Oleh: Mukhlis Ahsya
Cinta itu jika diperhatikan, sekilas mirip juga dengan hujan, ia jatuh di mana saja, di tengah gurun pun ia tak sungkan untuk bertabur. Kadang ia buta akan waktu, di tengah musim kemarau saja tak jarang ia menetes begitu saja.
Mata Nenei sembab setelah semalaman menangisi kemalangan nasib cintanya. Siapa sangka, hubungan cinta yang ia bangun bertahun-tahun dengan Rama, lelaki yang begitu dicintainya, kandas. Kadang ia merasa egois karena selalu meminta untuk dimengerti. Tapi apa salahnya? Toh ia wanita. Di jagad mana pun wanita memang selalu ingin dimengerti.
Tapi sebenarnya, Rama adalah pria yang kesabarannya nyaris tak tertandingi. Ia memaklumi sikap Nenei yang lebih sering kekanakan, mudah tersinggung, tidak konsisten, dan kurang respek terhadapnya. Selain itu, Rama juga memiliki cinta yang tulus. Cintanya jika disandingkan dengan gunung, akan terlihat berlipat-lipat lebih besar. Tapi hendak dikata apa, cinta memilih jalannya sendiri, meski mereka merasa saling tersakiti.
Tapi abaikan dulu tentang Nenei dan Rama, kita lihat di pojok kehidupan sana, ada sosok makhluk yang apabila ia bersyair rasanya waktu berjalan pelan sekali. Burung-burung akan lupa bagaimana cara untuk terbang, tikus dan beberapa makhluk kembarannya ternganga dengan gigi yang mengancam, sayap nyamuk lenyap seketika desingannya, gurun pasir dipenuhi embun tiba-tiba. Dialah Katra. Pria dengan rambut panjang ala seniman jalanan, yang sering berjalan gontai di dua alam sekaligus. Tak ada yang tak mengaguminya. Dia berwibawa meski berpenampilan ala kadarnya.
Tentang Katra, banyak yang menebak, kelak ia akan menjadi sosok yang bersejarah, lalu menjadi dongeng, dan berakhir sebagai mitos. Meski begitu, ia akan selalu menempati posisi sebagai makhluk yang sulit untuk dilupakan oleh siapapun yang mengenalnya. Ia selalu meninggalkan kesan, bahwa ia adalah mimpi ganjil yang bagaimanapun bentuknya selalu menarik untuk diurai kisahnya. Ia sang legenda, yang akan diwarisi budaya sebagai kisah turun-temurun.
Sekarang, apa jadinya jika Katra, makhluk elegan yang penuh dengan cinta itu kita masukkan di tengah kisah asmara Nenei dan Rama?
Katra meyakini, bahwa cinta adalah bagian dari takdir. Jadi, seburuk apapun perannya dalam sebuah kisah cinta, tetap akan ia jalani. Umur cinta Katra pada Nenei, lebih muda sedikit dibanding awal benih cinta Nenei dan Rama saat pertama kali tumbuh. Meski begitu, semua sudah dapat ditebak, cinta Katra tiada duanya. Jika sama-sama dimasukkan toples, cinta Rama akan lenyap oleh satu jilatan cintanya Katra. Meski kebalikannya, cinta Nenei padanya hanya ibarat butir debu yang satu abad lebih terjebak dalam kipas angin. Ironis memang. Tapi jika melihat senyum Katra, seolah ia adalah orang paling beruntung sedunia oleh cinta sebutir debu yang sudah tercacah itu.
Sekarang kita tahu, siapa tokoh utama dalam kisah ini, ialah Katra. Walau sekarang ia terlihat ibarat pecundang yang pantas untuk meratap-ratap, tapi mari kita giring ia untuk menjadi seorang pemenang!
Di saat perih hati yang melanda hati Nenei, berkelebat bayang Katra, orang yang pernah dikenalnya, yang dulu pernah membuat puisi manis untuknya. Tersulut ingin menutup lara hati karena Rama, Nenei mencoba mengulur tali komunikasi dengan Katra. Katra, sang pecinta sejati itu, bukan kepalang senangnya.
“Katra, kau tahu? Puisi-puisimu itu ibarat kalpanax, ia mengobati aib.” Suatu ketika Nenei membuka pembicaraan. Di tengah rasa canggung, Katra mencoba mencerna kalimat Nenei, tapi gagal.
“Andai aku boleh tahu, maksud kalimat indahmu itu sebenarnya apa, Nei?”
Nenei tersenyum. Manis sekali.
“Setiap aku membaca puisimu, aku seolah menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini, hingga aku merasa , aibku sirna. Pusisimu itu obat, Tra, membacanya dapat menyembuhkan semua sakit yang kumiliki, termasuk sakit yang aibnya setara dengan panu.”
“Benarkah? Mungkin membuat puisi adalah kerja sampingan yang dipercayakan Tuhan kepadaku, Nei.”
“Kurasa, Tuhan tidak pernah salah memilih orang. Kau orang yang tepat untuk puisi.” Nenei tersenyum tulus.
“Dan kau adalah puisi yang sesungguhnya, Nei.” Katra menunduk. Sejenak mendongak kembali. “Kau tahu, Nei? Puisi itu sepertimu, dunia melahirkannya sebagai hal spektakuler yang membuat masa kehabisan cara untuk menggerusnya.”
***
Tiga tahun kemudian …
“Aku memang menyukaimu, Tra, tapi tidak sedikitpun ada rasa cinta untukmu.” Tegas suara Nenei mengalun, Tidak peduli bahwa kalimatnya itu melukai hati yang paling bersih untuknya.
“Kenapa?”
“Takdir.’
Suasana hening. Pria berambut gonrong itu tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Dalam sekejap hidupnya terasa hambar.
“Lalu apa maksud sikapmu selama ini, Nei?”
“Aku hanya mencoba membuka hati untukmu, Tra, tapi maaf, aku tetap tidak bisa mencintaimu!”
“Karena Rama?”
“Iya.”
“Bukankah ia menyakitimu?”
“Iya, dulu. Sekarang ia datang dengan niat yang suci. Ia menemui Ayahku, melamarku. Hal yang sama sekali tidak berani kau lakukan. Cintamu hanya besar di kata, Tra, tapi buktinya nihil. Kau tidak lebih dari seorang pembual.”
“Dengan semua perasaan kasih yang kumiliki untukmu, kau bilang aku pembual?”
“Entahlah … .” Nenei tampak serba salah.
“Banyak yang ingin kusampaikan padamu, Nei. Tapi biarlah! Aku simpan saja untukku sendiri. Pergilah, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu! Mencintaimu saja bagiku sudah lebih dari cukup.”
“Maafkan aku, Tra!” Nenei tidak mampu menahan air matanya. Jauh di dasar hatinya, ia merasa sangat bersalah. Biar bagaimanapun, sebenarnya ia mencintai Katra, meski tidak besar. “Sudahlah, Rama lebih segalanya dibanding aku. Dia menunggumu, Nei, pergilah! Aku akan baik-baik saja. Kau akan melihatku sebagai orang yang paling lihai mengubah sakit hatinya, menjadi bahan bakar semangat untuk meraih puncak terbaik dari kehidupan ini.”
Perlahan, meski berat, Nenei membalik tubuhnya. Langkah demi langkah, ia semakin menjauh dari pria yang tetap mematung di tempatnya itu. Di balik derai air mata, hatinya berbisik,”Sebenarnya aku mencintaimu, Tra. Hanya saja cintaku pada Rama jauh lebih besar dari cinta yang kumiliki untukmu.”
Katra tetap tegak, ia terus menatap Nenei hingga tubuh gadis itu terhalang oleh gedung. Di saat hatinya sakit, ia masih bisa mengulas senyum. Manis, manis sekali senyum itu. Tidak ada sedikitpun dendam meski sekecil zarrah sekalipun. Meski dipecundangi cinta, ia tetap merasa menang. Ia mampu berdiri sampai saat ini, walaupun beribu sakit silih berganti menghajarnya. Tak ada sedikitpun niat untuk lari. Yang ia tahu cintanya bening, pun terus mengalir. Meski tak dilirik, ia tetap bisa meneguknya untuk dirinya sendiri. Jika kelak di masa selanjutnya ada yang menyebutnya sebagai orang yang bodoh, gila, aneh, maka dapat dipastikan orang itu tidak tahu apa itu cinta.
***
Daun yang hijau, kemudian menguning, lalu kering kecokelatan, hingga akhirnya membusuk; adalah tanda bahwa waktu tak punya jeda untuk sejenak mengistirahatkan diri. Ia terus berjalan, tanpa henti.
Kini, Katra telah membuka hati yang sekian lama terkunci oleh satu nama, Nenei. Tak sulit baginya, karena ia sosok yang sangat mudah untuk dicintai. Sudah berapa kali saja gadis-gadis mengharap cintanya, tapi selama ia bersama Nenei yang bukan siapa-siapanya, ia menutup rapat hatinya untuk yang lain. Pria yang sangat luar biasa, sang legenda yang akan diceritakan turun-temurun dalam masa yang panjang.
Nenei dan Rama hidup bahagia. Walau sering bertengkar, tapi tak ada sedikitpun niat untuk berpisah. Pernikahan memang tali yang kuat untuk melanggengkan sebuah cinta. Meski terkadang, Nenei berharap suatu saat hati Rama dan Katra tertukar tanpa sengaja. Sehingga ia dapat memiliki Rama, dengan kualitas cinta seperti Katra.
Dalam kurun masa yang lama, Nenei, Rama, dan Katra berakhir di liang lahat. Masa mereka untuk mengukir kisah di dunia telah habis. Tapi nama mereka hidup lebih lama, sebagai cerita yang terus bernafas di hati insan yang ingin mengambil hikmah dari kisah cinta mereka.
Memang, di salah satu sisi kenyataan, hidup hanya berkutat pada tiga hal; lahir – menjalani cinta yang rumit – MATI. Yang paling banyak mengingat mati, yang berpeluang besar menjadi orang yang beruntung.
No comments:
Post a Comment