Friday, January 8, 2016

“Sentuhan Cinta”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Selama ini, kupikir aku adalah orang baik, tapi nyatanya semua tentangku teramat layak untuk diragukan. Ada yang mengatakan bahwa pasangan kita adalah cerminan diri kita, kita baik maka ia juga baik. Bahkan hal ini memang tertuang dalam dalil agama, bahwa laki-laki baik ialah untuk perempuan yang baik pula, begitu sebaliknya. Ah, rasanya aku ingin mengobrak-abrik setiap lembar masa laluku. Mencari-cari keburukan besar apa yang pernah kuperbuat. Namun aku sangat yakin, dosa silamku adalah dosa karena keluguan, hanya sekedar mencuri rambutan, merusak mainan teman, atau berkelahi dengan sahabat sendiri. Dan itu kulakukan saat aku masih sangat belia, kenakalan wajar ala anak-anak.
Febia, ia adalah teman sekelasku. Aku mengenal ia hanya sekedar teman biasa. Penampilannya yang sangat mengikuti zaman membuatku sama sekali tidak tertarik. Gurat-gurat kemalasan, kebebasan, dan hedonisme begitu terpancar dari dirinya. Ah, tidak ada sedikitpun yang ada pada Febia adalah kriteria wanita yang kudambakan. Tapi nyatanya, ia sekarang adalah perempuan yang paling sering kujumpai dalam hidupku, bahkan setiap aku bangun tidur, aku kerap bertatap mata dengannya.
“Kumohon, Nak, nikahi dia!”
Aku tertegun. Rasa bimbang telak menancap dalam benakku. Menikah? Andai yang ditawarkan adalah seorang muslimah yang taat beribadah, sangat menjaga diri, pandai mengaji, dan berjiwa sosial tinggi, tentu aku tidak akan menolaknya. Statusku yang masih seorang mahasiswa tak jadi soal. Bukankah yang dibutuhkan dalam pernikahan itu adalah kedewasaan, bukan ketuaan? Tapi masalahnya, orang yang harus kunikahi adalah perempuan hedonis yang sangat gemar gonta-ganti pasangan, padahal sebagai seorang muslimah sudah seharusnya ia menjaga diri, bukan mengobral diri dengan berpacaran dengan bermacam-macam pria. Sulit, sulit sekali bagiku untuk menerima tawaran ini.
”Almarhum Ayah Febia sangat tidak setuju jika Febia dinikahi Alan. Alan pemabuk, penjudi, dan sering bolos kuliah.” Suara sendu kembali mengalun. Ibu Febia terisak-isak. Hatiku sempat mencibir, bukankah perempuan seperti Febia sangat cocok dengan Alan? Sama-sama hedonis.
“Sebelum meninggal, Ayah Febia sempat memohon pada Febia untuk menjauh dari Alan, dan ia meminta Febia untuk menyebutkan lelaki mana yang ia harap untuk menikahinya selain Alan. Dan Febia menyebut namamu.”
Namaku? Bisa-bisanya Febia melakukan ini padaku. Adakah sedikit alasan yang bisa kuterima atas pernyataan ini? Tangan lembut mendarat pelan di pundakku, usapnya memberi sedikit ketenangan pada hatiku yang mulai memanas. Ibu menepuk-nepuk kuat pundakku.
“Bukankah kamu yang sering bilang, dakwah adalah mengajak pada kebaikan. Jadilah imam untuk Febia. Entahlah, awalnya Ibu juga ragu, tapi di tengah keraguan itu Ibu menemukan keyakinan, Ibu yakin kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Febia, ia butuh orang sepertimu. Ajak ia untuk melangkah di jalan kebaikan yang kamu yakini selama ini!” Aku runtuh, jika ibu sudah yakin, aku bisa apa?
“Aku mau istikharah dulu, insyaallah besok aku beri jawaban.”
“Tentu, kamu memang harus istikharah dulu,” sambut ibu dengan wajah yang kurasa sumringah, seolah ia dapat memastikan bahwa esok aku akan memberi jawaban “iya”.
***
Kulihat dalam bayang, kilat-kilat dari langit terus menghujam bumi. Menjilati kehidupan dan merenggutnya satu per satu. Kali ini kurasa kilat itu begitu dekat, menyambar, dan mengena pada kedua orang tuaku sekaligus. Kecelakaan telah menjadi jalan kematian yang dirahasiakan Allah untuk kedua orang tuaku. Dan kini rahasia itu diungkap, ayah dan ibu telah kembali pada Sang Penggenggam kehidupan. Meninggalkanku dalam kefanaan, dengan tanggungjawab yang kurasa teramat berat, menjadi imam untuk Febia. Namun aku merasa sangat beruntung, aku mendapat warisan yang tidak ternilai harganya, yaitu cinta. Cinta mereka berdua masih terasa kuat bercokol dalam kalbu, dan menjadi pemantik semangat yang terus hidup meski jiwa kami telah terpisah jauh.
Masalahnya sekarang adalah aku tetap merasa berat menjalani hidup bersama Febia. Tebakanku tak meleset, aku pasti akan sangat kesulitan membimbing isteri seperti Febia. Ia tak tahu cara bersikap pada suami. Pergi semaunya tanpa meminta izin padaku, berkumpul dengan teman-temannya dan melakukan aktivitas yang sia-sia, kurang peduli pada kerapian rumah, tidak bisa memasak, dan semuanya. Aku hampir-hampir tidak menemukan alasan untuk bisa jatuh cinta padanya. Aku bingung menghadapi situasi yang kurasa belum pernah ada dalam daftar impianku. Buram, sesak, penuh asap, dan perlahan membunuh semangatku.
“Entahlah, awalnya Ibu juga ragu, tapi di tengah keraguan itu Ibu menemukan keyakinan, Ibu yakin kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Febia, ia butuh orang sepertimu.” Aku mencoba mencerna baik-baik kalimat yang pernah diucapkan ibu. “Febia butuh orang sepertiku? Hah, tapi aku tidak butuh orang seperti Febia.” Batinku berkecamuk. Tapi, keyakinan seorang ibu jarang sekali meleset. Dan ibu memang adalah sesosok yang sangat peka sekali batinnya. Seperti sumringah wajahnya kala itu yang seolah tahu bahwa aku bersedia menikahi Febia, dan nyatanya aku memang bersedia.
Mengapa aku tidak bisa yakin dengan kemampuanku? Kenapa aku semakin sulit berkomunikasi dengan Febia? Hambar. Cinta, di manakah akan kutemukan dirimu?
“Febia, apa alasanmu mau menikah denganku?” Kuucap sebuah tanya, berharap akan menyulut komunikasi yang baik. Aku harus menerima Febia dengan segala keadaannya, masa lalu, dan masa depannya.
“Karena aku mencintaimu.”
Aku begitu terkejut. Febia mencintaiku? Sepertinya dunia ini benar-benar penuh sandiwara.
“Aku sering mendengar, bahwa dia yang menikah denganmu adalah perempuan yang sangat beruntung. Dan aku ingin menjadi dia yang dimaksud oleh banyak orang.” Febia menarik nafas. “Aku tahu kamu tidak mencintaiku,” lanjutnya. Aku tertegun, membisu.
“Kamu pasti berpikir bahwa aku adalah perempuan kotor yang sudah tidak ada harganya lagi …. .”
“Febia …. .”
“Aku memang bukan perempuan baik-baik, tapi sungguh aku ingin memiliki suami yang baik, yang sholeh, yang bisa menuntunku menemukan kedamaian.”
Astagfirlah. Dadaku bergetar mendengar itu. Aku tahu. Aku sudah menemukan titik yang kucari selama ini, hati. Ya, hati Febia yang sebenarnya rindu akan kedamaian, rindu akan nilai-nilai kebenaran lah yang menuntunnya kepadaku. Tapi aku, aku yang diharapkan menjadi penunjuk jalan itu malah tersesat dalam prasangka keji. Sekarang jelas, aku jauh lebih buruk dari Febia. Ia perempuan yang memiliki kemauan untuk berubah, sedangkan aku lelaki yang bangga dengan ibadahnya selama ini dan merasa jauh lebih baik dari yang lain. Astagfirllahal’adzim …. Bulir-bulir bening merembes dari sudut mataku. “Ampuni hamba, ya Allah.” Batinku merintih.
***
Aku mulai mengantar Febia saat ia pergi, sesempat mungkin. Ia juga tampak santun sekarang. Dan siang itu aku dibuat tercenganng olehnya. Sesuatu yang tak terduga, tanpa kupinta, Febia berhijab. Ia tampak seperti perempuan-perempuan impianku selama ini. Dia benar-benar tampak cantik. Tapi, entahlah, hatiku seolah sudah beku, aku belum juga bisa mencintai Febia. Padahal, dengan begitu cepat ia berubah, ia layaknya muslimah sejati. Mengurusi suaminya dengan baik, dan dengan keterbatasannya begitu ulet belajar membaca al-qur’an. Ia selalu merengek untuk diajari alquran setiap waktu saat dilihatnya aku punya waktu senggang. Bahkan akhir-akhir ini ia telah tahu persis kapan aku memiliki waktu untuknya. Ia memiliki jadwal pribadi untuk menebus semua kesia-siaan yang dibuatnya selama ini. Namun sekali lagi, aku tak kunjung jatuh cinta padanya. Dulu aku mecari-cari alasan agar aku dapat mencintai Febia, tapi saat beribu alasan itu sekarang kutemukan, aku tak menemukan cinta.
Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan. Kurasa kali ini firasat ibu meleset, aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Febia menemukan hidayah dengan caranya sendiri, bukan karena aku sebagai perantaranya. Aku tetap dingin, lama-lama membeku. Tak bisa berkutik sedikitpun.
Setahun lebih kujalani kebersamaan dengan Febia. Tapi, seolah hanya raga kami yang bersama, tapi hati kami, terutama hatiku terpelanting jauh dari kebersamaan. Rutinitas kampus sudah kami tinggalkan, kami lulus. Dan aku sekarang dituntut fokus mengurusi perusahaan kecil milik ayah yang kuwarisi. Hanya saja, aku kurang bisa memaksimalkan kemampuanku. Semangat yang ditaburkan Febia pun seperti angin lalu. Hingga akhirnya perusahaan bangkrut dan semua harta peninggalan orang tua ludes. Aku tak memiliki apa-apa lagi.
***
Aku terlalu percaya diri menganggap diriku baik. Aku bahkan belum bisa menebus secuil nikmat yang dianugerahkan Tuhan dengan ibadahku. Secuil saja aku tak bisa, apalagi mengganti karunia Tuhan yang menggunung-gunung. Aku kini seperti kapas, melayang di udara bersama angin yang selalu berubah arah. Aku menunggu ke mana angin akan menjatuhkanku. Bisa saja aku diterjunkan dalam bara yang sekejap akan melenyapkanku, atau dalam air yang akan melumatku hingga habis. Aku tak tahu.
Aku terhempas di rumah mertua, Febia yang menyarankan. Ibu mertua begitu prihatin dengan keadaanku, namun juga menyambut dengan suka cita kehadiranku dan Febia di rumahnya. Aku merasakan kehangatan. Kupikir setelah aku jatuh tak ada uluran tangan lagi. Namn kenyataannya Tuhan memang sungguh pemurah, Dia ulurkan pertolongan melalui tangan yang begitu lembut. Tangan yang jarang sekali kugenggam, padahal di tangan itu lah sebenarnya cinta yang kucari bersemayam. Baru kusadar kini, cinta itu begitu identik dengan kesetiaan. Dan Febia membuktikan itu. Ia menggenggam erat tanganku saat aku kehilangan hal-hal berharga dalam hidupku. Ia tetap di sini, di sisiku, menerimaku dalam setiap keadaan. Tak ada makian, tak ada keluh-kesah, yang ada hanya kalimat yang tertutur lembut dari bibirnya,”Aku mencintaimu. Insyaallah aku akan tetap bersamamu, bagaimanapun keadaannya.”
Ah, cinta. Ternyata di sini aku bisa menemukanmu. Demi Allah, aku ikhlas dengan keadaan buruk yang kini menimpaku. Karena ternyata, di keadaan inilah aku menemukan apa yang kucari selama ini, cinta. Ya, aku jatuh cinta pada isteriku. Dan indah sekali cinta itu.
Sangat tidak bijak jika kukatakan bahwa keinginan baik hati Febia yang telah menuntunnya kepadaku. Yang ada malah karena keburukanku maka Tuhan mempertemukan aku dengan Febia, agar aku belajar darinya apa itu arti taubat, apa arti hidup, apa arti perubahan, dan apa arti cinta.
Hari-hari berikutnya kujalani dengan penuh semangat. Sangat mengherankan, hanya karena cinta hati dapat berubah total dari keadaan awalnya. Dan perubahan itu membawa energi positif dalam seluruh hidupku. Aku menemukan kebahagiaan dari hakikat kebersamaan.
Aku membuka bisnis kecil-kecilan dengan modal pinjaman dari mertua. Meski hasilnya kecil, namun terus berkembang seolah tak ada hambatan yang berarti. Apa yang kudapat dari apa yang kukerjakan terasa sekali berkahnya.
Sekarang aku ingin tertawa. Menertawakan kesombonganku selama ini. Kebanggaan atas ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kuperbuat membuatku merasa adalah orang yang baik dan mulia. Tapi ternyata aku salah. Aku belajar dari Febia, perempuan hedonis yang kuat mengejar hidayah. Hingga hidayah ia dapat dan begitu istiqomahnya ia di jalan kebenaran. Ruh nurani lekat tak mau lepas dari pribadinya. Aku ingin memperbaiki segalanya. Seperti halnya Febia memperbaiki dirinya. Aku akan menjadi pribadi baru yang tak akan lagi menganggap remeh orang lain. Aku percaya, jika Allah menghendaki, perubahan pasti terjadi. Baik bisa menjadi buruk, dan buruk bisa menjadi baik.
Cinta, kurasa ia adalah kumpulan partikel-partikel kecil yang tersebar ke seluruh penjuru jagad. Bertaburan pada hati insan-insan dan mengindahkan hidupnya. Partikel-partikel cinta itu melaju pada arah yang sama, menuju raksasa cinta. Menuju Dia yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Indah, Dialah Maha Cinta, Allah.
Betapa cinta adalah kekuatan. Kita tak tahu kapan kita tersentuh oleh cinta. Tapi yang pasti, saat cinta menyentuh, indahlah segalanya.

No comments:

Post a Comment