Oleh: Mukhlis Ahsya
“Kamu cukup beruntung,” desisku lirih, namun dengan penuh keyakinan. Ia menoleh, menatapku sejenak seakan tidak terima dengan kalimat yang aku lontarkan. Dahinya naik sedikit, matanya memicing lesu. Sejurus kemudian, ia kembali memandang jauh ke depan, menjamah hamparan rumput taman dengan tatapan kosong.
Jilbab lebarnya mengepak bersama hembus angin. Melambai-lambai memanggil setiap memori yang telah dilewati perempuan ayu itu. Garis kesedihan tampak menyala setiap ia pamerkan kemurungan yang akhir-akhir ini menjadi hobi barunya.
“Jangan coba bergurau jika kamu tidak bisa membuatnya terlihat lucu!” Kalimat lembut namun ketus mengurai begitu saja, berhembus melewati sepasang bibir indah yang ia miliki. Aku hantamkan pandang sejauh mungkin saat tatapku menabrak bibir manisnya. Sungguh, aku ingin katakan pada dunia bahwa aku sangat mengagumi keindahan gadis yang baru tiga bulan ini kukenal.
Aku memanggilnya Nei, mahasiswi Ekonomi Manajemen yang baru diwisuda dan langsung ditarik untuk bekerja di perusahaan tempatku mengabdikan diri. Dari pertama kali ia masuk kerja, ia begitu saja menarik perhatianku. Bukan hanya sekedar cantik, tapi ia juga cukup bisa menjaga diri di lingkungan kerja. Selain itu, antusiasnya membuat gairah bekerja di perusahaan semakin meningkat. Hanya saja, sudah dua minggu ini ia menjadi lain tanpa sebab yang jelas. Murung, kadang meneteskan air mata saat sendiri, itu semua menjadi pemandangan yang sering kupergoki. Rasa heranku melambung, membuatku gelisah dengan kondisi rekan kerja baruku yang tampak jelas sedang dirundung mendung hitam. Dan kini, saat kuberanikan diri menanyainya, aku mendapati kenyataannya yang sedang ia hadapi.
“Apa dia mencintaimu?” Kulepaskan tanya yang sebenarnya sudah kutahu jawabannya.
“Ya, mungkin. Tapi … . Ya, tentu saja ia mencintaiku. Aku sangat yakin.” Suara bising Taman Kota membuat ucapannya kurang dapat didengar. Namun, aku tidak kehilangan satu penggal kata pun dari kalimat yang ia katakan.
“Kamu mencintainya, dan dia mencintaimu. Lalu apa yang membuatmu risau? Karena dia sudah mati?”
Nei menatapku agak kasar. Mungkin ia menganggap aku sudah keterlaluan terhadapnya. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin melihatnya menyiksa diri sendiri dengan meratapi musibah.
“Dia meninggalkanmu dengan cinta, Nei,” lirihku. “Jika kamu tahu, yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta bukan karena kita ditinggal mati oleh dia yang kita cintai. Tapi, yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita.” Angin berhembus sedikit kencang bersama kalimat yang baru kuucapkan. Seolah alam memberi tanda setuju dengan pendapatku.
“Ceritamu memang miris, Nei. Aku akui itu. Calon suamimu meninggal satu jam lebih cepat dari jadwal akad nikah kalian. Seperti dalam film-film.”
“Apa kamu anggap itu lelucon, Mas?” Nei kembali menatapku, kali ini ia tampak lebih serius. “Mungkin Mas Nadir benar, tidak dicintai itu lebih menyakitkan, tapi perlu Mas tahu juga, sampai saat ini aku belum pernah melihat alat pengukur rasa sakit,” lanjutnya mencoba ilmiah. Aku terkejut. Andai tidak takut Nei tersinggung, pasti aku akan terpingkal-pingkal sejadinya.
“Oke, kalau begitu kita anggap saja kadar rasa sakitnya sama. Mungkin ini seperti menebak-nebak, tapi sudahlah kita anggap saja begitu.” Aku mencoba untuk tersenyum, senyum yang sebenarnya untuk mengalihkan rasa geli ingin tertawa. “Nei … ,” lanjutku. “Aku pernah menikah, aku pernah membangun kehidupan berumah tangga dengan orang yang sangat aku cintai, tapi … aku tidak bahagia.”
“Dia tidak mencintaimu?”
“Benar.” Aku tersenyum. Sedikit kecewa karena Nei berhasil menebak arah pembicaraanku.
“Bagaimana bisa ia mau menikah denganmu tapi ia tidak memiliki cinta?”
“Bisa saja. Ya, bisa, karena perjodohan dari orang tua kami. Awalnya aku pun tidak mencintainya, tapi kemudian aku bisa memiliki rasa itu, bahkan aku begitu cinta. Tapi, saat rasa itu subur-suburnya kumiliki, ia meminta untuk diceraikan.” Aku menunduk, ada rasa pahit yang tiba-tiba meleleh dari empedu.
“Maaf, tidak seharusnya Mas Nadir cerita kalau hanya membuat Mas terluka.”
Aku mendongakkan wajah. Sekilas melirik ke arah Nei. “Kadang kita perlu mengorek luka lama untuk menyembuhkan luka orang lain, Nei. Aku hanya ingin kamu tahu, banyak kenyataan tentang cinta yang bisa membuat kita merasa tersakiti. Kamu beruntung karena dia mencintaimu. Ia memang sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi ia menitipkan cinta di hatimu. Dan cinta itu bukan untuk kamu tangisi secara berlarut-larut, tapi cukup untuk kamu kenang dan syukuri sebagai sebuah karunia yang besar dari Tuhan.”
Entah mengapa, aku melihat ada seulas senyum dari bibir Nei.
“Sisi positif yang harus kamu syukuri adalah, setidaknya kamu ditinggalkan dia bukan dalam keadaan janda, hahaha,” gurauku. Mata Nei mendelik. Bibirnya bergetar. Dan sekejap aku mendengar tawa nyaring seorang Nei.
***
Nei kembali ceria. Tidak ada yang ia risaukan lagi di dunia ini. Aku senang melihatnya. Setidaknya, luka di hatiku ada gunanya juga. Hanya saja, kini aku mulai bimbang. Aku dan Nei semakin dekat. Aku khawatir aku akan terjebak pada hal yang akhir-akhir ini selalu kucoba untuk hindari, cinta.
Aku ingin bersikap pada Nei seperti halnya aku bersikap pada rekan kerja lainnya. Hanya saja, persoalannya menjadi sulit saat kulihat Nei mengembangkan bibir, dan merekahlan senyumnya yang khas, indah. Aku menjadi salah tingkah, bersusah payah membuang tatap pada objek yang lebih menarik. Namun, semua objek tampak tersedot oleh keelokan senyum Nei. Aku gugup, aku ragu, aku terjepit dalam keping-keping kebimbangan yang menggunung.
“Mas, katanya mau dipindah tugas ke luar kota, ya?” Suara Nei menggilas lamunanku. Sekilas kutolehkan wajah, lalu kembali pada keadaan semula dengan sedikit senyum terurai. Dua hari lagi aku diberangkatkan ke Medan untuk memimpin perusahaan cabang di sana. Dan tidak ada satu pun alasan bagiku untuk menolak.
“Iya, ke Medan.”
“Jauhnya … “ Mata Nei terbelalak. “Pasti bakal kangen sama nasehat bijaknya,” lanjut Nei. Aku tersenyum lebih lebar.
“Syukurlah, ternyata ada yang bisa dirindukan dari aku.” Aku merunduk, meraih laptop dan memasukannya ke dalam tas. Kulirik Nei, ia tersenyum tipis.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah Pak Hans, ada yang harus dibicarakan.” Aku beranjak dari duduk. “Duluan, ya.”
Nei tersenyum. Ada pendar keraguan di gurat bibirnya. Aku berusaha untuk tidak peduli. Terus melangkah, meninggalkan Nei yang entah bagaimana ekspresinya.
“Mas, tunggu!”
Seolah menginjak pedal rem, aku berhenti seketika. Terdengar tapak-tapak mendekat.
“Untuk Mas Nadir.” Nei mengulurkan tangannya. Sebuah kertas putih bergetar dalam apit jari-jari lentiknya. Aku menatap heran. Apa gerangan dalam amplop putih itu? Namun, belum sempat lidah berucap, Nei buru-buru menjauh dengan langkah gesit setelah amplop berpindah ke tanganku. Aku terpaku, hanya membisu.
Pak Hans memberi banyak alasan kenapa aku yang dipilih untuk menjadi pimpinan perusahaan anak cabang di Medan. Serta memberi arah-arahan tentang orang-orang yang harus kutemui, dan apa saja yang harus aku lakukan di awal kinerja di Medan. Beliau juga berjanji akan segera menyusul ke Medan.
Kurebahkan tubuh. Perlahan rasa syukur menyapu habis segala penat dan gundah. Apa yang aku dapat sampai saat ini, dan amanah-amanah baru yang harus kupikul, menjadi sebuah dinamit yang akan meledak bersama keberhasilanku. Aku ingin memberikan yang terbaik dari kemampuan yang aku miliki, sebisa mungkin, setulus mungkin, seikhlas mungkin, kuniatkan untuk beribadah, untuk mendapatkan ridho dari-Nya.
Aku bergegas merogoh saku celana saat ingat dengan amplop putih pemberian Nei. Dengan gugup, yang berputar dalam adukan rasa penasaran, kubuka dengan tangan bergetar kertas putih itu. Dan dugaanku benar, sebuah surat dari Nei.
Untuk Mas Nadir
Assalamu’alaikum …
Dengan meniupkan segala keindahan, aku mengukir baris-baris kalimat ini, untukmu, Mas Nadir. Semoga segala kasih dan kelembutan Tuhan selalu mengiringi hidupmu yang dipenuhi bertumpuk amanah yang menguras pikiran. Namun aku tahu, itu semua karena sebuah kepantasan. Ya, Mas Nadir pantas mendapatkan amanah yang berat karena Mas Nadir punya kemampuan untuk menanganinya. Aku kagum, aku bangga.
Aku tak ingin berpanjang kalimat, aku hanya ingin katakan bahwa aku mencintamu, Mas Nadir. Izinkan aku untuk menjadi pengganti bidadari yang telah meninggalkanmu. Biarlah aku yang mengubur dalam luka-lukamu karenanya.
Mas Nadir, sebelum kau berangkat ke tanah seberang, mampirlah barang sebentar ke rumah orang tuaku. Aku benar-benar ingin engkau menjadi imamku.
Dariku,
Neila Danalia
Dadaku terasa sesak seketika. Sebuah senyum tipis merekah tanpa kendali. Senyum kecut atas segala kebodohan yang telah kuperbuat. Aku sudah kelewat batas hingga tanpa kusadar telah membuat Nei jatuh cinta. Apa-apaan aku ini? Bertingkah seolah peduli, seolah mampu membalas cinta, padahal tidak. Aku memiliki rasa kagum pada Nei dari segala seginya. Nei cantik, senyumnya indah, baik, dewasa, dan semuanya, aku kagum. Hanya saja aku tidak memiliki cinta untuknya.
Apa yang harus kuperbuat? Akankah aku akan menambah satu penderitaannya dengan satu penderitaan yang lebih dahsyat? Ia telah ditinggal mati calon suaminya, dan sekarang ia mencintai orang yang tidak mencintainya. “Jika kamu tahu, yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta bukan karena kita ditinggal mati oleh dia yang kita cintai. Tapi, yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita.” Secepat kilat kalimat yang pernah kuucapkan pada Nei berkelebat dalam ingatan. Menerkamku, mencabi-cabik seluruh integritas yang kumiliki.
Dadaku bergemuruh. Aku hanya akan membuat Nei menunggu dalam semu. Karena aku tidak akan pernah datang untuknya, tidak akan … .
Metro, 07 April 2015.
No comments:
Post a Comment