjang”, itu kalimat andalannya. “Yang penting melangkah dulu, soal arah bisa kita tanyakan pada orang-orang di jalan.” Begitu nasehatnya yang tak akan pernah kulupakan.
Tapi, sehebat apapun Musa, sebesar apapun impiannya, dan sekeras baja usahanya dalam wujudkan cita, tapi ia tetap manusia biasa. Ada sisi lain yang membuat ia akan tampak begitu lemah. Satu sisi yang membuat ia harus terkapar berulangkali, yaitu cinta.
“Kata orang cinta itu menguatkan, tapi nyatanya malah membuatku lemah,” gerutu Musa. Seingatku, ia mengucapkan keluhan ini ketika menginjak semester delapan masa kuliah. Aku ingat ekspresi wajahnya yang benar-benar pasrah. Ia benar-benar telah kehilangan cara untuk mengelabui perasaannya sendiri.
“Karena cintamu belum halal,” tukasku.
“Aku tahu. Oleh sebab itu aku ingin membuangnya jauh-jauh.”
“Kenapa dibuang? Dihalalkan saja!”
“Gila … !”
“Gila?”
“Kalau aku ditolak bagaimana?”
“Gila … !”
“Gila?”
“Ya terima. Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik untukmu, begitu sebaliknya,” nasehatku. Padahal, jika aku berada di posisi Musa, aku pasti tidak akan berani mengambil eksekusi seperti itu.
Setelah berpikir panjang, dan meminta petunjuk lewat istikharah, akhirnya Musa memberanikan diri untuk mengkhitbah Ketty. Waktu itu, malam Kamis pukul 19:49 aku mengantar Musa ke rumah Ustadz Udin, mentor kami. Musa ingin menyampaikan keinginan sucinya, sekaligus meminta sang ustadz sebagai penyampai hajat pada orang tua Ketty.
Ustadz Udin menyambut dengan senyum khasnya, senyum yang sangat tulus. Kami dipersilakan duduk dan ditinggal ke belakang sebentar. Beberapa menit berselang murabbi kami itu kembali dengan senyum yang sama. Kedua tangannya terlihat menyangga sebuah nampan keperakan.
“Disambi!” ujarnya. Kami tersenyum. Dalam hati ingin berkata ‘tidak usah repot-repot, Tadz’. Tapi, saat sadar begitu garingnya basa-basi macam begini, kuurungkan niatku. Kutebak Musa juga melakukan hal yang sama.
“Kebetulan, ana dapat titipan untuk kalian. Tunggu sebentar, ya!” Sang ustadz kembali masuk, tapi kali ini masuk ke dalam kamar. Sejurus kemudian ia sudah muncul lagi dengan senyum yang lebih sumringah
“Ini bisa dijadikan motivasi untuk kalian.” Ustadz Udin menyerahkan dua buah kertas berbungkus plastik bening. Kami menerimanya dengan senang hati. Aku senyum-senyum sendiri menerima titipan itu. Namun, ah, namun sayang sekali senyumku tidak bertahan lama. Aku malah teramat terkejut dibuatnya. Di depan kertas itu terpampang nama yang sangat kuhafal, Ketty Navia. Dan kertas berbungkus plastik bening itu dikenal publik sebagai undangan pernikahan.
Kuarasakan pundakku bergetar, bukan bergetar dengan sendirinya. Tapi disebabkan oleh pundak orang di sebelahku, yang merapat ke pundakku sedang dilanda gempa. Kuberanikan diri untuk menolehnya. Ya Tuhan, ia pucat seketika. Musa, sahabat dengan beragam talenta itu pasi dalam kebekuan. Ia menunduk, kelu secara alamiah. Sungguh, saat itu aku ingin tertawa sekencang-kencangnya. Itu benar-benar momen yang lucu sekali. Semua serba bertepatan. Tepat di saat Musa ingin memulai cintanya dengan benar, di saat bersamaan ia mendapati dirinya berada pada posisi yang tidak benar. Sangat lucu. Namun, di dalam hatiku yang paling dasar, aku bisa merasakannya, merasakan betapa sakitnya dikhianati oleh keadaan. Aku bisa merasakan apa yang Musa rasakan. Ngilu.
***
Selasa, 6 Januari 2015, aku dan Musa menyeret kaki di kediaman Ketty. Musa ingin menunjukkan pada dunia, bahwa sepahit apapun kenyataan cinta yang ia alami, ia tetap kuat. Baginya, menyaksikan akad nikah Ketty adalah sebuah jalan kebenaran. Karena nanti, sedetik setelah kalimat ijab-qabul dilafaz, Musa telah mengazamkan diri untuk tidak lagi mencintai Ketty dengan alasan yang kuat, yaitu karena Ketty telah menjadi isteri orang lain. Aku menepuk bahu Musa, ia menoleh dan tersenyum. Lalu mengangguk sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja.
Kami menunggu cukup lama. Hingga sesuatu tidak bisa kutahan lagi, aku ingi buang air kecil. Setelah pamit pada Musa, aku bergegas meminta izin pada tuan rumah untuk ke kamar mandi sebentar. Aku berjalan mengikuti arah-arahan yang ditunjukkan ibunya Ketty. Namun, sialnya sebelum masalahku terselesaikan, baru akan masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Ustadz Udin memanggilku. Dengan terpaksa aku pun mendekat.
“Kalau dia bagaimana?” tutur Ustadz Udin tiba-tiba. Aku kebingungan. Apalagi di tempat itu kudapati Ketty dengan mata sembab.
“Tafadhol Ustadz. Yang penting seiman dan bisa menjadi imam yang baik untuk ana. Ana tsiqoh.” Sekarang giliran Ketty yang membuatku tambah tidak mengerti.
“Begini, Ar. Si Burhan, calon suaminya Ketty tiba-tiba membatalkan pernikahan dengan alasan yang, maaf, kami tidak bisa menceritakannya padamu. Tapi kami, terutama Ketty, memaklumi alasan itu. Dan di sini, Ketty meminta untuk dicarikan orang lain yang bersedia menikahinya, dengan syarat itu tadi, bisa menjadi imam yang baik. Meskipun begitu, kami tetap akan mencarikan yang terbaik untuk Ketty. Yang kualitasnya selevel, lah,” terang Ustadz Udin seolah menyadari kebingunganku. Aku manggut-manggut tanda mengerti.
“Bagaimana kalau kamu yang menikahi Ketty, Ar?” lanjut sang ustadz. Aku tertegun. Ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya lidahku kaku.
“Kamu kenapa, Ar?”
“Ti … ti … tidak, Tadz. Tidak kenapa-napa. Saya tahu, Tadz. Saya tahu orang yang tepat untuk Ketty.”
“Siapa?”
“Musa. Musa, Tadz. Ustadz ingat malam Kamis kemarin kami ke rumah, Ustadz? Tujuannya adalah meminta kesediaan Ustadz untuk melamarkan Ketty untuk Musa. Tapi sebelum Musa mengutarakan itu, dia mendapati kenyataan yang tidak memungkinkan,” cerocosku tak beraturan. Aku panik dalam bahagia.
“Subhanallah … ! Subhanallah! Allahuakbar!” Semua yang ada di tempat serempak memuji Allah.
“Bagaimana dengan Ketty? Bersedia?”
Ketty mengangguk dengan pasti.
“Alhamdulillah …!”
***
Hari itu, aku seolah melihat sebuah ketegaran maujud menjadi sesosok makhluk, yang menjawab setiap keresahan yang menghantui Musa. Sahabatku itu mujur dalam kekritisan tingkat akut. Ia mendapatkannya, cinta itu. Cinta yang membuatnya semakin cinta pada sang penggenggam cinta, Allah.
Meski berujung indah, aku tak pernah berharap memiliki kisah yang sama seperti Musa. Aku malah berdoa pada Tuhan agar kisah cintaku datar saja, jangan terlalu rumit. Karena aku sadar, aku tidak setegar Musa. Aku juga tidak memiliki kesabaran yang setingkat dengan kesabaran sahabatku itu.
Aku ingin cinta. Sungguh, aku ingin cinta, tapi dalam balutan kisah yang sederhana saja. Meski nyatanya, cinta bukan hal yang mudah disederhanakan.

No comments:

Post a Comment