Oleh: Mukhlis Ahsya
“Kita terus mendaki karena kita yakin gunung ini ada puncaknya!” Sebuah teriakan meluncur menaiki tanah terjal yang hampir saja membanting ketahanan fisik. Nyaringnya menipis saat sampai di telingaku.
Aku tersenyum. Di sela sengal-sengal nafas, entah seperti apa wujud senyum itu. Saat kutoleh, seorang anak kecil bersusah payah mengejarku. Ialah Ibad, bocah kelas satu SD yang buatku takjub bukan main. Ia mendaki di keterjalan lebih dari 60 derajat, dengan kondisi medan yang baru diguyur hujan.
“Ayo, pasti ada puncaknya di atas sana!” Suara itu kembali muncul. Meski diucapkan dengan kuat, nyatanya terdengar pelan juga saat sampai di telinga. Kak Rudi, dia pemilik suara itu. Ingaatanku langsung melayang pada kegiatan semalam, mabit di Masjid Al-Amin, masjid mungil di Batu Putu, Teluk Betung Utara.
“Pekerjaan bisa mendatangkan pahala jika kita atur dengan baik. Dan pastinya jangan menghambakan diri pada manusia saat bekerja, caranya ya kerjakan baik-baik apa yang sudah ditugaskan untuk kita. Bukan karena takut pada atasan, tapi semata karena mengharap ridho dari Allah.” Begitu kata Kak Rudi, yang saat ini bekerja di sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Beliau yang dijadikan pemberi ceramah dadakan di agenda mabit kelompok ngaji Al-Mughoyyir, nyatanya tetap bisa menyampaikan materi yang berkualitas.
“Jangan menuhankan ikhtiar!” tekan lelaki yang belum terlalu lama menggugurkan status lajangnya itu. Dengan mengutip Surah Al-Ikhlas beliau melanjutkan,”Allah lah tempat kita menggantungkan segala sesuatu.”
Al-Mughoyyir; “from the circle to the world”, adalah wadah kami menimba ilmu keislaman yang dibimbing oleh Ustadz Ramadhan. Setiap hari Minggu, dari bakda magrib sampai waktu yang sulit ditetapkan, kami mencoba untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah muslim sejati, yang bangga pada agamanya, yang setia mempelajari ilmu-ilmu langit yang diturunkan ribuan tahun yang lalu. Jika tidak ada halangan, setiap seminggu sekali, secara bergiliran kami berdiskusi tentang Islam, mendengarkan shirah nabi, hafalan al-quran sedikit-sedikit, dan hafalan 10 hadis arba’in setiap satu semester. Banyak orang hebat di sini (kecuali aku), salah satu contohnya adalah Riki Septiawan. Temanku satu ini pernah bersepeda lebih dari 15 KM untuk mengaji bersama. Jarak yang fantastis jika ditempuh di bawah gelapnya malam. Tapi, nyatanya Riki pernah mencobanya, dan dia bahagia.
Islam adalah cahaya, mempelajarinya adalah cara memindahkan cahaya itu ke dalam hati. Banyak cara, banyak waktu, banyak kesempatan untuk mendalaminya ketika kita sadar bahwa itulah jalan untuk menjadikan ibadah semakin nikmat, beribadah dengan ilmu. Islam adalah cinta, karenanya hati kami lekat dalam ukhuwah, seperti malam kemarin, di Batu Putu.
Tunggu kelanjutan ceritanya di “Jalan Menuju Pacet”. Kisah pendakian yang mendebarkan.
Monday, January 11, 2016
Sunday, January 10, 2016
“Hal Termahal 2”
Oleh: Mukhlis Ahsya
12.45, Banjarrejo.
Desing kendaraan berpelantingan di telinga Rade. Pemuda bertas gendong itu berboncengan di atas Jupiter Z bersama Agil. Agil yang merupakan pengusaha pemasok dana untuk penelitian Rade ingin ikut melakukan observasi di rumah Prof. Yudha. Ia selalu terbayang-bayang keuntungan yang akan dia raup jika dapat memperoleh resep ramuan anti selingkuh. Bayangkan, jika obat itu benar-benar mujarab, berapa banyak ibu-ibu rumah tangga yang akan mengordernya. Belum lagi para pegiat cinta jalanan yang mulai meragukan kesetian pasangan abal-abalnya, pasti akan memburu obat ini. Bisa jadi berbisnis obat ini akan jauh menguntungkan dibanding berjualan narkotika. Sebagai pebisnis yang peka terhadap pasar, Agil tampak ingin menerkam peluang dengan memanfaatkan jiwa petualang Rade.
Sebuah rumah bercat hijau berdiri kokoh di tepi area persawahan. Agil memarkir kendaraan birunya tepat di sisi kiri pelataran rumah yang terasa asri itu. Buru-buru Rade melompat dan segera merapati pintu rumah.
“Assalamu’alaikum … !”
“Assalamu’alaikum …!”
Tidak ada jawaban. Namun, terlihat ada yang memutar gagang pintu dari dalam.
“Ohi, siapa ya?” Seorang perempuan dengan rambut sebahu keluar. Matanya menyelidik penuh curiga. Di tangannya sebuah kipas kertas dengan hiasan gambar geisha tidak henti-hentinya berayun.
“Saya Rade, Tante. Mau ada per … .”
“Ohi, Tante? Jangan panggil saya ‘Tante’!”
“Oh, sorry! Saya harus panggil bagaimana?”
“Panggil saya ‘Bibi’. Ya, panggil ‘Bibi’ saja. Tepatnya Bibi Meida.”
“Oke. Sepertinya lebih santun,” serobot Agil sambil mengulurkan tangan.
“Saya Agil Pramusaji.”
“Oh, maaf! Kita bukan mahram, jadi tidak boleh berjabat tangan.” Meida menelungkupkan telapak tangannya di depan dada.
“Bibi sangat menjaga diri, tapi kenapa tidak berjilbab?” tanya Rade sehalus mungkin agar tidak menyinggung.
“Karena saya bukan Muslimah. Tapi saya suka dengan ajaran agama kalian, apalagi tentang larangan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, it’s amazing!” terangnya dengan gembira. “Menjaga kesucian cinta untuk pasangan maupun calon pasangan itu juga harus diaplikasikan dengan menjaga diri dari mereka yang tidak halal untuk kita sentuh,” lanjut wanita ekspresif itu. Rade dan Agil terbengong-bengong dibuatnya. Diam-diam mereka begitu bangga dengan ajaran agamanya.
“Ohi, kalian ada perlu apa?”
“Kami ingin bertemu Prof. Yudha,” jawab Rade.
“Oke-oke. Kalian tidak terlihat seperti penjahat, silakan masuk!”
Rade dan Agil diantar Meida menuju ruang kerja Prof. Yudha. Rade sedikit heran dengan situasi rumah yang tampak biasa, tidak seperti rumah-ramah peneliti pada umumnya yang banyak pernak-pernik yang berbau ilmiah.
“Saya Yudha Kegawa. Ada apa mencari saya?”
“Ah, saya tampak tidak asing melihat Anda. Wajah Anda mirip salah satu personil Boy’s Band tersohor, One Direction,” ucap Agil politis. Prof. Yudha tersipu, lalu mengangguk-angguk salah tingkah.
“Saya Rade, mahasiswa yang sedang meneliti obat anti selingkuh buatan Anda. Dan ini donatur saya, Bapak Agil Pramusaji,” terang Rade dengan nada khasnya. Prof. Yudha kembali manggut-manggut.
“Apa kami bisa langsung mewawancarai Anda, Prof?” kejar Agil dengan tidak sabaran.
Prof. Yudah tersenyum. Matanya sesekali melirik dua tamunya secara bergantian.
“Kalau nyawa kalian hanya satu, lebih baik urungkan niat kalian. Sudah ada yang menunggu kalian di luar sana.” Prof Yudha menatap tajam pada Rade.
Sesaat berselang, Rade menyadari sesuatu. Telinganya menangkap suara mencurigakan, seperti ada ledakan-leakan kecil di luar sana. Ia mundur selangkah menyejajari Agil. Lalu bergegas keluar sambil menyambar tangan donaturnya itu.
“Sial! Apa-apaan ini? Siapa yang melakukannya?” pekik Agil penuh emosi. Rade takjub menyaksikan pemandangan di depan matanya. Ia tidak menyangka dengan hal yang baru saja terjadi.
“Hari ini sepeda motor kalian yang dibakar, mungkin besok giliran kalian berdua,” tutur Meida dengan tatapan kosong.
“Ini bukan masalah yang bisa diatasi oleh mahasiswa sepertimu, Rade. Pulanglah! Persoalannya tidak seremeh yang kamu kira,” timpal Prof. Yudha.
“Kalian pasti tahu pelakunya, saya akan tuntut kejahatan ini!” gertak Agil dengan suara melangit.
“Sama saja kalian menyerahkan kepala di kandang buaya lapar. Kalian sedang berhadapan dengan kejahatan yang tersistem dengan baik.”
Agil dengan emosi berjalan cepat ke arah Prof. Yudha. Ditariknya kuat-kuat kerah baju pria setengah baya itu. Tangan besarnya mengepal kuat-kuat, siap untuk dihantamkan ke wajah Prof. Yudha. Secepat kilat tangan itu melayang dengan kencang ...
Bersambung ...
12.45, Banjarrejo.
Desing kendaraan berpelantingan di telinga Rade. Pemuda bertas gendong itu berboncengan di atas Jupiter Z bersama Agil. Agil yang merupakan pengusaha pemasok dana untuk penelitian Rade ingin ikut melakukan observasi di rumah Prof. Yudha. Ia selalu terbayang-bayang keuntungan yang akan dia raup jika dapat memperoleh resep ramuan anti selingkuh. Bayangkan, jika obat itu benar-benar mujarab, berapa banyak ibu-ibu rumah tangga yang akan mengordernya. Belum lagi para pegiat cinta jalanan yang mulai meragukan kesetian pasangan abal-abalnya, pasti akan memburu obat ini. Bisa jadi berbisnis obat ini akan jauh menguntungkan dibanding berjualan narkotika. Sebagai pebisnis yang peka terhadap pasar, Agil tampak ingin menerkam peluang dengan memanfaatkan jiwa petualang Rade.
Sebuah rumah bercat hijau berdiri kokoh di tepi area persawahan. Agil memarkir kendaraan birunya tepat di sisi kiri pelataran rumah yang terasa asri itu. Buru-buru Rade melompat dan segera merapati pintu rumah.
“Assalamu’alaikum … !”
“Assalamu’alaikum …!”
Tidak ada jawaban. Namun, terlihat ada yang memutar gagang pintu dari dalam.
“Ohi, siapa ya?” Seorang perempuan dengan rambut sebahu keluar. Matanya menyelidik penuh curiga. Di tangannya sebuah kipas kertas dengan hiasan gambar geisha tidak henti-hentinya berayun.
“Saya Rade, Tante. Mau ada per … .”
“Ohi, Tante? Jangan panggil saya ‘Tante’!”
“Oh, sorry! Saya harus panggil bagaimana?”
“Panggil saya ‘Bibi’. Ya, panggil ‘Bibi’ saja. Tepatnya Bibi Meida.”
“Oke. Sepertinya lebih santun,” serobot Agil sambil mengulurkan tangan.
“Saya Agil Pramusaji.”
“Oh, maaf! Kita bukan mahram, jadi tidak boleh berjabat tangan.” Meida menelungkupkan telapak tangannya di depan dada.
“Bibi sangat menjaga diri, tapi kenapa tidak berjilbab?” tanya Rade sehalus mungkin agar tidak menyinggung.
“Karena saya bukan Muslimah. Tapi saya suka dengan ajaran agama kalian, apalagi tentang larangan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, it’s amazing!” terangnya dengan gembira. “Menjaga kesucian cinta untuk pasangan maupun calon pasangan itu juga harus diaplikasikan dengan menjaga diri dari mereka yang tidak halal untuk kita sentuh,” lanjut wanita ekspresif itu. Rade dan Agil terbengong-bengong dibuatnya. Diam-diam mereka begitu bangga dengan ajaran agamanya.
“Ohi, kalian ada perlu apa?”
“Kami ingin bertemu Prof. Yudha,” jawab Rade.
“Oke-oke. Kalian tidak terlihat seperti penjahat, silakan masuk!”
Rade dan Agil diantar Meida menuju ruang kerja Prof. Yudha. Rade sedikit heran dengan situasi rumah yang tampak biasa, tidak seperti rumah-ramah peneliti pada umumnya yang banyak pernak-pernik yang berbau ilmiah.
“Saya Yudha Kegawa. Ada apa mencari saya?”
“Ah, saya tampak tidak asing melihat Anda. Wajah Anda mirip salah satu personil Boy’s Band tersohor, One Direction,” ucap Agil politis. Prof. Yudha tersipu, lalu mengangguk-angguk salah tingkah.
“Saya Rade, mahasiswa yang sedang meneliti obat anti selingkuh buatan Anda. Dan ini donatur saya, Bapak Agil Pramusaji,” terang Rade dengan nada khasnya. Prof. Yudha kembali manggut-manggut.
“Apa kami bisa langsung mewawancarai Anda, Prof?” kejar Agil dengan tidak sabaran.
Prof. Yudah tersenyum. Matanya sesekali melirik dua tamunya secara bergantian.
“Kalau nyawa kalian hanya satu, lebih baik urungkan niat kalian. Sudah ada yang menunggu kalian di luar sana.” Prof Yudha menatap tajam pada Rade.
Sesaat berselang, Rade menyadari sesuatu. Telinganya menangkap suara mencurigakan, seperti ada ledakan-leakan kecil di luar sana. Ia mundur selangkah menyejajari Agil. Lalu bergegas keluar sambil menyambar tangan donaturnya itu.
“Sial! Apa-apaan ini? Siapa yang melakukannya?” pekik Agil penuh emosi. Rade takjub menyaksikan pemandangan di depan matanya. Ia tidak menyangka dengan hal yang baru saja terjadi.
“Hari ini sepeda motor kalian yang dibakar, mungkin besok giliran kalian berdua,” tutur Meida dengan tatapan kosong.
“Ini bukan masalah yang bisa diatasi oleh mahasiswa sepertimu, Rade. Pulanglah! Persoalannya tidak seremeh yang kamu kira,” timpal Prof. Yudha.
“Kalian pasti tahu pelakunya, saya akan tuntut kejahatan ini!” gertak Agil dengan suara melangit.
“Sama saja kalian menyerahkan kepala di kandang buaya lapar. Kalian sedang berhadapan dengan kejahatan yang tersistem dengan baik.”
Agil dengan emosi berjalan cepat ke arah Prof. Yudha. Ditariknya kuat-kuat kerah baju pria setengah baya itu. Tangan besarnya mengepal kuat-kuat, siap untuk dihantamkan ke wajah Prof. Yudha. Secepat kilat tangan itu melayang dengan kencang ...
Bersambung ...
Friday, January 8, 2016
"Hal Termahal"
Oleh: Mukhlis Ahsya
Rade melebar-lebarkan kupingnya. Ia ingin mendengar lebih banyak tentang hal besar yang terjadi menjelang subuh tadi. Dari teman-teman kos, anak-anak organisasi, bahkan teman-teman di kelasnya pun membincangkan hal yang sama. Sebenarnya Rade memiliki kesempatan emas untuk menatap langsung peristiwa langit di gerbang fajar itu. Sayangnya, saat ia melangkahkan kaki ke masjid, tak ada sedikitpun hasrat untuk melayangkan mata ke langit.
“Aku melihat kereta Nyi Roro Kidul melintas di langit Ganjar Agung,” terang Yugo. Matanya berkedip-kedip mengamini setiap lafadz dari lidahnya. Yugo sebenarnya pembual kelas wahid di kelas Rade, tapi untuk kali ini lelaki penyuka tupai itu berusaha untuk mempercayainya. Setidaknya sudah lebih dari sepuluh orang membicarakan hal yang sama, tentang kereta Nyi Roro Kidul yang terbang tanpa awak.
“Aku juga melihatnya,” sambut Fiktaj Sinlouz tidak mau kalah. “Bahkan aku sempat melihat Nyi Roro Kidul ada di dalam kereta,” lanjutnya dengan yakin.
“Benarkah? Tapi itu kereta tidak berawak, kan?” kejar Yugo.
“Ya, tidak ada supirnya. Tapi ada Nyi Roro Kidul di dalamnya.”
Rade mendekat, merapati sumber perbincangan. Tidak ingin secuilpun informasi dia lewatkan. Ini mupakan peristiwa terlangka yang pernah tersangkut di telinganya. Dan pasti ada sesuatu di balik semua itu.
“Sayangnya, aku tidak setuju kalau kereta itu terbang di Ganjar Agung. Jelas-jelas benda itu terbang di atas rumahku, di 15 Polos.” Fiktaj mengacungkan telunjuknya. Kumisnya di ujung bibir berirama turun-naik.
“Jadi, kamu kira aku berbohong?” sergah Yugo.
“Ya, bisa jadi. Biasanya kan memang seperti itu. Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu bicara jujur?”
Situasi memanas. Pembicaraan yang seharusnya menarik berubah jadi hambar. Bagi Rade, informasi lah yang terpenting. Saat obrolan berubah menjadi ajang debat, ia yakin tidak akan mendapatkan apa yang ia mau. Perlahan wartawan kampus itu pun menyingkir.
***
Taman Kota Metro. 16:35.
Rade tergopoh-gopoh menghampiri Pandu, penjual obat yang sedang menjadi nara sumbernya. Pedagang keturunan Tionghoa itu berteriak-teriak nyaring di tengah kerumunan pengunjung taman yang melihat obat-obatan yang ia tawarkan.
“Semalam ada kereta Ratu Kidul melintasi kota ini. Pertanda buruk sedang mengintai kita.” Pandu berteriak lantang. Sebisa mungkin menarik perhatian para calon costumernya.
“Pertanda buruk apa, Ko?” tanya seorang ibu muda. Pandu terkekeh-kekeh. Merasa jebakan kalimatnya sudah membuat orang-orang tertarik.
“Pertanda bahwa perselingkuhan akan merajalela di kota kita ini.”
“Hah? Pasti situ bohong, kan! Biar obat anti selingkuhnya laku. Iya, kan?”
“Ya terserah saja kalau tidak percaya. Kan sudah terbukti juga kalau saat ini perselingkuhan itu terus menigkat jumlahnya.”
Obat anti selingkuh. Ya, obat ini yang sedang diburu informasinya oleh Rade. Sudah seminggu ini ia meneliti akan kebenaran khasiat ramuan anti selingkuh. Benarkah bisa membuat seseorang berubah menjadi sangat setia, tanpa sedikitpun ada hasrat untuk selingkuh?
“Sudah kubilang dari kemarin, jangan tanyakan ke saya. Tanya saja langsung ke pembuat obatnya!” Tegas Pandu saat Rade menanyakan cara kerja dari obat anti selingkuh. Pandu sudah mulai mengemasi dagangannya.
“Seharusnya Anda tahu, Pak Cina! Anda kan penjualnya.” Desak Rade. Pandu mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa ia tidak mau melanjutkan percakapan.
“Oke, setidaknya kasih tahu saya siapa pembuat obat ini!”
“Namanya Yudha, Profesor Yudha.”
“Alamatnya?”
Pandu menghela nafas panjang sebagai ekspresi bahwa ia sedang mempertahankan kesabarannya. “Di Banjarrejo. Tepatnya cari sendiri!”
“Baik. Tapi awas kalau sampai Anda membohongi saya!”
“Kamu mengancam saya?”
“Tidak.” Rade sedikit panik. Menyadari kesalahan dari kalimat yang ia ucapkan.
“Terus?”
“Saya hanya ingin mengingatkan Anda, bahwa bohong itu dosa! Juga melanggar undang-undang.”
“Memang ada undang-undang tentang kebohongan?”
“Ada. Dan hukumannya adalah lidah Anda akan dibuat sop, namanya sop lidah.” Rade beranjak meninggalkan Pandu yang tampak terbengong-bengong. Samar-samar Rade mendengar suara Pandu dari arah belakang.
“Hei, dari pertigaan 38, belok kanan! Terus saja sampai ketemu masjid. Masuklah ke gang seberang masjid.”
Pria berbaju koko itu terus berjalan seolah tak perduli. Tapi dalam hati, ada rasa yang menggelitiknya. Tiba-tiba ingatannya melayang menyambar Yugo. “Kalau ada undang-undang semacam itu, kira-kira Yugo butuh berapa lidah untuk hidup dalam satu bulan?” batinnya.
Bersambung ...
Rade melebar-lebarkan kupingnya. Ia ingin mendengar lebih banyak tentang hal besar yang terjadi menjelang subuh tadi. Dari teman-teman kos, anak-anak organisasi, bahkan teman-teman di kelasnya pun membincangkan hal yang sama. Sebenarnya Rade memiliki kesempatan emas untuk menatap langsung peristiwa langit di gerbang fajar itu. Sayangnya, saat ia melangkahkan kaki ke masjid, tak ada sedikitpun hasrat untuk melayangkan mata ke langit.
“Aku melihat kereta Nyi Roro Kidul melintas di langit Ganjar Agung,” terang Yugo. Matanya berkedip-kedip mengamini setiap lafadz dari lidahnya. Yugo sebenarnya pembual kelas wahid di kelas Rade, tapi untuk kali ini lelaki penyuka tupai itu berusaha untuk mempercayainya. Setidaknya sudah lebih dari sepuluh orang membicarakan hal yang sama, tentang kereta Nyi Roro Kidul yang terbang tanpa awak.
“Aku juga melihatnya,” sambut Fiktaj Sinlouz tidak mau kalah. “Bahkan aku sempat melihat Nyi Roro Kidul ada di dalam kereta,” lanjutnya dengan yakin.
“Benarkah? Tapi itu kereta tidak berawak, kan?” kejar Yugo.
“Ya, tidak ada supirnya. Tapi ada Nyi Roro Kidul di dalamnya.”
Rade mendekat, merapati sumber perbincangan. Tidak ingin secuilpun informasi dia lewatkan. Ini mupakan peristiwa terlangka yang pernah tersangkut di telinganya. Dan pasti ada sesuatu di balik semua itu.
“Sayangnya, aku tidak setuju kalau kereta itu terbang di Ganjar Agung. Jelas-jelas benda itu terbang di atas rumahku, di 15 Polos.” Fiktaj mengacungkan telunjuknya. Kumisnya di ujung bibir berirama turun-naik.
“Jadi, kamu kira aku berbohong?” sergah Yugo.
“Ya, bisa jadi. Biasanya kan memang seperti itu. Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu bicara jujur?”
Situasi memanas. Pembicaraan yang seharusnya menarik berubah jadi hambar. Bagi Rade, informasi lah yang terpenting. Saat obrolan berubah menjadi ajang debat, ia yakin tidak akan mendapatkan apa yang ia mau. Perlahan wartawan kampus itu pun menyingkir.
***
Taman Kota Metro. 16:35.
Rade tergopoh-gopoh menghampiri Pandu, penjual obat yang sedang menjadi nara sumbernya. Pedagang keturunan Tionghoa itu berteriak-teriak nyaring di tengah kerumunan pengunjung taman yang melihat obat-obatan yang ia tawarkan.
“Semalam ada kereta Ratu Kidul melintasi kota ini. Pertanda buruk sedang mengintai kita.” Pandu berteriak lantang. Sebisa mungkin menarik perhatian para calon costumernya.
“Pertanda buruk apa, Ko?” tanya seorang ibu muda. Pandu terkekeh-kekeh. Merasa jebakan kalimatnya sudah membuat orang-orang tertarik.
“Pertanda bahwa perselingkuhan akan merajalela di kota kita ini.”
“Hah? Pasti situ bohong, kan! Biar obat anti selingkuhnya laku. Iya, kan?”
“Ya terserah saja kalau tidak percaya. Kan sudah terbukti juga kalau saat ini perselingkuhan itu terus menigkat jumlahnya.”
Obat anti selingkuh. Ya, obat ini yang sedang diburu informasinya oleh Rade. Sudah seminggu ini ia meneliti akan kebenaran khasiat ramuan anti selingkuh. Benarkah bisa membuat seseorang berubah menjadi sangat setia, tanpa sedikitpun ada hasrat untuk selingkuh?
“Sudah kubilang dari kemarin, jangan tanyakan ke saya. Tanya saja langsung ke pembuat obatnya!” Tegas Pandu saat Rade menanyakan cara kerja dari obat anti selingkuh. Pandu sudah mulai mengemasi dagangannya.
“Seharusnya Anda tahu, Pak Cina! Anda kan penjualnya.” Desak Rade. Pandu mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa ia tidak mau melanjutkan percakapan.
“Oke, setidaknya kasih tahu saya siapa pembuat obat ini!”
“Namanya Yudha, Profesor Yudha.”
“Alamatnya?”
Pandu menghela nafas panjang sebagai ekspresi bahwa ia sedang mempertahankan kesabarannya. “Di Banjarrejo. Tepatnya cari sendiri!”
“Baik. Tapi awas kalau sampai Anda membohongi saya!”
“Kamu mengancam saya?”
“Tidak.” Rade sedikit panik. Menyadari kesalahan dari kalimat yang ia ucapkan.
“Terus?”
“Saya hanya ingin mengingatkan Anda, bahwa bohong itu dosa! Juga melanggar undang-undang.”
“Memang ada undang-undang tentang kebohongan?”
“Ada. Dan hukumannya adalah lidah Anda akan dibuat sop, namanya sop lidah.” Rade beranjak meninggalkan Pandu yang tampak terbengong-bengong. Samar-samar Rade mendengar suara Pandu dari arah belakang.
“Hei, dari pertigaan 38, belok kanan! Terus saja sampai ketemu masjid. Masuklah ke gang seberang masjid.”
Pria berbaju koko itu terus berjalan seolah tak perduli. Tapi dalam hati, ada rasa yang menggelitiknya. Tiba-tiba ingatannya melayang menyambar Yugo. “Kalau ada undang-undang semacam itu, kira-kira Yugo butuh berapa lidah untuk hidup dalam satu bulan?” batinnya.
Bersambung ...
“Uler Keket”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Aku pernah berpikir kalau aku adalah makhluk paling sial di jagad ini. Dan yang teramat sial, aku sering kalap karena sentuhan. Jangan coba-coba, aku bisa bergelinjang-gelinjang jika jemari sok tak berdosa menyentuhku, aku geli bukan main. Aku sebetulnya heran, kenapa kulitku bisa begitu sensitifnya?
Orang Jawa menamaiku uler Keket. Makhluk yang terkenal kalem itu jago juga memilih nama. Karena aku suka klogat-kloget makanya digelari Keket, sehingga menjadi inspirasi dalam syairnya Didi Kempot “Uler Keket mlakune klogat-kloget, get … ”.
Aku berhutang budi pada orang Jawa, atas nama yang disematkan padaku. Aku juga terpukau dengan perangai mereka, santun merunduk-runduk. Tapi tetap saja, kalau dipajang di terminal mereka jadi beringas. Suka menarik semena-mena tas penumpang, caranya menawari tumpangan juga setengah mengancam. Ini sebenarnya jadi pembelajaran untuk Abah Namrud. Pasalnya, aku suka senewen dengan orang yang banyak cakap itu, yang pidatonya teramat memikat. Tahu kenapa? Aneh, orang yang daun gembelinanya sering kugasak itu begitu bangga dengan keapikan pekertinya. Dia tidak sadar apa, kalau dia itu hanya beruntung? Dia diselamatkan oleh lingkungan. Perangainya baik karena dia ada di tempat yang kondusif, nyaman, tentram, beradab, coba saja taruh di terminal, bejat bukan main.
Hebatnya lagi, cakapnya itu kadang bikin risih, tak sesuai dengan amalnya yang mbruwel. Menyeru orang agar bersedekah, tapi meditnya bukan kepalang. Berpersuasi agar orang ikhlas, qona’ah, tawadu’, tapi jika habis ceramah tak disumpali amplop, gerutunya tiada ujung. Aku yang teramat geli dengan sentuhan, ternyata lebih geli lagi dengan mata si Abah Namrud. Kedipnya bikinku bergelinjang hebat.
Sebagai ulat yang kadang hobi berkelana, aku pernah tersesat, tak tahu arah pulang. Galau bukan main. Bagai butiran debu. Kulihat persemayaman megah, tapi bikin meremang. Kuburan Cina rupanya. Manusia itu paling takut dengan kuburan, sarang setan katanya. Padahal, kadang mereka lebih menakutkan dari pada setan. Aku saksinya. Aku terpekik dan terlonjak kuat saat ada tangan merabaku. Pria muda rupanya. Ia menjerit histeris sejadi-jadinya. Matanya melototiku. Sangat tidak sopan. Seharusnya aku yang menjerit karena dengan tidak senonohnya ia merabaku. Tak tahukah dia jika aku juga pejantan? Dia merontokkan harga diriku. Aku masih normal, tahu .… .
Pria penjerit itu munafik adanya. Ia jijik dengat klogat-klogetku, tapi sejurus kemudian ia malah membuat teman wanitanya klogat-kloget tidak karuan. Mesum. Makhluk yang tidak memiliki konsistensi. Juga tak tahu diri. Pekuburan harusnya buatnya ingat mati, tapi malah dijadikan medan perbuatan hewani. Tak bermoral. Seperti itu menamakan diri sebagai manusia? Durjana!
Bangsaku, bangsa ulat, atau lidah Jawa menyebutnya uler, kadang jauh lebih mulia dari bangsa manusia. Di mata manusia, uler bisa tampak seperti malaikat. Tidak percaya? Itu dialami sendiri oleh sahabat kecilku, uler Kilan. Kilan artinya jengkal, orang Jawa juga yang menamai. Lenggoknya yang menjulur naik-turun terlihat seperti jari yang sedang menjengkali, atau ngilani, sehingga disebut uler Kilan. Dia amat keramat. Jika ada orang yang dirayapi si uler Kilan dari ujung kaki sampai kepala, maka orang tersebut akan sangat yakin bahwa sebentar lagi dia akan mati. Dahsyat tiada tandingan, memang. Temanku yang lucu itu bisa merebut job malaikat Izrail, mencabuti nyawa manusia. Horor, kuno, mitos tak berakal. Begitu mereka menyakini diri sebagai manusia? Kudengar dari burung seberang katanya manusia itu berakal, nyatanya? Bukan main bebalnya. Temanku, uler Kilan, jadi besar kepala karenanya. Ia sering terkekeh melayang ke angkasa. Menempel di ketiak gagak, sambil melambai seolah ia makhluk paling kuat di dunia. Sebenarnya satu yang kukhawatirkan, jika job malaikat Izrail direbut oleh si uler Kilan, kira-kira malaikat mulia itu mau melamar kerja di mana? Miris. Budaya jahiliyah masih saja mengakar.
Dulu aku pernah terjatuh dari pohon gembelina milik Abah Namrud. Gara-gara samar kudengar suara khas menyebut-menyebut “kepompong” dalam syairnya. Aku bukan terpesona karena indah lagunya, tapi karena syarafku pretel tersentak kata “kepompong”. Peganganku pun terlepas, hingga berdebum di tanah berkerikil, ngilu. Kalau bukan karena diiming-imingi akan jadi kupu-kupu yang dapat melayangi angkasa, aku tak sudi jalani ritual jadi kepompong. Tak terbayang rasanya bertapa dalam gelap, tak ada daun gembelina hijau yang dapat kusantap. Mengerikan. Pucat pasi aku membayangkannya.
Manusia itu kadang asal bicara. Bilang persahabatan bagai kepompong. Seram amat? Kalau persahabatan adalah kepompong, berarti manusia adalah ulat. Aku berani bertaruh atas nama bangsaku, mereka tidak akan sanggup jadi ulat. Apalagi menjelma dalam wujud kepompong, mustahil. Sepupuku sesama Keket geleng-geleng mendengar gerutuanku. Ia menukas tajam, menyakitkan,”Dalam lagunya, kan, ada kata “bagai”, itu artinya mereka mengibaratkan bahwa persahabatan itu mirip kepompong. Menggambarkan bahwa persahabatan itu sulit. Tapi kalau tabah, sabar, dan telaten, ujungnya indah, bak kupu-kupu, melayang; menenggak madu, sedap. Begini kalau ulat tak punya cita rasa sastra sama sekali. Suka senewen dengan bodohnya.” Lidah setajam silet, setajam rambut yang dibelah jadi tujuh. Sringgg! Rantas sudah hati ini, tercabik. Sakit, perih. Aku ulat senewen yang bodoh?
Entahlah, aku memang kurang suka dengan manusia. Serakah, penjajah. Egois, tak tahu diuntung. Bangsa ulat sering kali ditindas. Tak boleh di sini, tak boleh di situ. Tak boleh makan ini, tak boleh makan itu. Mau menang sendiri. Aku hanya kasihan dengan kerabatku nun jauh di sana, di sawah, di kebun, dan di ladang. Hidup mereka selalu was-was, penuh marabahaya. Mereka harus tergopoh-gopoh menghindari bangsa burung, predator ulung. Menyambar tanpa pri-keburungan. Mencabik-cabik dan menggiling tubuh-tubuh kecil itu di ususnya. Sadis. Juga mereka harus pandai berpayung daun agar tak tersembur cairan sengak beracun, pestisida sakaratul maut. Tragis nasib mereka. Padahal mereka tidak pernah meminta menjadi pemakan daun tanaman pangan, juga bukan karena kutukan. Semua terjadi alamiah, di luar kendali bangsa ulat. Berkali-kali kusarankan agar mereka berganti menu makan, kutawarkan daun gembelina, tapi ditolaknya dengan santun. “Kami tidak bisa melawan takdir,” tuturnya pasrah. “Mereka pantas tinggal di surga,” batinku dramatisasi, sok meramal masa depan. Uler Keket tak tahu diri.
Sebenarnya, aku tak sepenuhnya benci pada manusia. Biar bagaimanapun, mereka adalah pemimpin kami. Makhluk yang dengan tangannya diharap mampu menciptakan keseimbangan di bumi. Melindungi bumi beserta isinya dari petaka. Meski nyatanya, mereka malah menggoda petaka. Menantang langit. Dan memanahi kedamaian.
Tapi, ada juga manusia yang indah pekertinya. Meski hati merasa risih pada kami, bangsa ulat, tapi mereka menjaga sikap. Tak ingin makhluk tak berguna seperti kami tersinggung dan merasa hina. Mereka juga baik pada bangsa flora, dirawat. Jika tak benar-benar butuh tak akan dilukai. Senyum mereka tulus, tak ada sedikitpun modus. Alam benar-benar dijaganya, tak ingin ada yang terkoyak, tak ingin setetes darahpun tumpah, apalagi sampai tercecer di bumi.
Ahh, kurasa ada yang aneh pada diriku. Kepalu mendadak pening tak terkira. Badanku menggigil tiba-tiba. Akhirnya apa yang kutakutkan selama ini datang juga. Aku akan menghilang. Terkurung dalam gelap, menakutkan. Aku akan tergantung seperti kentongan yang pernah kulihat di gardu, digebuki hansip tanpa ampun. Aku akan tirakat sekian lamanya. Meninggalkan gemerlap dunia. Mengabdi penuh pada takdir. Ada satu sisi positifnya, aku tak akan lagi tersentuh tangan manusia, hingga aku tak perlu lagi bergelinjang-gelinjang, berjungkit-jungkit kegelian. Dan untungnya bagi mereka, aku tak akan lagi banyak mengkritik, tak akan lagi membuat mereka risih, jijik tak terkira. Karena setelah masa berat itu kurengkuh, aku akan segera terbang, melayang, mencandai bunga-bunga hingga terbuai, dan perlahan kuhisap madunya.
Aku pernah berpikir kalau aku adalah makhluk paling sial di jagad ini. Dan yang teramat sial, aku sering kalap karena sentuhan. Jangan coba-coba, aku bisa bergelinjang-gelinjang jika jemari sok tak berdosa menyentuhku, aku geli bukan main. Aku sebetulnya heran, kenapa kulitku bisa begitu sensitifnya?
Orang Jawa menamaiku uler Keket. Makhluk yang terkenal kalem itu jago juga memilih nama. Karena aku suka klogat-kloget makanya digelari Keket, sehingga menjadi inspirasi dalam syairnya Didi Kempot “Uler Keket mlakune klogat-kloget, get … ”.
Aku berhutang budi pada orang Jawa, atas nama yang disematkan padaku. Aku juga terpukau dengan perangai mereka, santun merunduk-runduk. Tapi tetap saja, kalau dipajang di terminal mereka jadi beringas. Suka menarik semena-mena tas penumpang, caranya menawari tumpangan juga setengah mengancam. Ini sebenarnya jadi pembelajaran untuk Abah Namrud. Pasalnya, aku suka senewen dengan orang yang banyak cakap itu, yang pidatonya teramat memikat. Tahu kenapa? Aneh, orang yang daun gembelinanya sering kugasak itu begitu bangga dengan keapikan pekertinya. Dia tidak sadar apa, kalau dia itu hanya beruntung? Dia diselamatkan oleh lingkungan. Perangainya baik karena dia ada di tempat yang kondusif, nyaman, tentram, beradab, coba saja taruh di terminal, bejat bukan main.
Hebatnya lagi, cakapnya itu kadang bikin risih, tak sesuai dengan amalnya yang mbruwel. Menyeru orang agar bersedekah, tapi meditnya bukan kepalang. Berpersuasi agar orang ikhlas, qona’ah, tawadu’, tapi jika habis ceramah tak disumpali amplop, gerutunya tiada ujung. Aku yang teramat geli dengan sentuhan, ternyata lebih geli lagi dengan mata si Abah Namrud. Kedipnya bikinku bergelinjang hebat.
Sebagai ulat yang kadang hobi berkelana, aku pernah tersesat, tak tahu arah pulang. Galau bukan main. Bagai butiran debu. Kulihat persemayaman megah, tapi bikin meremang. Kuburan Cina rupanya. Manusia itu paling takut dengan kuburan, sarang setan katanya. Padahal, kadang mereka lebih menakutkan dari pada setan. Aku saksinya. Aku terpekik dan terlonjak kuat saat ada tangan merabaku. Pria muda rupanya. Ia menjerit histeris sejadi-jadinya. Matanya melototiku. Sangat tidak sopan. Seharusnya aku yang menjerit karena dengan tidak senonohnya ia merabaku. Tak tahukah dia jika aku juga pejantan? Dia merontokkan harga diriku. Aku masih normal, tahu .… .
Pria penjerit itu munafik adanya. Ia jijik dengat klogat-klogetku, tapi sejurus kemudian ia malah membuat teman wanitanya klogat-kloget tidak karuan. Mesum. Makhluk yang tidak memiliki konsistensi. Juga tak tahu diri. Pekuburan harusnya buatnya ingat mati, tapi malah dijadikan medan perbuatan hewani. Tak bermoral. Seperti itu menamakan diri sebagai manusia? Durjana!
Bangsaku, bangsa ulat, atau lidah Jawa menyebutnya uler, kadang jauh lebih mulia dari bangsa manusia. Di mata manusia, uler bisa tampak seperti malaikat. Tidak percaya? Itu dialami sendiri oleh sahabat kecilku, uler Kilan. Kilan artinya jengkal, orang Jawa juga yang menamai. Lenggoknya yang menjulur naik-turun terlihat seperti jari yang sedang menjengkali, atau ngilani, sehingga disebut uler Kilan. Dia amat keramat. Jika ada orang yang dirayapi si uler Kilan dari ujung kaki sampai kepala, maka orang tersebut akan sangat yakin bahwa sebentar lagi dia akan mati. Dahsyat tiada tandingan, memang. Temanku yang lucu itu bisa merebut job malaikat Izrail, mencabuti nyawa manusia. Horor, kuno, mitos tak berakal. Begitu mereka menyakini diri sebagai manusia? Kudengar dari burung seberang katanya manusia itu berakal, nyatanya? Bukan main bebalnya. Temanku, uler Kilan, jadi besar kepala karenanya. Ia sering terkekeh melayang ke angkasa. Menempel di ketiak gagak, sambil melambai seolah ia makhluk paling kuat di dunia. Sebenarnya satu yang kukhawatirkan, jika job malaikat Izrail direbut oleh si uler Kilan, kira-kira malaikat mulia itu mau melamar kerja di mana? Miris. Budaya jahiliyah masih saja mengakar.
Dulu aku pernah terjatuh dari pohon gembelina milik Abah Namrud. Gara-gara samar kudengar suara khas menyebut-menyebut “kepompong” dalam syairnya. Aku bukan terpesona karena indah lagunya, tapi karena syarafku pretel tersentak kata “kepompong”. Peganganku pun terlepas, hingga berdebum di tanah berkerikil, ngilu. Kalau bukan karena diiming-imingi akan jadi kupu-kupu yang dapat melayangi angkasa, aku tak sudi jalani ritual jadi kepompong. Tak terbayang rasanya bertapa dalam gelap, tak ada daun gembelina hijau yang dapat kusantap. Mengerikan. Pucat pasi aku membayangkannya.
Manusia itu kadang asal bicara. Bilang persahabatan bagai kepompong. Seram amat? Kalau persahabatan adalah kepompong, berarti manusia adalah ulat. Aku berani bertaruh atas nama bangsaku, mereka tidak akan sanggup jadi ulat. Apalagi menjelma dalam wujud kepompong, mustahil. Sepupuku sesama Keket geleng-geleng mendengar gerutuanku. Ia menukas tajam, menyakitkan,”Dalam lagunya, kan, ada kata “bagai”, itu artinya mereka mengibaratkan bahwa persahabatan itu mirip kepompong. Menggambarkan bahwa persahabatan itu sulit. Tapi kalau tabah, sabar, dan telaten, ujungnya indah, bak kupu-kupu, melayang; menenggak madu, sedap. Begini kalau ulat tak punya cita rasa sastra sama sekali. Suka senewen dengan bodohnya.” Lidah setajam silet, setajam rambut yang dibelah jadi tujuh. Sringgg! Rantas sudah hati ini, tercabik. Sakit, perih. Aku ulat senewen yang bodoh?
Entahlah, aku memang kurang suka dengan manusia. Serakah, penjajah. Egois, tak tahu diuntung. Bangsa ulat sering kali ditindas. Tak boleh di sini, tak boleh di situ. Tak boleh makan ini, tak boleh makan itu. Mau menang sendiri. Aku hanya kasihan dengan kerabatku nun jauh di sana, di sawah, di kebun, dan di ladang. Hidup mereka selalu was-was, penuh marabahaya. Mereka harus tergopoh-gopoh menghindari bangsa burung, predator ulung. Menyambar tanpa pri-keburungan. Mencabik-cabik dan menggiling tubuh-tubuh kecil itu di ususnya. Sadis. Juga mereka harus pandai berpayung daun agar tak tersembur cairan sengak beracun, pestisida sakaratul maut. Tragis nasib mereka. Padahal mereka tidak pernah meminta menjadi pemakan daun tanaman pangan, juga bukan karena kutukan. Semua terjadi alamiah, di luar kendali bangsa ulat. Berkali-kali kusarankan agar mereka berganti menu makan, kutawarkan daun gembelina, tapi ditolaknya dengan santun. “Kami tidak bisa melawan takdir,” tuturnya pasrah. “Mereka pantas tinggal di surga,” batinku dramatisasi, sok meramal masa depan. Uler Keket tak tahu diri.
Sebenarnya, aku tak sepenuhnya benci pada manusia. Biar bagaimanapun, mereka adalah pemimpin kami. Makhluk yang dengan tangannya diharap mampu menciptakan keseimbangan di bumi. Melindungi bumi beserta isinya dari petaka. Meski nyatanya, mereka malah menggoda petaka. Menantang langit. Dan memanahi kedamaian.
Tapi, ada juga manusia yang indah pekertinya. Meski hati merasa risih pada kami, bangsa ulat, tapi mereka menjaga sikap. Tak ingin makhluk tak berguna seperti kami tersinggung dan merasa hina. Mereka juga baik pada bangsa flora, dirawat. Jika tak benar-benar butuh tak akan dilukai. Senyum mereka tulus, tak ada sedikitpun modus. Alam benar-benar dijaganya, tak ingin ada yang terkoyak, tak ingin setetes darahpun tumpah, apalagi sampai tercecer di bumi.
Ahh, kurasa ada yang aneh pada diriku. Kepalu mendadak pening tak terkira. Badanku menggigil tiba-tiba. Akhirnya apa yang kutakutkan selama ini datang juga. Aku akan menghilang. Terkurung dalam gelap, menakutkan. Aku akan tergantung seperti kentongan yang pernah kulihat di gardu, digebuki hansip tanpa ampun. Aku akan tirakat sekian lamanya. Meninggalkan gemerlap dunia. Mengabdi penuh pada takdir. Ada satu sisi positifnya, aku tak akan lagi tersentuh tangan manusia, hingga aku tak perlu lagi bergelinjang-gelinjang, berjungkit-jungkit kegelian. Dan untungnya bagi mereka, aku tak akan lagi banyak mengkritik, tak akan lagi membuat mereka risih, jijik tak terkira. Karena setelah masa berat itu kurengkuh, aku akan segera terbang, melayang, mencandai bunga-bunga hingga terbuai, dan perlahan kuhisap madunya.
“Tolong Aku”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Melati masih belum percaya akan kematian Nili, sahabatnya sejak kecil. Tidak pernah terpikirkan oleh Melati jika Nili mati begitu cepat, di usia yang masih sangat muda, 24 tahun.
“Mel, aku ingin seperti kupu-kupu. Terbang di atas bunga-bunga dan menghisapi madu hingga lidahku tak bisa merasakan pahit lagi.” Ucapan Nili sehari sebelum kematian merenggutnya terus terngiang-ngiang di telinga Melati. Lalu menyeruduk gendang telinga dan memaksa menerobos ke hati. Jlebb. Air mata anak perawan itu meleleh secara perlahan, membuat garis sungai di wajah halusnya. Kecantikan Nili terasa menari-nari di hadapannya. Senyum indah tergambar jelas di wajah bulatnya. Jemari lentiknya terayun memberi isyarat agar Melati mendekat.
“Ikut aku, Mel! Ikut aku terbang dan berebut madu bersama kumbang-kumbang.” Melati mengusap air matanya. Gadis berpendidikan itu berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dia tidak mungkin mati sperti halnya Nili. Dia akan tetap hidup, hingga memiliki seribu keturunan. Dia ingin bersama pria yang dicintainya hidup dalam balutan madu, hingga dia dapat menjilat manis sepanjang masa. Anak-anaknya akan disuapinya dengan makanan keabadian, dan mereka akan lucu selamanya.
“Tidakkk! Enak saja, aku belum mau mati. Maksudku aku tidak akan mati,” gerutu Melati merutuki bayangan Nili yang tidak juga hengkang dari hadapannya.
“Mati itu indah, Mel. Kau akan dapat terbang nantinya….” Bayang Nili terus menggoda pikiran Melati. Wanita yang banyak digandrungi pria itu semakin kacau. Diacak-acaknya rambut yang setiap minggu dibawanya ke salon itu.
“Aku tidak mau, Nil….. Aku tidak mau…..”
***
“Nil, kamu lihat orang-orang itu? Menurutku mereka begitu membuang-buang waktu. Mereka memuja angan kosong belaka.”
“Aku setuju, Mel, mereka hanya diperbudak dongeng dan halusinasi saja.”
“Mereka pikir kita akan hidup lagi setelah mati. Hahaha. Ada-ada saja pemikiran seperti itu. Aku bahkan sedang berusaha agar tidak bisa mati.” Melati menjilat es krim kesukaan lidahnya. Ia begitu menikmati hidup. Baginya, bahagia itu jika ia sudah lupa dengan kematian. Ia membayangkan suatu saat tak ada lagi ritual-ritual bodoh di dunia ini. Tidak ada lagi penghambaan, kecuali penghambaan pada kebebasan. Kebebasan yang membuat makhluk cerdas sepertinya benar-benar merdeka.
“Mel, aku ingin seperti kupu-kupu. Terbang di atas bunga-bunga dan menghisapi madu hingga lidahku tak bisa merasakan pahit lagi.” Nili riang menatap langit. Senyumnya merekah indah seperti kekuntum mawar. Matanya bersinar menerawang. Terbang bersama kumbang-kumbang yang malu-malu menggodanya.
Melati ikut tersenyum. Seolah ia merasakan keindahan yang menyusup dalam jiwa Nili. Ia semakin yakin, bahwa ia adalah orang paling cerdas dan paling merdeka di dunia ini. Tak ada yang membatasi angannya. Tak ada sekat dalam perilakunya. Tak ada sedikitpun yang berhak mengusik kebahagiannya. Semua ia miliki. Kecantikan, harta, kecerdasan, jabatan, kekasih, dan semuanya. Ia bahagia dengan apa yang ia punya, ia bisa terbang ke mana pun ia mau. Tanpa terbebani oleh aturan-aturan teologi yang dianggapnya primitif.
“Kalau kita mati, kira-kira kita pergi ke mana ya?”
“Bodoh, kita akan hancur bersama tanah. Menjadi zat-zat makanan untuk menyuburkan tanaman.”
“Hahahaha…” Dua gadis muda itu tertawa bersamaan. Membuat irama nyaring menantang langit. Tidak ada sedikitpun gurat takut di hati mereka. Tak ada. Mereka benar-benar melayang dalam dunia yang begitu indah, dunia yang ingin mereka tempati selamanya.
Sebuah kijang putih berhenti di hadapan mereka. Mereka tetap tertawa, meleburkan suara dengan kebisingan taman kota. Seorang pria tampan keluar dari mobil dan gesit menghampiri mereka. Nili tampak terkejut. Yang datang adalah kekasihnya. Kekasih yang baru semalam merengek cinta padanya. Mengemis agar Nili tidak memutuskan cintanya. Pria pemujanya itu benar-benar mabuk kepayang oleh keindahan yang dimilikinya. Tapi Nili tak peduli, apa yang tidak dia sukai lagi berarti harus diganti.
“Nili, ikut aku!” Pria itu menarik tangan Nili. Memaksanya untuk segera masuk ke mobil yang dibawanya. Nili berontak. Wajahnya memerah marah dengan pemaksaan yang dilakukan mantan kekasihnya itu. Es krim tercintanya terpaksa ditimpukkan ke wajah pria yang sudah dianggapnya tiada harganya lagi.
“Hei, orang gila! Kenapa kamu memaksa temanku?” Melati menghardik dengan lantang. Emosinya membuncah melihat sahabatnya diperlaukan dengan kasar, mirip majikan memperlakukan seorang budak.
“Jangan ikut campur!” Ancam si pria. Telunjuknya lurus mengacung ke wajah Melati. Tapi Melati tidak peduli. Ia melepas sepatunya dan secepat kilat menghantam kepala si pria. Hak lancipnya telak mengenai pelipis si pria hingga darah membancir di wajahnya. Nili tampak terkejut. Cengkeraman di tangannya lepas seketika. Ia menutup mulut. Si pria meraung kesakitan sambil menahan darah keluar dari pelipisnya. Orang-orang di taman pun terpaku dengan pemandangan itu. Mereka berkerumun menunggu apa yang terjadi selanjutnya, tanpa ada yang berinisiatif melerai. Mata orang-orang di taman dipaksa untuk mendelik saat pria kasar yang menyatroni Nili menghunus sebuah pisau. Matanya tajam menyambar Melati yang tampak panik seketika.
Si pria berjalan dengan gesit menyerang Melati. Harga dirinya seakan diinjak oleh Melati yang berani membuat pelipisnya bocor. Namun secepat kilat pula Nili menghadangnya dengan memukulkan tas cangklongnya berkali-kali ke tubuh si pria hingga pisaunya terjatuh. Dengan sigap Melati meraih pisau yang yang terhempas di ubin taman. Sedangkan Nili sudah balik diserang oleh si pria. Lehernya dicekik dengan kuat. Ia mencoba meronta tapi tangan pria itu terlalu perkasa untuk membuatnya terbebas dengan cepat.
Dengan gugup Melati mendekat. Dihunusnya pisau yang tampak berkilau di tangannya. Ia terus mendekat. Dan dengan tangan bergetar ia tikamkan pisau tajam itu ke arah pria yang mencekik Nili. Tapi sialnya, Melati terlalu gugup. Hingga pisaunya meleset dan mengenai punggung Nili hingga tembus ke jantung. Nili terpekik. Gadis bak bidadari itu merintih kesakitan. Darah segar membanjir di baju putihnya. Tubuh indahnya tersungkur tak berdaya. Semua terpana. Si pria pun bukan kepalang terkejutnya. Melati menggeleng tidak percaya. Ia telah menikam sahabatnya sendiri. Ia seperti sedang bermimpi. Semua terjadi begitu cepat.
***
“Apakah aku akan benar-benar menjadi pupuk, Mel? Aku tidak mau. Aku ingin menjadi kupu-kupu yang dapat terbang dan merayu bunga-bunga bermadu.” Bayang Nili semakin jelas di pelupuk mata Melati. Kadang ia terlihat murung, kadang tertawa riang sambil terbang mengelilingi ruang bui yang mengerikan.
“Seperti apa rasanya mati, Nil?” Lirih bibir Melati berucap. Tatapannya kosong.
“Entahlah, Mel. Sulit digambarkan. Tapi rasanya sakit sekali saat kutahu kamulah yang membunuhku.” Melati melotot seketika. Ia tertohok oleh perkataan shabatnya itu.
“Aku tidak membunuhmu, Nil. Aku gugup. Aku, aku…. Ah…….. Persetan denganmu, Nil. Aaaah…. Aku tidak peduli. Pergi! Pergi…..!”
“Hei, hei, hei….! Ada apa denganmu?” Hardik seorang petugas. Nafas Melati memburu. Ia menatap ke segala arah. Mencari sesuatu yang sekejap hilang. Nili tak ada lagi. Tapi tiba-tiba muncul sosok makhluk dengan tampang mengerikan. Ia membawa palu sebesar paha gajah. Matanya menyala. Taringnya menyeringai tajam.
“Hah!” Melati tersentak. Tubuhnya dingin seketika. Matanya mendelik. Ia merasa begitu takut. Rasanya ia ingin meloncat menembus atap ruang tahanan. Dan terbang melayang ke angkasa. Tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Baru kali ini ia merasa benar-benar tidak berdaya. Ia seolah cacing kecil yang terkurung dalam botol, menggeliatpun percuma.
“Siapa kamu? Siapa kamu? Kamu mau apa? Kamu maaaau u.. u.. uang? Aku beri. Tapi kumohon pergi! Jangan mendekat!” Melati semakin kalut. Makhluk mengerikan itu semakin dekat. Matanya menyala tajam. Palunya terayun dengan tenang.
“Kurasa gadis ini sudah gila!” rutuk si petugas.
Melati benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Ia lunglai dalam kepasrahan utuh. Matanya sayu. Bibirnya bergetar. Ia meringkuk dengan memeluk kedua lututnya. Sedangkan si makhluk menyeramkan sudah tepat berada di depannya. Ia benar-benar menakutkan. Ia seakan ingin mencabik-cabik tubuh Melati.
Gadis dalam kondisi berantakan itu sudah berada pada puncak ketakutan. Ia takut mati mengenaskan. Ia membayangkan saat tubuhnya diremukkan oleh palu si makhluk misterius. Ia tidak berani menatapnya. Ia melihat lantai yang tampak compang-camping di bawahnya. Air matanya menetes deras menyapu wajah cantik yang sangat dibanggakannya. Dalam cengkeraman kematian yang seolah merontokkan sendi-sendi tubuhnya, terucap lirih dari bibir mungilnya,”Tuhan, tolong aku!” Bui hening seketika. Sepoi angin membawa syair-syair tak bernada. Merayapi tembok berkarat darah. Dan menyusup ke luar jeruji. Sekejap tedengar sayup jeritan pilu, rintih-rintihan melodi dari lembah kehinaan. Angan kosong, dongeng, dan halusinasi itu kini terlihat nyata.
Melati masih belum percaya akan kematian Nili, sahabatnya sejak kecil. Tidak pernah terpikirkan oleh Melati jika Nili mati begitu cepat, di usia yang masih sangat muda, 24 tahun.
“Mel, aku ingin seperti kupu-kupu. Terbang di atas bunga-bunga dan menghisapi madu hingga lidahku tak bisa merasakan pahit lagi.” Ucapan Nili sehari sebelum kematian merenggutnya terus terngiang-ngiang di telinga Melati. Lalu menyeruduk gendang telinga dan memaksa menerobos ke hati. Jlebb. Air mata anak perawan itu meleleh secara perlahan, membuat garis sungai di wajah halusnya. Kecantikan Nili terasa menari-nari di hadapannya. Senyum indah tergambar jelas di wajah bulatnya. Jemari lentiknya terayun memberi isyarat agar Melati mendekat.
“Ikut aku, Mel! Ikut aku terbang dan berebut madu bersama kumbang-kumbang.” Melati mengusap air matanya. Gadis berpendidikan itu berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dia tidak mungkin mati sperti halnya Nili. Dia akan tetap hidup, hingga memiliki seribu keturunan. Dia ingin bersama pria yang dicintainya hidup dalam balutan madu, hingga dia dapat menjilat manis sepanjang masa. Anak-anaknya akan disuapinya dengan makanan keabadian, dan mereka akan lucu selamanya.
“Tidakkk! Enak saja, aku belum mau mati. Maksudku aku tidak akan mati,” gerutu Melati merutuki bayangan Nili yang tidak juga hengkang dari hadapannya.
“Mati itu indah, Mel. Kau akan dapat terbang nantinya….” Bayang Nili terus menggoda pikiran Melati. Wanita yang banyak digandrungi pria itu semakin kacau. Diacak-acaknya rambut yang setiap minggu dibawanya ke salon itu.
“Aku tidak mau, Nil….. Aku tidak mau…..”
***
“Nil, kamu lihat orang-orang itu? Menurutku mereka begitu membuang-buang waktu. Mereka memuja angan kosong belaka.”
“Aku setuju, Mel, mereka hanya diperbudak dongeng dan halusinasi saja.”
“Mereka pikir kita akan hidup lagi setelah mati. Hahaha. Ada-ada saja pemikiran seperti itu. Aku bahkan sedang berusaha agar tidak bisa mati.” Melati menjilat es krim kesukaan lidahnya. Ia begitu menikmati hidup. Baginya, bahagia itu jika ia sudah lupa dengan kematian. Ia membayangkan suatu saat tak ada lagi ritual-ritual bodoh di dunia ini. Tidak ada lagi penghambaan, kecuali penghambaan pada kebebasan. Kebebasan yang membuat makhluk cerdas sepertinya benar-benar merdeka.
“Mel, aku ingin seperti kupu-kupu. Terbang di atas bunga-bunga dan menghisapi madu hingga lidahku tak bisa merasakan pahit lagi.” Nili riang menatap langit. Senyumnya merekah indah seperti kekuntum mawar. Matanya bersinar menerawang. Terbang bersama kumbang-kumbang yang malu-malu menggodanya.
Melati ikut tersenyum. Seolah ia merasakan keindahan yang menyusup dalam jiwa Nili. Ia semakin yakin, bahwa ia adalah orang paling cerdas dan paling merdeka di dunia ini. Tak ada yang membatasi angannya. Tak ada sekat dalam perilakunya. Tak ada sedikitpun yang berhak mengusik kebahagiannya. Semua ia miliki. Kecantikan, harta, kecerdasan, jabatan, kekasih, dan semuanya. Ia bahagia dengan apa yang ia punya, ia bisa terbang ke mana pun ia mau. Tanpa terbebani oleh aturan-aturan teologi yang dianggapnya primitif.
“Kalau kita mati, kira-kira kita pergi ke mana ya?”
“Bodoh, kita akan hancur bersama tanah. Menjadi zat-zat makanan untuk menyuburkan tanaman.”
“Hahahaha…” Dua gadis muda itu tertawa bersamaan. Membuat irama nyaring menantang langit. Tidak ada sedikitpun gurat takut di hati mereka. Tak ada. Mereka benar-benar melayang dalam dunia yang begitu indah, dunia yang ingin mereka tempati selamanya.
Sebuah kijang putih berhenti di hadapan mereka. Mereka tetap tertawa, meleburkan suara dengan kebisingan taman kota. Seorang pria tampan keluar dari mobil dan gesit menghampiri mereka. Nili tampak terkejut. Yang datang adalah kekasihnya. Kekasih yang baru semalam merengek cinta padanya. Mengemis agar Nili tidak memutuskan cintanya. Pria pemujanya itu benar-benar mabuk kepayang oleh keindahan yang dimilikinya. Tapi Nili tak peduli, apa yang tidak dia sukai lagi berarti harus diganti.
“Nili, ikut aku!” Pria itu menarik tangan Nili. Memaksanya untuk segera masuk ke mobil yang dibawanya. Nili berontak. Wajahnya memerah marah dengan pemaksaan yang dilakukan mantan kekasihnya itu. Es krim tercintanya terpaksa ditimpukkan ke wajah pria yang sudah dianggapnya tiada harganya lagi.
“Hei, orang gila! Kenapa kamu memaksa temanku?” Melati menghardik dengan lantang. Emosinya membuncah melihat sahabatnya diperlaukan dengan kasar, mirip majikan memperlakukan seorang budak.
“Jangan ikut campur!” Ancam si pria. Telunjuknya lurus mengacung ke wajah Melati. Tapi Melati tidak peduli. Ia melepas sepatunya dan secepat kilat menghantam kepala si pria. Hak lancipnya telak mengenai pelipis si pria hingga darah membancir di wajahnya. Nili tampak terkejut. Cengkeraman di tangannya lepas seketika. Ia menutup mulut. Si pria meraung kesakitan sambil menahan darah keluar dari pelipisnya. Orang-orang di taman pun terpaku dengan pemandangan itu. Mereka berkerumun menunggu apa yang terjadi selanjutnya, tanpa ada yang berinisiatif melerai. Mata orang-orang di taman dipaksa untuk mendelik saat pria kasar yang menyatroni Nili menghunus sebuah pisau. Matanya tajam menyambar Melati yang tampak panik seketika.
Si pria berjalan dengan gesit menyerang Melati. Harga dirinya seakan diinjak oleh Melati yang berani membuat pelipisnya bocor. Namun secepat kilat pula Nili menghadangnya dengan memukulkan tas cangklongnya berkali-kali ke tubuh si pria hingga pisaunya terjatuh. Dengan sigap Melati meraih pisau yang yang terhempas di ubin taman. Sedangkan Nili sudah balik diserang oleh si pria. Lehernya dicekik dengan kuat. Ia mencoba meronta tapi tangan pria itu terlalu perkasa untuk membuatnya terbebas dengan cepat.
Dengan gugup Melati mendekat. Dihunusnya pisau yang tampak berkilau di tangannya. Ia terus mendekat. Dan dengan tangan bergetar ia tikamkan pisau tajam itu ke arah pria yang mencekik Nili. Tapi sialnya, Melati terlalu gugup. Hingga pisaunya meleset dan mengenai punggung Nili hingga tembus ke jantung. Nili terpekik. Gadis bak bidadari itu merintih kesakitan. Darah segar membanjir di baju putihnya. Tubuh indahnya tersungkur tak berdaya. Semua terpana. Si pria pun bukan kepalang terkejutnya. Melati menggeleng tidak percaya. Ia telah menikam sahabatnya sendiri. Ia seperti sedang bermimpi. Semua terjadi begitu cepat.
***
“Apakah aku akan benar-benar menjadi pupuk, Mel? Aku tidak mau. Aku ingin menjadi kupu-kupu yang dapat terbang dan merayu bunga-bunga bermadu.” Bayang Nili semakin jelas di pelupuk mata Melati. Kadang ia terlihat murung, kadang tertawa riang sambil terbang mengelilingi ruang bui yang mengerikan.
“Seperti apa rasanya mati, Nil?” Lirih bibir Melati berucap. Tatapannya kosong.
“Entahlah, Mel. Sulit digambarkan. Tapi rasanya sakit sekali saat kutahu kamulah yang membunuhku.” Melati melotot seketika. Ia tertohok oleh perkataan shabatnya itu.
“Aku tidak membunuhmu, Nil. Aku gugup. Aku, aku…. Ah…….. Persetan denganmu, Nil. Aaaah…. Aku tidak peduli. Pergi! Pergi…..!”
“Hei, hei, hei….! Ada apa denganmu?” Hardik seorang petugas. Nafas Melati memburu. Ia menatap ke segala arah. Mencari sesuatu yang sekejap hilang. Nili tak ada lagi. Tapi tiba-tiba muncul sosok makhluk dengan tampang mengerikan. Ia membawa palu sebesar paha gajah. Matanya menyala. Taringnya menyeringai tajam.
“Hah!” Melati tersentak. Tubuhnya dingin seketika. Matanya mendelik. Ia merasa begitu takut. Rasanya ia ingin meloncat menembus atap ruang tahanan. Dan terbang melayang ke angkasa. Tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Baru kali ini ia merasa benar-benar tidak berdaya. Ia seolah cacing kecil yang terkurung dalam botol, menggeliatpun percuma.
“Siapa kamu? Siapa kamu? Kamu mau apa? Kamu maaaau u.. u.. uang? Aku beri. Tapi kumohon pergi! Jangan mendekat!” Melati semakin kalut. Makhluk mengerikan itu semakin dekat. Matanya menyala tajam. Palunya terayun dengan tenang.
“Kurasa gadis ini sudah gila!” rutuk si petugas.
Melati benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Ia lunglai dalam kepasrahan utuh. Matanya sayu. Bibirnya bergetar. Ia meringkuk dengan memeluk kedua lututnya. Sedangkan si makhluk menyeramkan sudah tepat berada di depannya. Ia benar-benar menakutkan. Ia seakan ingin mencabik-cabik tubuh Melati.
Gadis dalam kondisi berantakan itu sudah berada pada puncak ketakutan. Ia takut mati mengenaskan. Ia membayangkan saat tubuhnya diremukkan oleh palu si makhluk misterius. Ia tidak berani menatapnya. Ia melihat lantai yang tampak compang-camping di bawahnya. Air matanya menetes deras menyapu wajah cantik yang sangat dibanggakannya. Dalam cengkeraman kematian yang seolah merontokkan sendi-sendi tubuhnya, terucap lirih dari bibir mungilnya,”Tuhan, tolong aku!” Bui hening seketika. Sepoi angin membawa syair-syair tak bernada. Merayapi tembok berkarat darah. Dan menyusup ke luar jeruji. Sekejap tedengar sayup jeritan pilu, rintih-rintihan melodi dari lembah kehinaan. Angan kosong, dongeng, dan halusinasi itu kini terlihat nyata.
“Titisan Cinta dan Perjuanganmu”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Entah mengapa aku begitu bersemangat ingin menyaksikan puteriku berlomba. Walau sebenarnya aku sadar, mungkin perlombaannya sudah selesai. Karena seperti yang disampaikan puteriku, perlombaannya dimulai pukul 08.00, dan sekarang sudah pukul 13.45. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memenuhi permintaan puteri tercintaku. Kasihan dia, pasti hanya dia sendiri yang orang tuanya belum hadir di sekolahan.
Kucari sela untuk memarkirkan motorku. Setelah selesai, aku langsung menuju tempat perlombaan. Ramai sekali. Banyak sekali manusia di tempat ini. Seperti sedang menonton konser boys band saja. Tapi nyaliku mulai menciut saat kusadari akan sesuatu. Ternyata yang ada di tempat ini kebanyakan perempuan, atau mungkin semuanya perempuan. Karena tak kulihat wajah laki-laki kecuali wajah dua orang satpam dan lima oarang guru laki-laki. Berarti tamu undangan yang bergender laki-laki hanya aku sendiri. Bagaimana ini? Ah, masa bodoh. Aku datang ke sini untuk puteriku, bukan untuk mendata jenis kelamin para tamu.
Aku terus maju ke depan. Kucari keberadaan putriku di antara kerumunan anak-anak kecil berjilbab. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Kumpulan bidadari-bidadari cilik yang menjaga kehormatannya. Andai semua muslimah berhijab seperti bocah-bocah kecil itu, tentu negeri ini akan terlihat lebih asri. Tak kutemukan puteriku di sela-sela mereka. “Di mana keberadaan bidadari kecilku?” bisikku dalam hati.
“Kepada Ibu Halimah Cahyani, dipersilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara ketiga lomba Tilawatil Qu’an!” Terdengar suara wanita dari atas panggung. Kurasa wanita itu adalah pembawa acara Tilawatil Qur’an ini. Kulihat seorang ibu berjilbab besar naik ke atas panggung. Dengan penuh keakraban ia langsung mencium gadis kecil di atas panggung dan kemudian memeluknya. Ia terlihat begitu bangga dengan gadis kecil itu. Lalu seseorang menyodorkan sebuah piala besar kepada Ibu itu. Ibu itu lalu mengambilnya dan menyerahkan kepada si gadis kecil secara formal dan diikuti beberapa kali jepretan kamera. Ibu yang berjilbab besar itupun kemudian turun dari panggung. Kulihat sekeliling, para hadirin tampak takjub dengan pemandangan itu.
“Dan selanjutnya, kepada Ibu Fatmawati, dipesilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara kedua!” Seru pembawa acara. Mataku tertuju ke panggung lagi. Pemandangan yang sangat mirip dengan pemandangan pertama. Tapi ada yang sedikit berbeda, ternyata putriku juga ada di atas panggung. Sedang apa dia? Juarakah? Tiba-tiba hatiku brgemuruh. Ada harapan besar yang menggebu-gebu dalam hati.
“Baik, selanjutnya, kepada Bapak Haris Fuadi, selaku kepala sekolah, dipersilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara pertama!” Terdengar kembali suara pembawa acara. Kali ini terdengar lebih lantang dan bersemangat. Jantungku berdetak tak beraturan. Ada rasa harap dan cemas yang beradu. Rasanya jantungku mau meloncat saja saat kulihat bidadari kecilku maju beberapa langkah. Sepertinya ia memang juaranya.
Kali ini bukan jantungku yang mau meloncat, tapi air mataku yang secara perlahan meleleh membasahi pipi. Benar saja, puteri cantikku yang menjadi juara. Bapak kepala sekolah menyalaminya, dan memberikan piala besar dan mewah untuknya. “Subhanallah! Ini kejutan dari-Mu, ya Allah. Dia anakku.” Gemuruh hatiku.
“Kepada sang juara pertama, Qamraa Al-Birr, dipersilahkan untuk menyampaikan beberapa patah kata. Silahkan, sayang!” ucap si pembawa acara sambil mencium puteriku. Wanita berkulit putih itu lalu memberikan mikrofon kepada anakku, Qamraa Al-Birr. Aku terpaku memandangnya. Dia gadis kecil yang sangat cerdas. Dia adalah titipan Allah yang sangat berharga untukku.
“Eeem... eeeem, eee...” Anakku terlihat gugup. “Ayo, bicaralah, Nak! Ayah bersamamu,” gumamku dalam hati. Ia menatap ke arahku. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia menundukkan kepalanya. Kurasa memang dia seperti aku. Merasa gugup jika bicara di hadapan orang banyak. Tapi bicaralah, Nak! Sedikit saja. Suasana menjadi sangat menegangkan. Tak ada satupun hadirin yang bersuara. Semua menunggu, menunggu puteri tujuh tahunku itu bicara.
“Lihatlah, pria berkemeja biru itu adalah ayahku!” tutur Qamraa tiba-tiba sambil menunjuk ke arahku. Dengan secepat kilat, ratusan pasang mata langsung tertuju padaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Tapi sungguh, ada rasa bangga saat puteriku berucap seperti itu.
“Saat kulihat teman-temanku hadir di sini ditemani Bunda mereka, aku bertanya, di mana Bundaku? Aku sangat rindu pada Bunda. Kata Ayah, insya Allah Bunda ada di tempat yang baik, karena Bunda adalah pejuang.” Dupppp! Seperti meledak rasanya jantungku. Air mataku berhamburan dengan derasnya. Badanku menggigil dan darahku seoah berombak-ombak dalam pembuluh. Aku bukan takjub dengan kalimat puteri kecilku, tapi aku takjub dengan kata ‘bunda’ yang barusan ia sebutkan. “Sayang, Bundamu lebih dari sekedar pejuang.”
“Saya tak akan menggugurkan kandunganku, Dok. Itu sama saja membunuh anakku yang tak berdosa,” tutur isteriku, Tiana Hanifah.
“Tapi, Bu, Anda terkena kanker rahim yang akut. Rahim Anda tidak bisa untuk ditempati janin. Itu sangat berbahaya,” terang sang dokter yang beberapa kali telah memeriksa kandungan isteriku.
“Saya pasrahkan semuanya pada Allah, Dok. Permisi, assalamualaikum!” ucap isteriku dengan penuh keyakinan, dia tidak mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari bu dokter. Ia lalu menyambar tanganku dan mengajakku keluar dari ruangan.
Pikiranku agak kalut menghadapi masalah rawan ini. Aku tak dapat berbuat banyak kecuali pasrah pada takdir Allah. Tapi aku akan mencoba berdiskusi sedikit dengan isteriku. Setidaknya aku akan mendapat keyakinan yang kuat setelahnya.
“Sayang, ku harap kamu jangan tersinggung. Aku sangat menyayangimu, dan jujur, aku sangat menghawatirkanmu,” tuturku saat kudapati isteriku siuman dari pingsannya. Ia pingsan di dapur saat memasak, dan mengalami pendarahan.
“Apakah kamu tidak percaya dengan pertolongan Allah, Mas?” Pertanyaan yang sangat memojokkanku. Aku tak mampu menahan air mataku. Kugenggam erat tangannya.
“Mas, anak dalam rahimku adalah titipan dari Allah, dan kita harus menjaganya. Aku ridho mempertaruhkan nyawaku demi anak kita. Janganlah kita ragu pada Allah! Allah telah memberikan yang terbaik untuk kita.” Aku kagum pada keteguhanmu, sayang. Aku merasa sangat miskin keimanan jika dibanding denganmu. Kau teguh bagai karang. Kau lembut bagai sutera. Kau tak pernah berprasangka buruk pada Alah. Kau mutiara yang mengindahkan hidupku, meninggikan martabatku.
Sembilan bulan terasa begitu lama. Namun isteriku begitu tegar menghadapinya. Beberapa kali ia harus dirawat di rumah sakit. Sering sekali ia harus berguling menahan kesakitan. Hampir-hampir, ia tak pernah tidur demi mempertahankan bayi dalam kandungannya. Beberapa kali dokter menyarankan untuk melakukan pengguguran karena kondisi rahim isteriku sangat tidak memungkinkan. Bukan hanya keselamatan isteriku yang dikhawatirkan, tapi juga keselamatan bayi yang dikandungnya. Para dokter yang sudah sangat ahli itu, takut jika perjuangan isteriku sia-sia. Tapi itulah isteriku, dia sangat yakin akan pertolongan Allah. Dia hanya percaya pada kekuatan Allah, bukan pada vonis dokter.
“Jika memang ini adalah cara Allah mencintaiku, aku ingin penderitaan yang lebih dari ini. Dan demi Allah, aku akan menjaga titipan Allah ini dengan ketulusan cintaku. Tak ada satu halpun yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah.” Subhanallah! Dia memang wanita pilihan. “Berjuanglah, sayang! Insya Allah aku akan selalu bersamamu.”
Suatu keajaiban terjadi saat usia kandungan isteriku menginjak sembilan bulan tiga hari. Jika saat-saat sebelumnya hari-harinya dipenuhi dengan derita dan sakit-sakitan, tapi sekarang ia tampak bugar dan sangat sehat. Aku sangat bahagia mendapati kondisi isteriku yang membaik.
“Perjuanganmu akan segera usai, sayang,” bisikku di telinganya sebelum ia dibawa masuk ke ruang bersalin. Aku berusaha untuk terlihat tegar. Dia tersenyum sangat manis. Tak pernah kulihat senyum semanis itu sebelumnya. Ia menggenggam erat tanganku. Dan berbisik lembut di telingaku. “Mas, aku sangat mencintaimu.”
Aku menunggu dengan sangat cemas. Aku terus berdoa agar Allah memberikan keselamatan pada isteri dan anakku. Semua keluarga yang ikut menunggu juga mengalami kepanikan sama sepertiku. Kami saling diam. Kami sibuk dengan doa masing-masing.
“Pak, silahkan masuk! Anak anda sudah lahir,” ucap seorang perawat kepadaku. “Allahuakbar!” Suara takbir langsung menggema dari mulut-mulut yang penuh kecemasan. Aku langsung masuk ke dalam ruangan dan diikuti anggota keluarga lainnya. Kulihat bayi mungil di dalam keranjang bayi. Lucu sekali. Ia sangat cantik seperti Ibunya. Aku angkat bayi mungil itu. Dan dengan ragu-ragu kukumandangkan adzan lirih di telinga kanannya, dan iqamat di telinga kirinya. Lalu kuserahkan bayi mungil itu pada neneknya yang sudah tidak sabar untuk menggendongnya.
Kulihat isteriku terbaring lesu. Kukecup keningnya. Ia menggenggam erat tanganku. Ia berusaha untuk bangun dan memeluk tubuhku. Kusambut tubuhnya dengan pelukan erat. “Betapa kuat dirimu, sayang,” batinku.
“Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu,” ucap isteriku.
Lidahku kelu mendengar ucapannya. Aku sangat beruntung dicintai oleh wanita sepertinya. Lidahku tak mampu membalas ucapan cintanya. Hanya dalam hati,”Aku juga mencintaimu, Dik!”
Kudengar sayup suara isteriku. Tidak jelas, tapi kalimat itu tidak asing bagiku. Astagfirlah! Dia mengucap dua kalimat syahadat. Kulepaskan pelukanku. Dan inilah akhir. Ia syahid dengan senyum seindah cahaya bulan. Meneduhkan.
“Ayah, ayo pulang! Dari tadi bengong aja.” Aku kaget bukan main. Puteriku sudah berada di hadapanku. Kutengok kanan-kiri, orang-orang sudah mulai sepi. Kutatap wajah bidadari kecilku. Tak sanggup kubendung air mataku. Kupeluk puteri titisan bidadari ini. Terngiang sepotong kalimat dari isteriku,“Tak ada satu halpun yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah.” Ya, tak sia-sia kau lahirkan permata hati ini. Ia sangat cerdas dan santun,soleha, ceria, cantik, dan senyumnya seperti senyummu, layaknya cahaya bulan, meneduhkan.
Entah mengapa aku begitu bersemangat ingin menyaksikan puteriku berlomba. Walau sebenarnya aku sadar, mungkin perlombaannya sudah selesai. Karena seperti yang disampaikan puteriku, perlombaannya dimulai pukul 08.00, dan sekarang sudah pukul 13.45. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memenuhi permintaan puteri tercintaku. Kasihan dia, pasti hanya dia sendiri yang orang tuanya belum hadir di sekolahan.
Kucari sela untuk memarkirkan motorku. Setelah selesai, aku langsung menuju tempat perlombaan. Ramai sekali. Banyak sekali manusia di tempat ini. Seperti sedang menonton konser boys band saja. Tapi nyaliku mulai menciut saat kusadari akan sesuatu. Ternyata yang ada di tempat ini kebanyakan perempuan, atau mungkin semuanya perempuan. Karena tak kulihat wajah laki-laki kecuali wajah dua orang satpam dan lima oarang guru laki-laki. Berarti tamu undangan yang bergender laki-laki hanya aku sendiri. Bagaimana ini? Ah, masa bodoh. Aku datang ke sini untuk puteriku, bukan untuk mendata jenis kelamin para tamu.
Aku terus maju ke depan. Kucari keberadaan putriku di antara kerumunan anak-anak kecil berjilbab. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Kumpulan bidadari-bidadari cilik yang menjaga kehormatannya. Andai semua muslimah berhijab seperti bocah-bocah kecil itu, tentu negeri ini akan terlihat lebih asri. Tak kutemukan puteriku di sela-sela mereka. “Di mana keberadaan bidadari kecilku?” bisikku dalam hati.
“Kepada Ibu Halimah Cahyani, dipersilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara ketiga lomba Tilawatil Qu’an!” Terdengar suara wanita dari atas panggung. Kurasa wanita itu adalah pembawa acara Tilawatil Qur’an ini. Kulihat seorang ibu berjilbab besar naik ke atas panggung. Dengan penuh keakraban ia langsung mencium gadis kecil di atas panggung dan kemudian memeluknya. Ia terlihat begitu bangga dengan gadis kecil itu. Lalu seseorang menyodorkan sebuah piala besar kepada Ibu itu. Ibu itu lalu mengambilnya dan menyerahkan kepada si gadis kecil secara formal dan diikuti beberapa kali jepretan kamera. Ibu yang berjilbab besar itupun kemudian turun dari panggung. Kulihat sekeliling, para hadirin tampak takjub dengan pemandangan itu.
“Dan selanjutnya, kepada Ibu Fatmawati, dipesilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara kedua!” Seru pembawa acara. Mataku tertuju ke panggung lagi. Pemandangan yang sangat mirip dengan pemandangan pertama. Tapi ada yang sedikit berbeda, ternyata putriku juga ada di atas panggung. Sedang apa dia? Juarakah? Tiba-tiba hatiku brgemuruh. Ada harapan besar yang menggebu-gebu dalam hati.
“Baik, selanjutnya, kepada Bapak Haris Fuadi, selaku kepala sekolah, dipersilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara pertama!” Terdengar kembali suara pembawa acara. Kali ini terdengar lebih lantang dan bersemangat. Jantungku berdetak tak beraturan. Ada rasa harap dan cemas yang beradu. Rasanya jantungku mau meloncat saja saat kulihat bidadari kecilku maju beberapa langkah. Sepertinya ia memang juaranya.
Kali ini bukan jantungku yang mau meloncat, tapi air mataku yang secara perlahan meleleh membasahi pipi. Benar saja, puteri cantikku yang menjadi juara. Bapak kepala sekolah menyalaminya, dan memberikan piala besar dan mewah untuknya. “Subhanallah! Ini kejutan dari-Mu, ya Allah. Dia anakku.” Gemuruh hatiku.
“Kepada sang juara pertama, Qamraa Al-Birr, dipersilahkan untuk menyampaikan beberapa patah kata. Silahkan, sayang!” ucap si pembawa acara sambil mencium puteriku. Wanita berkulit putih itu lalu memberikan mikrofon kepada anakku, Qamraa Al-Birr. Aku terpaku memandangnya. Dia gadis kecil yang sangat cerdas. Dia adalah titipan Allah yang sangat berharga untukku.
“Eeem... eeeem, eee...” Anakku terlihat gugup. “Ayo, bicaralah, Nak! Ayah bersamamu,” gumamku dalam hati. Ia menatap ke arahku. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia menundukkan kepalanya. Kurasa memang dia seperti aku. Merasa gugup jika bicara di hadapan orang banyak. Tapi bicaralah, Nak! Sedikit saja. Suasana menjadi sangat menegangkan. Tak ada satupun hadirin yang bersuara. Semua menunggu, menunggu puteri tujuh tahunku itu bicara.
“Lihatlah, pria berkemeja biru itu adalah ayahku!” tutur Qamraa tiba-tiba sambil menunjuk ke arahku. Dengan secepat kilat, ratusan pasang mata langsung tertuju padaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Tapi sungguh, ada rasa bangga saat puteriku berucap seperti itu.
“Saat kulihat teman-temanku hadir di sini ditemani Bunda mereka, aku bertanya, di mana Bundaku? Aku sangat rindu pada Bunda. Kata Ayah, insya Allah Bunda ada di tempat yang baik, karena Bunda adalah pejuang.” Dupppp! Seperti meledak rasanya jantungku. Air mataku berhamburan dengan derasnya. Badanku menggigil dan darahku seoah berombak-ombak dalam pembuluh. Aku bukan takjub dengan kalimat puteri kecilku, tapi aku takjub dengan kata ‘bunda’ yang barusan ia sebutkan. “Sayang, Bundamu lebih dari sekedar pejuang.”
“Saya tak akan menggugurkan kandunganku, Dok. Itu sama saja membunuh anakku yang tak berdosa,” tutur isteriku, Tiana Hanifah.
“Tapi, Bu, Anda terkena kanker rahim yang akut. Rahim Anda tidak bisa untuk ditempati janin. Itu sangat berbahaya,” terang sang dokter yang beberapa kali telah memeriksa kandungan isteriku.
“Saya pasrahkan semuanya pada Allah, Dok. Permisi, assalamualaikum!” ucap isteriku dengan penuh keyakinan, dia tidak mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari bu dokter. Ia lalu menyambar tanganku dan mengajakku keluar dari ruangan.
Pikiranku agak kalut menghadapi masalah rawan ini. Aku tak dapat berbuat banyak kecuali pasrah pada takdir Allah. Tapi aku akan mencoba berdiskusi sedikit dengan isteriku. Setidaknya aku akan mendapat keyakinan yang kuat setelahnya.
“Sayang, ku harap kamu jangan tersinggung. Aku sangat menyayangimu, dan jujur, aku sangat menghawatirkanmu,” tuturku saat kudapati isteriku siuman dari pingsannya. Ia pingsan di dapur saat memasak, dan mengalami pendarahan.
“Apakah kamu tidak percaya dengan pertolongan Allah, Mas?” Pertanyaan yang sangat memojokkanku. Aku tak mampu menahan air mataku. Kugenggam erat tangannya.
“Mas, anak dalam rahimku adalah titipan dari Allah, dan kita harus menjaganya. Aku ridho mempertaruhkan nyawaku demi anak kita. Janganlah kita ragu pada Allah! Allah telah memberikan yang terbaik untuk kita.” Aku kagum pada keteguhanmu, sayang. Aku merasa sangat miskin keimanan jika dibanding denganmu. Kau teguh bagai karang. Kau lembut bagai sutera. Kau tak pernah berprasangka buruk pada Alah. Kau mutiara yang mengindahkan hidupku, meninggikan martabatku.
Sembilan bulan terasa begitu lama. Namun isteriku begitu tegar menghadapinya. Beberapa kali ia harus dirawat di rumah sakit. Sering sekali ia harus berguling menahan kesakitan. Hampir-hampir, ia tak pernah tidur demi mempertahankan bayi dalam kandungannya. Beberapa kali dokter menyarankan untuk melakukan pengguguran karena kondisi rahim isteriku sangat tidak memungkinkan. Bukan hanya keselamatan isteriku yang dikhawatirkan, tapi juga keselamatan bayi yang dikandungnya. Para dokter yang sudah sangat ahli itu, takut jika perjuangan isteriku sia-sia. Tapi itulah isteriku, dia sangat yakin akan pertolongan Allah. Dia hanya percaya pada kekuatan Allah, bukan pada vonis dokter.
“Jika memang ini adalah cara Allah mencintaiku, aku ingin penderitaan yang lebih dari ini. Dan demi Allah, aku akan menjaga titipan Allah ini dengan ketulusan cintaku. Tak ada satu halpun yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah.” Subhanallah! Dia memang wanita pilihan. “Berjuanglah, sayang! Insya Allah aku akan selalu bersamamu.”
Suatu keajaiban terjadi saat usia kandungan isteriku menginjak sembilan bulan tiga hari. Jika saat-saat sebelumnya hari-harinya dipenuhi dengan derita dan sakit-sakitan, tapi sekarang ia tampak bugar dan sangat sehat. Aku sangat bahagia mendapati kondisi isteriku yang membaik.
“Perjuanganmu akan segera usai, sayang,” bisikku di telinganya sebelum ia dibawa masuk ke ruang bersalin. Aku berusaha untuk terlihat tegar. Dia tersenyum sangat manis. Tak pernah kulihat senyum semanis itu sebelumnya. Ia menggenggam erat tanganku. Dan berbisik lembut di telingaku. “Mas, aku sangat mencintaimu.”
Aku menunggu dengan sangat cemas. Aku terus berdoa agar Allah memberikan keselamatan pada isteri dan anakku. Semua keluarga yang ikut menunggu juga mengalami kepanikan sama sepertiku. Kami saling diam. Kami sibuk dengan doa masing-masing.
“Pak, silahkan masuk! Anak anda sudah lahir,” ucap seorang perawat kepadaku. “Allahuakbar!” Suara takbir langsung menggema dari mulut-mulut yang penuh kecemasan. Aku langsung masuk ke dalam ruangan dan diikuti anggota keluarga lainnya. Kulihat bayi mungil di dalam keranjang bayi. Lucu sekali. Ia sangat cantik seperti Ibunya. Aku angkat bayi mungil itu. Dan dengan ragu-ragu kukumandangkan adzan lirih di telinga kanannya, dan iqamat di telinga kirinya. Lalu kuserahkan bayi mungil itu pada neneknya yang sudah tidak sabar untuk menggendongnya.
Kulihat isteriku terbaring lesu. Kukecup keningnya. Ia menggenggam erat tanganku. Ia berusaha untuk bangun dan memeluk tubuhku. Kusambut tubuhnya dengan pelukan erat. “Betapa kuat dirimu, sayang,” batinku.
“Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu,” ucap isteriku.
Lidahku kelu mendengar ucapannya. Aku sangat beruntung dicintai oleh wanita sepertinya. Lidahku tak mampu membalas ucapan cintanya. Hanya dalam hati,”Aku juga mencintaimu, Dik!”
Kudengar sayup suara isteriku. Tidak jelas, tapi kalimat itu tidak asing bagiku. Astagfirlah! Dia mengucap dua kalimat syahadat. Kulepaskan pelukanku. Dan inilah akhir. Ia syahid dengan senyum seindah cahaya bulan. Meneduhkan.
“Ayah, ayo pulang! Dari tadi bengong aja.” Aku kaget bukan main. Puteriku sudah berada di hadapanku. Kutengok kanan-kiri, orang-orang sudah mulai sepi. Kutatap wajah bidadari kecilku. Tak sanggup kubendung air mataku. Kupeluk puteri titisan bidadari ini. Terngiang sepotong kalimat dari isteriku,“Tak ada satu halpun yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah.” Ya, tak sia-sia kau lahirkan permata hati ini. Ia sangat cerdas dan santun,soleha, ceria, cantik, dan senyumnya seperti senyummu, layaknya cahaya bulan, meneduhkan.
“Terjemah Cinta”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Di raut-raut wajah fajar, aku pernah mendengar ritme merdu yang sebenarnya tak ada. Itulah saat-saat aku terjebak dalam ilusi. Aku terlempar pada masa di mana Nafida berjarak lima meter dariku dengan senyum termanis yang ia miliki. Aku ragu, namun aku berani berkata,”Aku sungguh bersedia untuk menjadi lelaki terbaik untuk Nafida, jika dia mau.” Dengan diiringi kicau burung, renyah teriakan bocah-bocah di halaman, dehem orang-orang di sekeliling, dan lirih kata ‘iya’ dari Nafida; benar-benar menjadi ritme termerdu yang pernah bermalam di telingaku. Sebuah anggukan malu-malu menjelma bagai tarian paling mempesona di jagad ini. Kolaborasi terindah yang baru pertama kali terjamah hati. Namun, aku harus mengakui suatu kenyataan, bahwa itu semua tidak pernah terjadi. Di saat itu, di saat Nafida mengangguk malu-malu, bukan aku yang mengkhitbahnya, tapi Nopan, sahabatku sendiri. Aku hanya duduk menemani, dengan hati berderai-derai berusaha untuk mengulas senyum seikhlas mungkin.
“Kenapa kamu tidak bilang padaku jika orang yang kamu ceritakan selama ini adalah Nafida? Kenapa kamu diam saja saat aku berencana mengkhitbahnya? Aku ini sebenarnya teman seperti apa?” Kalimat Nopan setengah jam yang lalu terus terngiang dalam pikiranku. Mengobrak-abrik setiap sendi keputusan yang telah kubuat sebelumnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bingung di bagian mana aku berani membenarkan diriku. Aku bergeming menanti kalimat selanjutnya dari Nopan. Dalam waktu yang cukup lama kami membisu dalam pikiran masing-masing. Menggerakkan tubuh pun tidak. Semua berubah menjadi kesungkanan yang membiru pasi.
“Nafida sebenarnya mencintaimu, Nad.” Lirih suara Nopan mengalun, terdengar seperti bergumam. Tapi sanggup membuatku terpekik tak percaya. Aku menolehya, mengamati air wajah yang tampak penuh penyesalan. Ada getir-getir pahit yang merambat seketika ke seluruh pembuluh darahku. Mengintimidasi jantung agar berfrekuensi detak lebih kuat.
Aku memang menyukai Nafida sejak kali pertama aku mengenalnya. Setiap hal tentang teman sekelasku itu membuatku kehabisan kata untuk menerjemahkannya. Dan yang paling aku senangi adalah kepribadian Nafida yang begitu berkarakter. Ia selalu menjaga jarak dengan lelaki manapun. Tak ada satu pun lelaki yang bisa meruntuhkan ketaatannya pada agama. Namun hal itu juga yang membuatku merasa tidak selevel dengannya. Ia ibarat permata yang begitu terjaga, dan aku layaknya hiasan murahan dari sampah daur ulang. Jauh bedanya, jauh sekali. Apalagi sejak menginjak semester tujuh, ketika Nopan, teman paling akrab yang aku miliki mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah kuduga. “Di kelasmu ada bidadari kenapa tidak pernah cerita? Aku jatuh cinta, Nad. Aku jatuh hati pada Nafida. Aku ingin melamarnya setelah lulus kuliah nanti. Tidak peduli diterima atau tidak. Akan kucoba.” Dan mendengar itu tembok buatan Iskandar Zulkarnaen seolah berpindah tempat dan berdiri kokoh menyekati aku dan Nafida. Aku hanya tersenyum, sebisa mungkin kubuat manis.
“Zanad, kenapa kamu diam saja?” Suara Nopan menyentakku. Memaksaku meninggalkan kenangan dan kembali ke masa yang sedang kujalani. Masa yang sulit, dengan pernak-pernik problematika cinta yang tak kunjung kering.
“Apa hubungannya denganku, Pan? Dia isterimu, buat apa mencintaiku?”
“Cukup, Nad! Jangan mencoba untuk membohongiku! Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengopi file-mu tanpa izin. Tapi aku penasaran, dan sekarang rasa penasaranku terjawab.”
File? Aku mencoba untuk mencerna ucapan Nopan. File apa yang dia maksud?
“Kumpulan puisi dan catatan cintamu,” jelas Nopan seolah tahu kecamuk tanya dalam benakku. Aku terkejut. Sangat terkejut.
“Apa? Kamu seenaknya saja mengopi file yang bukan hakmu?” Aku tidak terima. Amarah seketika menguasaiku. Bagaimana mungkin orang sebaik Nopan mengambil hak milik orang lain tanpa izin? Rasa-rasanya mustahil. Dan file yang dimaksud Nopan adalah file paling rahasia yang aku miliki. Jika itu dibaca Nopan, berarti dia tahu segalanya tentang perasaanku pada Nafida.
“Seandainya aku bilang padamu, apa kamu akan mengizinkan, Nad?”
“Tidak! Memang seharusnya kamu tidak perlu tahu tentang semua itu. Tidak perlu tahu!” Suaraku mengeras. “Astagfirlah, tidak seharusnya aku begini,” batinku. Kutatap Nopan, terlihat butir-butir bening mengalir deras dari matanya.
“Kamu teman terbaikku, Nad. Ta … tapi, tapi apa yang telah kuperbuat padamu. Kamu pasti sakit hati, Nad. Sulit membayangkan berada pada posisimu.” Suara Nopan parau. Mengurai patah-patah setiap penyesalannya.
“Sudahlah, Pan! Yang jelas dia sudah menjadi isterimu. Jika dia memang mencintaiku, seharusnya dia tidak menerima lamaranmu, kan?”
“Itu karena dia merasa tidak pantas untukmu. Sama halnya denganmu yang merasa tidak pantas untuknya.”
Aku tertegun. Mataku menatap kosong pada lantai yang terhias oleh air mata Nopan. Namun pikiranku melejit ke seluruh penjuru jagad. Mencoba menggapai-gapai waktu yang pernah kulalui. Namun semuanya telah sirna. Nafida dan segala hal hebat tentangnya tetap tak pernah bisa kuterjemahkan. Waktu tidak mungkin ditarik lagi, ia adalah hal yang paling konsisten dengan langkah. Maju, terus ke depan tanpa peduli banyak jiwa yang tertahan oleh masa lalu.
“Seharusnya kamu bilang padaku, Nad!” Jemari pria berambut lurus itu mencengkeram kuat pundakku. Dan dengan pelan menggoncang-goncangkannya. Aku menatapnya. Terlihat matanya semakin sembab. Tidak seharusnya orang sebaik Nopan menagisi keadaan ini. Andai dia tidak tahu. Andai aku lebih cepat menghapus file itu. Mungkin keadaannya sedikit lain. Tapi aku tidak akan terjebak dalam andai yang semu dan menyesatkan. Aku berada di sini dan masa ini, dan aku harus menentukan sikap saat ini juga.
“Apa Nafida tahu kalau aku mencintainya?” tanyaku dengan pelan. Nopan menggeleng.
“Rahasiakan, Pan! Jangan sampai dia tahu! Apa yang aku rasakan biarkan jadi kenangan. Biar kita berdua yang simpan. Kita hidup di masa ini, masa di mana sekarang Nafida adalah isterimu dan aku adalah temanmu. Tak perlu kita tengok-tengok lagi ke belakang! Semua akan menjadi pembelajaran dengan sendirinya.”
Angin berhembus bak membawa keindahan semesta. Menyelinap ke setiap helai kehidupan dengan segala kisahnya. Aku dan semua cerita ini mungkin akan usang dengan sendirinya. Menemui penuntasan kisah yang selalu diharap berujung pada kebahagiaan yang kekal. Cinta tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus. Ia bilang akan ada kelok-kelok yang menyempitkan hati. Akan ada duri-duri yang dengan ikhlas menjalankan peran untuk membuat langkah semakin berat. Cinta hanya menjanjikan pilihan, bahwa setiap insan berhak memilih jalan cintanya masing-masing.
Nafida adalah hal yang tidak mungkin kulupa jika Tuhan tidak mengambil ingatan ini. Dia adalah butir-butir embun yang tertanam di hati orang lain yang masih dapat kurasa kesejukannya. Karena cinta tidak membutuhkan ruang dan waktu, ia hanya membutuhkan hati yang bernasib memilikinya. Akan semua hal yang kumiliki, tentang cinta yang terus melekat ini, biar akhir yang menerjemahkannya.
Di raut-raut wajah fajar, aku pernah mendengar ritme merdu yang sebenarnya tak ada. Itulah saat-saat aku terjebak dalam ilusi. Aku terlempar pada masa di mana Nafida berjarak lima meter dariku dengan senyum termanis yang ia miliki. Aku ragu, namun aku berani berkata,”Aku sungguh bersedia untuk menjadi lelaki terbaik untuk Nafida, jika dia mau.” Dengan diiringi kicau burung, renyah teriakan bocah-bocah di halaman, dehem orang-orang di sekeliling, dan lirih kata ‘iya’ dari Nafida; benar-benar menjadi ritme termerdu yang pernah bermalam di telingaku. Sebuah anggukan malu-malu menjelma bagai tarian paling mempesona di jagad ini. Kolaborasi terindah yang baru pertama kali terjamah hati. Namun, aku harus mengakui suatu kenyataan, bahwa itu semua tidak pernah terjadi. Di saat itu, di saat Nafida mengangguk malu-malu, bukan aku yang mengkhitbahnya, tapi Nopan, sahabatku sendiri. Aku hanya duduk menemani, dengan hati berderai-derai berusaha untuk mengulas senyum seikhlas mungkin.
“Kenapa kamu tidak bilang padaku jika orang yang kamu ceritakan selama ini adalah Nafida? Kenapa kamu diam saja saat aku berencana mengkhitbahnya? Aku ini sebenarnya teman seperti apa?” Kalimat Nopan setengah jam yang lalu terus terngiang dalam pikiranku. Mengobrak-abrik setiap sendi keputusan yang telah kubuat sebelumnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bingung di bagian mana aku berani membenarkan diriku. Aku bergeming menanti kalimat selanjutnya dari Nopan. Dalam waktu yang cukup lama kami membisu dalam pikiran masing-masing. Menggerakkan tubuh pun tidak. Semua berubah menjadi kesungkanan yang membiru pasi.
“Nafida sebenarnya mencintaimu, Nad.” Lirih suara Nopan mengalun, terdengar seperti bergumam. Tapi sanggup membuatku terpekik tak percaya. Aku menolehya, mengamati air wajah yang tampak penuh penyesalan. Ada getir-getir pahit yang merambat seketika ke seluruh pembuluh darahku. Mengintimidasi jantung agar berfrekuensi detak lebih kuat.
Aku memang menyukai Nafida sejak kali pertama aku mengenalnya. Setiap hal tentang teman sekelasku itu membuatku kehabisan kata untuk menerjemahkannya. Dan yang paling aku senangi adalah kepribadian Nafida yang begitu berkarakter. Ia selalu menjaga jarak dengan lelaki manapun. Tak ada satu pun lelaki yang bisa meruntuhkan ketaatannya pada agama. Namun hal itu juga yang membuatku merasa tidak selevel dengannya. Ia ibarat permata yang begitu terjaga, dan aku layaknya hiasan murahan dari sampah daur ulang. Jauh bedanya, jauh sekali. Apalagi sejak menginjak semester tujuh, ketika Nopan, teman paling akrab yang aku miliki mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah kuduga. “Di kelasmu ada bidadari kenapa tidak pernah cerita? Aku jatuh cinta, Nad. Aku jatuh hati pada Nafida. Aku ingin melamarnya setelah lulus kuliah nanti. Tidak peduli diterima atau tidak. Akan kucoba.” Dan mendengar itu tembok buatan Iskandar Zulkarnaen seolah berpindah tempat dan berdiri kokoh menyekati aku dan Nafida. Aku hanya tersenyum, sebisa mungkin kubuat manis.
“Zanad, kenapa kamu diam saja?” Suara Nopan menyentakku. Memaksaku meninggalkan kenangan dan kembali ke masa yang sedang kujalani. Masa yang sulit, dengan pernak-pernik problematika cinta yang tak kunjung kering.
“Apa hubungannya denganku, Pan? Dia isterimu, buat apa mencintaiku?”
“Cukup, Nad! Jangan mencoba untuk membohongiku! Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengopi file-mu tanpa izin. Tapi aku penasaran, dan sekarang rasa penasaranku terjawab.”
File? Aku mencoba untuk mencerna ucapan Nopan. File apa yang dia maksud?
“Kumpulan puisi dan catatan cintamu,” jelas Nopan seolah tahu kecamuk tanya dalam benakku. Aku terkejut. Sangat terkejut.
“Apa? Kamu seenaknya saja mengopi file yang bukan hakmu?” Aku tidak terima. Amarah seketika menguasaiku. Bagaimana mungkin orang sebaik Nopan mengambil hak milik orang lain tanpa izin? Rasa-rasanya mustahil. Dan file yang dimaksud Nopan adalah file paling rahasia yang aku miliki. Jika itu dibaca Nopan, berarti dia tahu segalanya tentang perasaanku pada Nafida.
“Seandainya aku bilang padamu, apa kamu akan mengizinkan, Nad?”
“Tidak! Memang seharusnya kamu tidak perlu tahu tentang semua itu. Tidak perlu tahu!” Suaraku mengeras. “Astagfirlah, tidak seharusnya aku begini,” batinku. Kutatap Nopan, terlihat butir-butir bening mengalir deras dari matanya.
“Kamu teman terbaikku, Nad. Ta … tapi, tapi apa yang telah kuperbuat padamu. Kamu pasti sakit hati, Nad. Sulit membayangkan berada pada posisimu.” Suara Nopan parau. Mengurai patah-patah setiap penyesalannya.
“Sudahlah, Pan! Yang jelas dia sudah menjadi isterimu. Jika dia memang mencintaiku, seharusnya dia tidak menerima lamaranmu, kan?”
“Itu karena dia merasa tidak pantas untukmu. Sama halnya denganmu yang merasa tidak pantas untuknya.”
Aku tertegun. Mataku menatap kosong pada lantai yang terhias oleh air mata Nopan. Namun pikiranku melejit ke seluruh penjuru jagad. Mencoba menggapai-gapai waktu yang pernah kulalui. Namun semuanya telah sirna. Nafida dan segala hal hebat tentangnya tetap tak pernah bisa kuterjemahkan. Waktu tidak mungkin ditarik lagi, ia adalah hal yang paling konsisten dengan langkah. Maju, terus ke depan tanpa peduli banyak jiwa yang tertahan oleh masa lalu.
“Seharusnya kamu bilang padaku, Nad!” Jemari pria berambut lurus itu mencengkeram kuat pundakku. Dan dengan pelan menggoncang-goncangkannya. Aku menatapnya. Terlihat matanya semakin sembab. Tidak seharusnya orang sebaik Nopan menagisi keadaan ini. Andai dia tidak tahu. Andai aku lebih cepat menghapus file itu. Mungkin keadaannya sedikit lain. Tapi aku tidak akan terjebak dalam andai yang semu dan menyesatkan. Aku berada di sini dan masa ini, dan aku harus menentukan sikap saat ini juga.
“Apa Nafida tahu kalau aku mencintainya?” tanyaku dengan pelan. Nopan menggeleng.
“Rahasiakan, Pan! Jangan sampai dia tahu! Apa yang aku rasakan biarkan jadi kenangan. Biar kita berdua yang simpan. Kita hidup di masa ini, masa di mana sekarang Nafida adalah isterimu dan aku adalah temanmu. Tak perlu kita tengok-tengok lagi ke belakang! Semua akan menjadi pembelajaran dengan sendirinya.”
Angin berhembus bak membawa keindahan semesta. Menyelinap ke setiap helai kehidupan dengan segala kisahnya. Aku dan semua cerita ini mungkin akan usang dengan sendirinya. Menemui penuntasan kisah yang selalu diharap berujung pada kebahagiaan yang kekal. Cinta tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus. Ia bilang akan ada kelok-kelok yang menyempitkan hati. Akan ada duri-duri yang dengan ikhlas menjalankan peran untuk membuat langkah semakin berat. Cinta hanya menjanjikan pilihan, bahwa setiap insan berhak memilih jalan cintanya masing-masing.
Nafida adalah hal yang tidak mungkin kulupa jika Tuhan tidak mengambil ingatan ini. Dia adalah butir-butir embun yang tertanam di hati orang lain yang masih dapat kurasa kesejukannya. Karena cinta tidak membutuhkan ruang dan waktu, ia hanya membutuhkan hati yang bernasib memilikinya. Akan semua hal yang kumiliki, tentang cinta yang terus melekat ini, biar akhir yang menerjemahkannya.
“Si Dekil”
Oleh: Muklis Ahsya
Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Sebagai peringkat kesebelas, aku cukup bangga menyambut kenaikan kelas. Sekarang sudah kelas tiga, saatnya menjadi penguasa di SMA.
Pagi yang sejuk dengan awan hitam bergelanyut di angkasa, membuat pagi ini terasa seakan masih subuh. Kulangkahkan kaki menuju ruang kelas. Astaga! Ternyata sudah ada guru di kelas.
“Assalamualaikum!” sapaku sambil melongokkan kepala ke dalam ruangan.
“Walaikumsalam. Silahkan masuk!” sambut bu Endang seorang guru matematika yang menurutku sangat cantik dan masih muda. Aku menuju bangku paling belakang yang masih kosong dan menempatinya.
“Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam. Lho, Pak Anwar. Silahkan masuk!” sahut bu Endang sedikit terkejut. Pak Anwar memasuki ruang kelas diikuti seorang siswa di belakangnya. Terjadi perbincangan sebentar antara pak Anwar dan ibu Endang. Entah membicarakan apa. Suaranya terlalu pelan. Sejurus kemudian pak Anwar keluar dari kelas setelah sebelumnya menepuk-nepuk bahu siswa yang bersamanya. Siswa itu hanya diam. Tatapannya aneh dan sebentar-sebentar tersenyum. Rambutnya ikal, pakaiannya bersih dan rapi. Tapi sayang, kulitnya dekil sekali, seperti sebulan lebih tidak pernah mandi.
“Anak-anak, kita kedatangan siswa baru dari Bandung,” Bu Endang membuka pembicaraan.
“Wah, orang Bandung ternyata ada yang dekil juga. Selama tinggal di Lampung, aku belum pernah menemui orang sedekil itu,” bisikku dalam hati.
“Bandung sebelah mana, Bu? Mungkin yang Ibu maksud, anak ini berasal dari hutan di Bandung,” celetuk Imam yang disambut dengan tawa anak satu kelas.
“Tidak boleh begitu, Imam!” tegur bu Endang. Guru yang cantik itu berjalan mendekati siswa baru yang dekil itu. “Silahkan perkenalkan dirimu!” suruh bu Endang padanya.
“Hai, teman-teman! Namaku Akri Samsudin. Aku berasal dari Ba….”
“Cukup!” potongku. “Sudah, mendingan kamu langsung duduk saja. Kami tidak butuh berkenalan denganmu,” lanjutku dengan gaya merendahkan. Sebenarnya aku tidak sejahat ini. Tapi beginilah budaya di sekolahku. Kami tidak akan membiarkan anak baru masuk sekolahan kami dengan mudah. Kami akan buat hidupnya tidak nyaman. Atau setidak-tidaknya dia harus berjuang dulu untuk brsosialisasi dengan kami. Dan kurasa bu Endang maklum dengan kebiasaan kami.
“Baik, Akri. Lebih baik sekarang kamu duduk saja. Kursi di sebelah Hery masih kosong, kamu boleh duduk di sana,” ucap bu Endang sambil menunjuk ke arah kursi di sebelahku. Wah, mimpi apa aku semalam? Bisa sial seperti ini. Dan lebih sial, keadaan ini menjadi bahan tertawaan teman-teman satu kelas.
“Ini pertama kali dalam sejarah, Harry Potter duduk sebangku dengan Tarzan,” seru Reni yang membuat ruang kelas seakan bergetar oleh tawa-tawa yang menyebalkan. Mulut perempuan satu ini memang rombeng.
Waktu memang tidak pernah mau berhenti. Ia berjalan sesuai fitrahnya. Merenda pelangi dalam kehidupan. Menyematkan cinta dan derita. Menjejali hidup dengan masalah. Ya, seperti masalahku saat ini. Si Dekil ternyata sangat pandai. Ia dapat menghafal dengan cepat, berhitung seperti kilat, berbicara dengan sangat mempesona. Ia benar-benar membuat hidupku penuh cidera. Bagaimana tidak? Makhluk dekil itu mengusai kelasku dengan mudah. Para bidadari-bidadari cantik tiap hari mengerumuninya untuk diajari matematika, teman-teman yang dekat denganku kini lebih suka dekat-dekat dengan si dekil agar mendapat contekan. “Dasar penjilat,” makiku dalam hati. Dan yang lebih parah lagi, sejak makhluk dekil itu ada di kelasku, teman-teman semakin menjadi-jadi mengolok-olokku dengan sebutan ‘Harry Potter’. Aku menjadi terasing. Hanya kebencian yang menemaniku. Aku lebih senang berteman dengan buku-buku yang dulu tidak kusenangi. Rumus-rumus matematika banyak yang melekat dalam otakku, pembahasan Biologi kuhafal seperti menghafal puisi, Fisika, Kimia, Sastra, dan semua pelajaran mulai aku kuasai. Ini semua kulakukan demi menyaingi si manusia dekil. Aku begitu mandiri karena terlalu gengsi jika harus mencontek dengan si Dekil.
Hatiku benar-benar dongkol saat pembagian rapor semester ganjil. Dalam suasana yang menegangkan, wali kelas kami menyebutkan Akri Samsudin sebagai juara pertama di kelas kami. “Dasar penjajah! Mana si Ervita yang dari dulu selalu juara satu? Kenapa begitu mudah digeser oleh si Dekil? Alien satu ini memang sangat menyebalkan,” gumamku dengan geram.
“Juara kedua, diraih oleh Hery Admawijaya,” tutur bapak wali kelas sambil tersenyum cerah. Jantungku benar-benar mau copot rasanya. Sejenak kutengok Akri yang duduk di sebelahku, ia tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku. Teman-teman satu kelas gaduh dan berhambur ke arahku. Ada yang menyalami, menepuk-nepuk pundak, kepala, dan ada yang menarik-narik bajuku. Aku hanya terpaku tidak percaya, tesenyumpun tidak sanggup. Tiba-tiba kurasakan pening di kepalaku, semua terasa gelap. Hanya samar-samar suara cempreng Reni yang masih dapat kudengar,”Ini pertama kali dalam sejarah, Harry Potter dapat juara dua.”
Saat kubuka mata, ternyata aku berada di ruang UKS. Ada si Dekil, Ervita, dan Imam yang menungguiku. Aku bangun dari pembaringan. Rasanya seperti baru bangun tidur. Makhluk dekil terlihat mendekatiku.
“Hai, Harry Potter! Sudah siuman ternyata. Selamat, ya!” ucap Akri sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak menyambut uluran tangannya. Bahkan kutampik tangannya dari hadapanku.
“Pergilah kalian! Aku tidak suka dipanggil Harry Potter.”
“Kenapa? Harry Potter hebat,” Tanya Akri. Makhluk dekil ini tambah membuatku merasa muak.
“Harry Potter itu hebat karena dia ditakdirkan untuk menjadi hebat. Dia adalah orang hebat pilihan Tuhan. Aku tidak mau seperti Harry Potter, aku ingin hebat karena usahaku. Aku ingin hebat bukan sebagai manusia yang ditunjuk Tuhan untuk hebat,” tegasku.
“Nanti kamu akan sadar, bahwa ternyata hebat karena dipilih Tuhan itu adalah rahmat. Dan hebat karena usaha saja itu palsu. Orang hebat yang dipilih Tuhan tidak secara praktis mendapatkan kehebatannya, ia harus mengikuti hokum alam, ia harus melakukan ikhtiar dan perjuangan. Dan pilihan Tuhan itu adalah bentuk keridhoan-Nya.” Akri terlihat serius. Biasanya ia bicara sambil tersenyum, tapi kali ini tidak. Aku hanya diam. Karena sebenarnya aku belum paham dengan apa yang dia katakan.
“Mungkin lain kali kita bicarakan lagi. Sekarang aku harus pergi dulu.” Si dekil berjalan meninggalkan ruangan. Tinggal Ervita dan Imam yang menatapku penuh kesungkanan.
Hari-hariku penuh dengan kebencian. Aku sama sekali tidak rela dengan kehadiran si Dekil. Ia membuat semuanya berubah menjadi buruk di mataku. Hampir setahun kami duduk sebangku, namun tidak pernah sekali pun aku mengajaknya bicara. Jika ia mencoba membuka pembicaraan, aku berusaha menghindar. Aku tidak perduli, aku bahkan ingin sekali tidak mendengar suaranya. Sebenarnya Akri sangat baik, ia pintar, ia sangat disukai oleh teman-teman satu kelas. Ia sangat murah senyum, suaranya bagus, dan ekspresi bicaranya menawan. Hanya satu kelemahannya, ia sangat dekil. Mungkin ia tidak pernah mandi, atau mungkin ia memang benar-benar keturunan alien. Entahlah, aku tidak berminat untuk mencari tahu. Yang pasti, aku benar-benar tidak menyukai makluk dekil itu.
Ini adalah hari yang sangat mendebarkan namun sangat aku tunggu. Karena ini adalah gerbang bagiku untuk segera meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan si Dekil dan menghapusnya dari kehidupan ini. Suasana begitu mencekam pada detik-detik pengumuman kelulusan ini.
Aku masuk dalam kerumunan siswa untuk melihat daftar kelulusan. Terasa bergetar tangan ini. Ingin rasanya menutup mata saja, dan berharap ada yang berbisik di telingaku,”Kamu lulus.” Terus kucari namaku dalam daftar yang ditempel di mading. Dari satu lembar daftar tidak kutemukan namaku, lalu aku pindah ke daftar yang lain. Namun setelah beberapa lembar terlewati, tidak kutemukan juga namaku. Hati ini mulai cemas. “Habis juara dua, kok, tidak lulus,” protesku dalam hati. Astagfirlah! Kenapa aku jadi sombong begini?”. Tinggal satu lembar lagi daftar yang belum kubaca. Aku bergeser ke lembar yang paling kiri. Rasa cemas, takut, dan deg-degan bercampur dan membuat kaki ini mau roboh saja rasanya. Dan sepertinya aku memang benar-benar akan roboh. Namaku. Namaku ada di urutan paling atas. Itu artinya aku lulus, dan menjadi lulusan terbaik dengan nilai tertinggi. Di urutan nomor dua tertera nama ‘Akri Samsudin’. “Aku bisa mengalahkan si Dekil? Tidak mungkin. Ini pasti mimpi.”
Kulihat si Dekil duduk di taman sekolah bersama dengan Reni. Kuhampiri mereka. Aku sadar, aku bisa mendapatkan prestasi ini berkat kehadiran si Dekil. Tanpa dia pasti aku akan tetap bertahan dengan peringkat kesebelasku, dan untuk masuk ke sepuluh besar saja susah. Tapi kehadiran si Dekil telah mengubah semuanya. Sekarang aku bisa meraih sesuatu yang sebelumnya untuk membayangkannya saja aku tidak berani. Tiba-tiba rasa benciku pada si Dekil sirna begitu saja.
“H..h..hai!” sapaku dengan penuh rasa canggung.
“Hery. Selamat,ya! Kamu memang hebat,” ucap si Dekil sambil menyalamiku. Reni langsung mendekatiku. “Harry Potter luar biasa. Selamat, ya!” Reni menepuk-nepuk pundakku. Gadis ini kadang terlihat sangat manis jika tidak sedang banyak bicara.
Aku bingung harus bicara apa. Semua serba canggung. Kuberanikan menatap mata Akri. Mata yang penuh sorot keoptimisan. Wajahnya tidak banyak berubah dari awal aku melihatnya, masih saja dekil. Dia periang. Dia penuh inspirasi dan sangat menginspirasi. Rambut ikalnya terlihat kering dan acak-acakan. Anak ini memang benar-benar semrawut, tapi kepandaiannya tersusun rapi dalam batok kepalanya. Ingin rasanya kupeluk tubuh kurusnya dan kutumpahkan air mata keharuan ini. Dia sangat berjasa dalam hidupku. Dia telah mengantarkanku ke dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akri pasti akan menjadi orang besar nantinya. Dia pasti akan sukses dengan kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Aku memang lulusan terbaik, namun aku tidak pernah merasa lebih hebat dari si Dekil. Dengan rasa yang berat, kuurungkan niatku untuk memeluknya. Aku berlalu dengan hati yang gulana. Ada sesuatu yang tidak mampu kusentuh dalam hati ini.
Kurang dari enam tahun aku berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di Yogyakarta. Saat menjalani masa kuliah, aku selalu membayangkan si Dekil ada di sampingku. Dengan begitu, semangat belajarku terus terpacu karena aku tidak ingin kalah dari si Dekil. Si Dekil menjadi penyemangat tersendiri untukku. Dia begitu lekat di hati dan pikiranku.
Tidak berselang lama aku langsung ditawari jabatan penting di sebuah perusahaan besar di Jogja. Dan keberuntungan seolah terus menghujaniku. Lamaranku pada Shintia, perempuan soleha berjilbab yang kukenal dari seorang ustadz, akhirnya diterima setelah aku menunggu hampir tiga bulanan. Aku tidak sabar ingin pulang ke Lampung, bertemu dengan si Dekil dan mengabarkan ini semua. Aku juga ingin melihat seberapa sukses bocah ajaib itu.
Degggg! Rasanya seperti dipalu jantung ini. Ucapan Imam yang saat ini berada di hadapanku, terus terngiang-ngiang di kepala ini. “Akri gila, Her. Ia gila setelah dipukuli warga saat kedapatan mencuri uang bu Inah. Mungkin ia mengalami gegar otak setelah kepalanya dihujani balok kayu berkali-kali.” Tidak. Tidak mungkin Akri mencuri. Dan Aku tidak percaya Akri gila. Imam pasti bercanda.
“Biar kuantar ke tempatnya, jika kamu ingin bertemu dengannya,” tutur Imam seolah ingin meyakinkanku.
Imam membawaku ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Rumah kayu yang terlihat sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Bolong sana-sini. Kotor dan terkesan sangat misterius. Imam mengajakku masuk ke dalam rumah yang ternyata cukup terang karena atapnya sebagian menganga.
“Itu Akri,” bisik Imam sambil menunjuk ke pojok ruangan. Seorang pemuda sedang menatap kosong ke arah kami. Rambut dan pakaiannya sangat berantakan. Kulitnya penuh debu. Wajahnya sangat memelas, dekil sekali. Matanya. Ya, matanya sangat kukenali. Itu mata yang kutatap di taman sekolah sekitar enam tahun yang lalu. Mata yang dulu penuh pancaran keoptimisan.
Tidak mampu kubendung air mata ini. Aku berlari dan menubruknya. Kupeluk erat tubuh yang terasa seperti tulang. Aku meraung dalam kepahitan. Betapa baru kali ini kurasakan kepedihan yang begitu menyayat. Si Dekil benar, memang lebih baik hebat karena dipilih Tuhan daripada hebat karena usaha saja. Karena nyata di mataku, Akri yang hebat kini kosong dalam kehampaan karena tidak dipilih Tuhan. Alangkah sombongnya aku selama ini.
Aku bertambah erat memeluknya. Si Dekil hanya diam. Dia tidak sadar dengan apa yang terjadi. Kurasa ia tidak dapat merasakan pelukan tulus dariku ini. Andai mampu kuputar waktu, aku ingin kembali ke taman sekolah. Akan kupeluk erat si Dekil. Di saat terakhir pertemuan itu, di saat ia masih bisa merasakan hangatnya pelukanku.
Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Sebagai peringkat kesebelas, aku cukup bangga menyambut kenaikan kelas. Sekarang sudah kelas tiga, saatnya menjadi penguasa di SMA.
Pagi yang sejuk dengan awan hitam bergelanyut di angkasa, membuat pagi ini terasa seakan masih subuh. Kulangkahkan kaki menuju ruang kelas. Astaga! Ternyata sudah ada guru di kelas.
“Assalamualaikum!” sapaku sambil melongokkan kepala ke dalam ruangan.
“Walaikumsalam. Silahkan masuk!” sambut bu Endang seorang guru matematika yang menurutku sangat cantik dan masih muda. Aku menuju bangku paling belakang yang masih kosong dan menempatinya.
“Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam. Lho, Pak Anwar. Silahkan masuk!” sahut bu Endang sedikit terkejut. Pak Anwar memasuki ruang kelas diikuti seorang siswa di belakangnya. Terjadi perbincangan sebentar antara pak Anwar dan ibu Endang. Entah membicarakan apa. Suaranya terlalu pelan. Sejurus kemudian pak Anwar keluar dari kelas setelah sebelumnya menepuk-nepuk bahu siswa yang bersamanya. Siswa itu hanya diam. Tatapannya aneh dan sebentar-sebentar tersenyum. Rambutnya ikal, pakaiannya bersih dan rapi. Tapi sayang, kulitnya dekil sekali, seperti sebulan lebih tidak pernah mandi.
“Anak-anak, kita kedatangan siswa baru dari Bandung,” Bu Endang membuka pembicaraan.
“Wah, orang Bandung ternyata ada yang dekil juga. Selama tinggal di Lampung, aku belum pernah menemui orang sedekil itu,” bisikku dalam hati.
“Bandung sebelah mana, Bu? Mungkin yang Ibu maksud, anak ini berasal dari hutan di Bandung,” celetuk Imam yang disambut dengan tawa anak satu kelas.
“Tidak boleh begitu, Imam!” tegur bu Endang. Guru yang cantik itu berjalan mendekati siswa baru yang dekil itu. “Silahkan perkenalkan dirimu!” suruh bu Endang padanya.
“Hai, teman-teman! Namaku Akri Samsudin. Aku berasal dari Ba….”
“Cukup!” potongku. “Sudah, mendingan kamu langsung duduk saja. Kami tidak butuh berkenalan denganmu,” lanjutku dengan gaya merendahkan. Sebenarnya aku tidak sejahat ini. Tapi beginilah budaya di sekolahku. Kami tidak akan membiarkan anak baru masuk sekolahan kami dengan mudah. Kami akan buat hidupnya tidak nyaman. Atau setidak-tidaknya dia harus berjuang dulu untuk brsosialisasi dengan kami. Dan kurasa bu Endang maklum dengan kebiasaan kami.
“Baik, Akri. Lebih baik sekarang kamu duduk saja. Kursi di sebelah Hery masih kosong, kamu boleh duduk di sana,” ucap bu Endang sambil menunjuk ke arah kursi di sebelahku. Wah, mimpi apa aku semalam? Bisa sial seperti ini. Dan lebih sial, keadaan ini menjadi bahan tertawaan teman-teman satu kelas.
“Ini pertama kali dalam sejarah, Harry Potter duduk sebangku dengan Tarzan,” seru Reni yang membuat ruang kelas seakan bergetar oleh tawa-tawa yang menyebalkan. Mulut perempuan satu ini memang rombeng.
Waktu memang tidak pernah mau berhenti. Ia berjalan sesuai fitrahnya. Merenda pelangi dalam kehidupan. Menyematkan cinta dan derita. Menjejali hidup dengan masalah. Ya, seperti masalahku saat ini. Si Dekil ternyata sangat pandai. Ia dapat menghafal dengan cepat, berhitung seperti kilat, berbicara dengan sangat mempesona. Ia benar-benar membuat hidupku penuh cidera. Bagaimana tidak? Makhluk dekil itu mengusai kelasku dengan mudah. Para bidadari-bidadari cantik tiap hari mengerumuninya untuk diajari matematika, teman-teman yang dekat denganku kini lebih suka dekat-dekat dengan si dekil agar mendapat contekan. “Dasar penjilat,” makiku dalam hati. Dan yang lebih parah lagi, sejak makhluk dekil itu ada di kelasku, teman-teman semakin menjadi-jadi mengolok-olokku dengan sebutan ‘Harry Potter’. Aku menjadi terasing. Hanya kebencian yang menemaniku. Aku lebih senang berteman dengan buku-buku yang dulu tidak kusenangi. Rumus-rumus matematika banyak yang melekat dalam otakku, pembahasan Biologi kuhafal seperti menghafal puisi, Fisika, Kimia, Sastra, dan semua pelajaran mulai aku kuasai. Ini semua kulakukan demi menyaingi si manusia dekil. Aku begitu mandiri karena terlalu gengsi jika harus mencontek dengan si Dekil.
Hatiku benar-benar dongkol saat pembagian rapor semester ganjil. Dalam suasana yang menegangkan, wali kelas kami menyebutkan Akri Samsudin sebagai juara pertama di kelas kami. “Dasar penjajah! Mana si Ervita yang dari dulu selalu juara satu? Kenapa begitu mudah digeser oleh si Dekil? Alien satu ini memang sangat menyebalkan,” gumamku dengan geram.
“Juara kedua, diraih oleh Hery Admawijaya,” tutur bapak wali kelas sambil tersenyum cerah. Jantungku benar-benar mau copot rasanya. Sejenak kutengok Akri yang duduk di sebelahku, ia tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku. Teman-teman satu kelas gaduh dan berhambur ke arahku. Ada yang menyalami, menepuk-nepuk pundak, kepala, dan ada yang menarik-narik bajuku. Aku hanya terpaku tidak percaya, tesenyumpun tidak sanggup. Tiba-tiba kurasakan pening di kepalaku, semua terasa gelap. Hanya samar-samar suara cempreng Reni yang masih dapat kudengar,”Ini pertama kali dalam sejarah, Harry Potter dapat juara dua.”
Saat kubuka mata, ternyata aku berada di ruang UKS. Ada si Dekil, Ervita, dan Imam yang menungguiku. Aku bangun dari pembaringan. Rasanya seperti baru bangun tidur. Makhluk dekil terlihat mendekatiku.
“Hai, Harry Potter! Sudah siuman ternyata. Selamat, ya!” ucap Akri sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak menyambut uluran tangannya. Bahkan kutampik tangannya dari hadapanku.
“Pergilah kalian! Aku tidak suka dipanggil Harry Potter.”
“Kenapa? Harry Potter hebat,” Tanya Akri. Makhluk dekil ini tambah membuatku merasa muak.
“Harry Potter itu hebat karena dia ditakdirkan untuk menjadi hebat. Dia adalah orang hebat pilihan Tuhan. Aku tidak mau seperti Harry Potter, aku ingin hebat karena usahaku. Aku ingin hebat bukan sebagai manusia yang ditunjuk Tuhan untuk hebat,” tegasku.
“Nanti kamu akan sadar, bahwa ternyata hebat karena dipilih Tuhan itu adalah rahmat. Dan hebat karena usaha saja itu palsu. Orang hebat yang dipilih Tuhan tidak secara praktis mendapatkan kehebatannya, ia harus mengikuti hokum alam, ia harus melakukan ikhtiar dan perjuangan. Dan pilihan Tuhan itu adalah bentuk keridhoan-Nya.” Akri terlihat serius. Biasanya ia bicara sambil tersenyum, tapi kali ini tidak. Aku hanya diam. Karena sebenarnya aku belum paham dengan apa yang dia katakan.
“Mungkin lain kali kita bicarakan lagi. Sekarang aku harus pergi dulu.” Si dekil berjalan meninggalkan ruangan. Tinggal Ervita dan Imam yang menatapku penuh kesungkanan.
Hari-hariku penuh dengan kebencian. Aku sama sekali tidak rela dengan kehadiran si Dekil. Ia membuat semuanya berubah menjadi buruk di mataku. Hampir setahun kami duduk sebangku, namun tidak pernah sekali pun aku mengajaknya bicara. Jika ia mencoba membuka pembicaraan, aku berusaha menghindar. Aku tidak perduli, aku bahkan ingin sekali tidak mendengar suaranya. Sebenarnya Akri sangat baik, ia pintar, ia sangat disukai oleh teman-teman satu kelas. Ia sangat murah senyum, suaranya bagus, dan ekspresi bicaranya menawan. Hanya satu kelemahannya, ia sangat dekil. Mungkin ia tidak pernah mandi, atau mungkin ia memang benar-benar keturunan alien. Entahlah, aku tidak berminat untuk mencari tahu. Yang pasti, aku benar-benar tidak menyukai makluk dekil itu.
Ini adalah hari yang sangat mendebarkan namun sangat aku tunggu. Karena ini adalah gerbang bagiku untuk segera meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan si Dekil dan menghapusnya dari kehidupan ini. Suasana begitu mencekam pada detik-detik pengumuman kelulusan ini.
Aku masuk dalam kerumunan siswa untuk melihat daftar kelulusan. Terasa bergetar tangan ini. Ingin rasanya menutup mata saja, dan berharap ada yang berbisik di telingaku,”Kamu lulus.” Terus kucari namaku dalam daftar yang ditempel di mading. Dari satu lembar daftar tidak kutemukan namaku, lalu aku pindah ke daftar yang lain. Namun setelah beberapa lembar terlewati, tidak kutemukan juga namaku. Hati ini mulai cemas. “Habis juara dua, kok, tidak lulus,” protesku dalam hati. Astagfirlah! Kenapa aku jadi sombong begini?”. Tinggal satu lembar lagi daftar yang belum kubaca. Aku bergeser ke lembar yang paling kiri. Rasa cemas, takut, dan deg-degan bercampur dan membuat kaki ini mau roboh saja rasanya. Dan sepertinya aku memang benar-benar akan roboh. Namaku. Namaku ada di urutan paling atas. Itu artinya aku lulus, dan menjadi lulusan terbaik dengan nilai tertinggi. Di urutan nomor dua tertera nama ‘Akri Samsudin’. “Aku bisa mengalahkan si Dekil? Tidak mungkin. Ini pasti mimpi.”
Kulihat si Dekil duduk di taman sekolah bersama dengan Reni. Kuhampiri mereka. Aku sadar, aku bisa mendapatkan prestasi ini berkat kehadiran si Dekil. Tanpa dia pasti aku akan tetap bertahan dengan peringkat kesebelasku, dan untuk masuk ke sepuluh besar saja susah. Tapi kehadiran si Dekil telah mengubah semuanya. Sekarang aku bisa meraih sesuatu yang sebelumnya untuk membayangkannya saja aku tidak berani. Tiba-tiba rasa benciku pada si Dekil sirna begitu saja.
“H..h..hai!” sapaku dengan penuh rasa canggung.
“Hery. Selamat,ya! Kamu memang hebat,” ucap si Dekil sambil menyalamiku. Reni langsung mendekatiku. “Harry Potter luar biasa. Selamat, ya!” Reni menepuk-nepuk pundakku. Gadis ini kadang terlihat sangat manis jika tidak sedang banyak bicara.
Aku bingung harus bicara apa. Semua serba canggung. Kuberanikan menatap mata Akri. Mata yang penuh sorot keoptimisan. Wajahnya tidak banyak berubah dari awal aku melihatnya, masih saja dekil. Dia periang. Dia penuh inspirasi dan sangat menginspirasi. Rambut ikalnya terlihat kering dan acak-acakan. Anak ini memang benar-benar semrawut, tapi kepandaiannya tersusun rapi dalam batok kepalanya. Ingin rasanya kupeluk tubuh kurusnya dan kutumpahkan air mata keharuan ini. Dia sangat berjasa dalam hidupku. Dia telah mengantarkanku ke dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akri pasti akan menjadi orang besar nantinya. Dia pasti akan sukses dengan kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Aku memang lulusan terbaik, namun aku tidak pernah merasa lebih hebat dari si Dekil. Dengan rasa yang berat, kuurungkan niatku untuk memeluknya. Aku berlalu dengan hati yang gulana. Ada sesuatu yang tidak mampu kusentuh dalam hati ini.
Kurang dari enam tahun aku berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di Yogyakarta. Saat menjalani masa kuliah, aku selalu membayangkan si Dekil ada di sampingku. Dengan begitu, semangat belajarku terus terpacu karena aku tidak ingin kalah dari si Dekil. Si Dekil menjadi penyemangat tersendiri untukku. Dia begitu lekat di hati dan pikiranku.
Tidak berselang lama aku langsung ditawari jabatan penting di sebuah perusahaan besar di Jogja. Dan keberuntungan seolah terus menghujaniku. Lamaranku pada Shintia, perempuan soleha berjilbab yang kukenal dari seorang ustadz, akhirnya diterima setelah aku menunggu hampir tiga bulanan. Aku tidak sabar ingin pulang ke Lampung, bertemu dengan si Dekil dan mengabarkan ini semua. Aku juga ingin melihat seberapa sukses bocah ajaib itu.
Degggg! Rasanya seperti dipalu jantung ini. Ucapan Imam yang saat ini berada di hadapanku, terus terngiang-ngiang di kepala ini. “Akri gila, Her. Ia gila setelah dipukuli warga saat kedapatan mencuri uang bu Inah. Mungkin ia mengalami gegar otak setelah kepalanya dihujani balok kayu berkali-kali.” Tidak. Tidak mungkin Akri mencuri. Dan Aku tidak percaya Akri gila. Imam pasti bercanda.
“Biar kuantar ke tempatnya, jika kamu ingin bertemu dengannya,” tutur Imam seolah ingin meyakinkanku.
Imam membawaku ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Rumah kayu yang terlihat sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Bolong sana-sini. Kotor dan terkesan sangat misterius. Imam mengajakku masuk ke dalam rumah yang ternyata cukup terang karena atapnya sebagian menganga.
“Itu Akri,” bisik Imam sambil menunjuk ke pojok ruangan. Seorang pemuda sedang menatap kosong ke arah kami. Rambut dan pakaiannya sangat berantakan. Kulitnya penuh debu. Wajahnya sangat memelas, dekil sekali. Matanya. Ya, matanya sangat kukenali. Itu mata yang kutatap di taman sekolah sekitar enam tahun yang lalu. Mata yang dulu penuh pancaran keoptimisan.
Tidak mampu kubendung air mata ini. Aku berlari dan menubruknya. Kupeluk erat tubuh yang terasa seperti tulang. Aku meraung dalam kepahitan. Betapa baru kali ini kurasakan kepedihan yang begitu menyayat. Si Dekil benar, memang lebih baik hebat karena dipilih Tuhan daripada hebat karena usaha saja. Karena nyata di mataku, Akri yang hebat kini kosong dalam kehampaan karena tidak dipilih Tuhan. Alangkah sombongnya aku selama ini.
Aku bertambah erat memeluknya. Si Dekil hanya diam. Dia tidak sadar dengan apa yang terjadi. Kurasa ia tidak dapat merasakan pelukan tulus dariku ini. Andai mampu kuputar waktu, aku ingin kembali ke taman sekolah. Akan kupeluk erat si Dekil. Di saat terakhir pertemuan itu, di saat ia masih bisa merasakan hangatnya pelukanku.
“Sentuhan Cinta”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Selama ini, kupikir aku adalah orang baik, tapi nyatanya semua tentangku teramat layak untuk diragukan. Ada yang mengatakan bahwa pasangan kita adalah cerminan diri kita, kita baik maka ia juga baik. Bahkan hal ini memang tertuang dalam dalil agama, bahwa laki-laki baik ialah untuk perempuan yang baik pula, begitu sebaliknya. Ah, rasanya aku ingin mengobrak-abrik setiap lembar masa laluku. Mencari-cari keburukan besar apa yang pernah kuperbuat. Namun aku sangat yakin, dosa silamku adalah dosa karena keluguan, hanya sekedar mencuri rambutan, merusak mainan teman, atau berkelahi dengan sahabat sendiri. Dan itu kulakukan saat aku masih sangat belia, kenakalan wajar ala anak-anak.
Febia, ia adalah teman sekelasku. Aku mengenal ia hanya sekedar teman biasa. Penampilannya yang sangat mengikuti zaman membuatku sama sekali tidak tertarik. Gurat-gurat kemalasan, kebebasan, dan hedonisme begitu terpancar dari dirinya. Ah, tidak ada sedikitpun yang ada pada Febia adalah kriteria wanita yang kudambakan. Tapi nyatanya, ia sekarang adalah perempuan yang paling sering kujumpai dalam hidupku, bahkan setiap aku bangun tidur, aku kerap bertatap mata dengannya.
“Kumohon, Nak, nikahi dia!”
Aku tertegun. Rasa bimbang telak menancap dalam benakku. Menikah? Andai yang ditawarkan adalah seorang muslimah yang taat beribadah, sangat menjaga diri, pandai mengaji, dan berjiwa sosial tinggi, tentu aku tidak akan menolaknya. Statusku yang masih seorang mahasiswa tak jadi soal. Bukankah yang dibutuhkan dalam pernikahan itu adalah kedewasaan, bukan ketuaan? Tapi masalahnya, orang yang harus kunikahi adalah perempuan hedonis yang sangat gemar gonta-ganti pasangan, padahal sebagai seorang muslimah sudah seharusnya ia menjaga diri, bukan mengobral diri dengan berpacaran dengan bermacam-macam pria. Sulit, sulit sekali bagiku untuk menerima tawaran ini.
”Almarhum Ayah Febia sangat tidak setuju jika Febia dinikahi Alan. Alan pemabuk, penjudi, dan sering bolos kuliah.” Suara sendu kembali mengalun. Ibu Febia terisak-isak. Hatiku sempat mencibir, bukankah perempuan seperti Febia sangat cocok dengan Alan? Sama-sama hedonis.
“Sebelum meninggal, Ayah Febia sempat memohon pada Febia untuk menjauh dari Alan, dan ia meminta Febia untuk menyebutkan lelaki mana yang ia harap untuk menikahinya selain Alan. Dan Febia menyebut namamu.”
Namaku? Bisa-bisanya Febia melakukan ini padaku. Adakah sedikit alasan yang bisa kuterima atas pernyataan ini? Tangan lembut mendarat pelan di pundakku, usapnya memberi sedikit ketenangan pada hatiku yang mulai memanas. Ibu menepuk-nepuk kuat pundakku.
“Bukankah kamu yang sering bilang, dakwah adalah mengajak pada kebaikan. Jadilah imam untuk Febia. Entahlah, awalnya Ibu juga ragu, tapi di tengah keraguan itu Ibu menemukan keyakinan, Ibu yakin kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Febia, ia butuh orang sepertimu. Ajak ia untuk melangkah di jalan kebaikan yang kamu yakini selama ini!” Aku runtuh, jika ibu sudah yakin, aku bisa apa?
“Aku mau istikharah dulu, insyaallah besok aku beri jawaban.”
“Tentu, kamu memang harus istikharah dulu,” sambut ibu dengan wajah yang kurasa sumringah, seolah ia dapat memastikan bahwa esok aku akan memberi jawaban “iya”.
***
Kulihat dalam bayang, kilat-kilat dari langit terus menghujam bumi. Menjilati kehidupan dan merenggutnya satu per satu. Kali ini kurasa kilat itu begitu dekat, menyambar, dan mengena pada kedua orang tuaku sekaligus. Kecelakaan telah menjadi jalan kematian yang dirahasiakan Allah untuk kedua orang tuaku. Dan kini rahasia itu diungkap, ayah dan ibu telah kembali pada Sang Penggenggam kehidupan. Meninggalkanku dalam kefanaan, dengan tanggungjawab yang kurasa teramat berat, menjadi imam untuk Febia. Namun aku merasa sangat beruntung, aku mendapat warisan yang tidak ternilai harganya, yaitu cinta. Cinta mereka berdua masih terasa kuat bercokol dalam kalbu, dan menjadi pemantik semangat yang terus hidup meski jiwa kami telah terpisah jauh.
Masalahnya sekarang adalah aku tetap merasa berat menjalani hidup bersama Febia. Tebakanku tak meleset, aku pasti akan sangat kesulitan membimbing isteri seperti Febia. Ia tak tahu cara bersikap pada suami. Pergi semaunya tanpa meminta izin padaku, berkumpul dengan teman-temannya dan melakukan aktivitas yang sia-sia, kurang peduli pada kerapian rumah, tidak bisa memasak, dan semuanya. Aku hampir-hampir tidak menemukan alasan untuk bisa jatuh cinta padanya. Aku bingung menghadapi situasi yang kurasa belum pernah ada dalam daftar impianku. Buram, sesak, penuh asap, dan perlahan membunuh semangatku.
“Entahlah, awalnya Ibu juga ragu, tapi di tengah keraguan itu Ibu menemukan keyakinan, Ibu yakin kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Febia, ia butuh orang sepertimu.” Aku mencoba mencerna baik-baik kalimat yang pernah diucapkan ibu. “Febia butuh orang sepertiku? Hah, tapi aku tidak butuh orang seperti Febia.” Batinku berkecamuk. Tapi, keyakinan seorang ibu jarang sekali meleset. Dan ibu memang adalah sesosok yang sangat peka sekali batinnya. Seperti sumringah wajahnya kala itu yang seolah tahu bahwa aku bersedia menikahi Febia, dan nyatanya aku memang bersedia.
Mengapa aku tidak bisa yakin dengan kemampuanku? Kenapa aku semakin sulit berkomunikasi dengan Febia? Hambar. Cinta, di manakah akan kutemukan dirimu?
“Febia, apa alasanmu mau menikah denganku?” Kuucap sebuah tanya, berharap akan menyulut komunikasi yang baik. Aku harus menerima Febia dengan segala keadaannya, masa lalu, dan masa depannya.
“Karena aku mencintaimu.”
Aku begitu terkejut. Febia mencintaiku? Sepertinya dunia ini benar-benar penuh sandiwara.
“Aku sering mendengar, bahwa dia yang menikah denganmu adalah perempuan yang sangat beruntung. Dan aku ingin menjadi dia yang dimaksud oleh banyak orang.” Febia menarik nafas. “Aku tahu kamu tidak mencintaiku,” lanjutnya. Aku tertegun, membisu.
“Kamu pasti berpikir bahwa aku adalah perempuan kotor yang sudah tidak ada harganya lagi …. .”
“Febia …. .”
“Aku memang bukan perempuan baik-baik, tapi sungguh aku ingin memiliki suami yang baik, yang sholeh, yang bisa menuntunku menemukan kedamaian.”
Astagfirlah. Dadaku bergetar mendengar itu. Aku tahu. Aku sudah menemukan titik yang kucari selama ini, hati. Ya, hati Febia yang sebenarnya rindu akan kedamaian, rindu akan nilai-nilai kebenaran lah yang menuntunnya kepadaku. Tapi aku, aku yang diharapkan menjadi penunjuk jalan itu malah tersesat dalam prasangka keji. Sekarang jelas, aku jauh lebih buruk dari Febia. Ia perempuan yang memiliki kemauan untuk berubah, sedangkan aku lelaki yang bangga dengan ibadahnya selama ini dan merasa jauh lebih baik dari yang lain. Astagfirllahal’adzim …. Bulir-bulir bening merembes dari sudut mataku. “Ampuni hamba, ya Allah.” Batinku merintih.
***
Aku mulai mengantar Febia saat ia pergi, sesempat mungkin. Ia juga tampak santun sekarang. Dan siang itu aku dibuat tercenganng olehnya. Sesuatu yang tak terduga, tanpa kupinta, Febia berhijab. Ia tampak seperti perempuan-perempuan impianku selama ini. Dia benar-benar tampak cantik. Tapi, entahlah, hatiku seolah sudah beku, aku belum juga bisa mencintai Febia. Padahal, dengan begitu cepat ia berubah, ia layaknya muslimah sejati. Mengurusi suaminya dengan baik, dan dengan keterbatasannya begitu ulet belajar membaca al-qur’an. Ia selalu merengek untuk diajari alquran setiap waktu saat dilihatnya aku punya waktu senggang. Bahkan akhir-akhir ini ia telah tahu persis kapan aku memiliki waktu untuknya. Ia memiliki jadwal pribadi untuk menebus semua kesia-siaan yang dibuatnya selama ini. Namun sekali lagi, aku tak kunjung jatuh cinta padanya. Dulu aku mecari-cari alasan agar aku dapat mencintai Febia, tapi saat beribu alasan itu sekarang kutemukan, aku tak menemukan cinta.
Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan. Kurasa kali ini firasat ibu meleset, aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Febia menemukan hidayah dengan caranya sendiri, bukan karena aku sebagai perantaranya. Aku tetap dingin, lama-lama membeku. Tak bisa berkutik sedikitpun.
Setahun lebih kujalani kebersamaan dengan Febia. Tapi, seolah hanya raga kami yang bersama, tapi hati kami, terutama hatiku terpelanting jauh dari kebersamaan. Rutinitas kampus sudah kami tinggalkan, kami lulus. Dan aku sekarang dituntut fokus mengurusi perusahaan kecil milik ayah yang kuwarisi. Hanya saja, aku kurang bisa memaksimalkan kemampuanku. Semangat yang ditaburkan Febia pun seperti angin lalu. Hingga akhirnya perusahaan bangkrut dan semua harta peninggalan orang tua ludes. Aku tak memiliki apa-apa lagi.
***
Aku terlalu percaya diri menganggap diriku baik. Aku bahkan belum bisa menebus secuil nikmat yang dianugerahkan Tuhan dengan ibadahku. Secuil saja aku tak bisa, apalagi mengganti karunia Tuhan yang menggunung-gunung. Aku kini seperti kapas, melayang di udara bersama angin yang selalu berubah arah. Aku menunggu ke mana angin akan menjatuhkanku. Bisa saja aku diterjunkan dalam bara yang sekejap akan melenyapkanku, atau dalam air yang akan melumatku hingga habis. Aku tak tahu.
Aku terhempas di rumah mertua, Febia yang menyarankan. Ibu mertua begitu prihatin dengan keadaanku, namun juga menyambut dengan suka cita kehadiranku dan Febia di rumahnya. Aku merasakan kehangatan. Kupikir setelah aku jatuh tak ada uluran tangan lagi. Namn kenyataannya Tuhan memang sungguh pemurah, Dia ulurkan pertolongan melalui tangan yang begitu lembut. Tangan yang jarang sekali kugenggam, padahal di tangan itu lah sebenarnya cinta yang kucari bersemayam. Baru kusadar kini, cinta itu begitu identik dengan kesetiaan. Dan Febia membuktikan itu. Ia menggenggam erat tanganku saat aku kehilangan hal-hal berharga dalam hidupku. Ia tetap di sini, di sisiku, menerimaku dalam setiap keadaan. Tak ada makian, tak ada keluh-kesah, yang ada hanya kalimat yang tertutur lembut dari bibirnya,”Aku mencintaimu. Insyaallah aku akan tetap bersamamu, bagaimanapun keadaannya.”
Ah, cinta. Ternyata di sini aku bisa menemukanmu. Demi Allah, aku ikhlas dengan keadaan buruk yang kini menimpaku. Karena ternyata, di keadaan inilah aku menemukan apa yang kucari selama ini, cinta. Ya, aku jatuh cinta pada isteriku. Dan indah sekali cinta itu.
Sangat tidak bijak jika kukatakan bahwa keinginan baik hati Febia yang telah menuntunnya kepadaku. Yang ada malah karena keburukanku maka Tuhan mempertemukan aku dengan Febia, agar aku belajar darinya apa itu arti taubat, apa arti hidup, apa arti perubahan, dan apa arti cinta.
Hari-hari berikutnya kujalani dengan penuh semangat. Sangat mengherankan, hanya karena cinta hati dapat berubah total dari keadaan awalnya. Dan perubahan itu membawa energi positif dalam seluruh hidupku. Aku menemukan kebahagiaan dari hakikat kebersamaan.
Aku membuka bisnis kecil-kecilan dengan modal pinjaman dari mertua. Meski hasilnya kecil, namun terus berkembang seolah tak ada hambatan yang berarti. Apa yang kudapat dari apa yang kukerjakan terasa sekali berkahnya.
Sekarang aku ingin tertawa. Menertawakan kesombonganku selama ini. Kebanggaan atas ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kuperbuat membuatku merasa adalah orang yang baik dan mulia. Tapi ternyata aku salah. Aku belajar dari Febia, perempuan hedonis yang kuat mengejar hidayah. Hingga hidayah ia dapat dan begitu istiqomahnya ia di jalan kebenaran. Ruh nurani lekat tak mau lepas dari pribadinya. Aku ingin memperbaiki segalanya. Seperti halnya Febia memperbaiki dirinya. Aku akan menjadi pribadi baru yang tak akan lagi menganggap remeh orang lain. Aku percaya, jika Allah menghendaki, perubahan pasti terjadi. Baik bisa menjadi buruk, dan buruk bisa menjadi baik.
Cinta, kurasa ia adalah kumpulan partikel-partikel kecil yang tersebar ke seluruh penjuru jagad. Bertaburan pada hati insan-insan dan mengindahkan hidupnya. Partikel-partikel cinta itu melaju pada arah yang sama, menuju raksasa cinta. Menuju Dia yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Indah, Dialah Maha Cinta, Allah.
Betapa cinta adalah kekuatan. Kita tak tahu kapan kita tersentuh oleh cinta. Tapi yang pasti, saat cinta menyentuh, indahlah segalanya.
Selama ini, kupikir aku adalah orang baik, tapi nyatanya semua tentangku teramat layak untuk diragukan. Ada yang mengatakan bahwa pasangan kita adalah cerminan diri kita, kita baik maka ia juga baik. Bahkan hal ini memang tertuang dalam dalil agama, bahwa laki-laki baik ialah untuk perempuan yang baik pula, begitu sebaliknya. Ah, rasanya aku ingin mengobrak-abrik setiap lembar masa laluku. Mencari-cari keburukan besar apa yang pernah kuperbuat. Namun aku sangat yakin, dosa silamku adalah dosa karena keluguan, hanya sekedar mencuri rambutan, merusak mainan teman, atau berkelahi dengan sahabat sendiri. Dan itu kulakukan saat aku masih sangat belia, kenakalan wajar ala anak-anak.
Febia, ia adalah teman sekelasku. Aku mengenal ia hanya sekedar teman biasa. Penampilannya yang sangat mengikuti zaman membuatku sama sekali tidak tertarik. Gurat-gurat kemalasan, kebebasan, dan hedonisme begitu terpancar dari dirinya. Ah, tidak ada sedikitpun yang ada pada Febia adalah kriteria wanita yang kudambakan. Tapi nyatanya, ia sekarang adalah perempuan yang paling sering kujumpai dalam hidupku, bahkan setiap aku bangun tidur, aku kerap bertatap mata dengannya.
“Kumohon, Nak, nikahi dia!”
Aku tertegun. Rasa bimbang telak menancap dalam benakku. Menikah? Andai yang ditawarkan adalah seorang muslimah yang taat beribadah, sangat menjaga diri, pandai mengaji, dan berjiwa sosial tinggi, tentu aku tidak akan menolaknya. Statusku yang masih seorang mahasiswa tak jadi soal. Bukankah yang dibutuhkan dalam pernikahan itu adalah kedewasaan, bukan ketuaan? Tapi masalahnya, orang yang harus kunikahi adalah perempuan hedonis yang sangat gemar gonta-ganti pasangan, padahal sebagai seorang muslimah sudah seharusnya ia menjaga diri, bukan mengobral diri dengan berpacaran dengan bermacam-macam pria. Sulit, sulit sekali bagiku untuk menerima tawaran ini.
”Almarhum Ayah Febia sangat tidak setuju jika Febia dinikahi Alan. Alan pemabuk, penjudi, dan sering bolos kuliah.” Suara sendu kembali mengalun. Ibu Febia terisak-isak. Hatiku sempat mencibir, bukankah perempuan seperti Febia sangat cocok dengan Alan? Sama-sama hedonis.
“Sebelum meninggal, Ayah Febia sempat memohon pada Febia untuk menjauh dari Alan, dan ia meminta Febia untuk menyebutkan lelaki mana yang ia harap untuk menikahinya selain Alan. Dan Febia menyebut namamu.”
Namaku? Bisa-bisanya Febia melakukan ini padaku. Adakah sedikit alasan yang bisa kuterima atas pernyataan ini? Tangan lembut mendarat pelan di pundakku, usapnya memberi sedikit ketenangan pada hatiku yang mulai memanas. Ibu menepuk-nepuk kuat pundakku.
“Bukankah kamu yang sering bilang, dakwah adalah mengajak pada kebaikan. Jadilah imam untuk Febia. Entahlah, awalnya Ibu juga ragu, tapi di tengah keraguan itu Ibu menemukan keyakinan, Ibu yakin kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Febia, ia butuh orang sepertimu. Ajak ia untuk melangkah di jalan kebaikan yang kamu yakini selama ini!” Aku runtuh, jika ibu sudah yakin, aku bisa apa?
“Aku mau istikharah dulu, insyaallah besok aku beri jawaban.”
“Tentu, kamu memang harus istikharah dulu,” sambut ibu dengan wajah yang kurasa sumringah, seolah ia dapat memastikan bahwa esok aku akan memberi jawaban “iya”.
***
Kulihat dalam bayang, kilat-kilat dari langit terus menghujam bumi. Menjilati kehidupan dan merenggutnya satu per satu. Kali ini kurasa kilat itu begitu dekat, menyambar, dan mengena pada kedua orang tuaku sekaligus. Kecelakaan telah menjadi jalan kematian yang dirahasiakan Allah untuk kedua orang tuaku. Dan kini rahasia itu diungkap, ayah dan ibu telah kembali pada Sang Penggenggam kehidupan. Meninggalkanku dalam kefanaan, dengan tanggungjawab yang kurasa teramat berat, menjadi imam untuk Febia. Namun aku merasa sangat beruntung, aku mendapat warisan yang tidak ternilai harganya, yaitu cinta. Cinta mereka berdua masih terasa kuat bercokol dalam kalbu, dan menjadi pemantik semangat yang terus hidup meski jiwa kami telah terpisah jauh.
Masalahnya sekarang adalah aku tetap merasa berat menjalani hidup bersama Febia. Tebakanku tak meleset, aku pasti akan sangat kesulitan membimbing isteri seperti Febia. Ia tak tahu cara bersikap pada suami. Pergi semaunya tanpa meminta izin padaku, berkumpul dengan teman-temannya dan melakukan aktivitas yang sia-sia, kurang peduli pada kerapian rumah, tidak bisa memasak, dan semuanya. Aku hampir-hampir tidak menemukan alasan untuk bisa jatuh cinta padanya. Aku bingung menghadapi situasi yang kurasa belum pernah ada dalam daftar impianku. Buram, sesak, penuh asap, dan perlahan membunuh semangatku.
“Entahlah, awalnya Ibu juga ragu, tapi di tengah keraguan itu Ibu menemukan keyakinan, Ibu yakin kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Febia, ia butuh orang sepertimu.” Aku mencoba mencerna baik-baik kalimat yang pernah diucapkan ibu. “Febia butuh orang sepertiku? Hah, tapi aku tidak butuh orang seperti Febia.” Batinku berkecamuk. Tapi, keyakinan seorang ibu jarang sekali meleset. Dan ibu memang adalah sesosok yang sangat peka sekali batinnya. Seperti sumringah wajahnya kala itu yang seolah tahu bahwa aku bersedia menikahi Febia, dan nyatanya aku memang bersedia.
Mengapa aku tidak bisa yakin dengan kemampuanku? Kenapa aku semakin sulit berkomunikasi dengan Febia? Hambar. Cinta, di manakah akan kutemukan dirimu?
“Febia, apa alasanmu mau menikah denganku?” Kuucap sebuah tanya, berharap akan menyulut komunikasi yang baik. Aku harus menerima Febia dengan segala keadaannya, masa lalu, dan masa depannya.
“Karena aku mencintaimu.”
Aku begitu terkejut. Febia mencintaiku? Sepertinya dunia ini benar-benar penuh sandiwara.
“Aku sering mendengar, bahwa dia yang menikah denganmu adalah perempuan yang sangat beruntung. Dan aku ingin menjadi dia yang dimaksud oleh banyak orang.” Febia menarik nafas. “Aku tahu kamu tidak mencintaiku,” lanjutnya. Aku tertegun, membisu.
“Kamu pasti berpikir bahwa aku adalah perempuan kotor yang sudah tidak ada harganya lagi …. .”
“Febia …. .”
“Aku memang bukan perempuan baik-baik, tapi sungguh aku ingin memiliki suami yang baik, yang sholeh, yang bisa menuntunku menemukan kedamaian.”
Astagfirlah. Dadaku bergetar mendengar itu. Aku tahu. Aku sudah menemukan titik yang kucari selama ini, hati. Ya, hati Febia yang sebenarnya rindu akan kedamaian, rindu akan nilai-nilai kebenaran lah yang menuntunnya kepadaku. Tapi aku, aku yang diharapkan menjadi penunjuk jalan itu malah tersesat dalam prasangka keji. Sekarang jelas, aku jauh lebih buruk dari Febia. Ia perempuan yang memiliki kemauan untuk berubah, sedangkan aku lelaki yang bangga dengan ibadahnya selama ini dan merasa jauh lebih baik dari yang lain. Astagfirllahal’adzim …. Bulir-bulir bening merembes dari sudut mataku. “Ampuni hamba, ya Allah.” Batinku merintih.
***
Aku mulai mengantar Febia saat ia pergi, sesempat mungkin. Ia juga tampak santun sekarang. Dan siang itu aku dibuat tercenganng olehnya. Sesuatu yang tak terduga, tanpa kupinta, Febia berhijab. Ia tampak seperti perempuan-perempuan impianku selama ini. Dia benar-benar tampak cantik. Tapi, entahlah, hatiku seolah sudah beku, aku belum juga bisa mencintai Febia. Padahal, dengan begitu cepat ia berubah, ia layaknya muslimah sejati. Mengurusi suaminya dengan baik, dan dengan keterbatasannya begitu ulet belajar membaca al-qur’an. Ia selalu merengek untuk diajari alquran setiap waktu saat dilihatnya aku punya waktu senggang. Bahkan akhir-akhir ini ia telah tahu persis kapan aku memiliki waktu untuknya. Ia memiliki jadwal pribadi untuk menebus semua kesia-siaan yang dibuatnya selama ini. Namun sekali lagi, aku tak kunjung jatuh cinta padanya. Dulu aku mecari-cari alasan agar aku dapat mencintai Febia, tapi saat beribu alasan itu sekarang kutemukan, aku tak menemukan cinta.
Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan. Kurasa kali ini firasat ibu meleset, aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Febia menemukan hidayah dengan caranya sendiri, bukan karena aku sebagai perantaranya. Aku tetap dingin, lama-lama membeku. Tak bisa berkutik sedikitpun.
Setahun lebih kujalani kebersamaan dengan Febia. Tapi, seolah hanya raga kami yang bersama, tapi hati kami, terutama hatiku terpelanting jauh dari kebersamaan. Rutinitas kampus sudah kami tinggalkan, kami lulus. Dan aku sekarang dituntut fokus mengurusi perusahaan kecil milik ayah yang kuwarisi. Hanya saja, aku kurang bisa memaksimalkan kemampuanku. Semangat yang ditaburkan Febia pun seperti angin lalu. Hingga akhirnya perusahaan bangkrut dan semua harta peninggalan orang tua ludes. Aku tak memiliki apa-apa lagi.
***
Aku terlalu percaya diri menganggap diriku baik. Aku bahkan belum bisa menebus secuil nikmat yang dianugerahkan Tuhan dengan ibadahku. Secuil saja aku tak bisa, apalagi mengganti karunia Tuhan yang menggunung-gunung. Aku kini seperti kapas, melayang di udara bersama angin yang selalu berubah arah. Aku menunggu ke mana angin akan menjatuhkanku. Bisa saja aku diterjunkan dalam bara yang sekejap akan melenyapkanku, atau dalam air yang akan melumatku hingga habis. Aku tak tahu.
Aku terhempas di rumah mertua, Febia yang menyarankan. Ibu mertua begitu prihatin dengan keadaanku, namun juga menyambut dengan suka cita kehadiranku dan Febia di rumahnya. Aku merasakan kehangatan. Kupikir setelah aku jatuh tak ada uluran tangan lagi. Namn kenyataannya Tuhan memang sungguh pemurah, Dia ulurkan pertolongan melalui tangan yang begitu lembut. Tangan yang jarang sekali kugenggam, padahal di tangan itu lah sebenarnya cinta yang kucari bersemayam. Baru kusadar kini, cinta itu begitu identik dengan kesetiaan. Dan Febia membuktikan itu. Ia menggenggam erat tanganku saat aku kehilangan hal-hal berharga dalam hidupku. Ia tetap di sini, di sisiku, menerimaku dalam setiap keadaan. Tak ada makian, tak ada keluh-kesah, yang ada hanya kalimat yang tertutur lembut dari bibirnya,”Aku mencintaimu. Insyaallah aku akan tetap bersamamu, bagaimanapun keadaannya.”
Ah, cinta. Ternyata di sini aku bisa menemukanmu. Demi Allah, aku ikhlas dengan keadaan buruk yang kini menimpaku. Karena ternyata, di keadaan inilah aku menemukan apa yang kucari selama ini, cinta. Ya, aku jatuh cinta pada isteriku. Dan indah sekali cinta itu.
Sangat tidak bijak jika kukatakan bahwa keinginan baik hati Febia yang telah menuntunnya kepadaku. Yang ada malah karena keburukanku maka Tuhan mempertemukan aku dengan Febia, agar aku belajar darinya apa itu arti taubat, apa arti hidup, apa arti perubahan, dan apa arti cinta.
Hari-hari berikutnya kujalani dengan penuh semangat. Sangat mengherankan, hanya karena cinta hati dapat berubah total dari keadaan awalnya. Dan perubahan itu membawa energi positif dalam seluruh hidupku. Aku menemukan kebahagiaan dari hakikat kebersamaan.
Aku membuka bisnis kecil-kecilan dengan modal pinjaman dari mertua. Meski hasilnya kecil, namun terus berkembang seolah tak ada hambatan yang berarti. Apa yang kudapat dari apa yang kukerjakan terasa sekali berkahnya.
Sekarang aku ingin tertawa. Menertawakan kesombonganku selama ini. Kebanggaan atas ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kuperbuat membuatku merasa adalah orang yang baik dan mulia. Tapi ternyata aku salah. Aku belajar dari Febia, perempuan hedonis yang kuat mengejar hidayah. Hingga hidayah ia dapat dan begitu istiqomahnya ia di jalan kebenaran. Ruh nurani lekat tak mau lepas dari pribadinya. Aku ingin memperbaiki segalanya. Seperti halnya Febia memperbaiki dirinya. Aku akan menjadi pribadi baru yang tak akan lagi menganggap remeh orang lain. Aku percaya, jika Allah menghendaki, perubahan pasti terjadi. Baik bisa menjadi buruk, dan buruk bisa menjadi baik.
Cinta, kurasa ia adalah kumpulan partikel-partikel kecil yang tersebar ke seluruh penjuru jagad. Bertaburan pada hati insan-insan dan mengindahkan hidupnya. Partikel-partikel cinta itu melaju pada arah yang sama, menuju raksasa cinta. Menuju Dia yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Indah, Dialah Maha Cinta, Allah.
Betapa cinta adalah kekuatan. Kita tak tahu kapan kita tersentuh oleh cinta. Tapi yang pasti, saat cinta menyentuh, indahlah segalanya.
“Sekat dalam Beda”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Aku berlari-lari kecil memasuki area terminal Mulyo Jati. Sesekali kuinjak genangan air yang tampak berserakan di seputaran terminal. Kilatan-kilatan di langit terasa begitu dekat. Awan pun terlihat semakin menghitam. Gerimis telah berhasil membasahi sebagian pakaian yang kukenakan, membuat aroma dingin semakin terasa menggigit kulit. Kuangkat kakiku saat akan menerobos masuk pintu bis. Entah bis jurusan mana aku tak peduli. Yang pasti aku harus segera menjauh dari kota kecil ini, kota yang telah tampak kelabu di mataku.
***
“Mas, boleh aku duduk di sini?” Sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Seorang pemuda berkemeja ungu terlihat sedang tersenyum sambil membungkukkan badannya.
“Boleh. Silakan!” jawabku singkat. Aku kembali menghadap ke jendela. Melihat rintik hujan yang tersapu angin dari balik kaca tebal. Sejenak terasa sepi. Makhluk-makhluk dalam bis seperti sedang menikmati irama-irama aneh dari benturan hujan ke badan bis. Hingga benturan-benturan semakin kencang, berbaur dengan suara bis yang perlahan bergerak meninggalkan terminal.
“Mau ke mana, Mas?” Lagi-lagi, suara pria berambut panjang itu mengusikku. Dengan sebisa mungkin mengulas senyum, tak kujawab pertanyaannya. Bagaimana mau menjawab pertanyaan itu, sedangkan aku sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Bahkan, aku baru tahu kalau bis yang aku tumpangi adalah bis jurusan Rajabasa setelah aku membaca tulisan merah di kepala bis.
“Aku mahasiswa Unila, Mas. Tadi habis berkunjung ke rumah teman di Metro Timur,” jelasnya walau tak kuminta. Aku menoleh dan melempar senyum. Aku tidak tertarik untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Karena lidahku telah kelu oleh bayangan Nala yang terasa begitu lekat di pelupuk mataku. Aku juga agak sensitif dengan istilah “mahasiswa”. Istilah itu seperti bayang-bayang mengerikan yang telah lama membelengguku. Kalau kata “mahsiswa” keluar, di kepalaku langsung dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Kapan skripsi? Kapan wisuda? Bahkan hingga pertanyaan yang gak nyambung sama sekali, kapan nikah? Aku bisa pingsan saat menyadari bahwa aku sudah semester dua belas. Dan ternyata aku baru mau ujian skripsi. Aku seperti menodai citra anak-anak organisasi. Ya, seolah berorganisasi itu dapat memperlambat kelulusan. Padahal ini mutlak karena kekurangseriusanku.
Si pria gondrong tampak tak peduli lagi. Sepertinya ia menyerah setelah beberapa kali hanya mendapat senyuman dariku. Dan sekejap kurasa suasana menjadi senyap. Tetes-tetes air hujan terlihat seperti melambat. Dan aku melihat ada bayang Nala di setiap butir tetes hujan. Bayang itu semakin kuat, hingga membuat hatiku terasa terhimpit gunung.
***
“Fik, orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah,” tutur Nala. Suaranya yang lembut seakan tertelan kebisingan Taman Kota.
“Lalu, kamu mau segera menikah?” tanyaku sedikit bimbang. Ada seberkas ketakutan yang tiba-tiba menyambangi diriku.
“Iya, Fik. Orang tuaku yang menginginkannya. Banyak lelaki yang mencoba mendekatiku, tapi orang tuaku tidak berkenan dengan mereka. Tapi saat Alex datang, kurasa orang tuaku menyukainya, terutama Ibu.”
“Oh…. Begitu,” ucapku datar. Aku benar-benar bimbang. Nala, sahabat yang sangat kukagumi, yang kusadari bahwa aku mencintainya, kini akan menikah dengan orang lain. Bagaimana ini? Haruskah kukatakan padanya bahwa aku mencintainya dan aku akan segera menikahiya? Atau aku pasrah dan merelakan Nala bersama laki-laki lain?
“Bagaimana kalau kamu menikah denganku saja?” Kalimat konyol tiba-tiba mengalir dari lidahku. Kulihat Nala terkejut. Ia menoleh ke arahku. Ia begitu cantik. Rambutnya yang hitam membuat wajahnya yang putih tampak seperti purnama dalam gulita. Indah, indah sekali. “Astagfirlah…!” batinku. Aku buru-buru membuang pandangan.
“Maksudmu apa, Fik?”
“Ee… Eh. Tidak. Aku ngelantur aja,” jawabku gugup. Aku bingung. Aku ingin jujur akan perasaanku. Aku ingin menikah dengan Nala. Tapi aku sadar, kejujuran perasaanku tidak akan ada gunanya. Seandainya Nala juga mencintaiku, itu tetap percuma. Aku seorang Muslim, dan dia bukan. Kutarik nafas dalam-dalam. Dan kulihat Nala mengalihkan pandangannya.
Angin berhembus membawa sajak kegersangan. Membuat hati kerontang saat tetes cinta tak lagi menyapanya. Semua tinggal kegaduhan, saat jeritan hati membaur dengan suara-suara bising yang memenuhi Taman Kota. Kebisingan yang tak bisa mengusik kebisuanku bersama Nala di bawah mentari sore.
***
Ada panggilan masuk dari Nala. Kusambar handphoneku dan aku mencari posisi yang nyaman di dalam kamarku yang cukup sempit.
“Halo….!” sapaku. Tidak ada jawaban. “Hallo…!” ulangku lebih keras lagi. Terdengar seperti ada suara isak tangis dari seberang sana. Aku penasaran dan sedikit panik.
“Nal, Nala.. Kamu tidak apa-apa?” kejarku.
“Aku mencintaimu, Fik! Aku mencintaimu!” Kudengar seruan serak Nala dari handphone. Aku terkejut. “Sejak dulu aku mengagumimu, Fik. Sejak dulu. Kamu begitu lain di mataku. Dan kamu memang lain dari yang lain. Kamu begitu menjaga pandanganmu saat denganku, kamu begitu menghargaiku sebagai seorang wanita. Kamu tidak seperti laki-laki lain, yang terlihat begitu rakus saat memandangku. Kamu beda, Fik. Dan… Dan aku benar-benar mencintaimu. Bukan Alex yang kuharapkan menjadi suamiku, tapi kamu, Fik, kamu…. Fikri Firmansyah!” lanjut Nala dengan suara yang semakin parau. Aku hanya terdiam. Berjuta kebimbangan mengambangkanku pada kenyataan bahwa aku kacau. Tapi segera kuingat Allah. Dan terbayang-bayang istikharahku tempo malam. Menjauhi Nala adalah pilihan. Walau secara manusiawi, hatiku terasa begitu sakit.
“Fik, aku tahu kamu juga mencintaiku. Dan ucapanmu saat itu adalah kejujuran dari hatimu. Aku yakin itu, Fik. Nikahi aku, Fik! Nikahi aku ... !” Nala meneruskan perkataannya. Air mata kurasa mulai mengaliri pipiku. Hatiku seolah tertusuk ribuan jarum es yang membekukan sisi indah dalam kalbu.
“Aku gak bisa, Nal..!” Tutttt. Handphone kumatikan. Kudengar suara azan berkumandang mendayu-dayu. Membuat hatiku semakin terasa teriris. Kulangkahkan kakiku menyambut seruan-Nya. Akan kupasrahkan semua perasaan ini pada sang penggenggam cinta.
***
Karena sibuk mempersiapkan diri untuk ujian skripsi, aku jadi sering pulang ke rumah larut malam. Banyak hal yang harus kuurus. Tapi semua terasa menyenangkan. Akhirnya aku akan lulus juga.
Mataku tertuju pada sebuah kertas merah di atas meja. Kuambil, dan ternyata surat undangan. Aku terkejut karena kudapati nama Alexander Markus dan Nala Marlina di dalam undangan. “Nala….?” Batinku bergemuruh.
***
Kulihat Nala begitu anggun dengan gaun pengantinnya. Walau dari jarak jauh, tapi kurasa dia benar-benar cantik. Alex berdiri di sampingnya. Mereka terlihat begitu menikmati pesta pernikahan mereka. Dan aku, mematung di kegelapan. Memegang kado yang berisi boneka kecil. Boneka yang kuharap dapat menemani Nala di sepanjang harinya.
Perlahan kakiku melangkah menjauh dari rumah Nala. Kuurungkan niatku untuk sekedar mengucapkan kata selamat untuk Nala dan Alex. Dari jauh saja kurasakan hatiku begitu terpukul, air mataku perlahan berderai. Aku sadar. Aku merasa kehilangan Nala dari hidupku. Seorang wanita yang tak mampu kumiliki karena perbedaan. Tapi hatiku selalu yakin,”Inilah yang terbaik.” Kota Metro kurasa menjadi kelabu. Sekelabu hatiku yang telah kehilangan setitik cahaya yang sempat meneranginya.
***
“Mas, kok nangis?” Sebuah suara berhasil mengejutkanku. Bayangan Nala pun sekejap buyar. Aku gelagapan sambil secepat mungkin menyeka air mata yang telah membanjir di pipiku. Pria yang mengaku mahsiswa Unila itu terheran-heran melihatku.
“Mas gak kenapa-napa, kan?”
“Oh.. Gak kok. Aku gak kenapa-napa,” jawabku sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela bis. Kendaraan ber-AC itu memasuki area SPBU dan berhenti untuk mengisi bahan bakar.
Kupandangi seputaran SPBU. Hujan telah reda. Hanya tersisa angin yang menggelindingkan plastik-plastik bekas makanan kesana-kemari. Dan juga mengayun-ayunkan daun-daun di ranting. Ada pemandangan yang membuatku terpaku. Aku benar-benar tak menyangka. Aku melihat Nala di dekat tempat pengisian bahan bakar. Ia memakai jilbab merah dan terlihat begitu anggun. Aku tak percaya. Kukucek berkali-kali mataku. Namun, tetap Nala yang kulihat. Aku melejit secepat mungkin dan ke luar dari bis.
“Nala…!” seruku setelah jarakku tinggal satu meter dari si wanita berjilbab merah. Dia menoleh dan menatapku dengan heran. Dia bukan Nala. Ya, bukan Nala. Seorang pria berkulit bersih tiba-tiba datang menyapaku,”Ada apa ya, Mas?”
“Ah, tidak.. Tidak apa-apa…” jawabku gelagapan.
“Oh, ya sudah,” ucap si pria yang sejurus kemudian mengajak wanita yang kukira Nala menjauh dariku. Aku hanya menatap mereka dari belakang.
“Sepertinya aku mulai gila, mana mungkin Nala memakai jilbab?” batinku.
Kuamati keadaan sekitar. Aku tahu ini di Natar, salah satu kecamatan yang ada di Lampung Selatan. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang merasuk ke ingatanku. Aku mencoba memperjelas ingatan itu.
“Hah ... ? Hari ini jadwalku ujian skripsi ... ”
Aku berlari-lari kecil memasuki area terminal Mulyo Jati. Sesekali kuinjak genangan air yang tampak berserakan di seputaran terminal. Kilatan-kilatan di langit terasa begitu dekat. Awan pun terlihat semakin menghitam. Gerimis telah berhasil membasahi sebagian pakaian yang kukenakan, membuat aroma dingin semakin terasa menggigit kulit. Kuangkat kakiku saat akan menerobos masuk pintu bis. Entah bis jurusan mana aku tak peduli. Yang pasti aku harus segera menjauh dari kota kecil ini, kota yang telah tampak kelabu di mataku.
***
“Mas, boleh aku duduk di sini?” Sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Seorang pemuda berkemeja ungu terlihat sedang tersenyum sambil membungkukkan badannya.
“Boleh. Silakan!” jawabku singkat. Aku kembali menghadap ke jendela. Melihat rintik hujan yang tersapu angin dari balik kaca tebal. Sejenak terasa sepi. Makhluk-makhluk dalam bis seperti sedang menikmati irama-irama aneh dari benturan hujan ke badan bis. Hingga benturan-benturan semakin kencang, berbaur dengan suara bis yang perlahan bergerak meninggalkan terminal.
“Mau ke mana, Mas?” Lagi-lagi, suara pria berambut panjang itu mengusikku. Dengan sebisa mungkin mengulas senyum, tak kujawab pertanyaannya. Bagaimana mau menjawab pertanyaan itu, sedangkan aku sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Bahkan, aku baru tahu kalau bis yang aku tumpangi adalah bis jurusan Rajabasa setelah aku membaca tulisan merah di kepala bis.
“Aku mahasiswa Unila, Mas. Tadi habis berkunjung ke rumah teman di Metro Timur,” jelasnya walau tak kuminta. Aku menoleh dan melempar senyum. Aku tidak tertarik untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Karena lidahku telah kelu oleh bayangan Nala yang terasa begitu lekat di pelupuk mataku. Aku juga agak sensitif dengan istilah “mahasiswa”. Istilah itu seperti bayang-bayang mengerikan yang telah lama membelengguku. Kalau kata “mahsiswa” keluar, di kepalaku langsung dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Kapan skripsi? Kapan wisuda? Bahkan hingga pertanyaan yang gak nyambung sama sekali, kapan nikah? Aku bisa pingsan saat menyadari bahwa aku sudah semester dua belas. Dan ternyata aku baru mau ujian skripsi. Aku seperti menodai citra anak-anak organisasi. Ya, seolah berorganisasi itu dapat memperlambat kelulusan. Padahal ini mutlak karena kekurangseriusanku.
Si pria gondrong tampak tak peduli lagi. Sepertinya ia menyerah setelah beberapa kali hanya mendapat senyuman dariku. Dan sekejap kurasa suasana menjadi senyap. Tetes-tetes air hujan terlihat seperti melambat. Dan aku melihat ada bayang Nala di setiap butir tetes hujan. Bayang itu semakin kuat, hingga membuat hatiku terasa terhimpit gunung.
***
“Fik, orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah,” tutur Nala. Suaranya yang lembut seakan tertelan kebisingan Taman Kota.
“Lalu, kamu mau segera menikah?” tanyaku sedikit bimbang. Ada seberkas ketakutan yang tiba-tiba menyambangi diriku.
“Iya, Fik. Orang tuaku yang menginginkannya. Banyak lelaki yang mencoba mendekatiku, tapi orang tuaku tidak berkenan dengan mereka. Tapi saat Alex datang, kurasa orang tuaku menyukainya, terutama Ibu.”
“Oh…. Begitu,” ucapku datar. Aku benar-benar bimbang. Nala, sahabat yang sangat kukagumi, yang kusadari bahwa aku mencintainya, kini akan menikah dengan orang lain. Bagaimana ini? Haruskah kukatakan padanya bahwa aku mencintainya dan aku akan segera menikahiya? Atau aku pasrah dan merelakan Nala bersama laki-laki lain?
“Bagaimana kalau kamu menikah denganku saja?” Kalimat konyol tiba-tiba mengalir dari lidahku. Kulihat Nala terkejut. Ia menoleh ke arahku. Ia begitu cantik. Rambutnya yang hitam membuat wajahnya yang putih tampak seperti purnama dalam gulita. Indah, indah sekali. “Astagfirlah…!” batinku. Aku buru-buru membuang pandangan.
“Maksudmu apa, Fik?”
“Ee… Eh. Tidak. Aku ngelantur aja,” jawabku gugup. Aku bingung. Aku ingin jujur akan perasaanku. Aku ingin menikah dengan Nala. Tapi aku sadar, kejujuran perasaanku tidak akan ada gunanya. Seandainya Nala juga mencintaiku, itu tetap percuma. Aku seorang Muslim, dan dia bukan. Kutarik nafas dalam-dalam. Dan kulihat Nala mengalihkan pandangannya.
Angin berhembus membawa sajak kegersangan. Membuat hati kerontang saat tetes cinta tak lagi menyapanya. Semua tinggal kegaduhan, saat jeritan hati membaur dengan suara-suara bising yang memenuhi Taman Kota. Kebisingan yang tak bisa mengusik kebisuanku bersama Nala di bawah mentari sore.
***
Ada panggilan masuk dari Nala. Kusambar handphoneku dan aku mencari posisi yang nyaman di dalam kamarku yang cukup sempit.
“Halo….!” sapaku. Tidak ada jawaban. “Hallo…!” ulangku lebih keras lagi. Terdengar seperti ada suara isak tangis dari seberang sana. Aku penasaran dan sedikit panik.
“Nal, Nala.. Kamu tidak apa-apa?” kejarku.
“Aku mencintaimu, Fik! Aku mencintaimu!” Kudengar seruan serak Nala dari handphone. Aku terkejut. “Sejak dulu aku mengagumimu, Fik. Sejak dulu. Kamu begitu lain di mataku. Dan kamu memang lain dari yang lain. Kamu begitu menjaga pandanganmu saat denganku, kamu begitu menghargaiku sebagai seorang wanita. Kamu tidak seperti laki-laki lain, yang terlihat begitu rakus saat memandangku. Kamu beda, Fik. Dan… Dan aku benar-benar mencintaimu. Bukan Alex yang kuharapkan menjadi suamiku, tapi kamu, Fik, kamu…. Fikri Firmansyah!” lanjut Nala dengan suara yang semakin parau. Aku hanya terdiam. Berjuta kebimbangan mengambangkanku pada kenyataan bahwa aku kacau. Tapi segera kuingat Allah. Dan terbayang-bayang istikharahku tempo malam. Menjauhi Nala adalah pilihan. Walau secara manusiawi, hatiku terasa begitu sakit.
“Fik, aku tahu kamu juga mencintaiku. Dan ucapanmu saat itu adalah kejujuran dari hatimu. Aku yakin itu, Fik. Nikahi aku, Fik! Nikahi aku ... !” Nala meneruskan perkataannya. Air mata kurasa mulai mengaliri pipiku. Hatiku seolah tertusuk ribuan jarum es yang membekukan sisi indah dalam kalbu.
“Aku gak bisa, Nal..!” Tutttt. Handphone kumatikan. Kudengar suara azan berkumandang mendayu-dayu. Membuat hatiku semakin terasa teriris. Kulangkahkan kakiku menyambut seruan-Nya. Akan kupasrahkan semua perasaan ini pada sang penggenggam cinta.
***
Karena sibuk mempersiapkan diri untuk ujian skripsi, aku jadi sering pulang ke rumah larut malam. Banyak hal yang harus kuurus. Tapi semua terasa menyenangkan. Akhirnya aku akan lulus juga.
Mataku tertuju pada sebuah kertas merah di atas meja. Kuambil, dan ternyata surat undangan. Aku terkejut karena kudapati nama Alexander Markus dan Nala Marlina di dalam undangan. “Nala….?” Batinku bergemuruh.
***
Kulihat Nala begitu anggun dengan gaun pengantinnya. Walau dari jarak jauh, tapi kurasa dia benar-benar cantik. Alex berdiri di sampingnya. Mereka terlihat begitu menikmati pesta pernikahan mereka. Dan aku, mematung di kegelapan. Memegang kado yang berisi boneka kecil. Boneka yang kuharap dapat menemani Nala di sepanjang harinya.
Perlahan kakiku melangkah menjauh dari rumah Nala. Kuurungkan niatku untuk sekedar mengucapkan kata selamat untuk Nala dan Alex. Dari jauh saja kurasakan hatiku begitu terpukul, air mataku perlahan berderai. Aku sadar. Aku merasa kehilangan Nala dari hidupku. Seorang wanita yang tak mampu kumiliki karena perbedaan. Tapi hatiku selalu yakin,”Inilah yang terbaik.” Kota Metro kurasa menjadi kelabu. Sekelabu hatiku yang telah kehilangan setitik cahaya yang sempat meneranginya.
***
“Mas, kok nangis?” Sebuah suara berhasil mengejutkanku. Bayangan Nala pun sekejap buyar. Aku gelagapan sambil secepat mungkin menyeka air mata yang telah membanjir di pipiku. Pria yang mengaku mahsiswa Unila itu terheran-heran melihatku.
“Mas gak kenapa-napa, kan?”
“Oh.. Gak kok. Aku gak kenapa-napa,” jawabku sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela bis. Kendaraan ber-AC itu memasuki area SPBU dan berhenti untuk mengisi bahan bakar.
Kupandangi seputaran SPBU. Hujan telah reda. Hanya tersisa angin yang menggelindingkan plastik-plastik bekas makanan kesana-kemari. Dan juga mengayun-ayunkan daun-daun di ranting. Ada pemandangan yang membuatku terpaku. Aku benar-benar tak menyangka. Aku melihat Nala di dekat tempat pengisian bahan bakar. Ia memakai jilbab merah dan terlihat begitu anggun. Aku tak percaya. Kukucek berkali-kali mataku. Namun, tetap Nala yang kulihat. Aku melejit secepat mungkin dan ke luar dari bis.
“Nala…!” seruku setelah jarakku tinggal satu meter dari si wanita berjilbab merah. Dia menoleh dan menatapku dengan heran. Dia bukan Nala. Ya, bukan Nala. Seorang pria berkulit bersih tiba-tiba datang menyapaku,”Ada apa ya, Mas?”
“Ah, tidak.. Tidak apa-apa…” jawabku gelagapan.
“Oh, ya sudah,” ucap si pria yang sejurus kemudian mengajak wanita yang kukira Nala menjauh dariku. Aku hanya menatap mereka dari belakang.
“Sepertinya aku mulai gila, mana mungkin Nala memakai jilbab?” batinku.
Kuamati keadaan sekitar. Aku tahu ini di Natar, salah satu kecamatan yang ada di Lampung Selatan. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang merasuk ke ingatanku. Aku mencoba memperjelas ingatan itu.
“Hah ... ? Hari ini jadwalku ujian skripsi ... ”
"Petaka"
Oleh: Mukhlis Ahsya
Cahaya mentari perlahan menyapu kota. Geraknya yang begitu gesit dengan cepat membuat terang lampu menjadi redup. Tidak terlihat lagi pesona kelip lampu kota yang gemerlap itu. Lebih ada yang benderang rupanya. Semilir angin membawa kicau merdu burung prenjak menabrak-nabrak rimbunnya daun mangga. Perlahan menyelinap manja lewat celah kecil di jendela. Bekas hujan semalam menyisakan butiran berkilau di ujung-ujung daun bunga di pekarangan. Menyebarkan mega kecil di geliat pagi.
Ini kota. Walau kota kecil, tapi tetap saja namanya kota. Beribu-ribu fenomena ada di sini. Tekanan cuaca berjalan beriring dengan tekanan hidup. Semakin meninggi, semakin banyak yang terkapar. Manusia memang suka yang aneh-aneh, jika tidak ada masalah mereka mencoba-coba menyulutnya. Saat masalah melahapnya, mereka membunuh dirinya sendiri. Ada juga yang membunuh orang lain, atau mengajak orang lain agar ikut gosong oleh masalahnya.
Joni menyulut rokok kreteknya. Dipandanginya halaman rumah yang terlihat masih basah. Sesekali diseruputnya kopi panas di sela-sela asap rokoknya. Masih jelas diingatannya pada prosesi evakuasi mayat wanita yang membusuk di ledeng seminggu yang lalu. Wanita malang itu dihabisi dengan sadis oleh suaminya sendiri. Lelaki yang dulu begitu memujanya. Berikrar setia, sehidup semati. Sanggup untuk mencukupi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Namun, kemudian dengan dingginnya mencabik-cabik tubuh wanita itu dengan sebilah pisau dapur. Dengan alasan yang terlalu menjijikkan, alasan yang mungkin akan membuat orang lain begitu geram dengan si suami. Tapi, memang itu alasannya, karena si isteri mengetahui perselingkuhannya dengan wanita lain. Hal itu langsung membuat sang suami panik, gelap hati, jalan pintas secepat kilat menyambar otaknya, menyemaikan benih-benih kriminal yang tampak solutif, dan dengan sadisnya menghabisi si isteri yang merupakan guru SD itu. “Pria yang tolol,” desis Joni. Pria pembunuh itu benar-benar telah membakar hidupnya hingga hangus.
Sekilas Joni teringat dengan wejangan neneknya. “Semakin orang kehilangan alat kendali untuk dirinya, maka akan mudah gelap hati dan akalnya. Hilang rasa syukurnya, selau merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Kemarau jiwanya. Mudah tersulut amarahnya. Kalau manusia semakin tidak peduli dengan nilai-nilai yang agung, nilai-nilai yang beratus-ratus tahun dipegang teguh oleh nenek moyangnya, maka mereka akan menuai petaka besar yang sangat menakutkan.” Joni menggaruk kepalanya, mengusap wajah yang terasa tebal. Nilai adalah suatu keindahan, sesuatu yang dianggap baik dan dapat memberi kebaikan, yang mewarnai hati dengan cahaya. Saat nilai itu lepas, gelap sudah hati seseorang. Nilai yang agung, nilai yang menyelaraskan hati dan akal. Yang membuat seseorang berpikir sebelum bertindak, yang membuat seseorang menggunakan nuraninya untuk mengalahkan tinta pekat yang disemburkan gurita setan. Saat nilai agung itu diabaikan, habis sudah jiwa manusiawi. Hanya nafsu jahat yang tertinggal di tahta. Dan petaka, petaka yang sangat ditakutkan oleh moyang kita benar-benar terjadi.
Diingatnya kembali wejangan sang nenek. “Dulu, wanita dan pria dewasa yang belum menikah dilarang terlalu berdekatan, takut kesetrum setan. Apalagi pegangan tangan, wah, tabu itu. Melanggar nilai susila dan kesopanan. Itu sudah menjadi aturan tidak tertulis yang sarat nilai-nilai agung. Kalau dilanggar, petaka.” Joni menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Lagi-lagi petaka. Ia jadi teringat berita beberapa hari yang lalu, berita tentang tragedi pembunuhan terhadap seorang siswi oleh mantan kekasihnya sendiri di Pulau Payung. “Apa kasus seperti itu adalah bentuk petaka yang Nenek maksud?” tanya Joni dalam hati. Benar juga. Pergaulan remaja saat ini terlalu bebas. Terlalu mengacuhkan nilai-nilai luhur yang sudah ratusan tahun dipegang. Menghilangkan kontrol diri yang memuliakannya. Sekolah umum dan sekolah agama sebagai sentral pendidikan intelektual dan moral seperti kehilangan perannya. Tidak berkutik untuk menjaga generasi-generasi muda dari distorsi moral yang tidak disadarinya. Orang tua, orang yang paling bertanggungjawab atas penyimpangan perilaku anaknya, terkesan acuh tak acuh. Merasa bahwa pencukupan kebutuhan akan materi anaknya telah membuatnya lepas dari tangungjawab moralnya.
Sejenak Joni merasa tergugah hatinya. Ada sebuah teriakan nurani yang menyuruhnya untuk berbuat banyak untuk memperbaiki semua penyimpangan itu. Tapi, ia terpaksa diingatkan pada peristiwa beberapa tahun yang lalu, saat keponakannya sendiri dinikahkan secara paksa karena berzina dengan teman prianya. Memalukan. Ingatan itu seakan mencoreng wajahnya sendiri. Joni kembali menyeruput kopinya yang mulai dingin diterpa angin. Mentari di luar mulai meninggi. Butir-butir air di ujung daun mulai menyusut. Cicit-cicit burung pun terdengar semakin menjauh.
“Ya, aku harus memperbaiki keluargaku sendiri terlebih dahulu!” serunya mantap dalam hati. Joni menyadari akan sikapnya yang kurang peduli dengan keluarga. Bagaimana mungkin dia akan menyelesaikan masalah penyimpangan secara umum jika penyimpangan dalam keluarganya saja tidak pernah ia sentuh? Yang kecil saja teracuhkan, bagaimana yang besar bisa diselesaikan? Joni tersenyum. Ia seperti menemukan alasan untuk lebih bersemangat dalam hidup. Banyak persoalan yang sebenarnya harus ia selesaikan, tidak melulu hanya urusan makan dan kantor.
Tangan Joni gesit mengusek-usekkan rokoknya di asbak. Matanya melirik isi gelas yang ternyata hanya tinggal jelaga saja. Hari minggu itu ia akan lebih banyak melakukan perenungan di rumah dari pada mencari hiburan di luar. Dikeluarkannya kembali sebatang rokok kretek dari bungkusnya. Dipijit-pijitnya gulungan tembakau itu. Sekejap ia sudah menggenggam korek api dan siap menyulut ujung rokoknya. Tapi Joni malah terpaku. Ia ingat sesuatu di masa kecilnya. “Bukankah dulu Ibu sangat marah saat memergokiku merokok?” bisiknya dalam hati. “Bahkan, Ayah sampai-sampai tega memukuliku agar aku kapok dan tidak merokok lagi. Dan di sekolah, aku selalu menjadi bulan-bulanan guru saat ketahuan merokok,” lanjutnya. Pria berambut ikal itu merenung. Mencoba menggunakan teori sebab-akibat untuk memecahkan suatu misteri. “Artinya, merokok itu adalah perbuatan yang buruk, suatu penyimpangan perilaku. Dan…. Dan…….” Joni tergugu. Kepalanya tiba-tiba pening. Pandangannya menjadi kabur. Dilihatnya batang rokok di ujung jarinya perlahan memanjang. Dan terus memanjang. Dia sangat akrab dengan bentuk perubahan itu. Batang rokoknya berubah menjadi ular. Gesit ia menghempaskan batang rokok yang tiba-tiba berubah bersisik dan beringas itu. “Astaga, ini petaka!” pekiknya.
Cahaya mentari perlahan menyapu kota. Geraknya yang begitu gesit dengan cepat membuat terang lampu menjadi redup. Tidak terlihat lagi pesona kelip lampu kota yang gemerlap itu. Lebih ada yang benderang rupanya. Semilir angin membawa kicau merdu burung prenjak menabrak-nabrak rimbunnya daun mangga. Perlahan menyelinap manja lewat celah kecil di jendela. Bekas hujan semalam menyisakan butiran berkilau di ujung-ujung daun bunga di pekarangan. Menyebarkan mega kecil di geliat pagi.
Ini kota. Walau kota kecil, tapi tetap saja namanya kota. Beribu-ribu fenomena ada di sini. Tekanan cuaca berjalan beriring dengan tekanan hidup. Semakin meninggi, semakin banyak yang terkapar. Manusia memang suka yang aneh-aneh, jika tidak ada masalah mereka mencoba-coba menyulutnya. Saat masalah melahapnya, mereka membunuh dirinya sendiri. Ada juga yang membunuh orang lain, atau mengajak orang lain agar ikut gosong oleh masalahnya.
Joni menyulut rokok kreteknya. Dipandanginya halaman rumah yang terlihat masih basah. Sesekali diseruputnya kopi panas di sela-sela asap rokoknya. Masih jelas diingatannya pada prosesi evakuasi mayat wanita yang membusuk di ledeng seminggu yang lalu. Wanita malang itu dihabisi dengan sadis oleh suaminya sendiri. Lelaki yang dulu begitu memujanya. Berikrar setia, sehidup semati. Sanggup untuk mencukupi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Namun, kemudian dengan dingginnya mencabik-cabik tubuh wanita itu dengan sebilah pisau dapur. Dengan alasan yang terlalu menjijikkan, alasan yang mungkin akan membuat orang lain begitu geram dengan si suami. Tapi, memang itu alasannya, karena si isteri mengetahui perselingkuhannya dengan wanita lain. Hal itu langsung membuat sang suami panik, gelap hati, jalan pintas secepat kilat menyambar otaknya, menyemaikan benih-benih kriminal yang tampak solutif, dan dengan sadisnya menghabisi si isteri yang merupakan guru SD itu. “Pria yang tolol,” desis Joni. Pria pembunuh itu benar-benar telah membakar hidupnya hingga hangus.
Sekilas Joni teringat dengan wejangan neneknya. “Semakin orang kehilangan alat kendali untuk dirinya, maka akan mudah gelap hati dan akalnya. Hilang rasa syukurnya, selau merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Kemarau jiwanya. Mudah tersulut amarahnya. Kalau manusia semakin tidak peduli dengan nilai-nilai yang agung, nilai-nilai yang beratus-ratus tahun dipegang teguh oleh nenek moyangnya, maka mereka akan menuai petaka besar yang sangat menakutkan.” Joni menggaruk kepalanya, mengusap wajah yang terasa tebal. Nilai adalah suatu keindahan, sesuatu yang dianggap baik dan dapat memberi kebaikan, yang mewarnai hati dengan cahaya. Saat nilai itu lepas, gelap sudah hati seseorang. Nilai yang agung, nilai yang menyelaraskan hati dan akal. Yang membuat seseorang berpikir sebelum bertindak, yang membuat seseorang menggunakan nuraninya untuk mengalahkan tinta pekat yang disemburkan gurita setan. Saat nilai agung itu diabaikan, habis sudah jiwa manusiawi. Hanya nafsu jahat yang tertinggal di tahta. Dan petaka, petaka yang sangat ditakutkan oleh moyang kita benar-benar terjadi.
Diingatnya kembali wejangan sang nenek. “Dulu, wanita dan pria dewasa yang belum menikah dilarang terlalu berdekatan, takut kesetrum setan. Apalagi pegangan tangan, wah, tabu itu. Melanggar nilai susila dan kesopanan. Itu sudah menjadi aturan tidak tertulis yang sarat nilai-nilai agung. Kalau dilanggar, petaka.” Joni menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Lagi-lagi petaka. Ia jadi teringat berita beberapa hari yang lalu, berita tentang tragedi pembunuhan terhadap seorang siswi oleh mantan kekasihnya sendiri di Pulau Payung. “Apa kasus seperti itu adalah bentuk petaka yang Nenek maksud?” tanya Joni dalam hati. Benar juga. Pergaulan remaja saat ini terlalu bebas. Terlalu mengacuhkan nilai-nilai luhur yang sudah ratusan tahun dipegang. Menghilangkan kontrol diri yang memuliakannya. Sekolah umum dan sekolah agama sebagai sentral pendidikan intelektual dan moral seperti kehilangan perannya. Tidak berkutik untuk menjaga generasi-generasi muda dari distorsi moral yang tidak disadarinya. Orang tua, orang yang paling bertanggungjawab atas penyimpangan perilaku anaknya, terkesan acuh tak acuh. Merasa bahwa pencukupan kebutuhan akan materi anaknya telah membuatnya lepas dari tangungjawab moralnya.
Sejenak Joni merasa tergugah hatinya. Ada sebuah teriakan nurani yang menyuruhnya untuk berbuat banyak untuk memperbaiki semua penyimpangan itu. Tapi, ia terpaksa diingatkan pada peristiwa beberapa tahun yang lalu, saat keponakannya sendiri dinikahkan secara paksa karena berzina dengan teman prianya. Memalukan. Ingatan itu seakan mencoreng wajahnya sendiri. Joni kembali menyeruput kopinya yang mulai dingin diterpa angin. Mentari di luar mulai meninggi. Butir-butir air di ujung daun mulai menyusut. Cicit-cicit burung pun terdengar semakin menjauh.
“Ya, aku harus memperbaiki keluargaku sendiri terlebih dahulu!” serunya mantap dalam hati. Joni menyadari akan sikapnya yang kurang peduli dengan keluarga. Bagaimana mungkin dia akan menyelesaikan masalah penyimpangan secara umum jika penyimpangan dalam keluarganya saja tidak pernah ia sentuh? Yang kecil saja teracuhkan, bagaimana yang besar bisa diselesaikan? Joni tersenyum. Ia seperti menemukan alasan untuk lebih bersemangat dalam hidup. Banyak persoalan yang sebenarnya harus ia selesaikan, tidak melulu hanya urusan makan dan kantor.
Tangan Joni gesit mengusek-usekkan rokoknya di asbak. Matanya melirik isi gelas yang ternyata hanya tinggal jelaga saja. Hari minggu itu ia akan lebih banyak melakukan perenungan di rumah dari pada mencari hiburan di luar. Dikeluarkannya kembali sebatang rokok kretek dari bungkusnya. Dipijit-pijitnya gulungan tembakau itu. Sekejap ia sudah menggenggam korek api dan siap menyulut ujung rokoknya. Tapi Joni malah terpaku. Ia ingat sesuatu di masa kecilnya. “Bukankah dulu Ibu sangat marah saat memergokiku merokok?” bisiknya dalam hati. “Bahkan, Ayah sampai-sampai tega memukuliku agar aku kapok dan tidak merokok lagi. Dan di sekolah, aku selalu menjadi bulan-bulanan guru saat ketahuan merokok,” lanjutnya. Pria berambut ikal itu merenung. Mencoba menggunakan teori sebab-akibat untuk memecahkan suatu misteri. “Artinya, merokok itu adalah perbuatan yang buruk, suatu penyimpangan perilaku. Dan…. Dan…….” Joni tergugu. Kepalanya tiba-tiba pening. Pandangannya menjadi kabur. Dilihatnya batang rokok di ujung jarinya perlahan memanjang. Dan terus memanjang. Dia sangat akrab dengan bentuk perubahan itu. Batang rokoknya berubah menjadi ular. Gesit ia menghempaskan batang rokok yang tiba-tiba berubah bersisik dan beringas itu. “Astaga, ini petaka!” pekiknya.
“Nei”
Oleh: Mukhlis Ahsya
“Kamu cukup beruntung,” desisku lirih, namun dengan penuh keyakinan. Ia menoleh, menatapku sejenak seakan tidak terima dengan kalimat yang aku lontarkan. Dahinya naik sedikit, matanya memicing lesu. Sejurus kemudian, ia kembali memandang jauh ke depan, menjamah hamparan rumput taman dengan tatapan kosong.
Jilbab lebarnya mengepak bersama hembus angin. Melambai-lambai memanggil setiap memori yang telah dilewati perempuan ayu itu. Garis kesedihan tampak menyala setiap ia pamerkan kemurungan yang akhir-akhir ini menjadi hobi barunya.
“Jangan coba bergurau jika kamu tidak bisa membuatnya terlihat lucu!” Kalimat lembut namun ketus mengurai begitu saja, berhembus melewati sepasang bibir indah yang ia miliki. Aku hantamkan pandang sejauh mungkin saat tatapku menabrak bibir manisnya. Sungguh, aku ingin katakan pada dunia bahwa aku sangat mengagumi keindahan gadis yang baru tiga bulan ini kukenal.
Aku memanggilnya Nei, mahasiswi Ekonomi Manajemen yang baru diwisuda dan langsung ditarik untuk bekerja di perusahaan tempatku mengabdikan diri. Dari pertama kali ia masuk kerja, ia begitu saja menarik perhatianku. Bukan hanya sekedar cantik, tapi ia juga cukup bisa menjaga diri di lingkungan kerja. Selain itu, antusiasnya membuat gairah bekerja di perusahaan semakin meningkat. Hanya saja, sudah dua minggu ini ia menjadi lain tanpa sebab yang jelas. Murung, kadang meneteskan air mata saat sendiri, itu semua menjadi pemandangan yang sering kupergoki. Rasa heranku melambung, membuatku gelisah dengan kondisi rekan kerja baruku yang tampak jelas sedang dirundung mendung hitam. Dan kini, saat kuberanikan diri menanyainya, aku mendapati kenyataannya yang sedang ia hadapi.
“Apa dia mencintaimu?” Kulepaskan tanya yang sebenarnya sudah kutahu jawabannya.
“Ya, mungkin. Tapi … . Ya, tentu saja ia mencintaiku. Aku sangat yakin.” Suara bising Taman Kota membuat ucapannya kurang dapat didengar. Namun, aku tidak kehilangan satu penggal kata pun dari kalimat yang ia katakan.
“Kamu mencintainya, dan dia mencintaimu. Lalu apa yang membuatmu risau? Karena dia sudah mati?”
Nei menatapku agak kasar. Mungkin ia menganggap aku sudah keterlaluan terhadapnya. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin melihatnya menyiksa diri sendiri dengan meratapi musibah.
“Dia meninggalkanmu dengan cinta, Nei,” lirihku. “Jika kamu tahu, yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta bukan karena kita ditinggal mati oleh dia yang kita cintai. Tapi, yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita.” Angin berhembus sedikit kencang bersama kalimat yang baru kuucapkan. Seolah alam memberi tanda setuju dengan pendapatku.
“Ceritamu memang miris, Nei. Aku akui itu. Calon suamimu meninggal satu jam lebih cepat dari jadwal akad nikah kalian. Seperti dalam film-film.”
“Apa kamu anggap itu lelucon, Mas?” Nei kembali menatapku, kali ini ia tampak lebih serius. “Mungkin Mas Nadir benar, tidak dicintai itu lebih menyakitkan, tapi perlu Mas tahu juga, sampai saat ini aku belum pernah melihat alat pengukur rasa sakit,” lanjutnya mencoba ilmiah. Aku terkejut. Andai tidak takut Nei tersinggung, pasti aku akan terpingkal-pingkal sejadinya.
“Oke, kalau begitu kita anggap saja kadar rasa sakitnya sama. Mungkin ini seperti menebak-nebak, tapi sudahlah kita anggap saja begitu.” Aku mencoba untuk tersenyum, senyum yang sebenarnya untuk mengalihkan rasa geli ingin tertawa. “Nei … ,” lanjutku. “Aku pernah menikah, aku pernah membangun kehidupan berumah tangga dengan orang yang sangat aku cintai, tapi … aku tidak bahagia.”
“Dia tidak mencintaimu?”
“Benar.” Aku tersenyum. Sedikit kecewa karena Nei berhasil menebak arah pembicaraanku.
“Bagaimana bisa ia mau menikah denganmu tapi ia tidak memiliki cinta?”
“Bisa saja. Ya, bisa, karena perjodohan dari orang tua kami. Awalnya aku pun tidak mencintainya, tapi kemudian aku bisa memiliki rasa itu, bahkan aku begitu cinta. Tapi, saat rasa itu subur-suburnya kumiliki, ia meminta untuk diceraikan.” Aku menunduk, ada rasa pahit yang tiba-tiba meleleh dari empedu.
“Maaf, tidak seharusnya Mas Nadir cerita kalau hanya membuat Mas terluka.”
Aku mendongakkan wajah. Sekilas melirik ke arah Nei. “Kadang kita perlu mengorek luka lama untuk menyembuhkan luka orang lain, Nei. Aku hanya ingin kamu tahu, banyak kenyataan tentang cinta yang bisa membuat kita merasa tersakiti. Kamu beruntung karena dia mencintaimu. Ia memang sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi ia menitipkan cinta di hatimu. Dan cinta itu bukan untuk kamu tangisi secara berlarut-larut, tapi cukup untuk kamu kenang dan syukuri sebagai sebuah karunia yang besar dari Tuhan.”
Entah mengapa, aku melihat ada seulas senyum dari bibir Nei.
“Sisi positif yang harus kamu syukuri adalah, setidaknya kamu ditinggalkan dia bukan dalam keadaan janda, hahaha,” gurauku. Mata Nei mendelik. Bibirnya bergetar. Dan sekejap aku mendengar tawa nyaring seorang Nei.
***
Nei kembali ceria. Tidak ada yang ia risaukan lagi di dunia ini. Aku senang melihatnya. Setidaknya, luka di hatiku ada gunanya juga. Hanya saja, kini aku mulai bimbang. Aku dan Nei semakin dekat. Aku khawatir aku akan terjebak pada hal yang akhir-akhir ini selalu kucoba untuk hindari, cinta.
Aku ingin bersikap pada Nei seperti halnya aku bersikap pada rekan kerja lainnya. Hanya saja, persoalannya menjadi sulit saat kulihat Nei mengembangkan bibir, dan merekahlan senyumnya yang khas, indah. Aku menjadi salah tingkah, bersusah payah membuang tatap pada objek yang lebih menarik. Namun, semua objek tampak tersedot oleh keelokan senyum Nei. Aku gugup, aku ragu, aku terjepit dalam keping-keping kebimbangan yang menggunung.
“Mas, katanya mau dipindah tugas ke luar kota, ya?” Suara Nei menggilas lamunanku. Sekilas kutolehkan wajah, lalu kembali pada keadaan semula dengan sedikit senyum terurai. Dua hari lagi aku diberangkatkan ke Medan untuk memimpin perusahaan cabang di sana. Dan tidak ada satu pun alasan bagiku untuk menolak.
“Iya, ke Medan.”
“Jauhnya … “ Mata Nei terbelalak. “Pasti bakal kangen sama nasehat bijaknya,” lanjut Nei. Aku tersenyum lebih lebar.
“Syukurlah, ternyata ada yang bisa dirindukan dari aku.” Aku merunduk, meraih laptop dan memasukannya ke dalam tas. Kulirik Nei, ia tersenyum tipis.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah Pak Hans, ada yang harus dibicarakan.” Aku beranjak dari duduk. “Duluan, ya.”
Nei tersenyum. Ada pendar keraguan di gurat bibirnya. Aku berusaha untuk tidak peduli. Terus melangkah, meninggalkan Nei yang entah bagaimana ekspresinya.
“Mas, tunggu!”
Seolah menginjak pedal rem, aku berhenti seketika. Terdengar tapak-tapak mendekat.
“Untuk Mas Nadir.” Nei mengulurkan tangannya. Sebuah kertas putih bergetar dalam apit jari-jari lentiknya. Aku menatap heran. Apa gerangan dalam amplop putih itu? Namun, belum sempat lidah berucap, Nei buru-buru menjauh dengan langkah gesit setelah amplop berpindah ke tanganku. Aku terpaku, hanya membisu.
Pak Hans memberi banyak alasan kenapa aku yang dipilih untuk menjadi pimpinan perusahaan anak cabang di Medan. Serta memberi arah-arahan tentang orang-orang yang harus kutemui, dan apa saja yang harus aku lakukan di awal kinerja di Medan. Beliau juga berjanji akan segera menyusul ke Medan.
Kurebahkan tubuh. Perlahan rasa syukur menyapu habis segala penat dan gundah. Apa yang aku dapat sampai saat ini, dan amanah-amanah baru yang harus kupikul, menjadi sebuah dinamit yang akan meledak bersama keberhasilanku. Aku ingin memberikan yang terbaik dari kemampuan yang aku miliki, sebisa mungkin, setulus mungkin, seikhlas mungkin, kuniatkan untuk beribadah, untuk mendapatkan ridho dari-Nya.
Aku bergegas merogoh saku celana saat ingat dengan amplop putih pemberian Nei. Dengan gugup, yang berputar dalam adukan rasa penasaran, kubuka dengan tangan bergetar kertas putih itu. Dan dugaanku benar, sebuah surat dari Nei.
Untuk Mas Nadir
Assalamu’alaikum …
Dengan meniupkan segala keindahan, aku mengukir baris-baris kalimat ini, untukmu, Mas Nadir. Semoga segala kasih dan kelembutan Tuhan selalu mengiringi hidupmu yang dipenuhi bertumpuk amanah yang menguras pikiran. Namun aku tahu, itu semua karena sebuah kepantasan. Ya, Mas Nadir pantas mendapatkan amanah yang berat karena Mas Nadir punya kemampuan untuk menanganinya. Aku kagum, aku bangga.
Aku tak ingin berpanjang kalimat, aku hanya ingin katakan bahwa aku mencintamu, Mas Nadir. Izinkan aku untuk menjadi pengganti bidadari yang telah meninggalkanmu. Biarlah aku yang mengubur dalam luka-lukamu karenanya.
Mas Nadir, sebelum kau berangkat ke tanah seberang, mampirlah barang sebentar ke rumah orang tuaku. Aku benar-benar ingin engkau menjadi imamku.
Dariku,
Neila Danalia
Dadaku terasa sesak seketika. Sebuah senyum tipis merekah tanpa kendali. Senyum kecut atas segala kebodohan yang telah kuperbuat. Aku sudah kelewat batas hingga tanpa kusadar telah membuat Nei jatuh cinta. Apa-apaan aku ini? Bertingkah seolah peduli, seolah mampu membalas cinta, padahal tidak. Aku memiliki rasa kagum pada Nei dari segala seginya. Nei cantik, senyumnya indah, baik, dewasa, dan semuanya, aku kagum. Hanya saja aku tidak memiliki cinta untuknya.
Apa yang harus kuperbuat? Akankah aku akan menambah satu penderitaannya dengan satu penderitaan yang lebih dahsyat? Ia telah ditinggal mati calon suaminya, dan sekarang ia mencintai orang yang tidak mencintainya. “Jika kamu tahu, yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta bukan karena kita ditinggal mati oleh dia yang kita cintai. Tapi, yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita.” Secepat kilat kalimat yang pernah kuucapkan pada Nei berkelebat dalam ingatan. Menerkamku, mencabi-cabik seluruh integritas yang kumiliki.
Dadaku bergemuruh. Aku hanya akan membuat Nei menunggu dalam semu. Karena aku tidak akan pernah datang untuknya, tidak akan … .
Metro, 07 April 2015.
“Kamu cukup beruntung,” desisku lirih, namun dengan penuh keyakinan. Ia menoleh, menatapku sejenak seakan tidak terima dengan kalimat yang aku lontarkan. Dahinya naik sedikit, matanya memicing lesu. Sejurus kemudian, ia kembali memandang jauh ke depan, menjamah hamparan rumput taman dengan tatapan kosong.
Jilbab lebarnya mengepak bersama hembus angin. Melambai-lambai memanggil setiap memori yang telah dilewati perempuan ayu itu. Garis kesedihan tampak menyala setiap ia pamerkan kemurungan yang akhir-akhir ini menjadi hobi barunya.
“Jangan coba bergurau jika kamu tidak bisa membuatnya terlihat lucu!” Kalimat lembut namun ketus mengurai begitu saja, berhembus melewati sepasang bibir indah yang ia miliki. Aku hantamkan pandang sejauh mungkin saat tatapku menabrak bibir manisnya. Sungguh, aku ingin katakan pada dunia bahwa aku sangat mengagumi keindahan gadis yang baru tiga bulan ini kukenal.
Aku memanggilnya Nei, mahasiswi Ekonomi Manajemen yang baru diwisuda dan langsung ditarik untuk bekerja di perusahaan tempatku mengabdikan diri. Dari pertama kali ia masuk kerja, ia begitu saja menarik perhatianku. Bukan hanya sekedar cantik, tapi ia juga cukup bisa menjaga diri di lingkungan kerja. Selain itu, antusiasnya membuat gairah bekerja di perusahaan semakin meningkat. Hanya saja, sudah dua minggu ini ia menjadi lain tanpa sebab yang jelas. Murung, kadang meneteskan air mata saat sendiri, itu semua menjadi pemandangan yang sering kupergoki. Rasa heranku melambung, membuatku gelisah dengan kondisi rekan kerja baruku yang tampak jelas sedang dirundung mendung hitam. Dan kini, saat kuberanikan diri menanyainya, aku mendapati kenyataannya yang sedang ia hadapi.
“Apa dia mencintaimu?” Kulepaskan tanya yang sebenarnya sudah kutahu jawabannya.
“Ya, mungkin. Tapi … . Ya, tentu saja ia mencintaiku. Aku sangat yakin.” Suara bising Taman Kota membuat ucapannya kurang dapat didengar. Namun, aku tidak kehilangan satu penggal kata pun dari kalimat yang ia katakan.
“Kamu mencintainya, dan dia mencintaimu. Lalu apa yang membuatmu risau? Karena dia sudah mati?”
Nei menatapku agak kasar. Mungkin ia menganggap aku sudah keterlaluan terhadapnya. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin melihatnya menyiksa diri sendiri dengan meratapi musibah.
“Dia meninggalkanmu dengan cinta, Nei,” lirihku. “Jika kamu tahu, yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta bukan karena kita ditinggal mati oleh dia yang kita cintai. Tapi, yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita.” Angin berhembus sedikit kencang bersama kalimat yang baru kuucapkan. Seolah alam memberi tanda setuju dengan pendapatku.
“Ceritamu memang miris, Nei. Aku akui itu. Calon suamimu meninggal satu jam lebih cepat dari jadwal akad nikah kalian. Seperti dalam film-film.”
“Apa kamu anggap itu lelucon, Mas?” Nei kembali menatapku, kali ini ia tampak lebih serius. “Mungkin Mas Nadir benar, tidak dicintai itu lebih menyakitkan, tapi perlu Mas tahu juga, sampai saat ini aku belum pernah melihat alat pengukur rasa sakit,” lanjutnya mencoba ilmiah. Aku terkejut. Andai tidak takut Nei tersinggung, pasti aku akan terpingkal-pingkal sejadinya.
“Oke, kalau begitu kita anggap saja kadar rasa sakitnya sama. Mungkin ini seperti menebak-nebak, tapi sudahlah kita anggap saja begitu.” Aku mencoba untuk tersenyum, senyum yang sebenarnya untuk mengalihkan rasa geli ingin tertawa. “Nei … ,” lanjutku. “Aku pernah menikah, aku pernah membangun kehidupan berumah tangga dengan orang yang sangat aku cintai, tapi … aku tidak bahagia.”
“Dia tidak mencintaimu?”
“Benar.” Aku tersenyum. Sedikit kecewa karena Nei berhasil menebak arah pembicaraanku.
“Bagaimana bisa ia mau menikah denganmu tapi ia tidak memiliki cinta?”
“Bisa saja. Ya, bisa, karena perjodohan dari orang tua kami. Awalnya aku pun tidak mencintainya, tapi kemudian aku bisa memiliki rasa itu, bahkan aku begitu cinta. Tapi, saat rasa itu subur-suburnya kumiliki, ia meminta untuk diceraikan.” Aku menunduk, ada rasa pahit yang tiba-tiba meleleh dari empedu.
“Maaf, tidak seharusnya Mas Nadir cerita kalau hanya membuat Mas terluka.”
Aku mendongakkan wajah. Sekilas melirik ke arah Nei. “Kadang kita perlu mengorek luka lama untuk menyembuhkan luka orang lain, Nei. Aku hanya ingin kamu tahu, banyak kenyataan tentang cinta yang bisa membuat kita merasa tersakiti. Kamu beruntung karena dia mencintaimu. Ia memang sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi ia menitipkan cinta di hatimu. Dan cinta itu bukan untuk kamu tangisi secara berlarut-larut, tapi cukup untuk kamu kenang dan syukuri sebagai sebuah karunia yang besar dari Tuhan.”
Entah mengapa, aku melihat ada seulas senyum dari bibir Nei.
“Sisi positif yang harus kamu syukuri adalah, setidaknya kamu ditinggalkan dia bukan dalam keadaan janda, hahaha,” gurauku. Mata Nei mendelik. Bibirnya bergetar. Dan sekejap aku mendengar tawa nyaring seorang Nei.
***
Nei kembali ceria. Tidak ada yang ia risaukan lagi di dunia ini. Aku senang melihatnya. Setidaknya, luka di hatiku ada gunanya juga. Hanya saja, kini aku mulai bimbang. Aku dan Nei semakin dekat. Aku khawatir aku akan terjebak pada hal yang akhir-akhir ini selalu kucoba untuk hindari, cinta.
Aku ingin bersikap pada Nei seperti halnya aku bersikap pada rekan kerja lainnya. Hanya saja, persoalannya menjadi sulit saat kulihat Nei mengembangkan bibir, dan merekahlan senyumnya yang khas, indah. Aku menjadi salah tingkah, bersusah payah membuang tatap pada objek yang lebih menarik. Namun, semua objek tampak tersedot oleh keelokan senyum Nei. Aku gugup, aku ragu, aku terjepit dalam keping-keping kebimbangan yang menggunung.
“Mas, katanya mau dipindah tugas ke luar kota, ya?” Suara Nei menggilas lamunanku. Sekilas kutolehkan wajah, lalu kembali pada keadaan semula dengan sedikit senyum terurai. Dua hari lagi aku diberangkatkan ke Medan untuk memimpin perusahaan cabang di sana. Dan tidak ada satu pun alasan bagiku untuk menolak.
“Iya, ke Medan.”
“Jauhnya … “ Mata Nei terbelalak. “Pasti bakal kangen sama nasehat bijaknya,” lanjut Nei. Aku tersenyum lebih lebar.
“Syukurlah, ternyata ada yang bisa dirindukan dari aku.” Aku merunduk, meraih laptop dan memasukannya ke dalam tas. Kulirik Nei, ia tersenyum tipis.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah Pak Hans, ada yang harus dibicarakan.” Aku beranjak dari duduk. “Duluan, ya.”
Nei tersenyum. Ada pendar keraguan di gurat bibirnya. Aku berusaha untuk tidak peduli. Terus melangkah, meninggalkan Nei yang entah bagaimana ekspresinya.
“Mas, tunggu!”
Seolah menginjak pedal rem, aku berhenti seketika. Terdengar tapak-tapak mendekat.
“Untuk Mas Nadir.” Nei mengulurkan tangannya. Sebuah kertas putih bergetar dalam apit jari-jari lentiknya. Aku menatap heran. Apa gerangan dalam amplop putih itu? Namun, belum sempat lidah berucap, Nei buru-buru menjauh dengan langkah gesit setelah amplop berpindah ke tanganku. Aku terpaku, hanya membisu.
Pak Hans memberi banyak alasan kenapa aku yang dipilih untuk menjadi pimpinan perusahaan anak cabang di Medan. Serta memberi arah-arahan tentang orang-orang yang harus kutemui, dan apa saja yang harus aku lakukan di awal kinerja di Medan. Beliau juga berjanji akan segera menyusul ke Medan.
Kurebahkan tubuh. Perlahan rasa syukur menyapu habis segala penat dan gundah. Apa yang aku dapat sampai saat ini, dan amanah-amanah baru yang harus kupikul, menjadi sebuah dinamit yang akan meledak bersama keberhasilanku. Aku ingin memberikan yang terbaik dari kemampuan yang aku miliki, sebisa mungkin, setulus mungkin, seikhlas mungkin, kuniatkan untuk beribadah, untuk mendapatkan ridho dari-Nya.
Aku bergegas merogoh saku celana saat ingat dengan amplop putih pemberian Nei. Dengan gugup, yang berputar dalam adukan rasa penasaran, kubuka dengan tangan bergetar kertas putih itu. Dan dugaanku benar, sebuah surat dari Nei.
Untuk Mas Nadir
Assalamu’alaikum …
Dengan meniupkan segala keindahan, aku mengukir baris-baris kalimat ini, untukmu, Mas Nadir. Semoga segala kasih dan kelembutan Tuhan selalu mengiringi hidupmu yang dipenuhi bertumpuk amanah yang menguras pikiran. Namun aku tahu, itu semua karena sebuah kepantasan. Ya, Mas Nadir pantas mendapatkan amanah yang berat karena Mas Nadir punya kemampuan untuk menanganinya. Aku kagum, aku bangga.
Aku tak ingin berpanjang kalimat, aku hanya ingin katakan bahwa aku mencintamu, Mas Nadir. Izinkan aku untuk menjadi pengganti bidadari yang telah meninggalkanmu. Biarlah aku yang mengubur dalam luka-lukamu karenanya.
Mas Nadir, sebelum kau berangkat ke tanah seberang, mampirlah barang sebentar ke rumah orang tuaku. Aku benar-benar ingin engkau menjadi imamku.
Dariku,
Neila Danalia
Dadaku terasa sesak seketika. Sebuah senyum tipis merekah tanpa kendali. Senyum kecut atas segala kebodohan yang telah kuperbuat. Aku sudah kelewat batas hingga tanpa kusadar telah membuat Nei jatuh cinta. Apa-apaan aku ini? Bertingkah seolah peduli, seolah mampu membalas cinta, padahal tidak. Aku memiliki rasa kagum pada Nei dari segala seginya. Nei cantik, senyumnya indah, baik, dewasa, dan semuanya, aku kagum. Hanya saja aku tidak memiliki cinta untuknya.
Apa yang harus kuperbuat? Akankah aku akan menambah satu penderitaannya dengan satu penderitaan yang lebih dahsyat? Ia telah ditinggal mati calon suaminya, dan sekarang ia mencintai orang yang tidak mencintainya. “Jika kamu tahu, yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta bukan karena kita ditinggal mati oleh dia yang kita cintai. Tapi, yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita cintai tidak mencintai kita.” Secepat kilat kalimat yang pernah kuucapkan pada Nei berkelebat dalam ingatan. Menerkamku, mencabi-cabik seluruh integritas yang kumiliki.
Dadaku bergemuruh. Aku hanya akan membuat Nei menunggu dalam semu. Karena aku tidak akan pernah datang untuknya, tidak akan … .
Metro, 07 April 2015.
“Memperpanjang Masa Rindu”
Oleh: Mukhlis Ahsya
“Cinta itu ibarat hujan, dan kita adalah bumi. Dalam satu masa kita harus terpisahkan oleh keringnya kemarau. Namun, betapa indahnya ketika kita dapati tetes pertama dari langit di ujung penantian yang penuh harapan itu. Lewat hujan Tuhan menghidupkan bumi dari matinya, lewat cinta Tuhan membuat kita benar-benar hidup. Lewat perpisahan sebuah pertemuan layak dijadikan impian yang agung. Pergilah, Mas!” Rentetan kalimat tiga tahun yang lalu tergambar jelas di ingatan Hasan, bahkan suara pengucapnya seolah terdengar lirih di telinganya. Suara isterinya yang terlihat tegar saat melepas kepergiannya menyeberang ke Tanah Harapan. Ia ingat saat bulir air mata mengalir pelan di pipi Refita, isterinya itu buru-buru mengusapnya agar tampak lebih ikhlas melepas kepergiannya.
Kini, ia bersama rombongannya duduk termenung di pelabuhan. Ia menanti seseorang yang sangat ia rindukan. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum manis dan wajah ayunya, mendengar tutur lembut dan suara indahnya saat membaca al-quran. Ia benar-benar merindukan Refita dalam pribadi yang utuh.
Kota Induk telah mati. Kota indah dalam selimut kejayaan itu telah menuai benih keserakahan makhluk paling berakal di bumi. Bumi mengamuk dan memuntahkan isinya. Kemewahan yang terjaga berabad-abad, tenggelam dalam lumpur yang ganas. Kota Induk telah hancur. Kemalangan hampir tak menyisakan sedikitpun harapan di kota yang dibangun dengan tumpahan darah itu. Meskipun lumpur menyusut dan gedung-gedung diperbaiki, namun nasib buruk belum juga merampungkan dendamnya. Pengangguran beranak-pinak dan meluas ke penjuru kota. Kriminalitas, narkoba, dan kemalasan yang telah tumbuh sejak masa kejayaan, kini menjadikan manusia sebagai inang sejatinya. Nyaris remuk keagungan kota yang dielu-elukan dunia itu.
Kapten Eng, satu-satunya pejabat pemerintah yang dapat dipercaya mengumpulkan para pria yang masih kuat fisiknya. Ia mencetuskan gagasan untuk melakukan ekspedisi. Ia menyebutnya ‘perjalanan mencari Tanah Harapan’. Pria berjiwa pahlawan itu mendapat tentangan keras dari berbagai kalangan. Idenya dianggap menyalahi aturan kota. Ia dituduh ingin menghianati kotanya sendiri. Namun, pria tegas mantan pelaut itu bersikukuh. Ia memikirkan masa depan rakyatnya. Mereka membutuhkan tempat baru yang layak untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Baginya bumi Allah itu luas. Berdiam diri di Kota Induk sama saja mebiarkan nasib buruk merenggut masa depan rakyatnya.
Kapten Eng hanya mendapat 150 pria dengan kondisi fisik baik. Tapi baginya itu sudah jauh dari cukup. Lalu mereka memulai perjalanan dengan menggunakan kapal besar dengan perbekalan yang pas-pasan. Dengan berserah diri seutuhnya pada Tuhan, mereka mengarungi luasnya lautan. Ombak beserta badai besar sempat menghajar kapal mereka. Kapten mengira mereka sudah tenggelam, namun nyatanya tidak. Ketika badai reda dan tanah harapan seolah di depan mata, Kapten Eng berbicara dengan lantang di hadapan 150 pria di depannya yang masih utuh. “Apakah selama ini kalian mencari Tuhan?” tanya pria berjenggot lebat itu. Semua terdiam. Mereka bertukar pandang, seolah saling menanyakan apa maksud pemimpinnya itu. “Ketika tadi badai dan ombak besar menerjang kita, ketika usaha maksimal yang kita lakukan seolah tidak ada gunanya, kita meminta pertolongan pada kekuatan di luar kekuatan kita. Hal yang kita mintai pertolongan di saat kita tidak mampu menolong diri kita sendiri saat di tengah lautan tadi, itulah Tuhan. Dia telah menyelamatkan kita, maka berikanlah usaha terbaik kalian. Demi jutaan mata yang menatap harap pada kita, kita harus menuntaskan ikhtiar ini. Allah bersama orang-orang yang menggantungkan harapan pada-Nya,” lanjut Kapten Eng menggelegar. Seketika dada ratusan orang di hadapannya bergetar. Hasan berulang kali mengucap takbir.
Kapal berlabuh, dan kaki mereka menginjak tanah setelah hampir tiga bulan terombang-ambing di lautan. Kapten Eng langsung membagi pria yang ada menjadi beberapa tim yang menjalankan tugas yang berbeda. Pertama mereka mencari sumber air tawar. Setelah masuk cukup jauh ke dalam hutan, akhirnya sumber air ditemukan. Masing-masing tim langsung bergerak. Ada yang melakukan penggalian, penebangan hutan, mencari makanan, mendirikan tenda, dan semua pekerjaan yang telah ditentukan sang pemimpin.
“Beri aku beberapa pria untuk mendekati pantai, Kapten! Biar kami membuat tambak untuk membudidayakan udang, lopster, dan ikan yang akan kami cari di laut,” ucap Hasan. Kapten Eng tersenyum, ia sangat setuju dengan ide Hasan.
Bersama lembut angin laut dan lambai dedaunan hutan, waktu mengalir begitu saja. Tanah Harapan telah mereka sulap menjadi ladang kehidupan. Desain perkotaan telah mereka buat, dan pembangunan terus berjalan. Kapten Eng yang sempat beberapa kali jatuh sakit mewakilkan pekerjaannya pada Hasan yang ia anggap paling mampu di antara yang lain. Hanya sayang, terjangan badai yang mengombang-ambingkan mereka di lautan membuat mereka kesulitan untuk menemukan jalur menuju Kota Induk untuk menjemput masyarakat di sana. Beberapa pria yang pakar melaut telah dikirim untuk mencari kota yang sudah mati itu, hanya saja belum juga terdeteksi. Kota yang pernah berjaya itu seolah raib.
Di Tanah Harapan, Hasan begitu rindu pada Refita. Ia belum genap 5 bulan menikahi perempuan yang amat dicintainya itu ketika akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan ia meninggalkannya saat masih hamil muda demi kebaikan orang banyak. Demi masa depan indah yang ingin dirajutnya bersama isteri yang begitu ia cinta. Setiap malam, bayang suara khas Refita saat membaca al-quran terus terngiang. Mendobrak pintu hatinya dan memasuki ruang di mana rindu bersemayam.
“Kamu rindu padanya, San?” Suara Kapten Eng mengalun pelan.
“Sangat rindu, Kapten.”
“Sama. Aku juga rindu pada isteri dan anak-anakku.” Kapten Eng menghela nafas. “Apa kamu menyesal ikut menyeberang ke Tanah Harapan ini, Nak?” lanjut Kapten. Hasan menatap wajah pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu. Matanya berkaca-kaca. Ada kilau yang berkilat-kilat di mata Kapten Eng. Hasan tahu, bukan hanya ia yang rindu, tapi semua, Kapten Eng dan ratusan pria yang ada di tanah itu, sedang didera perasaan yang aneh.
“Perpisahan itu pasti terjadi, San. Kapan pun itu, kebersamaan di dunia yang fana ini pasti berakhir. Entah itu karena keadaan seperti yang kita alami ini, atau yang jauh lebih pasti karena ajal. Di sana, San. Di tanah yang dijanjikan Tuhan sebagai pusat keindahan, baru kita akan merasakan keabadian dari sebuah kebersamaan. Hanya tinggal kita perankan sebaik mungkin apa yang sudah diamanahkan pada kita di dunia ini, siapa tahu kita mendapat hadiah surga.”
Hasan tak henti menatap pria di sebelahnya itu. Ia benar-benar mengaguminya.
***
Hasan bersama ratusan pria yang lain tetap setia menanti tiang-tiang layar menyembul dari tengah laut sana. Memboyong Refita dan jutaan orang lainnya dalam ratusan kapal besar. Surat yang dibawa merpati telah mengirim kabar tentang sudah ditemukannya Kota Induk. Kota mati itu akhirnya dapat ditemukan setelah pencarian yang memakan waktu selama tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu pula Hasan memendam rindunya.
Azan ashar berkumandang. Jiwa-jiwa dalam penatian itu beranjak dari duduk panjangnya menuju tempat pengaduan. Di Masjid yang telah mereka dirikan sujud mereka terasa lebih indah hari ini. Karena sebentar lagi rindu mereka akan terbayarkan. Usai sholat mereka lebih hati-hati saat berdoa. Tak ingin membuat Tuhan tersinggung dan membatalkan perjumpaan indah yang bertahun mereka nantikan. Mereka tulus dalam rengek pinta yang lembut. Dalam puji yang berharap terbalas indah.
Tiang layar itu benar-benar menyembul, dan terlihat lebih gagah dari biasanya. Meski terasa lebih lambat jalannya, namun akhirnya kapal-kapal itu menepi juga. Pelabuhan sekejap berubah jadi lautan manusia. Menjelma menjadi padang haru dalam iringan lagu teromanrtis sejagad.
Hasan berlari, mengamati satu per satu penumpang yang turun. Beranjak dari satu kapal ke kapal lainnya. Tapi wajah Refita belum juga terjamah matanya. Hingga matahari menyisakan cahaya jingga di gerbang malam, tapi ia belum juga menemukan belahan jiwanya itu.
“San, kita sholat magrib dulu, yuk!” ajak Kapten Eng.
“Tapi aku belum menemukan isteriku, Kapten?”
“Lebih penting mana, Allah atau isterimu?”
Hasan terdiam. Lalu dengan tubuh lesu mengikuti langkah Kapten menuju masjid. Seusai sholat Kapten Eng memperkenalkan Hasan pada isteri dan anak-anaknya. Isteri Kapten tersenyum begitu ramah.
“Kamu yang ikhlas, ya, San. Insyaallah isterimu ada di tempat yang lebih baik saat ini,” ucap isteri Kapten Eng. Hasan tidak paham. Tapi tiba-tiba dadanya terasa sesak.
“Ada apa dengan isteriku, Bu? Di mana dia?”
Mata perempuan setengah baya itu berkaca-kaca. Hati Hasan tambah kacau dibuatnya.
“Isterimu insyaallah syahid. Ia meninggal saat melahirkan anakmu. Anakmu juga meninggal bersamanya,” terang isteri Kapten dengan sangat hati-hati. Hasan tertegun. Tubuhnya terasa bergetar demi mendengar kabar itu. Otot-otot di kakinya terasa lepas semua. Ia ingin jatuh. Ia tidak kuat lagi menopang tubuh yang telah dicekam rasa rindu yang menyaraf. Rindu yang ternyata tidak mampu ia raih. Refita telah tiada. Lalu apa yang ia nanti sampai saat ini? Ia benar-benar tidak kuat. Dunia tiba-tiba tampak begitu gelap.
Angin dan dedaunan bermesraan bersama malam. Rembulan di langit sana bersinar lebih terang dari biasanya. Suasana alam yang indah itu, terasa hambar begitu Hasan membuka mata dan ingat sepenuhnya dengan apa yang ia alami.
Kapten Eng mendekatinya. Mengusap rambut tebalnya dengan penuh kasih. Pria 52 tahun itu dapat merasakan penderitaan batin yang dialami Hasan. Ia merasa getir-getir itu merambat ke hatinya juga.
“San, isteriku bilang, jika kamu sudah siuman aku disuruh menyampaikan pesan dari isterimu.” Kapten membuka pembicaraan dengan lembut. Hasan tergeragap. Ia penasaran dengan pesan dari isterinya. Seolah ada harapan yang bisa ia sentuh.
“Isterimu berpesan bahwa ia menantimu di tempat terindah yang Allah janjikan. Ia akan terus merindukanmu.”
“Sungguh, Kapten?”
Kapten Eng mengangguk. “Kalau sudah ajalnya, di Kota Induk maupun di Tanah Harapan sama saja. Kita pasti akan kembali pada-Nya. Karena tujuan kita hidup bukan untuk sekedar hidup, tapi untuk mati. Dan tujuan kita mati bukan untuk sekedar mati, tapi untuk menuju kehidupan yang sebenarnya.”
Hasan mengangguk.
“Bagaimana pendapatmu tentang Refita?”
“Dia perempuan soleha, Kapten. Dia isteri yang luar biasa.”
“Dia meninggal dalam keadaan mulia, San. Insyaallah ia benar-benar menunggumu di tempat terindah sana.”
Hasan tersenyum. Hatinya terasa lebih sejuk. Pikirannya menjadi tenang seketika. Ia berjanji akan menuntaskan amanahnya di dunia ini. Melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang Muslim sejati. Untuk sebuah pertemuan agung. Pertemuan dengan-Nya dan dengan Refita di tempat yang dijanjikan Tuhan. Untuk sebuah penuntasan rindu di tempat terbaik, ia siap untuk memperpanjang masa rindu di ruang terindah dalam hatinya. Rasa-rasanya, rindu menjadi suatu anugerah yang indah dari sebuah perpisahan.
“Cinta itu ibarat hujan, dan kita adalah bumi. Dalam satu masa kita harus terpisahkan oleh keringnya kemarau. Namun, betapa indahnya ketika kita dapati tetes pertama dari langit di ujung penantian yang penuh harapan itu. Lewat hujan Tuhan menghidupkan bumi dari matinya, lewat cinta Tuhan membuat kita benar-benar hidup. Lewat perpisahan sebuah pertemuan layak dijadikan impian yang agung. Pergilah, Mas!” Rentetan kalimat tiga tahun yang lalu tergambar jelas di ingatan Hasan, bahkan suara pengucapnya seolah terdengar lirih di telinganya. Suara isterinya yang terlihat tegar saat melepas kepergiannya menyeberang ke Tanah Harapan. Ia ingat saat bulir air mata mengalir pelan di pipi Refita, isterinya itu buru-buru mengusapnya agar tampak lebih ikhlas melepas kepergiannya.
Kini, ia bersama rombongannya duduk termenung di pelabuhan. Ia menanti seseorang yang sangat ia rindukan. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum manis dan wajah ayunya, mendengar tutur lembut dan suara indahnya saat membaca al-quran. Ia benar-benar merindukan Refita dalam pribadi yang utuh.
Kota Induk telah mati. Kota indah dalam selimut kejayaan itu telah menuai benih keserakahan makhluk paling berakal di bumi. Bumi mengamuk dan memuntahkan isinya. Kemewahan yang terjaga berabad-abad, tenggelam dalam lumpur yang ganas. Kota Induk telah hancur. Kemalangan hampir tak menyisakan sedikitpun harapan di kota yang dibangun dengan tumpahan darah itu. Meskipun lumpur menyusut dan gedung-gedung diperbaiki, namun nasib buruk belum juga merampungkan dendamnya. Pengangguran beranak-pinak dan meluas ke penjuru kota. Kriminalitas, narkoba, dan kemalasan yang telah tumbuh sejak masa kejayaan, kini menjadikan manusia sebagai inang sejatinya. Nyaris remuk keagungan kota yang dielu-elukan dunia itu.
Kapten Eng, satu-satunya pejabat pemerintah yang dapat dipercaya mengumpulkan para pria yang masih kuat fisiknya. Ia mencetuskan gagasan untuk melakukan ekspedisi. Ia menyebutnya ‘perjalanan mencari Tanah Harapan’. Pria berjiwa pahlawan itu mendapat tentangan keras dari berbagai kalangan. Idenya dianggap menyalahi aturan kota. Ia dituduh ingin menghianati kotanya sendiri. Namun, pria tegas mantan pelaut itu bersikukuh. Ia memikirkan masa depan rakyatnya. Mereka membutuhkan tempat baru yang layak untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Baginya bumi Allah itu luas. Berdiam diri di Kota Induk sama saja mebiarkan nasib buruk merenggut masa depan rakyatnya.
Kapten Eng hanya mendapat 150 pria dengan kondisi fisik baik. Tapi baginya itu sudah jauh dari cukup. Lalu mereka memulai perjalanan dengan menggunakan kapal besar dengan perbekalan yang pas-pasan. Dengan berserah diri seutuhnya pada Tuhan, mereka mengarungi luasnya lautan. Ombak beserta badai besar sempat menghajar kapal mereka. Kapten mengira mereka sudah tenggelam, namun nyatanya tidak. Ketika badai reda dan tanah harapan seolah di depan mata, Kapten Eng berbicara dengan lantang di hadapan 150 pria di depannya yang masih utuh. “Apakah selama ini kalian mencari Tuhan?” tanya pria berjenggot lebat itu. Semua terdiam. Mereka bertukar pandang, seolah saling menanyakan apa maksud pemimpinnya itu. “Ketika tadi badai dan ombak besar menerjang kita, ketika usaha maksimal yang kita lakukan seolah tidak ada gunanya, kita meminta pertolongan pada kekuatan di luar kekuatan kita. Hal yang kita mintai pertolongan di saat kita tidak mampu menolong diri kita sendiri saat di tengah lautan tadi, itulah Tuhan. Dia telah menyelamatkan kita, maka berikanlah usaha terbaik kalian. Demi jutaan mata yang menatap harap pada kita, kita harus menuntaskan ikhtiar ini. Allah bersama orang-orang yang menggantungkan harapan pada-Nya,” lanjut Kapten Eng menggelegar. Seketika dada ratusan orang di hadapannya bergetar. Hasan berulang kali mengucap takbir.
Kapal berlabuh, dan kaki mereka menginjak tanah setelah hampir tiga bulan terombang-ambing di lautan. Kapten Eng langsung membagi pria yang ada menjadi beberapa tim yang menjalankan tugas yang berbeda. Pertama mereka mencari sumber air tawar. Setelah masuk cukup jauh ke dalam hutan, akhirnya sumber air ditemukan. Masing-masing tim langsung bergerak. Ada yang melakukan penggalian, penebangan hutan, mencari makanan, mendirikan tenda, dan semua pekerjaan yang telah ditentukan sang pemimpin.
“Beri aku beberapa pria untuk mendekati pantai, Kapten! Biar kami membuat tambak untuk membudidayakan udang, lopster, dan ikan yang akan kami cari di laut,” ucap Hasan. Kapten Eng tersenyum, ia sangat setuju dengan ide Hasan.
Bersama lembut angin laut dan lambai dedaunan hutan, waktu mengalir begitu saja. Tanah Harapan telah mereka sulap menjadi ladang kehidupan. Desain perkotaan telah mereka buat, dan pembangunan terus berjalan. Kapten Eng yang sempat beberapa kali jatuh sakit mewakilkan pekerjaannya pada Hasan yang ia anggap paling mampu di antara yang lain. Hanya sayang, terjangan badai yang mengombang-ambingkan mereka di lautan membuat mereka kesulitan untuk menemukan jalur menuju Kota Induk untuk menjemput masyarakat di sana. Beberapa pria yang pakar melaut telah dikirim untuk mencari kota yang sudah mati itu, hanya saja belum juga terdeteksi. Kota yang pernah berjaya itu seolah raib.
Di Tanah Harapan, Hasan begitu rindu pada Refita. Ia belum genap 5 bulan menikahi perempuan yang amat dicintainya itu ketika akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan ia meninggalkannya saat masih hamil muda demi kebaikan orang banyak. Demi masa depan indah yang ingin dirajutnya bersama isteri yang begitu ia cinta. Setiap malam, bayang suara khas Refita saat membaca al-quran terus terngiang. Mendobrak pintu hatinya dan memasuki ruang di mana rindu bersemayam.
“Kamu rindu padanya, San?” Suara Kapten Eng mengalun pelan.
“Sangat rindu, Kapten.”
“Sama. Aku juga rindu pada isteri dan anak-anakku.” Kapten Eng menghela nafas. “Apa kamu menyesal ikut menyeberang ke Tanah Harapan ini, Nak?” lanjut Kapten. Hasan menatap wajah pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu. Matanya berkaca-kaca. Ada kilau yang berkilat-kilat di mata Kapten Eng. Hasan tahu, bukan hanya ia yang rindu, tapi semua, Kapten Eng dan ratusan pria yang ada di tanah itu, sedang didera perasaan yang aneh.
“Perpisahan itu pasti terjadi, San. Kapan pun itu, kebersamaan di dunia yang fana ini pasti berakhir. Entah itu karena keadaan seperti yang kita alami ini, atau yang jauh lebih pasti karena ajal. Di sana, San. Di tanah yang dijanjikan Tuhan sebagai pusat keindahan, baru kita akan merasakan keabadian dari sebuah kebersamaan. Hanya tinggal kita perankan sebaik mungkin apa yang sudah diamanahkan pada kita di dunia ini, siapa tahu kita mendapat hadiah surga.”
Hasan tak henti menatap pria di sebelahnya itu. Ia benar-benar mengaguminya.
***
Hasan bersama ratusan pria yang lain tetap setia menanti tiang-tiang layar menyembul dari tengah laut sana. Memboyong Refita dan jutaan orang lainnya dalam ratusan kapal besar. Surat yang dibawa merpati telah mengirim kabar tentang sudah ditemukannya Kota Induk. Kota mati itu akhirnya dapat ditemukan setelah pencarian yang memakan waktu selama tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu pula Hasan memendam rindunya.
Azan ashar berkumandang. Jiwa-jiwa dalam penatian itu beranjak dari duduk panjangnya menuju tempat pengaduan. Di Masjid yang telah mereka dirikan sujud mereka terasa lebih indah hari ini. Karena sebentar lagi rindu mereka akan terbayarkan. Usai sholat mereka lebih hati-hati saat berdoa. Tak ingin membuat Tuhan tersinggung dan membatalkan perjumpaan indah yang bertahun mereka nantikan. Mereka tulus dalam rengek pinta yang lembut. Dalam puji yang berharap terbalas indah.
Tiang layar itu benar-benar menyembul, dan terlihat lebih gagah dari biasanya. Meski terasa lebih lambat jalannya, namun akhirnya kapal-kapal itu menepi juga. Pelabuhan sekejap berubah jadi lautan manusia. Menjelma menjadi padang haru dalam iringan lagu teromanrtis sejagad.
Hasan berlari, mengamati satu per satu penumpang yang turun. Beranjak dari satu kapal ke kapal lainnya. Tapi wajah Refita belum juga terjamah matanya. Hingga matahari menyisakan cahaya jingga di gerbang malam, tapi ia belum juga menemukan belahan jiwanya itu.
“San, kita sholat magrib dulu, yuk!” ajak Kapten Eng.
“Tapi aku belum menemukan isteriku, Kapten?”
“Lebih penting mana, Allah atau isterimu?”
Hasan terdiam. Lalu dengan tubuh lesu mengikuti langkah Kapten menuju masjid. Seusai sholat Kapten Eng memperkenalkan Hasan pada isteri dan anak-anaknya. Isteri Kapten tersenyum begitu ramah.
“Kamu yang ikhlas, ya, San. Insyaallah isterimu ada di tempat yang lebih baik saat ini,” ucap isteri Kapten Eng. Hasan tidak paham. Tapi tiba-tiba dadanya terasa sesak.
“Ada apa dengan isteriku, Bu? Di mana dia?”
Mata perempuan setengah baya itu berkaca-kaca. Hati Hasan tambah kacau dibuatnya.
“Isterimu insyaallah syahid. Ia meninggal saat melahirkan anakmu. Anakmu juga meninggal bersamanya,” terang isteri Kapten dengan sangat hati-hati. Hasan tertegun. Tubuhnya terasa bergetar demi mendengar kabar itu. Otot-otot di kakinya terasa lepas semua. Ia ingin jatuh. Ia tidak kuat lagi menopang tubuh yang telah dicekam rasa rindu yang menyaraf. Rindu yang ternyata tidak mampu ia raih. Refita telah tiada. Lalu apa yang ia nanti sampai saat ini? Ia benar-benar tidak kuat. Dunia tiba-tiba tampak begitu gelap.
Angin dan dedaunan bermesraan bersama malam. Rembulan di langit sana bersinar lebih terang dari biasanya. Suasana alam yang indah itu, terasa hambar begitu Hasan membuka mata dan ingat sepenuhnya dengan apa yang ia alami.
Kapten Eng mendekatinya. Mengusap rambut tebalnya dengan penuh kasih. Pria 52 tahun itu dapat merasakan penderitaan batin yang dialami Hasan. Ia merasa getir-getir itu merambat ke hatinya juga.
“San, isteriku bilang, jika kamu sudah siuman aku disuruh menyampaikan pesan dari isterimu.” Kapten membuka pembicaraan dengan lembut. Hasan tergeragap. Ia penasaran dengan pesan dari isterinya. Seolah ada harapan yang bisa ia sentuh.
“Isterimu berpesan bahwa ia menantimu di tempat terindah yang Allah janjikan. Ia akan terus merindukanmu.”
“Sungguh, Kapten?”
Kapten Eng mengangguk. “Kalau sudah ajalnya, di Kota Induk maupun di Tanah Harapan sama saja. Kita pasti akan kembali pada-Nya. Karena tujuan kita hidup bukan untuk sekedar hidup, tapi untuk mati. Dan tujuan kita mati bukan untuk sekedar mati, tapi untuk menuju kehidupan yang sebenarnya.”
Hasan mengangguk.
“Bagaimana pendapatmu tentang Refita?”
“Dia perempuan soleha, Kapten. Dia isteri yang luar biasa.”
“Dia meninggal dalam keadaan mulia, San. Insyaallah ia benar-benar menunggumu di tempat terindah sana.”
Hasan tersenyum. Hatinya terasa lebih sejuk. Pikirannya menjadi tenang seketika. Ia berjanji akan menuntaskan amanahnya di dunia ini. Melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang Muslim sejati. Untuk sebuah pertemuan agung. Pertemuan dengan-Nya dan dengan Refita di tempat yang dijanjikan Tuhan. Untuk sebuah penuntasan rindu di tempat terbaik, ia siap untuk memperpanjang masa rindu di ruang terindah dalam hatinya. Rasa-rasanya, rindu menjadi suatu anugerah yang indah dari sebuah perpisahan.
Subscribe to:
Comments (Atom)