Friday, January 8, 2016

“Gurat Bidadari”

Oleh: Mukhlis Ahsya
Aku hanya bisa termenung memandangi hamparan sawah yang menguning. Terhuyung-huyung dihempas angin sore yang beraroma matahari. Burung-burung hinggap dengan takut-takut di atas bulir-bulir padi yang menggoda. Mematuk si bernas dalam bayang-bayang orang-orangan sawah. Di depan sana langit lepas terpampang mempesona. Memaksa batin untuk takjub pada Sang Pencipta. Awan yang berarak menutup cahaya membuat lukisan indah di gerbang senja. Disambut debu yang menari-nari diiringi gemercik air yang berirama bersama daun yang saling bersinggungan. Nyanyian alam yang melenakan insan dalam buai kesejukan. Meneteskan tinta dalam lembaran kisah cinta yang tak terperikan. Inilah hidup, dalam buai bayang bidadari yang mengangkasa.
“Hamid Sandrea, benar?” Tanya sosok wanita di depan pintu rumah.
“Iya, benar. Siapa, ya?” aku sedikit terkejut. Wanita itu tersenyum. Tercetak garis indah di sudut bibirnya.
“Hemmm, aku adalah aku. Aku hamparan tanpa ukiran. Aku bagai lembaran kosong yang menunggu cahaya jatuh. Untuk menerangiku, agar cinta dapat menemukan jalannya di lembaran kosongku.”
Aku takjub. Aku tahu siapa wanita di depanku. Bibirku pun melantun dengan pasti,”Dan cinta dapat memasuki titik di mana hatiku bersemayam. Lalu cinta melekat di sana. Menjadikan merah darah seelok warna pelangi.”
“Hahahaha…..” Kami tertawa bersama. Tidak kusangka, Hafsa hadir di hadapanku. Dia adalah melodi yang mengiringi kisah hijauku, saat kami bersama-sama merajut persahabatan yang lugu. Entah berapa tahun lamanya aku tidak melihatnya. Setelah ia pindah dan menghilang dari kehidupanku. Kini Hafsa sulit untuk dikenali. Hanya saat ia tertawa, yang mengingatkanku pada Hafsa berpuluh tahun yang lalu. Seorang gadis periang, yang kecantikannya sulit untuk digambarkan. Dan kini, keyakinanku tetap sama, kecantikan Hafsa memang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Ada gurat bidadari di rona wajahnya. Walau bukan bidadari sungguhan, namun saat melihatnya aku dapat menerka-nerka seperti apa bentuk bidadari. Hafsa, dia adalah wajah purnama yang hampir setiap hari menemani masa beliaku. Yang dengan setia menjadi pembaca syair-syair hasil tarian jemariku. Bahkan, ia melekatkannya di ingatan. Hafsa, dia lukisan di rapat senja. Karya artistik keagungan tangan Tuhan.
Aku menatap Hafsa. Ada ngilu merayap di ulu hati. Ada keganjilan yang sekejap menderaku. Kehadiran Hafsa memunculkan benih sesal. Sesal karena seminggu lagi aku akan menikah dengan Nadia. Wanita berkerudung yang bersedia merajut cinta bersamaku setelah melalui proses ta’aruf. Hatiku goyah. Hafsa adalah nada-nada yang ingin kudengar sepanjang masa. Yang kucari-cari sampai ke sarang lebah. Kukira ia diculik kawanan tawon karena disangka madu.
“Astagfirlah..!” Komitmenku diuji. Hatiku berdesis-desis berlumuran bisa.
***
Dering Handphone mengusik lamunanku. Kuraih. “Hasfsa….?” Aku terperanjat. Dengan ragu kuangkat telepon.
“Assalamualakum!” sapaku.
“Walaikumsalam.” Terdengar sahutan lembut. “Di mana, Mid?”
“Eee, aku. Aku sedang tidak di rumah.”
“Terus, di mana?”
“Aku di sawah tempat kita dulu sering mencari keong.”
“Oh. Aku ke sana, ya...!”
“Eh, jangan, jangan! Aku ke rumahmu saja. Ibumu ada di rumah, kan?” Tidak terbayangkan jika harus berduaan dengan Hafsa di pematang sawah seperti ini. Aku sadar sekali, kami bukan anak kecil lagi. Tidak bisa sembarangan berduaan. Hanya akan menimbulkan dosa dan fitnah.
“Iya, ada. Ya sudah, aku tunggu. Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam.....” Telfon dimatikan. Ada kebimbangan yang kurasakan. Entah perasaan apa yang kumiliki untuk Hafsa. Sayang? Cinta? Rindu? Apa ini? Jika mengeluh bukanlah hal yang dibenci Tuhan, tentu aku akan mengeluhkan sketsa cerita ini. Tentang kehadiran Hafsa menjelang acara pernikahanku.
“Mid, Hafsa itu sering nangis jika rindu sama kamu. Katanya kamu itu seolah bagian dari dirinya. Saat jauh, ya, terasa sulit. Kangen katanya,” ucap ibu Hafsa sambil melirik ke arah anak semata wayangnya itu.
“Iiiiih, Ibu ini apaan, sih? Ngarang cerita,” protes Hafsa.
“Ngarang bagaimana? Lha wong kenyataannya seperti itu, kok,” ibu Hafsa kembali menimpali. Membuat wajah Hafsa yang bagai bidadari memerah indah. Aku hanya mengulas senyum tipis. Ada tanya yang bertambah mengusik kalbuku. “Apakah Hafsa juga memiliki perasaan sama sepertiku?” Ahh, semoga saja tidak.
Lusa adalah hari pernikahanku, tapi aku belum memberitahukannya pada Hafsa. Aku benar-benar tidak berani mengungkapkan itu. Hafsa telah melekat di hatiku sejak kecil dulu. Dan itu semua menggoreskan kesan yang sulit untuk digambarkan. Yang pasti aku ingin seperti saat kecil dulu, selalu bersama Hafsa.
***
Dengan ragu kuketik sms, “Sa, maaf jika baru memberi kabar. Besok insyaallah aku akan menikah. Maaf juga karena tidak memberimu undangan. Anggap saja sms ini sebagai undangan spesial untukmu. Mohon do’anya, ya!”. Kutarik nafas dalam-dalam. Hatiku seperti dihimpit gunung, sesak. Air mataku jatuh saat kutekan tombol kirim di handphone.
Lama menunggu. Akhirnya ada pesan masuk dari Hafsa. Aku membacanya dengan penuh keraguan. “Aku terkejut. Dan aku juga senang mendengarnya. Selamat, ya! Semoga menjadi keluarga yang bahagia! Aamiiin!”.
Aku mengawang. Tak tahu harus senang atau pilu. Balasan pesan Hafsa mencipratkan dua rasa sekaligus. Gula dan garam.
***
Mentari pagi tersenyum begitu cerah. Angin lembut menyapa pori-pori tubuh ini. Dingin yang bercampur kehangatan melebur dalam tubuh yang penuh keraguan. Gerombolan burung terbang rendah menyapa dunia. Melewati kuning padi yang melambai pada sang surya. Gemercik air tetap menjadi nada-nada setia yang menghiasi kesunyian. Menemani para petani yang mulai menyabetkan aritnya. Memapas tangkai-tangkai padi dengan begitu lincahnya.
Aku berdiri mematung di pematang sawah. Memandang keindahan alam dan menikmati aroma khas persawahan. Mataku terus berkeliling, meniti setiap jengkal objek yang ada di sekelilingku. Berharap ada bekas-bekas masa laluku bersama Hafsa yang bisa kutemukan.
Aku melangkah. Pulang, dan mempersiapkan diri untuk menikah. Berusaha menguatkan hati, dan percaya bahwa inilah yang terbaik. Tidak perlu lagi mencari bayang Hafsa di pematang sawah, karena ada Nadia, yang bukan hanya sekedar bayangan. Ya, Nadia adalah calon istriku. Yang akan menjadi nada-nada baru di lorong hidupku.
***
Kini, Nadia telah resmi menjadi istriku. Orang baru dalam hidupku, yang harus kucintai dengan ketulusan. Aku memandangi Nadia yang sedang sibuk membongkar isi kado. Nadia begitu anggun dengan jilbab lebarnya. Ada sedikit rasa canggung, malu, dan segala macam perasaan aneh lainnya. Tiba-tiba aku teringat Hafsa. Dan aku pun segera menepisnya. Tapi gagal. Tadi Hafsa tidak hadir di pernikahanku. Ke mana dia? Sakit, kah? Atau….. “Ah, mungkin tadi dia datang, hanya saja aku tidak melihatnya,” bisikku dalam hati.
“Mas, ini ada surat dari dalam kado,” ucap Nadia yang membuyarkan lamunanku. “Kita baca sama-sama, yuk!” serunya. Aku melihat bungkus kado di atas pangkuan Nadia. Aku ambil, dan….. “Hafsa?”
“Ee, eeeee…. Kurasa surat itu untukku. Biar aku saja yang baca, ya!” tuturku. Kulihat ekspresi datar dari Nadia. Ia menyerahkan surat yang ditemukannya sambil mengulas senyum yang dipaksa. Aku jadi serba salah.
“Nadia, nanti akan kuceritakan padamu isi surat ini. Percayalah, Nadia! Aku suamimu.” Aku mencoba tersenyum lebar. Berharap Nadia dapat mengerti.
“Baca, lah, Mas! Nanti aku juga ada cerita untukmu.” Wanita cantik itu tersenyum sambil menyodorkan surat ke arahku. Aku langsung mengambilnya dan mencari posisi agak menjauh.

Hamid Sandrea
Sahabat Kecilku
Dari masa lalu kubawa rembulan pemberianmu. Cahaya teduh yang selama ini menyinari hatiku. Kalbu memang sering kali berubah, tapi tidak untuk kalbu yang bertabur cinta yang kuat. Dalam aroma sawah yang tak akan kulupakan, seorang anak belia terus berlari-lari dalam benakku. Hingga ia dewasa, hingga kusadari aku mencintainya.
Mid, aku menangis seharian saat kau kirim sms itu. Kau tahu, aku seakan kehilangan sebagian dari hidupku. Apa yang dikatakan Ibuku adalah apa adanya. Aku memang selalu merindukanmu.
Aku ingin dalam setiap hariku, kau selalu tuliskan puisi untukku. Aku berharap kita masih bisa terus memandangi hamparan sawah yang indah. Berlari-lari di pematang sawah, sambil lafazkan puisi-puisi indah darimu. Aku ingin sebelum tidurku, kau ucapkan kalimat lugumu yang dulu, “Aku akan menjadi pelangi dalam gulitamu”.
Biarlah harap terus jalani perannya. Dan biarlah takdir tentukan arahnya. Dan biarlah aku terus lafazkan puisi-puisi tentangmu. Kini aku sadar, bahwa kau tetap bagian hidupku. Ya, bagian dari perjalanan masa laluku. Kini aku akan berjalan sendiri, menyusuri pematang sawah, dan syairkan kata-kata indah. Aku akan sendiri, dalam buaian kisah masa lalu.
Selamat, ya, Mid!
Hafsa

Kurasa ada butir hangat yang merayapi pipiku. Jalan cerita ini sulit untuk dipahami. Apalagi untuk diterima. Sang bidadari terus melayang dalam pikiran. Ia bergelanyut dalam hati. Tetes air matanya membuat nyeri di kalbu.
“Mas, aku tahu apa yang kamu rasakan.” Suara Nadia berhasil menyentakku. Aku terkejut. Apa maksud Nadia?
“Kemarin ada wanita sangat cantik menemuiku. Namanya Hafsa. Ia bercerita banyak padaku.” Nadia menghela nafas. “Aku sempat cemburu saat ia banyak memujimu. Aku merasa kerdil, karena belum banyak yang kutahu tentangmu. Sebelum pergi ia memelukku. Dan dia menangis.”
“Nadia, ini….”
“Husssstttt!” Nadia memotong. “Hafsa berpesan agar aku selalu setia mencintaimu,” lanjutnya.
“Maksudmu?” Aku heran. Nadia mengusap pipiku yang dibasahi air mata. Ia tersenyum dengan lembut.
“Mas, walau aku tidak seperti bidadari layaknya Hafsa, dan aku tidak selembut Ibumu, tapi aku berjanji, aku akan berusaha untuk menjadi wanita yang terbaik untukmu, suamiku.” Tatapan Nadia begitu teduh. Secepat listrik ia menyengat kebekuan darahku. Mengusir gundah dan keraguan yang memenuhi rongga hati.
“Oh, Nadia…. Kau lah bidadariku.”













No comments:

Post a Comment