Friday, January 8, 2016

“Sekat dalam Beda”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Aku berlari-lari kecil memasuki area terminal Mulyo Jati. Sesekali kuinjak genangan air yang tampak berserakan di seputaran terminal. Kilatan-kilatan di langit terasa begitu dekat. Awan pun terlihat semakin menghitam. Gerimis telah berhasil membasahi sebagian pakaian yang kukenakan, membuat aroma dingin semakin terasa menggigit kulit. Kuangkat kakiku saat akan menerobos masuk pintu bis. Entah bis jurusan mana aku tak peduli. Yang pasti aku harus segera menjauh dari kota kecil ini, kota yang telah tampak kelabu di mataku.
***
“Mas, boleh aku duduk di sini?” Sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Seorang pemuda berkemeja ungu terlihat sedang tersenyum sambil membungkukkan badannya.
“Boleh. Silakan!” jawabku singkat. Aku kembali menghadap ke jendela. Melihat rintik hujan yang tersapu angin dari balik kaca tebal. Sejenak terasa sepi. Makhluk-makhluk dalam bis seperti sedang menikmati irama-irama aneh dari benturan hujan ke badan bis. Hingga benturan-benturan semakin kencang, berbaur dengan suara bis yang perlahan bergerak meninggalkan terminal.
“Mau ke mana, Mas?” Lagi-lagi, suara pria berambut panjang itu mengusikku. Dengan sebisa mungkin mengulas senyum, tak kujawab pertanyaannya. Bagaimana mau menjawab pertanyaan itu, sedangkan aku sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Bahkan, aku baru tahu kalau bis yang aku tumpangi adalah bis jurusan Rajabasa setelah aku membaca tulisan merah di kepala bis.
“Aku mahasiswa Unila, Mas. Tadi habis berkunjung ke rumah teman di Metro Timur,” jelasnya walau tak kuminta. Aku menoleh dan melempar senyum. Aku tidak tertarik untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Karena lidahku telah kelu oleh bayangan Nala yang terasa begitu lekat di pelupuk mataku. Aku juga agak sensitif dengan istilah “mahasiswa”. Istilah itu seperti bayang-bayang mengerikan yang telah lama membelengguku. Kalau kata “mahsiswa” keluar, di kepalaku langsung dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Kapan skripsi? Kapan wisuda? Bahkan hingga pertanyaan yang gak nyambung sama sekali, kapan nikah? Aku bisa pingsan saat menyadari bahwa aku sudah semester dua belas. Dan ternyata aku baru mau ujian skripsi. Aku seperti menodai citra anak-anak organisasi. Ya, seolah berorganisasi itu dapat memperlambat kelulusan. Padahal ini mutlak karena kekurangseriusanku.
Si pria gondrong tampak tak peduli lagi. Sepertinya ia menyerah setelah beberapa kali hanya mendapat senyuman dariku. Dan sekejap kurasa suasana menjadi senyap. Tetes-tetes air hujan terlihat seperti melambat. Dan aku melihat ada bayang Nala di setiap butir tetes hujan. Bayang itu semakin kuat, hingga membuat hatiku terasa terhimpit gunung.
***
“Fik, orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah,” tutur Nala. Suaranya yang lembut seakan tertelan kebisingan Taman Kota.
“Lalu, kamu mau segera menikah?” tanyaku sedikit bimbang. Ada seberkas ketakutan yang tiba-tiba menyambangi diriku.
“Iya, Fik. Orang tuaku yang menginginkannya. Banyak lelaki yang mencoba mendekatiku, tapi orang tuaku tidak berkenan dengan mereka. Tapi saat Alex datang, kurasa orang tuaku menyukainya, terutama Ibu.”
“Oh…. Begitu,” ucapku datar. Aku benar-benar bimbang. Nala, sahabat yang sangat kukagumi, yang kusadari bahwa aku mencintainya, kini akan menikah dengan orang lain. Bagaimana ini? Haruskah kukatakan padanya bahwa aku mencintainya dan aku akan segera menikahiya? Atau aku pasrah dan merelakan Nala bersama laki-laki lain?
“Bagaimana kalau kamu menikah denganku saja?” Kalimat konyol tiba-tiba mengalir dari lidahku. Kulihat Nala terkejut. Ia menoleh ke arahku. Ia begitu cantik. Rambutnya yang hitam membuat wajahnya yang putih tampak seperti purnama dalam gulita. Indah, indah sekali. “Astagfirlah…!” batinku. Aku buru-buru membuang pandangan.
“Maksudmu apa, Fik?”
“Ee… Eh. Tidak. Aku ngelantur aja,” jawabku gugup. Aku bingung. Aku ingin jujur akan perasaanku. Aku ingin menikah dengan Nala. Tapi aku sadar, kejujuran perasaanku tidak akan ada gunanya. Seandainya Nala juga mencintaiku, itu tetap percuma. Aku seorang Muslim, dan dia bukan. Kutarik nafas dalam-dalam. Dan kulihat Nala mengalihkan pandangannya.
Angin berhembus membawa sajak kegersangan. Membuat hati kerontang saat tetes cinta tak lagi menyapanya. Semua tinggal kegaduhan, saat jeritan hati membaur dengan suara-suara bising yang memenuhi Taman Kota. Kebisingan yang tak bisa mengusik kebisuanku bersama Nala di bawah mentari sore.
***
Ada panggilan masuk dari Nala. Kusambar handphoneku dan aku mencari posisi yang nyaman di dalam kamarku yang cukup sempit.
“Halo….!” sapaku. Tidak ada jawaban. “Hallo…!” ulangku lebih keras lagi. Terdengar seperti ada suara isak tangis dari seberang sana. Aku penasaran dan sedikit panik.
“Nal, Nala.. Kamu tidak apa-apa?” kejarku.
“Aku mencintaimu, Fik! Aku mencintaimu!” Kudengar seruan serak Nala dari handphone. Aku terkejut. “Sejak dulu aku mengagumimu, Fik. Sejak dulu. Kamu begitu lain di mataku. Dan kamu memang lain dari yang lain. Kamu begitu menjaga pandanganmu saat denganku, kamu begitu menghargaiku sebagai seorang wanita. Kamu tidak seperti laki-laki lain, yang terlihat begitu rakus saat memandangku. Kamu beda, Fik. Dan… Dan aku benar-benar mencintaimu. Bukan Alex yang kuharapkan menjadi suamiku, tapi kamu, Fik, kamu…. Fikri Firmansyah!” lanjut Nala dengan suara yang semakin parau. Aku hanya terdiam. Berjuta kebimbangan mengambangkanku pada kenyataan bahwa aku kacau. Tapi segera kuingat Allah. Dan terbayang-bayang istikharahku tempo malam. Menjauhi Nala adalah pilihan. Walau secara manusiawi, hatiku terasa begitu sakit.
“Fik, aku tahu kamu juga mencintaiku. Dan ucapanmu saat itu adalah kejujuran dari hatimu. Aku yakin itu, Fik. Nikahi aku, Fik! Nikahi aku ... !” Nala meneruskan perkataannya. Air mata kurasa mulai mengaliri pipiku. Hatiku seolah tertusuk ribuan jarum es yang membekukan sisi indah dalam kalbu.
“Aku gak bisa, Nal..!” Tutttt. Handphone kumatikan. Kudengar suara azan berkumandang mendayu-dayu. Membuat hatiku semakin terasa teriris. Kulangkahkan kakiku menyambut seruan-Nya. Akan kupasrahkan semua perasaan ini pada sang penggenggam cinta.
***
Karena sibuk mempersiapkan diri untuk ujian skripsi, aku jadi sering pulang ke rumah larut malam. Banyak hal yang harus kuurus. Tapi semua terasa menyenangkan. Akhirnya aku akan lulus juga.
Mataku tertuju pada sebuah kertas merah di atas meja. Kuambil, dan ternyata surat undangan. Aku terkejut karena kudapati nama Alexander Markus dan Nala Marlina di dalam undangan. “Nala….?” Batinku bergemuruh.
***
Kulihat Nala begitu anggun dengan gaun pengantinnya. Walau dari jarak jauh, tapi kurasa dia benar-benar cantik. Alex berdiri di sampingnya. Mereka terlihat begitu menikmati pesta pernikahan mereka. Dan aku, mematung di kegelapan. Memegang kado yang berisi boneka kecil. Boneka yang kuharap dapat menemani Nala di sepanjang harinya.
Perlahan kakiku melangkah menjauh dari rumah Nala. Kuurungkan niatku untuk sekedar mengucapkan kata selamat untuk Nala dan Alex. Dari jauh saja kurasakan hatiku begitu terpukul, air mataku perlahan berderai. Aku sadar. Aku merasa kehilangan Nala dari hidupku. Seorang wanita yang tak mampu kumiliki karena perbedaan. Tapi hatiku selalu yakin,”Inilah yang terbaik.” Kota Metro kurasa menjadi kelabu. Sekelabu hatiku yang telah kehilangan setitik cahaya yang sempat meneranginya.
***
“Mas, kok nangis?” Sebuah suara berhasil mengejutkanku. Bayangan Nala pun sekejap buyar. Aku gelagapan sambil secepat mungkin menyeka air mata yang telah membanjir di pipiku. Pria yang mengaku mahsiswa Unila itu terheran-heran melihatku.
“Mas gak kenapa-napa, kan?”
“Oh.. Gak kok. Aku gak kenapa-napa,” jawabku sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela bis. Kendaraan ber-AC itu memasuki area SPBU dan berhenti untuk mengisi bahan bakar.
Kupandangi seputaran SPBU. Hujan telah reda. Hanya tersisa angin yang menggelindingkan plastik-plastik bekas makanan kesana-kemari. Dan juga mengayun-ayunkan daun-daun di ranting. Ada pemandangan yang membuatku terpaku. Aku benar-benar tak menyangka. Aku melihat Nala di dekat tempat pengisian bahan bakar. Ia memakai jilbab merah dan terlihat begitu anggun. Aku tak percaya. Kukucek berkali-kali mataku. Namun, tetap Nala yang kulihat. Aku melejit secepat mungkin dan ke luar dari bis.
“Nala…!” seruku setelah jarakku tinggal satu meter dari si wanita berjilbab merah. Dia menoleh dan menatapku dengan heran. Dia bukan Nala. Ya, bukan Nala. Seorang pria berkulit bersih tiba-tiba datang menyapaku,”Ada apa ya, Mas?”
“Ah, tidak.. Tidak apa-apa…” jawabku gelagapan.
“Oh, ya sudah,” ucap si pria yang sejurus kemudian mengajak wanita yang kukira Nala menjauh dariku. Aku hanya menatap mereka dari belakang.
“Sepertinya aku mulai gila, mana mungkin Nala memakai jilbab?” batinku.
Kuamati keadaan sekitar. Aku tahu ini di Natar, salah satu kecamatan yang ada di Lampung Selatan. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang merasuk ke ingatanku. Aku mencoba memperjelas ingatan itu.
“Hah ... ? Hari ini jadwalku ujian skripsi ... ”

No comments:

Post a Comment