Friday, January 8, 2016

“Si Dekil”

Oleh: Muklis Ahsya

Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Sebagai peringkat kesebelas, aku cukup bangga menyambut kenaikan kelas. Sekarang sudah kelas tiga, saatnya menjadi penguasa di SMA.
Pagi yang sejuk dengan awan hitam bergelanyut di angkasa, membuat pagi ini terasa seakan masih subuh. Kulangkahkan kaki menuju ruang kelas. Astaga! Ternyata sudah ada guru di kelas.
“Assalamualaikum!” sapaku sambil melongokkan kepala ke dalam ruangan.
“Walaikumsalam. Silahkan masuk!” sambut bu Endang seorang guru matematika yang menurutku sangat cantik dan masih muda. Aku menuju bangku paling belakang yang masih kosong dan menempatinya.
“Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam. Lho, Pak Anwar. Silahkan masuk!” sahut bu Endang sedikit terkejut. Pak Anwar memasuki ruang kelas diikuti seorang siswa di belakangnya. Terjadi perbincangan sebentar antara pak Anwar dan ibu Endang. Entah membicarakan apa. Suaranya terlalu pelan. Sejurus kemudian pak Anwar keluar dari kelas setelah sebelumnya menepuk-nepuk bahu siswa yang bersamanya. Siswa itu hanya diam. Tatapannya aneh dan sebentar-sebentar tersenyum. Rambutnya ikal, pakaiannya bersih dan rapi. Tapi sayang, kulitnya dekil sekali, seperti sebulan lebih tidak pernah mandi.
“Anak-anak, kita kedatangan siswa baru dari Bandung,” Bu Endang membuka pembicaraan.
“Wah, orang Bandung ternyata ada yang dekil juga. Selama tinggal di Lampung, aku belum pernah menemui orang sedekil itu,” bisikku dalam hati.
“Bandung sebelah mana, Bu? Mungkin yang Ibu maksud, anak ini berasal dari hutan di Bandung,” celetuk Imam yang disambut dengan tawa anak satu kelas.
“Tidak boleh begitu, Imam!” tegur bu Endang. Guru yang cantik itu berjalan mendekati siswa baru yang dekil itu. “Silahkan perkenalkan dirimu!” suruh bu Endang padanya.
“Hai, teman-teman! Namaku Akri Samsudin. Aku berasal dari Ba….”
“Cukup!” potongku. “Sudah, mendingan kamu langsung duduk saja. Kami tidak butuh berkenalan denganmu,” lanjutku dengan gaya merendahkan. Sebenarnya aku tidak sejahat ini. Tapi beginilah budaya di sekolahku. Kami tidak akan membiarkan anak baru masuk sekolahan kami dengan mudah. Kami akan buat hidupnya tidak nyaman. Atau setidak-tidaknya dia harus berjuang dulu untuk brsosialisasi dengan kami. Dan kurasa bu Endang maklum dengan kebiasaan kami.
“Baik, Akri. Lebih baik sekarang kamu duduk saja. Kursi di sebelah Hery masih kosong, kamu boleh duduk di sana,” ucap bu Endang sambil menunjuk ke arah kursi di sebelahku. Wah, mimpi apa aku semalam? Bisa sial seperti ini. Dan lebih sial, keadaan ini menjadi bahan tertawaan teman-teman satu kelas.
“Ini pertama kali dalam sejarah, Harry Potter duduk sebangku dengan Tarzan,” seru Reni yang membuat ruang kelas seakan bergetar oleh tawa-tawa yang menyebalkan. Mulut perempuan satu ini memang rombeng.
Waktu memang tidak pernah mau berhenti. Ia berjalan sesuai fitrahnya. Merenda pelangi dalam kehidupan. Menyematkan cinta dan derita. Menjejali hidup dengan masalah. Ya, seperti masalahku saat ini. Si Dekil ternyata sangat pandai. Ia dapat menghafal dengan cepat, berhitung seperti kilat, berbicara dengan sangat mempesona. Ia benar-benar membuat hidupku penuh cidera. Bagaimana tidak? Makhluk dekil itu mengusai kelasku dengan mudah. Para bidadari-bidadari cantik tiap hari mengerumuninya untuk diajari matematika, teman-teman yang dekat denganku kini lebih suka dekat-dekat dengan si dekil agar mendapat contekan. “Dasar penjilat,” makiku dalam hati. Dan yang lebih parah lagi, sejak makhluk dekil itu ada di kelasku, teman-teman semakin menjadi-jadi mengolok-olokku dengan sebutan ‘Harry Potter’. Aku menjadi terasing. Hanya kebencian yang menemaniku. Aku lebih senang berteman dengan buku-buku yang dulu tidak kusenangi. Rumus-rumus matematika banyak yang melekat dalam otakku, pembahasan Biologi kuhafal seperti menghafal puisi, Fisika, Kimia, Sastra, dan semua pelajaran mulai aku kuasai. Ini semua kulakukan demi menyaingi si manusia dekil. Aku begitu mandiri karena terlalu gengsi jika harus mencontek dengan si Dekil.
Hatiku benar-benar dongkol saat pembagian rapor semester ganjil. Dalam suasana yang menegangkan, wali kelas kami menyebutkan Akri Samsudin sebagai juara pertama di kelas kami. “Dasar penjajah! Mana si Ervita yang dari dulu selalu juara satu? Kenapa begitu mudah digeser oleh si Dekil? Alien satu ini memang sangat menyebalkan,” gumamku dengan geram.
“Juara kedua, diraih oleh Hery Admawijaya,” tutur bapak wali kelas sambil tersenyum cerah. Jantungku benar-benar mau copot rasanya. Sejenak kutengok Akri yang duduk di sebelahku, ia tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku. Teman-teman satu kelas gaduh dan berhambur ke arahku. Ada yang menyalami, menepuk-nepuk pundak, kepala, dan ada yang menarik-narik bajuku. Aku hanya terpaku tidak percaya, tesenyumpun tidak sanggup. Tiba-tiba kurasakan pening di kepalaku, semua terasa gelap. Hanya samar-samar suara cempreng Reni yang masih dapat kudengar,”Ini pertama kali dalam sejarah, Harry Potter dapat juara dua.”
Saat kubuka mata, ternyata aku berada di ruang UKS. Ada si Dekil, Ervita, dan Imam yang menungguiku. Aku bangun dari pembaringan. Rasanya seperti baru bangun tidur. Makhluk dekil terlihat mendekatiku.
“Hai, Harry Potter! Sudah siuman ternyata. Selamat, ya!” ucap Akri sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak menyambut uluran tangannya. Bahkan kutampik tangannya dari hadapanku.
“Pergilah kalian! Aku tidak suka dipanggil Harry Potter.”
“Kenapa? Harry Potter hebat,” Tanya Akri. Makhluk dekil ini tambah membuatku merasa muak.
“Harry Potter itu hebat karena dia ditakdirkan untuk menjadi hebat. Dia adalah orang hebat pilihan Tuhan. Aku tidak mau seperti Harry Potter, aku ingin hebat karena usahaku. Aku ingin hebat bukan sebagai manusia yang ditunjuk Tuhan untuk hebat,” tegasku.
“Nanti kamu akan sadar, bahwa ternyata hebat karena dipilih Tuhan itu adalah rahmat. Dan hebat karena usaha saja itu palsu. Orang hebat yang dipilih Tuhan tidak secara praktis mendapatkan kehebatannya, ia harus mengikuti hokum alam, ia harus melakukan ikhtiar dan perjuangan. Dan pilihan Tuhan itu adalah bentuk keridhoan-Nya.” Akri terlihat serius. Biasanya ia bicara sambil tersenyum, tapi kali ini tidak. Aku hanya diam. Karena sebenarnya aku belum paham dengan apa yang dia katakan.
“Mungkin lain kali kita bicarakan lagi. Sekarang aku harus pergi dulu.” Si dekil berjalan meninggalkan ruangan. Tinggal Ervita dan Imam yang menatapku penuh kesungkanan.
Hari-hariku penuh dengan kebencian. Aku sama sekali tidak rela dengan kehadiran si Dekil. Ia membuat semuanya berubah menjadi buruk di mataku. Hampir setahun kami duduk sebangku, namun tidak pernah sekali pun aku mengajaknya bicara. Jika ia mencoba membuka pembicaraan, aku berusaha menghindar. Aku tidak perduli, aku bahkan ingin sekali tidak mendengar suaranya. Sebenarnya Akri sangat baik, ia pintar, ia sangat disukai oleh teman-teman satu kelas. Ia sangat murah senyum, suaranya bagus, dan ekspresi bicaranya menawan. Hanya satu kelemahannya, ia sangat dekil. Mungkin ia tidak pernah mandi, atau mungkin ia memang benar-benar keturunan alien. Entahlah, aku tidak berminat untuk mencari tahu. Yang pasti, aku benar-benar tidak menyukai makluk dekil itu.
Ini adalah hari yang sangat mendebarkan namun sangat aku tunggu. Karena ini adalah gerbang bagiku untuk segera meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan si Dekil dan menghapusnya dari kehidupan ini. Suasana begitu mencekam pada detik-detik pengumuman kelulusan ini.
Aku masuk dalam kerumunan siswa untuk melihat daftar kelulusan. Terasa bergetar tangan ini. Ingin rasanya menutup mata saja, dan berharap ada yang berbisik di telingaku,”Kamu lulus.” Terus kucari namaku dalam daftar yang ditempel di mading. Dari satu lembar daftar tidak kutemukan namaku, lalu aku pindah ke daftar yang lain. Namun setelah beberapa lembar terlewati, tidak kutemukan juga namaku. Hati ini mulai cemas. “Habis juara dua, kok, tidak lulus,” protesku dalam hati. Astagfirlah! Kenapa aku jadi sombong begini?”. Tinggal satu lembar lagi daftar yang belum kubaca. Aku bergeser ke lembar yang paling kiri. Rasa cemas, takut, dan deg-degan bercampur dan membuat kaki ini mau roboh saja rasanya. Dan sepertinya aku memang benar-benar akan roboh. Namaku. Namaku ada di urutan paling atas. Itu artinya aku lulus, dan menjadi lulusan terbaik dengan nilai tertinggi. Di urutan nomor dua tertera nama ‘Akri Samsudin’. “Aku bisa mengalahkan si Dekil? Tidak mungkin. Ini pasti mimpi.”
Kulihat si Dekil duduk di taman sekolah bersama dengan Reni. Kuhampiri mereka. Aku sadar, aku bisa mendapatkan prestasi ini berkat kehadiran si Dekil. Tanpa dia pasti aku akan tetap bertahan dengan peringkat kesebelasku, dan untuk masuk ke sepuluh besar saja susah. Tapi kehadiran si Dekil telah mengubah semuanya. Sekarang aku bisa meraih sesuatu yang sebelumnya untuk membayangkannya saja aku tidak berani. Tiba-tiba rasa benciku pada si Dekil sirna begitu saja.
“H..h..hai!” sapaku dengan penuh rasa canggung.
“Hery. Selamat,ya! Kamu memang hebat,” ucap si Dekil sambil menyalamiku. Reni langsung mendekatiku. “Harry Potter luar biasa. Selamat, ya!” Reni menepuk-nepuk pundakku. Gadis ini kadang terlihat sangat manis jika tidak sedang banyak bicara.
Aku bingung harus bicara apa. Semua serba canggung. Kuberanikan menatap mata Akri. Mata yang penuh sorot keoptimisan. Wajahnya tidak banyak berubah dari awal aku melihatnya, masih saja dekil. Dia periang. Dia penuh inspirasi dan sangat menginspirasi. Rambut ikalnya terlihat kering dan acak-acakan. Anak ini memang benar-benar semrawut, tapi kepandaiannya tersusun rapi dalam batok kepalanya. Ingin rasanya kupeluk tubuh kurusnya dan kutumpahkan air mata keharuan ini. Dia sangat berjasa dalam hidupku. Dia telah mengantarkanku ke dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akri pasti akan menjadi orang besar nantinya. Dia pasti akan sukses dengan kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Aku memang lulusan terbaik, namun aku tidak pernah merasa lebih hebat dari si Dekil. Dengan rasa yang berat, kuurungkan niatku untuk memeluknya. Aku berlalu dengan hati yang gulana. Ada sesuatu yang tidak mampu kusentuh dalam hati ini.
Kurang dari enam tahun aku berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di Yogyakarta. Saat menjalani masa kuliah, aku selalu membayangkan si Dekil ada di sampingku. Dengan begitu, semangat belajarku terus terpacu karena aku tidak ingin kalah dari si Dekil. Si Dekil menjadi penyemangat tersendiri untukku. Dia begitu lekat di hati dan pikiranku.
Tidak berselang lama aku langsung ditawari jabatan penting di sebuah perusahaan besar di Jogja. Dan keberuntungan seolah terus menghujaniku. Lamaranku pada Shintia, perempuan soleha berjilbab yang kukenal dari seorang ustadz, akhirnya diterima setelah aku menunggu hampir tiga bulanan. Aku tidak sabar ingin pulang ke Lampung, bertemu dengan si Dekil dan mengabarkan ini semua. Aku juga ingin melihat seberapa sukses bocah ajaib itu.
Degggg! Rasanya seperti dipalu jantung ini. Ucapan Imam yang saat ini berada di hadapanku, terus terngiang-ngiang di kepala ini. “Akri gila, Her. Ia gila setelah dipukuli warga saat kedapatan mencuri uang bu Inah. Mungkin ia mengalami gegar otak setelah kepalanya dihujani balok kayu berkali-kali.” Tidak. Tidak mungkin Akri mencuri. Dan Aku tidak percaya Akri gila. Imam pasti bercanda.
“Biar kuantar ke tempatnya, jika kamu ingin bertemu dengannya,” tutur Imam seolah ingin meyakinkanku.
Imam membawaku ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Rumah kayu yang terlihat sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Bolong sana-sini. Kotor dan terkesan sangat misterius. Imam mengajakku masuk ke dalam rumah yang ternyata cukup terang karena atapnya sebagian menganga.
“Itu Akri,” bisik Imam sambil menunjuk ke pojok ruangan. Seorang pemuda sedang menatap kosong ke arah kami. Rambut dan pakaiannya sangat berantakan. Kulitnya penuh debu. Wajahnya sangat memelas, dekil sekali. Matanya. Ya, matanya sangat kukenali. Itu mata yang kutatap di taman sekolah sekitar enam tahun yang lalu. Mata yang dulu penuh pancaran keoptimisan.
Tidak mampu kubendung air mata ini. Aku berlari dan menubruknya. Kupeluk erat tubuh yang terasa seperti tulang. Aku meraung dalam kepahitan. Betapa baru kali ini kurasakan kepedihan yang begitu menyayat. Si Dekil benar, memang lebih baik hebat karena dipilih Tuhan daripada hebat karena usaha saja. Karena nyata di mataku, Akri yang hebat kini kosong dalam kehampaan karena tidak dipilih Tuhan. Alangkah sombongnya aku selama ini.
Aku bertambah erat memeluknya. Si Dekil hanya diam. Dia tidak sadar dengan apa yang terjadi. Kurasa ia tidak dapat merasakan pelukan tulus dariku ini. Andai mampu kuputar waktu, aku ingin kembali ke taman sekolah. Akan kupeluk erat si Dekil. Di saat terakhir pertemuan itu, di saat ia masih bisa merasakan hangatnya pelukanku.

No comments:

Post a Comment