Friday, January 8, 2016

“Mas Zein”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Ia menyebutnya Mas Zein. Dan semua orang memang mengenalnya dengan nama itu. Nama lengkapnya Zeinar Hilman. Sesosok pria dengan penuh cinta. Lembut tuturnya. Teramat penyayang. Mungkin pengetahuannya tentang Islam tidaklah sempurna, tapi ia selalu menunjukkan sikap selayaknya sesosok yang berislam secara kaffah. Mas Zein tak pernah sedikitpun bertutur kasar padanya. Selama mengarungi bahtera pernikahan dengannya, Mas Zein selalu menunjukkan bahwa ia adalah suami yang penuh kasih. Tapi, baru saja ia melihat sendiri betapa Mas Zein begitu marah padanya. Hal yang belum pernah ia lihat selama ini.
“Seharusnya kamu lebih bersabar! Bukankah kita pernah berikrar bahwa akan menjadi pasangan dunia-akhirat? Tapi nyatanya kamu sama sekali tidak punya keyakinan. Kamu tidak mencintaiku.” Masih terngiang-ngiang ucapan terakhir Mas Zein sebelum akhirnya ia pergi.
Air matanya meleleh. Menjalari wajah ayunya yang sulit dipudarkan waktu. Di usianya yang setahun lagi sudah kepala tiga, baru kali ini ia dihadapkan pada kenyataan yang teramat sulit. Semua tentang Zein.
Empat tahun yang lalu Nafia menikah dengan Zein. Pria yang begitu mencintainya itu mempersuntingnya saat ia genap berusia 24 tahun, dan Zein sendiri 26 tahun. Usia yang begitu ideal. Dan mereka memang pasangan yang begitu serasi. Zein seorang pengusaha muda yang cukup sukses membangun kolam bisnisnya. Hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas yang penuh tantangan dan menguras waktu. Meski begitu, ia selalu meluangkan detik yang ia miliki untuk isteri tercinta. Karena baginya, keharmonisan keluarga, kasih sayang yang ia curahkan untuk sang isteri adalah salah satu kunci sukses dalam menggapai setiap impian besarnya.
“Dik, aku mencintaimu.” Kalimat manis itu yang sesempat mungkin selalu dibisikkan Zein pada Nafia. Dengan penuh rasa tulus dan jujur, karena memang Zein begitu mencintai isterinya itu.
“Maukah kau menjadi pasanganku?”
“Bukakankah kita memang pasangan, Mas?” ucap heran Nafia saat pertanyaan Zein terasa aneh.
“Maksudku, pasang dunia-akhirat,” tutur Zein lembut. Nafia tersenyum. Hatinya merekah indah.
“Tapi di surga sana banyak bidadari. Apa kamu yakin tidak akan tetarik pada mereka?”
Zein tersenyum. Matanya menatap langit-langit kamar. Nafasnya berhembus perlahan.
“Allah yang menggenggam hati. Andai aku bisa berada di surga, aku akan berdoa pada Allah, meminta kepada-Nya agar hatiku tetap ditautkan pada hatimu, selamanya. Kurasa seindah apapun bidadari, tidak akan mampu mengusik hati yang sudah terasi penuh dengan keindahan ini.” Zein beralih menatap Nafia. Perempuan cantik itu tersipu. Merasa betapa ia begitu beruntung memiliki Mas Zein. Pelan ia lantunkan sebuah kalimat.
“Aku sangat mau menjadi pasanganmu, Mas Zein, dunia-akhirat.”
***
Manis. Semanis madu yang meleleh dari sarang lebah. Itulah yang dirasa Nafia setiap saat ia berada di dekat Zein. Dan terasa ada yang kurang saat Zein bepergian jauh demi pekerjaan. Nafia sedang memeriksakan kandungan saat tiba-tiba sebuah nomor menelfonnya.
“Mas Zein kecelakaan, Mbak Nafia. Ia hilang ingatan.”
Nafia bergegas pergi. Tak dihiraukan lagi kandungannya yang sudah tua. Ia ingin segera melihat Zein. Ia begitu khawatir dengan kondisi Zein, orang yang begitu dicintainya itu. Sudah tiga hari ini memang Zein belum pulang ke rumah, padahal ia pamit pada Nafia untuk pergi sehari-semalam saja. Sebenarnya Nafia sudah memiliki perasaan yang kurang enak, tapi ia mencoba untuk tetap tenang dan menyerahkan semuanya pada Allah. Namun, baru saja ia dikejutkan oleh suara di seberang yang membawa kabar duka itu, Zein kecelakaan.
Tatapan Zein terasa asing. Ia tidak seperti Mas Zein yang Nafia kenal. Dan kenyataannya, Zein benar-benar lupa dengannya. Dada Nafia terasa sesak. Air matanya berhambur begitu saja. Digenggamnya erat-erat jemari lelaki yang terkulai lemah penuh balutan perban itu. Ia terus sesenggukan hingga air matanya terasa kering.
Hal yang aneh terjadi. Sepeninggal Nafia dari rumah sakit untuk membersihkan rumah, ia kembali mendapat kabar yang mengejutkan. Zein raib dari kamarnya. Seketika genggaman Nafia rapuh, gelas di tanggannya meluncur dan remuk menghantam lantai. Prangg!
Belum genap perempuan yang sedang mengandung anak pertamanya itu menumpahkan rasa sedih, ia keburu dihantam dengan kenyataan yang lebih pahit lagi. Zein hilang. Ia terus mencari dalam kepanikan, setiap kolega suaiminya itu dihubungi, tak ada petunjuk juga. Pihak Rumah Sakit menggeleng, semua seolah berada di luar kendali mereka. Polisi pun juga tak jua mengendus keberadaan Zein. Ia benar-benar sirna, bak larut dalam perut paus.
***
Empat tahun berlalu, Mas Zein ibarat album yang harus ditutup rapat oleh Nafia. Dugaan kuat Zein telah meninggal atau sudah hilang ditelan jagad dan hidup dengan ingatan yang baru. Nafia harus memikirkan masa depannya dan juga masa depan harta paling berharga yang ia miliki, Naffa. Ia adalah buah cintanya dengan Mas Zein.
Nafia menerima pinangan Salman, lelaki yang berikrar sanggup mencintainya dan juga Naffa. Namun, belum dua bulan ia mengarungi rumah tangga yang baru, sesosok pria datang dan tiba-tiba memeluknya saat ia menyapu halaman depan rumahnya. Ia terpekik. Jantungnya melonjak. Reflek ia hantamkan sapu pada pria yang dianggap tak beradab itu. Hingga ia melihat, betapa wajah pria kurang ajar itu terasa tak asing. Bahkan ia sangat kenal dengan wajah itu. Dulu, empat tahun yang lalu wajah itu adalah wajah yang ia tangisi sepanjang hari.
“Mas Zein?”
“Nafia … .”
Jutaan bunga seolah bertabur di mata Nafia. Beterbangan membentuk bayangan taman Firdaus. Ia merasa telah menemukan mentari yang empat tahun lamanya tak lagi terbit. Dan kini ia datang membawa sinarnya. Namun semua tak bertahan lama. Ia ingat akan kenyataan bahwa ia telah memiliki suami yang baru, Salman lah kini imamnya, bukan Mas Zein.
Kini dunia begitu membingungkan untuk perempuan berjilbab anggun itu. Andai saja Zein muncul sebelum ia menikah lagi, tentu ia bisa menumpahkan seluruh kebahagian yang ia rasa saat ini.
***
Dalam deraan rajam kebimbangan, Nafia tersungkur dalam sujudnya. Yang ia sesalkan, kenapa ia sampai lupa akan ikrar yang pernah ia ucapkan bersama Zein, untuk menjadi pasangan dunia-akhirat. Ia merasa bahwa kesetian tak mampu ia genggam dengan kuat, keyakinan tak mampu ia hidupkan hingga akhir hayat. Dan kini kenyataan menikamnya tanpa ampun. Membuat ia mengambang dalam lautan yang rumit.
Suara handphone mengejutkannya. Ragu ia angkat panggilan dari nomor tanpa nama.
“Assalamu’alaikum!” Terdengar lembut suara dari seberang. Dan tak perlu menunggu lama, telinganya sudah sangat akrab dengan suara itu, Mas Zein. Bergetar tubuhnya. Patah-patah ia coba menjawab salam dari pria yang begitu lekat di hatinya itu.
“Wa .. wa’alaikumsalam. Mas Zein?”
“Iya, ini Mas Zein. Aku ingin meminta izin untuk mengajak pergi Naffa siang nanti. Eee maksudku pergi jalan-jalan. Sore insyaallah aku antar lagi Naffa ke rumah.”
“Kamu tahu nama anak kita?”
“Ibu yang cerita. Maafkan aku kemarin bersikap kasar! Tidak adil rasanya jika aku menyalahkanmu. Tentu sangat sulit bagimu menjalani hidup selama ini. Namun, aku juga jalani hidup yang tidak mudah. Aku diculik dan dibuang ke Ambon dalam keadaan lupa segala-galanya. Dan …. dan baru seminggu yang lalu ingatanku pulih. Ma, maafkan aku, Dik!” Suara Zein tersendat. Air matanya mengalir pelan.
“Siapa yang melakukannya?”
“Entahlah, tapi kurasa ia sangat dekat dengan hidupmu sekarang.”
“Siapa, Mas?”
“Lupakan! Semoga saja ia telah bertobat dan berusaha memperbaiki segalanya. Aku ke rumahmu sekarang. Assalamu’alaikum!” Telfon ditutup, dan Nafia terpaku dalam gelanyut tanya teramat besar. Siapa yang melakukannya?
“Mas Salman?”
***
Nafia tak menyangka bahwa sore itu adalah saat terakhir ia melihat Mas Zein, saat pria istimewa itu mengantar Naffa pulang. Karena setelah itu Mas Zein tak pernah nampak lagi. Mertuanya pun bungkam tentang pria yang dicintainya itu. Hanya sebuah pesan yang ia dapat. “Zein bilang, jika Nafia kemari suruhlah ia bersabar, maafkanlah orang yang telah membuat kebersamaan kalian harus terputus. Yakin, bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah, dan akan baik jika kita ikhlas. Begitu, Nduk, pesan Zein. Hanya itu.”
Dan untuk yang kedua kalinya ia harus mendapati Mas Zein raib. Hilang dari hidupnya. Padahal kemarin hati Nafia begitu berbunga saat membuka pintu dan melihat Zein menggendong Naffa, seolah dunia kembali tersenyum padanya. Dan yang semakin menggelisahkan adalah teka-teki yang ditinggalkan Zein, ia semakin curiga pada Salman.
”Zein adalah saingan bisnisku. Dan aku ingin merebut semua yang ia miliki. Aku yang membuat ia celaka. Aku juga yang membuangnya. Tapi demi Allah, aku menyesali semuanya. Perasaan dosa bertahun-tahun membuat hidupku tak pernah bahagia. Aku mencari Zein, tapi ia tak bisa ditemukan. Hingga akhirnya aku memilih cara lain, menikahimu.” Salman menangis, bersimpuh di kaki Nafia. Ia berusaha jujur saat Nafia menanyakan tentang rahasia yang ia sembunyikan.
Tubuh Nafia bergetar. Air matanya berhambur tanpa awak. Dadanya terasa begitu sesak. Namun ia berusaha untuk tegar. Sekuat tenaga ia tahan air mata. Wajahnya mendongak ke langit kamar.
“Aku, a .. ku. Memaafkanmu, Mas. Tapi, tapi kumohon ceraikan aku! Aku ikhlas, Mas. Aku ikhlas seperti yang diminta oleh Mas Zein.” Air matanya berhambur kembali. Teramat sulit memaafkan orang yang telah mengganggu kebahagiaannya. Tapi ia sadar, memaafkan dan ikhlas adalah yang terbaik.
“Baiklah, Nafia. Ta, tapi, Zein memintaku untuk menjagamu dan Naffa. Ia sudah memaafkanku.”
“Ceraikan aku! Kumohon, Mas!” Suara serak Nafia meninggi. Tubuhnya berguncang hebat.
“Iya, maafkan aku, Nafia! Maafkan aku! Aku akan penuhi permintaanmu.”
***I
Nafia membelai wajah Naffa yang tumbuh dewasa dan ayu. Ia peluk erat tubuh buah hati yang ia cintai dengan sepenuh ketulusan itu. Ia tunjukkan sebuah foto besar. Foto yang ia simpan dalam waktu yang sekian lamanya.
“Ia Ayahmu, Nak. Namanya Zein. Dia orang yang baik, tulus sekali cintanya. Kamu pernah seharian bersamanya, kan. Kamu harus seperti dia, harus!”
Mas Zein ibarat permata yang tak berwujud. Namun, ia tersimpan rapi di hati Nafia. Hingga kini, bertahun-tahun ia tak pernah lagi bertemu dengan Zein. Hanya kelebat bayang senyum yang kadang datang menggodanya. Melebur setiap rindu menjadi pupuk cinta yang semakin manjur. Zein dengan segala yang ada pada dirinya adalah harapan. Harapan untuk dimilikinya kembali dalam ridho-Nya, dalam Jannah yang diimpikan setiap jiwa.
Entah kapan, tapi kali ini Nafia tak mau kecolongan. Ia menggenggam erat keyakinan, Mas Zein akan kembali padanya. Entah di dunia, atau mungkin di akhirat sana.>

No comments:

Post a Comment