Friday, November 10, 2017

Memasuki Dunia Dongeng

Kehidupan adalah hal paling rumit yang pernah kutemui, namun juga merupakan hal paling sederhana yang pernah ada. Hidup ini terlihat sederhana saat tanpa malu-malu nasib baik bergantian mendatangiku, menghantarkanku pada kebahagiaan yang terancam basi. Tapi, saat kakiku tiba-tiba terperosok pada satu hole yang awalnya tak pernah kutakuti, semua menjadi lain. Hal sekecil apapun akan terasa sulit.
Hingga di satu titik kehidupan, saat tiba-tiba air dan api berdamai, angin selalu senandungkan puisi-puisi indah, kambing berhenti mengembik, dan di lorong dunia sana cinta menjadi cahaya, aku menemukannya. Menemukan sesosok hawa yang tepat di sudut senyumnya aku merasa dapat melihat sisi damai dari dunia ini. Dia bukan perempuan berjilbab besar seperti yang kukagumi selama ini, ia selalu membiarkan rambut hitamnya berjuntai begitu saja.
“Kenapa?”
“Aku belum siap.”
“Tapi, bukankah berjilbab itu kewajiban bagi seorang muslimah?”
“Aku tahu. Tapi hatiku belum memintanya. Mungkin ini bagian dari takdir.”
Selalu itu yang ia ucap setiap kali aku menanyainya.
Di luar itu, ia adalah air bening yang terlompat dari ketinggian yang menakjubkan. Ia indah dan memberi kesejukan. Jika ia angin, maka ia adalah angin yang berhembus pelan saat matahari tak muncul di siang hari. Jika ia prajurit, maka ia adalah prajurit yang bertarung dengan dada yang dipenuhi oleh cinta. Ia perempuan yang penuh kasih, tuturnya lembut, sangat menghormati laki-laki. Ia terlahir dengan membawa nama yang anggun, Puteri.
Ia adalah temanku, sosok yang baik, penulis puisi, penulis cerita, perempuan ekspresif yang benar-benar mencerahkan dunia yang sendu ini- setidaknya- duniaku. Ia sering mengisahkan tentang legenda Gadis Bening dari lembah Leubor. Gadis yang menolak untuk jatuh cinta pada lelaki manapun. Ia memilih sendiri, hingga kehidupan seolah membencinya.
“Semua ada alasannya. Seperti kesendirian yang dipilih oleh si Gadis Bening. Ia pasti punya alasan kuat kenapa memilih kesendirian sebagai jalan hidupnya.”
“Mungkin ia pernah disakiti lelaki,” tebakku. Dengan gerak pelan Puteri menghadapkan wajahnya ke arahku. Alisnya terangkat ke atas.
“Itu kisah konvensional, Kak. Puteri Bening lain.”
“Apa Gadis Bening punya agama?” tanyaku. Tiba-tiba aku merasa tolol sekali telah mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Seperti biasa, Puteri hanya tersenyum.
“Kenapa kamu menyukai puisi?” Kucoba untuk membuat tema baru.
“Karena aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya. Puisi adalah sebuah penemuan yang mungkin akan berusia jauh lebih lama dari dunia ini. Ia adalah hal hebat yang membuatku terayun pada kehidupan yang lebih bijak, yang damai.”
“Apa Gadis Bening juga menyukai puisi?”
Perempuan berwajah cerah itu tersenyum, ada gurat-gurat geli di ujung bibirnya.
“Dia bahkan menghabiskan hari untuk menulis puisi.”
“Jika boleh kutebak, dulu banyak sekali pria yang datang melamar Gadis Bening. Tapi sayangnya, tidak ada satu pun dari pria-pria itu yang menyukai puisi, apalagi membuatnya. Jadi, kesimpulannya, jika saja waktu itu aku hidup sezaman dengan Gadis Bening, maka kemungkinan besar akulah pria yang akan mendapatkannya.”
“Kenapa begitu? Kamu suka puisi?”
“Ya. Aku bukan hanya menyukai puisi, tapi akulah puisi itu.”
“Hahaha. Kamu sudah masuk ke dunia dongeng, Kak.”
“Bukan aku, tapi kita.”
“Kita? Boleh juga.”

Puisi:Bukan Itu yang Kumaksud Cinta



Sekalimat manis yang kau riuhkan di lembar-lembar telinga itu
Yang tempo hari mengubah nestapa umat pada binar harapan baru
Menjejalkan bayangan surga pada dunia dalam liku-liku jalanan yang mulus, padi-padi gemulai, sungai tembus pandang, buah berkelimpahan, dan lain-lain penyakit yang terurusi
Tapi bukan itu yang kumaksud cinta

Sebuah kemesraan yang dibuat-buat
Yang kau tampakkan hingga pada tatapan kosong nan jauh di pelosok sana
Kau mengira mereka tak tahu sandiwaramu
Mereka tahu, namun tak miliki banyak pilihan
Kecuali berpura-pura mengangkat caping untukmu
Lalu kasihmu yang bias itu menjamur basi
Dan bukan itu yang kumaksud cinta

Sebenarnya apa yang kau maksud cinta?

Sungguh madu tanyamu itu
Jika boleh menggambar cinta pada permadani kemanusiaan
Maka yang kau lihat adalah seorang Ibu yang rela tak makan asal anak-anaknya tersuapi meski dengan sepotong singkong rebus
Seorang Ayah akan tampak pada tatapmu bagai seonggok kayu mati di tengah keluarganya yang hijau
Cinta akan maujud dalam sebuah lukisan pengorbanan dan pemuliaan pada jiwa-jiwa yang dicinta
Hingga esok akan terbaca matamu seorang raja terlihat paling sederhana di tengah-tengah rakyatnya
Itu yang kumaksud cinta

Kau tak perlu banyak berkata cinta, mengurai-urai kasih pada setiap angin yang lewat
Lalu dalam hitungan jari semuanya menjadi palsu
Kau cukup berdiri di atas kakimu, berjalan pada jalurmu, berkata pada batas kewajaran
Namun saat kau temui tanggungan pada jiwa-jiwa yang dipertanggungkan padamu, hiduplah di tangga beban yang lebih berat darinya dengan mengambil beban-bebannya
Kemudian berlalulah dan jangan biarkan angin tahu
Itu yang kumaksud cinta


Bukan


Rukman sudah berjanji akan menemuinya di bawah pohon beringin belakang rumah. Sedikit aneh memang, seorang lelaki yang serumah dengannya meminta bertemu di tempat yang tidak seharusnya. Padahal mereka hanya tinggal berdua sebagai sepasang kekasih, kenapa tak bertemu di rumah saja? Kalau misal ada hal rahasia yang ingin diutarakan, tak ada juga yang akan mendengar.
Ia masih menunggu di bawah pohon beringin yang diperjanjikan Rukman. Setengah lima sore nanti. Kalimat terakhir Rukman pagi tadi sebelum berangkat kerja sejenak berkelebat di ingatannya. Ia mencoba memastikan bahwa ia sudah tegak di bawah beringin sejak pukul empat tadi, membawa serta kandungannya yang sudah menginjak bulan ketujuh. Namun, hingga langit mulai meredup dan warna gelap mulai merambah pandangan, lelaki yang teramat dicintainya itu belum juga muncul.
Di tengah gelisah, sebayang manusia terpontal-pontal berlari kearahnya. Ia menoleh, mengamati perempuan bertudung yang semakin dekat jaraknya. Setelah dekat, wajah ayu perempuan yang nampak tergesa-gesa itu mampu dikenalinya, ia Uzi, adik kandungnya sendiri.
“Mas Rukman mana, Mbak?”
“Tumben kamu tidak teriak-teriak datang ke sini?” Perempuan hamil itu balik bertanya. Dan memang pertanyaanlah yang bisa menghindarkannya dari pertanyaan adiknya yang ia tak tahu jawabannya.
“Takut orang-orang tahu aku ke sini. Mas Rukman mana?” Tampak ekspresi misterius dari wajah Uzi.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu. “ Perempuan yang tengah menanti suminya itu sekejap diguyur gundah. Ia merasa pandangannya tak hanya mengeja remangnya sore, tapi gelap. Belum lagi perutnya yang mendadak mulas. Ia kesakitan dan sejurus kemudian ambruk di tanah tanpa sempat ditangkap oleh Uzi.
***
Namanya Ammara, biasanya dipanggil Am. Ia bersedia dipersunting Rukman sekitar delapan bulan yang lalu. Mereka menetap di rumah hasil jerih payah Rukman semasa lajang, dan menjalani hidup sederhana yang wajar dan bahagia. Am tipikal wanita yang dapat dikata penyabar, begitu pula dengan suaminya. Pertemuan mereka bukan sekedar saling melengkapi, tapi lebih pada saling menguatkan karakter. Penyabar bukan berarti Am tak pernah merajuk. Ia pernah semalaman tak mau diajak bicara karena cemburu pada suaminya yang suatu sore terlihat berbincang akrab dengan ibu-ibu muda tetangganya. Meski kemudian ia luluh oleh ucap maaf yang diramu mesra oleh Rukman.
“Berbincang tak dapat diindikasi miliki unsur-unsur perselingkuhan, kan?”
“Mungkin.”
“Lagi pula untuk apa menghadirkan banyak wanita, kalau denganmu saja aku sudah kerepotan.”
“Apa katamu, kerepotan?”
“Iya, repot rasanya meredam cinta yang terus meluap-luap, dan rindu yang tidak berkesudahan.” Rayu Rukman dengan lembut dan bersungguh-sungguh. Ammira pun tersipu, luluh seketika rasa kesalnya.
Hanya saja, sekitar tiga bulan yang lalu kebahagiaan mereka mulai terusik. Ikhwal pertama karena kedua orang tua Rukman mendadak dikabarkan meninggal. Kedua, kakak sulung Rukman mulai membicarakan harta warisan dengan cara yang kurang santun. Soal meninggalnya orang tua, tentu saja lelaki sederhana itu sangat terpukul, namun ia tidak mau berlebih-lebih dalam berduka. Cepat-cepat diingatnya sebuah kalimat yang tidak dapat disangkal oleh siapapun, ‘setiap yang bernyawa akan merasai mati’. Akan tetapi, soal warisan ia sedikit gusar.
Suatu petang, Marun berkunjung ke rumah Rukman. Dibawanya serta kedua adiknya, Narmi yang duduk di kelas 3 SMA dan Naina yang baru masuk SMP. Mereka memang empat bersaudara, Marun sendiri sebagai kakak tertua dalam bersaudara itu.
“Aku kan anak tertua, kebutuhanku paling banyak. Jadi, setengah untukku, setengahnya lagi untuk kalian bertiga.” Simpul Marun tanpa sungkan sedikitpun.
“Apa tidak lebih baik kita serahkan pembagiannya pada kyai saja, Mas?”
“Kyai bisanya hanya teori agama, tidak tahu keadaan lapangan.”
“Tapi pembagian warisan itu sudah diatur oleh Tuhan, Mas, porsi dan ketentuan-ketentuannya. Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita.”
“Terserah, Man! Aku kesini bukan untuk berdebat denganmu. Aku hanya meminta persetujuanmu saja atas pendapatku tadi. Jangan kau bawa-bawa Tuhan dalam urusan keluarga kita!” Marun melengos kesal. Rukman yang berpembawaan tenang, jadi sedikit gusar saat Tuhan tidak boleh dibawa-bawa dalam urusan keluarga. Namun, ia tidak berucap apa-apa.
“Hidupmu lebih mapan dariku, Man. Kau tidak perlu berkelit dengan usulanku tadi. Kecuali kalau kau sudah tidak menghargaiku lagi sebagai Mas-mu.” Marun beranjak dari duduknya. Bergegas meninggalkan rumah meski Rukman telah berusaha mencegahnya. Watak Marun yang keras dan mudah tersinggung memang sulit untuk mengakhiri sebuah dialog tanpa masalah. Narmi dan Naina hanya merunduk diam sejak pertama mereka datang, sedangkan Ammira mengikuti percakapan yang berakhir menegang itu dari dalam kamarnya.
Ammira sudah menganjurkan Rukman untuk mengikuti saja kemauan kakaknya. Bagi Am, harta tidaklah terlalu penting. Lagi pula penghasilan Rukman sudah dirasa mencukupi oleh Am. Namun, masalah utamanya bukan di situ.
“Aku hanya tidak ingin mendurhakai Tuhan dengan mengabaikan aturan-aturan yang telah dibuat-Nya.”
“Bagaimana jika kau temui Mas Marun, lalu bilang padanya bahwa pembagian harta waris harus dilakukan berdasarkan aturan agama. Namun, janjikan bahwa bagian Mas Rukman akan diserahkan semuanya kepada Mas Marun.”
“Bagus juga usulmu itu. Besok akan kutemui dia.”
Am mencoba menebak-nebak mengapa ia dikerubuti banyak orang di kamarnya. Hingga ia menyadari penuh saat-saat ia menanti Rukman dan berakhir pingsan. Uzi dengan kasih yang tulus menyodorkan segelas air putih padanya. Namun belum tuntas Am meminumnya, ia seketika terperanjat saat teringat suaminya, Rukman.
“Mas Rukman sudah pulang?”
Am menatap bingung saat tak ada satupun orang yang menjawab pertanyaannya. Padahal ada enam perempuan di dalam kamar, termasuk ibu kandungnya.
“Tolong panggilkan Mas Rukman, Zi!”
Uzi yang disuruh justru menoleh pada ibunya. Perempuan berwajah teduh itu pun mendekat pada anaknya yang tampak panik.
“Dua hari kamu pingsan, Am,” lirih ibunya. Am tersenyum kecut tidak percaya. Kepalanya menggeleng-geleng. Diusap ibunya wajah Am yang sayu karena terlalu lama tertidur.
“Mas-mu sudah tidak ada, Am.”
“Mas Rukman?” Otot wajah Am menegang, namun tatapannya semakin pucat. Dadanya seperti meledak dan berhamburan seluruh hatinya. Cintanya, ketulusannya, pengabdiannya, dan kesetiaannya pada Rukman sekejap menjadi lorong hitam yang memenuhi rongga pandangnya. Tidak ada yang tersisa dalam tatapan matanya kecuali detik-detik yang suram, masa depan yang tidak menarik lagi.
Ibu Am tetap tenang, ia menyadari akan susunan kalimat yang ia sampikan kurang tepat.
“Mas Marun maksud Ibu, bukan Rukman.”
***
Am telah pulih, kandungannya pun dalam keadaan yang baik seperti saat-saat sebelumnya. Dan ia, perempuan baik hati itu tidak mau sedikitpun membuang waktunya tanpa mencari Rukman, suaminya. Saat makan saja ia masih sempat berulang kali menghubungi ponsel suaminya yang memang tidak aktif sejak ia dinyatakan menghilang.
Marun telah tiada. Berdasarkan kabar yang didengar Am ia meninggal dengan keadaan yang cukup tragis. Di dada kanannya tertinggal dua bekas tusukan pisau, sedangkan punggungnya tertusuk satu. Polisi menduga pelaku pembunuhan terhadap Marun adalah Rukman. Dengan segala barang bukti dan saksi yang ada, sangkaan polisi sangatlah tepat. Oleh karenanya Rukman didaulat sebagai buronan.
Am sendiri tidak peduli apakah pelakunya Rukman atau bukan. Ia hanya ingin bertemu kembali dengan suaminya itu dan menanyakan segala hal yang ingin ia tahu. Terlalu banyak kejanggalan bagi Am. Menurutnya hal yang paling janggal adalah ketika semua hal sangat meyakinkan bahwa Rukman adalah pelaku pembunuhan. Rukman membunuh orang merupakan kenyataan yang sulit dirumuskan. Sedangkan jika memang benar Rukman melakukannya, atas dasar apa ia berbuat demikian padahal ia telah menyepakati usul dari Am.
***
Am menatap hidup dengan caranya sendiri. Ia memang melihat jalanan panjang yang lesu dan suram tanpa Rukman, namun ia tidak memandang di jalanan panjang itu. Ia menerobos jauh pada hal-hal yang tidak dapat dilihat kecuali oleh dirinya sendiri. Dan ia bisa melihat sudut lain di sana. Menemui Rukman di tengah taman dengan sekeliling dipenuhi warna bunga. Meski nyatanya hingga kandungannya menjelma menjadi sesosok gadis remaja Rukman tak pernah kembali. Empat belas tahun sudah perkara warisan, janji bertemu, dan tragedi pebunuhan itu tetap menjadi teka-teki yang belum jua terpecahkan.

Nol

“Kalau bukan karena jasamu pada perusahaan ini, sudah kujebloskan kau ke penjara.” Lelaki itu masih saja merutukiku dengan amarahnya. Namun, kalimatnya barusan membuatku tahu ada semacam belas kasihan yang ia simpan untukku. Ia masih seperti yang kukenal pertama kali. Selalu menjadikan masalah sebuah hal yang sangat rumit, lalu mengakhirinya dengan solusi yang tidak masuk akal. Harusnya dengan segala perbuatan culasku, ia pantas memanggangku di atas perapian. Atau mencincangku sehabis-habisnya. Namun, ia terlalu pemaaf. Pantas banyak orang yang menaruh kagum padanya. Memandang ia sebagai atasan yang memang selayaknya di atas. Sedangkan bagiku ia hanya sebuah objek dari sekian objek yang kujadikan tempat untuk memuaskan seluruh ambisiku.
Aku hidup di belantara kegelapan ini sejak umurku masih belia. Menggabungkan diri pada komplotan yang diperkenalkan oleh teman sekelasku, Hery. Hery lebih dulu terjerumus dalam lembah masalah, lalu mengajakku bersamanya sampai kami dewasa. Kami adalah sekelompok orang yang memilih menjadi penipu agar dapat menikmati hidup di dunia dengan cara kami sendiri. Pekerjaan ini kami anggap sebagai sebuah lakon drama yang paling serasi untuk kami perankan. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, memberi sedikit imbalan pada pegawai siluman untuk mendapatkan banyak identitas.
Memiliki banyak identitas membuatku hampir tidak mengenali diriku sendiri. Bahkan atas perbuatan jahat yang aku lakukan, rasa-rasanya bukan aku yang melakukannya. Aku hidup begitu saja, bekerja untuk tim dan sedikitpun tak pernah berpikir akan kematian. Kematian adalah hal yang absurd karena aku tidak pernah merasa dilahirkan. Aku ada pada raga yang hidup, tapi sudah tidak ada sejak awal. Aku tidak akan mati. Tidak.
Kakiku melangkah meninggalkan sebuah perusahaan megah, meninggalkan Arham yang hampir dua jam penuh menceramahiku. Hanya sayangnya Ham tidak tahu aku yang sebenarnya, yang sudah terbiasa dengan makian sejak kecil. Ham hanya mengenalku sebagai pemuda sebayanya yang penurut dan bekerja sangat cekatan. Menjadikan popularitasnya melambung di mata para memegang saham. Segala kebusukanku ia tahu baru-baru ini. Dan dari cara bicaranya, ia tidak benar-benar menganggapnya sebagai sebuah kenyataan.
Aku terus melangkah dalam keadaan kosong. Aku terbiasa dengan masalah, namun tidak terbiasa dengan yang kurasakan saat ini. Aku merasa ada yang hilang dari diriku.
Sudah puluhan perusahaan kuhabisi keuangannya dengan waktu yang tidak lama. Aku selalu masuk sebagai karyawan baru yang kemudian bekerja dengan sangat giat untuk mendapatkan perhatian. Dengan penguasaan teknologi yang baik serta bakat manajemen yang kuasah sejak bergabung dengan komplotan penipu, menarik perhatian atasan adalah keahlianku. Hery pernah berpesan padaku,”Pandai-pandailah bicara, penuhi kepalamu dengan kosakata yang banyak, agar mudah kau mempengaruhi orang dengan kalimat yang tepat. Orang bodoh yang pandai bicara akan mudah dipercaya daripada orang yang jenius tapi gagu. Saranku, jadilah kau orang yang jenius yang pandai bicara.” Pesan Hery benar-benar kuamalkan untuk menguatkan posisiku sebagai seorang penipu yang cemerlang.
Satu perusahaan tidak lebih dari satu tahun setengah untuk dikeruk keuangannya. Jelas ini bukan jerih payahku sendiri, melainkan karena kerja tim yang solid dan profesional. Karena kerja tim yang begitu tersistem dalam mata rantai yang mengagumkan, kami nyaris tidak pernah bermasalah dengan hukum yang berat. Kami seperti sungai yang mengalir, mudah saja bagi kami melewati batu-batu.
Tapi ...
Semua menjadi berubah saat aku bekerja pada Arham dan berusaha untuk mengelabuinya seperti yang lain. Ham berbeda. Aku menghabiskan waktu tiga tahun lebih untuk mengakhiri aksi di perusahaan yang Ham pimpin. Dan aku tidak dapat mengakhirinya. Ham sendirilah yang kemudian mengakhirinya dengan membongkar semua jejak-jejak kejahatanku di perusahaan yang dipimpinnya. Aksiku tamat. Aku adalah maling yang tertangkap yang kemudian dikasihani.
***
Hery sudah menungguku saat aku memasuki rumah. Aku semakin merasa lelah ketika mendapatinya duduk santai sambil mengunyah sesuatu. Hery akan mencercaku.
“Kau memang pandai bermain kata-kata.”
“Apa masalahmu?”
Tampang bersih Hery menghadap lurus kepadaku. Tidak hanya ucapannya yang sering menghakimi, tapi juga tatapannya.
“Rayuan apa yang kau pilih sampai-sampai bosmu tidak menjebloskanmu ke penjara?” Hery memandang remeh, tapi aku tahu ia sedang penasaran.
“Seperti yang kau ajarkan.” Kujawab malas. Kulemparkan tas di meja dan aku duduk tidak jauh darinya.
“Kalau kau bisa membuatnya tidak memenjarakanmu, harusnya kau juga bisa menguras keuangan perusahaannya jauh-jauh hari. Baru kali ini kerjamu lamban.”
“Semua manusia memiliki saat-saat sialnya.”
“Diam!” Suara Hery melengking. Lelaki berjenggot sedang itu memang pernah membentakku, tapi tidak pernah kudengar sekeras ini. Wajah temanku sejak kecil itu memerah dan ia melanjutkan ucapannya,”Sejak kapan kau memiliki keyakininan semacam itu, hah? Tidak ada sial di dunia ini. Yang ada adalah kita gagal karena kita ceroboh dan lalai.”
“Oh, atau jangan-jangan kau ini sebenarnya gay dan terjebak hubungan asmara dengan bosmu itu.”
Rasanya kecut mendengar Hery mulai tidak rasional dan berbelit-belit dalam permasalahan. Dia benar-benar ingin melucutiku hingga habis, menyindirku dengan hal yang tidak mungkin.
“Aku yang gagal, Her. Harusnya aku yang gila, bukan kau.”
“Kau lupa kalau kita ini tim? Gagalmu adalah kegagalan kelompok. Tapi sebenarnya kita tidak perlu gagal jika kau ikut sistem yang kita buat, rencana yang kita bangun. Kau mengulur-ngulur waktu. Kepiawaianmu dalam bicara bukan untuk mengelabui lawan, tapi untuk merusak sistem kita sendiri.” Hery kehilangan kesabarannya. Aku semakin kehilangan sesuatu yang kurasa ada dalam diriku selama ini. Aku kehilangan rasa yang membuatku tidak mengenal belas kasihan. Justru dalam keadaan serumit ini aku merasa seperti pertama kali hidup dan mendapati diriku sendiri. Dan sekejap membayang kematian.
“Kau bukan orang bodoh, Her. Kau tahu apa yang terjadi. Tidak perlu berbelit-belit.”
“Yang terjadi adalah kau berlagak seperti manusia. Bagimu Ham tidak selayaknya menjadi korban seperti yang lainnya. Dan coba kutebak, alasanmu pasti karena Ham sangat baik padamu, baik yang tidak pura-pura, baik yang tidak karena memanfaatkan kehebatanmu semata. Benar, kan?” Hery menahan dirinya. “Jawab!” lanjutnya dengan suara yang begitu mengagetkan.
“Dia satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti robot atau hewan peliharaan.”
Aku beranjak dari duduk. Kuangkat kembali kakiku meninggalkan rumah.
***
Kau tahu, Al-Khawarizmi pernah menemukan sesuatu yang sangat hebat, angka nol, kawan. Nol tidak saja memudahkan seseorang dalam perhitungan, tapi bagiku nol adalah sebuah titik penyadaran bahwa seperti itulah kita pertama kali diciptakan. Saat lahir kita masih nol. Kita tidak tahu kalau saat itu kita lahir, kita melihat namun tidak paham dengan apa yang kita lihat. Kita belum dibebani oleh dosa-dosa atas segala kesalahan. Alangkah baiknya bila nanti saat kembali pada pencipta kita berulang menjadi nol. Berada pada titik di mana kita tidak memiliki apa-apa kecuali takdir.
Suatu hari aku berpikir begini, kawan. Setiap dari kita tidak ada yang tidak pernah berbuat kesalahan, artinya setiap dari kita pasti memiliki dosa. Hanya saja, setiap dosa itu memiliki dendanya masing-masing, yang apabila kita bayar atau laksanakan dendanya, maka tertebuslah dosa-dosa kita. Intinya, Sang Pencipta kehidupan ini menghendaki bahwa setiap manusia yang Dia ciptakan akan kembali pada-Nya dalam keadaan nol. Ini hebat. Nol dapat berarti juga titik equilibrium, posisi keseimbangan. Dan untuk berada pada keseimbangan itu, maka kita harus membuat berat dosa dan pahala dalam keadaan setara. Hanya saja, masalahnya, kita tidak tahu kapan keadaan setara itu tercapai. Jelas karena malaikat tidak pernah menunjukkan grafik berat dosa dan pahala kita. Maka, kesimpulannya, kita perlu membuat spekulasi dengan logika yang nyata. Apabila kita terus-menerus berbuat dosa dan terlalu sedikit berbuat baik, maka titik equilibrium menjadi hal yang tidak logis untuk kita capai. Maka, kita buat seolah seimbang. Ketika kita sadar banyak berbuat dosa, maka kita juga harus memperbanyak berbuat baik. Angka nol, titik equilibrium menjadi hal yang sangat mungkin kita dapatkan. Bagaimana menurutmu?
Celoteh Arham padaku saat minum kopi di tempat di mana aku duduk sekarang seketika mencuat. Tempat ini menjadi saksi di mana untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku adalah manusia. Angka nol yang dijelaskan Ham membawaku pada sebuah kenyataan bahwa aku akan mati. Nol juga yang akhirnya membuatku kembali merasakan nurani yang menuntunku untuk tidak sampai hati merenggut kebahagiaan Ham. Nol membuatku mengalami kegagalan terbesar dalam hidupmu, gagal dalam mengemban tugas komplotan.
Keteguk dalam-dalam segelas kopi yang sengaja kupesan tanpa gula. Aku ingin menjadikan pahit ini semakin pahit.
Aku terusik dengan orang-orang yang tiba-tiba berlarian. Mereka berhambur keluar kafe seakan terjadi gempa. Hanya saja aku tidak mendengar dan merasakan apa-apa. Seseorang yang sama bingungnya denganku mencoba bertanya pada yang lain.
“Ada apa?”
“Apa kau tidak mendengar suara tembakan?” jawab yang lain.
Aku mengangkat badan dan turut mereka. Tembakan? Aku benar-benar tidak mendengar ledakan apapun.
Tubuhku beberapa kali terhuyung karena harus beradu dengan tubuh-tubuh yang lain. Aku menjadi semakin penasaran dengan sesuatu yang sekejap menjadi perhatian massa. Di kejauhan aku melihat sosok yang sangat kukenal. Hery tampak berlari-lari kecil. Tangannya terlihat menyembunyikan sesuatu.
“Ia tadi melamun. Ada suara tembakan. Tiba-tiba ia sudah tergeletak seperti ini.” Sebuah suara samar terdengar.
Aku terus merangsek di kerumunan demi mendapatkan rasa ingin tahuku. Namun, ketika mataku menemukan sela untuk mengintip sesuatu yang tergeletak di depan kafe, kesadaranku seperti dihantam hal ganjil. Tubuhku seketika dingin sekali. Tulang kaki menghilang. Otakku dirampas kegelapan. Hanya sosok yang tergelatak yang tampak di mata. Ia menatap kosong. Pelipisnya ditembus peluru yang mengoyak sebagian matanya. Ia terlihat belum benar-benar mati. Bibirnya masih bergetar hendak mengucap sesuatu yang sama dengan yang ingin kuucapkan. Aku dan dia ingin mengucap maaf, maaf pada kehidupan ini. Dan kami sama-sama tak berdaya. Aku melihat diriku sendiri sekejap sirna.

Wednesday, November 8, 2017

Patriotik Besi (Bag 1)


Patriotik Besi
Dua detik setelah anak buahnya sampaikan sebuah kabar, wajah Jaran cerah macam matahari terbit. Agar terlihat lembut dan berwibawa, agar rasa senangnya yang meledak-ledak juga tak terbaca cecunguknya, dengan suara bariton ia bersabda,”Bawa kemari! Biar kupotong tangan dan kakinya secara bersilang.”
Jaran telah menghabiskan sebagian hidupnya untuk berjuang, menyerukan slogan penghasutan yang mampu mengantongi simpati kaum jelata Desa Ngoya. “Tendang rezim pemalas!” teriaknya sepanjang hari. Didatanginya komplotan-komplotan berandal, orang-orang miskin, pemuda-pemuda labil, dan regu-regu rakyat pengangguran, untuk bersatu menuntut pemimpin Desa Ngoya –yang terlanjur mereka juluki Tuan Lumoh- untuk lengser.
“Jalan-jalan tidak selesai dibangun, penduduk kelaparan, anak-anak tak pandai membaca karena kurang gizi, kita tak punya kerja selain main catur dan menghabiskan kopi Bu Sapirah tanpa sanggup membayar. Ini salah siapa? Tentu ini kutukan atas kemalasan pemimpin desa ini, yang kerjanya membuncitkan perut dan mengganggu isteri petani.” Jaran menjadikan kedai “Boleh Ngutang” milik Bu Sapirah sebagai markas, tempat berkumpul mengampanyekan “tendang rezim pemalas”. Awal-awalnya Bu Sapirah saban hari menggerutu, namun lama-lama tersihir pula oleh retorika Jaran yang memang mempesona. Hingga kemudian berserikat dengan ibu-ibu kelas menengah lainnya untuk menyokong logistik perjuangan Jaran dan komplotannya. Tak hanya itu, suami Bu Sapirah pun turut simpati, siap mengangkat golok demi Jaran.
Perjuangan Jaran tak bisa dikata mudah. Ia pernah ditangkap aparat desa dan dimejahijaukan. Namun, Jaran justru tampil heroik di persidangan. Semacam main drama ia semakin menempati hati penduduk dengan pembelaan jitunya. “Beginilah nasibku, menguras peluh mendorong kemajuan Ngoya, tapi malah dirantai oleh kesewenang-wenangan. Mengapa juga pemimpin gusar dikritisi? Tak perlu buang-buang waktu, bangun jalan segera!” Penduduk berbondong-bondong menuntut pemebebasan Jaran, dan tak lupa memperpanjang lidah Jaran, menuntut agar jalan-jalan segera diperbaiki. Jaran lepas, sedangkan Tuan Lumoh -agar tak terus dimaki penduduk- segera bekerja keras membangun jalan. Dan saat jalan desa membaik, Jaran angkat suara lagi,”Bagaimana bisa desa miskin ini dapat membangun jalan begitu cepatnya? Pasti Lumoh dapat sumbangan dari Desa Sukong, desanya para bandit tanah itu. Jangan-jangan desa kita akan dijual pada Sukong oleh Si Lumoh. Benar-benar keterlaluan. Tendang rezim pemalas!” Penduduk pun berapi-api menyambut seruan Jaran. “Tendang ...!”
Penduduk semakin membara ingin menumbangkan Lumoh, yang dituduh tidak becus memimpin desa, yang kenyataannya memang tidak becus. Unjuk rasa menjadi hal baru yang digemari berbagai kalangan, bahkan ibu-ibu yang bisanya hanya meniupi api tungku pun turut serta pula.
Lumoh, meski pemalas dan tak becus mengurus negara, serta suka main perempuan, namun tak sampai hati jika harus menumpahkan darah rakyatnya. Ia pun menggelar diskusi rakyat, dan dalam diskusi itu suara terkuat menghendakinya lengser. Murung wajahnya mendapati kenyataan bahwa dirinya tak jauh beda dengan anjing kurapan yang tak disukai lagi oleh majikannya. Tapi bukankah dialah sang majikan itu? Maka, seolah baru terbangun dari semaput ia mendekat pada Jaran. “Kuwariskan kepemimpinan ini padamu, tapi dua puluh hektar ladang sengon milik desa ini kau administrasikan atas namaku,” bisik Lumoh di telinga Jaran. Pria tegap berkumis itu pun manggut-manggut menyetujuinya.
Jaran resmi menjadi pemimpin baru Desa Ngoya. Untuk merayakannya, Jaran memaksa seluruh penduduk, dari bayi sampai yang aki-aki, untuk pawai keliling desa. Beberapa yang menolak ditandai rumahnya, dan setelah pawai usai dijemputlah penduduk yang tak patuh itu untuk disiksa.
“Ini peringatan! Siapa tak patuh aturan desa, maka ia penghianat. Harus disiksa lalu diusir.” Seru Jaran berapi-api.
Sebagian penduduk Ngoya melongo dengan apa yang ditetapkan Jaran, tentang aturan-aturan desa yang cenderung tidak masuk akal, misalnya tentang larangan tersenyum di depan Jaran. “Muak kulihat senyum palsumu itu, penuh muslihat!” Jaran menjelma macam raja, yang sekaligus merangkap sebagai hakim, pembuat aturan mutlak, komandan pasukan, dan semuanya, semua yang bisa ia kerjakan tak seorang pun boleh mengerjakannya.
Lewat warung “Boleh Ngutang” milik Bu Sapirah, Jaran sengaja menyelundupkan minuman keras, rokok, dan berbagai jenis candu. Harapannya adalah agar penduduk Ngoya menjadi bodoh dan terbelakang. Hal itu ditambah dengan ditutupnya sekolah-sekolah di Ngoya. Anak-anak belum layak kerja, dipaksa bekerja untuk Jaran, tanpa diupah. Jaran berencana akan menobatkan dirinya sebagai pemimpin Ngoya seumur hidup, serta menjadikan keturunannya sebagai pewaris kepemimpinan itu. Maka, rakyat harus bodoh dulu agar rencanya tersebut dapat menggelinding dengan baik.
“Penindasan!” Seorang pemuda, usinya sekitar dua puluh enam tahun, merasa terbakar oleh tingkah laku Jaran. Maka, menginjak enam bulan masa kepemimpinan Jaran, pemuda berwajah tampan, tampak enerjik dan terdidik, yang bernama panjang Gatot Langit Langit itu memimpin perlawanan. Satu blok penduduk yang dilanda kecewa dinobatkannya sebagai Laskar Patriot, pasukan instan yang mencintai desanya karena terpaksa. Karena pada awalnya mereka tak memiliki alasan untuk mencintai desa, yang mereka mengerti bahwa cinta hanyalah perkara uang dan wanita. Maka, di awal masa juangnya, Gatot Langit Langit sempat menggerutu. “Mengapa Tuhan menciptakan manusia-manusia bodoh macam begini?”
Laskar Patriot mengepung Desa Ngoya dengan kekuatan tak kurang dari dua ratus manusia, yang sebagian dungu, buta uruf, berpenyakit ayan, latah, dan macam-macam kekurangan lainnya. Hanya sekitar dua puluh orang yang dapat dinyatakan sebagai pasukan yang memenuhi syarat. Setelah melakukan pengepungan selama sehari suntuk, Laskar Patriot diganyang habis oleh aparat desa bentukan Jaran. Dengan kondisi terlatih, dan jumlah yang mencapai angka seribu dua ratus, aparat desa seperti sedang panen jagung di sore hari. Orang-orang bertumbangan dengan simbahan darah, sebagian lari melenting-lenting ke sembarang arah. Gatot Langit Langit sendiri selamat setelah menceburkan diri ke sungai dan hanyut bersama lima orang lainnya.
Menyadari ketidakberdayaannya, Gatot Langit Langit mengemis pertolongan pada pemimpin Desa Sukong, Alang. Dengan dalih kemanusiaan, Alang pun siap membantu Gatot Langit Langit untuk merebut kembali desanya, dengan syarat seperempat wilayah pertanian Ngoya akan menjadi milik Sukong. Dengan satu anggukan mereka pun bersepakat untuk bersekongkol.
Alang mengirim mata-mata untuk mengamati kekuatan pasukan Ngoya, serta mencari jalur strategis untuk melakukan penyerangan. Sayangnya, tiga dari lima mata-mata yang dikirim, yang menyamar sebagai penjual kursi keliling, tertangkap oleh anak buah Jaran. Mereka pun dihadapkan pada Jaran, dan bergidik sejadi-jadinya mendengar kabar akan kekejaman pemimpin Ngoya itu.
“Seperti kataku tadi, akan kupotong bersilang kaki dan tangan mereka!” Jaran mengacungkan telunjuknya. “Buat makan ikan di kolam,” lanjutnya dengan dingin. Tiga mata-mata Alang pun pucat pasi olehnya. Terbesit di benar mereka, sekiranya mereka langsung mati saja tentu jauh lebih baik daripada berhadapan dengan kekejian Jaran.
“Ambilkan pedangku!”

*Bersambung*

Dia Berbeda

Dia berbeda. Setidaknya begitu menurutku. Tanpa diminta ia bertutur padaku dengan sebuah kalimat, yang santai dilontarkan padaku dengan nada tanya. “Mengapa kau tidak mati saja?”
Pertanyaannya memaksaku untuk memikirkannya. Mencoba mengemas kepingan hal untuk menemukan garis sambung pada pertanyaan yang meski sopan tapi menghujam itu. Aku mulai melihat matanya dalam pikiranku. Kurasa dapat dipastikan di mata itulah sebuah dunia yang berbeda ia bangun. Lain dari dunia orang-orang sewajarnya. Matanya selaras dengan apa yang pernah ia katakan padaku. “Manusia itu membangun dunianya masing-masing lewat matanya. Mereka menilai sesuatu semaunya, hanya sebatas informasi yang ia dapat.”
“Kenapa aku harus mati?” Sebuah tanya yang bodoh. Yang jelas saja membuatku semakin nampak kerdil di matanya. Ingin rasanya kutonjok sendiri diriku.
“Seseorang yang tidak mengerti untuk apa ia hidup, memang sebaiknya mati.”
Tegas ucapnya. Menghujam. Menyakitkan. Atas dasar apa perempuan macam dirinya menilai aku tidak mengerti untuk apa aku hidup?
Aku jelas tahu untuk apa aku hidup. Untuk ... untuk ... untuk apa? Hah?
Berhari lamanya aku berpikir tentang diriku. Aku tidak ubahnya orang-orang muda pada umumnya, ketakutan menghadapi kemandirian. Banyak berharap pada pemerintah membuat orang-orang semacamku menjadi kurang bertindak, terlalu sering melamun, dan akhirnya menjadi santapan penyakit kurang percaya diri. Tidak terpikirkan suatu sikap, kecuali menyalahkan orang lain, merutuki kesialan hidup, membenci diri sendiri. Lalu untuk apa aku hidup?
Dua puluh tahun lebih aku menjalani hidup, tapi pertanyaan sesederhana itu tidak juga dapat kujawab? Terlalu banyak waktu yang kubuang sia-sia dengan orang-orang yang salah, kurasa itu penyebab ketidakmengertianku akan hidup.
Aku kembali mendatangi perempuan itu. Sore ini ia seperti sore biasanya. Duduk sekenanya di emperan toko tidak jauh dari tempatku sering memesan kopi. Gamisnya masih sama, orange kumal dengan beberapa lubang menghias. Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan muda yang gila, tetapi aku tidak. Dulu aku memberinya makan atas permintaan rekanku. Di saat itulah ia berkata dengan gaya seorang nenek-nenek yang sedang menasehati cucunya,”Apa yang dari tanganmu bukanlah milikmu, ia milik orang lain yang bukan pemiliknya, ia milik yang di setiap kepemilikan adalah miliknya.” Aku tercengang waktu itu. Dan hari-hari selanjutnya mulai sering mendatanginya hanya untuk mendengar kata-kata aneh. Kadang aku menimpalinya sambil mengajaknya berbicara, kadang memilih diam saja sampai berniat untuk pergi.
“Untuk apa kau hidup?”
Kuserang ia dengan pertanyaannya sendiri. Hari ini aku berniat ingin menghujatnya. Ingin membuktikan bahwa gembel sepertinya tidak berhak berkata lancang kepadaku. Ingin kujelaskan padanya bahwa selama ini aku datang padanya agar aku bersyukur karena nasibku tidak seburuk nasibnya, meski bukan begitu sebenarnya. Ingin kutegaskan bahwa ia sama sekali tidak jauh lebih baik dariku. Ya, begitu rencanaku untuk membalas kata lancangnya yang menyuruhku mati saja karena tidak tahu untuk apa hidup.
Lagi-lagi seperti biasa, ia seolah tidak mendengarku. Namun aku sudah hafal benar, nanti dia akan menjawabnya.
“Aku hidup untuk mati,” lirihnya. Tidak ada kalimat lain setelah itu meski kutunggu-tunggu. Lebih lama kutunggu, sabarku menguap. Sejenak aku ingin mengumpatnya habis-habisan seperti yang telah kurencanakan. Namun sekejap otakku terpaku pada satu kata, ‘mati’. Lidahku kelu. Tetiba seperti ada kekuatan yang menarik tubuhku untuk meninggalkannya pergi.
Gontai kubawa tubuh ini. Angin jalanan yang sedari tadi khidmat menjalankan tugasnya, kini seolah meranggas mengancamku, mengisyaratkan sebuah kematian. Aku semakin menapak jauh dari perempuan itu. Semakin cepat langkahku, akalku semakin menceracau.
Hidup untuk mati?
Semua memang akan mati.
Lalu apa yang kusiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk setelah kematian?
Aku terkejut oleh suara-suara teriakan. Mataku terperangah. Sebuah bus telah meraung di depanku. Badan besarnya oleng. Jantungku melonjak. Kakiku beku. Braakk ...!

Ia Kenyamanan




Ia tinggal di langit sana
Serupa awan hatinya
Senyumnya jingga
Tatapnya adalah mentari selepas fajar

Ia adalah malam saat berbintang
Laut gemuruh dengan bias cahaya rembulan
Langkahnya serupa kafilah angin berembun
Tempiaskan sejuk di bekas-bekas jejaknya

Ia adalah kenyamanan yang kuharap menjadi rinai setelah mendung menuai purna

Saturday, July 22, 2017

Kera Lebih Hebat dari Albert Einstein

Pandangan kita terhadap suatu hal sangat ditentukan dari sudut mana kita memandang. Menurut saya, kera lebih hebat dari Albert Einstein, ‘jika dipandang dari kemampuan memanjat mohon’. Einstein memang ilmuan dunia yang kemampuannya dalam ilmu pengetahuan sangat melegenda. Hanya saja, dari perkara memanjat pohon dia pasti akan kalah hebat jika dibandingkan dengan kera. Berbeda lagi jika sudut pandangnya dirubah, yaitu dari segi berpikir misalnya. Jika dibandingkan dengan kera, dari segi berpikir Einstein akan terlihat seperti langit di atas pegunungan, kemampuannya melampaui jauh di atas kera.
Dari hal di atas, sebenarnya saya ingin menunjukkan suatu kesalahan besar dari para pelajar dalam memandang dirinya dan kesalahan guru dalam memandang muridnya.
Banyak pelajar merasa bahwa dirinya bodoh hanya karena mendapat nilai kecil pada beberapa mata pelajaran di sekolah, misalnya Matematika, Bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Keyakinan mereka bahwa mereka benar-benar bodoh diperkuat dengan peringkat kelas yang selalu berada di urutan terakhir. Keadaan tersebut akan membuat kepercayaan diri mereka menjadi redup dan akan semakin menjauh dari ilmu. Dalam hal ini siswa terjebak dalam satu sudut pandang saja, yaitu orang yang berhasil mendapat nilai baik berarti dia pintar dan yang mendapat nilai buruk berarti bodoh. Padahal, jika siswa mau memandang dari sudut yang lain, mereka akan tahu bahwa sebenarnya mereka tidak bodoh, melainkan istimewa seperti istimewanya seseorang yang selalu mendapat nilai tinggi. Kok bisa? Begini ceritanya ....
Misalnya dalam suatu kelas ada siswa A yang pandai dalam semua mata pelajaran, dan ada siswa B yang sama sekali sulit mencerna semua mata pelajaran, namun si B sangat ramah. Jika dlihat dari sudut kemampuan menguasai pelajaran, siswa A lebih hebat dari siswa B. Namun, jika dilihat dari keramahannya, siswa B lebih hebat dari siswa A. Kesimpulannya, mereka sama-sama hebat, mereka semua istimewa. Si A tidak lebih baik dari si B, si B tidak lebih buruk dari si A, mereka sama-sama baik dan sama-sama berkualitas. Dalam hal ini siswa tidak boleh buru-buru mengklaim bahwa dirinya bodoh, karena sesungguhnya ia hebat. Mungkin seseorang memang sulit mendapatkan nilai yang baik di kelas, namun perlu disadari bahwa hebat atau tidaknya seseorang, bodoh atau tidaknya seseorang, tidak seutuhnya ditentukan oleh itu. Orang yang tidak ramah juga dapat dikatakan bodoh; bodoh dalam bersosial, bodoh dalam bertatakrama. Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah cara pandang kita terkadang terlalu sempit dalam mendefinisikan ‘bodoh’ itu sendiri.
Guru juga sangat sering memandang murid dari sudut padang yang sempit, sehingga bagi mereka hanya ada dua kategori siswa, yaitu siswa pintar dan siswa bodoh. Ironisnya, guru hanya memandang dari sisi ‘kemampuan siswa dalam menguasai pelajaran’ saja. Tentu ini sangat tidak adil bagi siswa. Seperti ilustrasi di atas tadi, jika kita melihat hanya dari segi kemampuan memanjat pohon saja, maka kera akan jauh lebih hebat dari Einstein; sehingga Einstein akan terlihat bodoh di sini. Tentu hal ini adalah sebuah ketidakadilah bagi Einstein, seperti ketidakadilan guru terhadap murid-muridnya. Guru harus memperluas cara pandang. Sehingga siswa dengan keunikannya masing-masing akan terlihat pintar semua, terlihat hebat semua.
Tentu saja dalam segala hal selalu ada kendala, termasuk dalam hal merubah cara pandang yang sudah mengakar ini. Namun, kita permudah saja semuanya dengan tindakan nyata, ‘terus belajar’.


Tuesday, April 25, 2017

Dewi

Engkau bukan dewi malam
Bukan pula sepotong rembulan yang jatuh ke bumi menjelma manusia
Engkau adalah sewujud gelap dalam gelap
Karenanyalah aku hendak mencarimu

Bisa saja di sepenggal langkah yang lalu aku menjumpaimu
Tapi sayangnya aku tak benar-benar tahu engkau yang mana
Aku bisa saja menemukanmu
Hanya saja lagi-lagi belum kutahu yang benar-benar dirimu

Kau adalah dewi fajar dan senja
Dewi siang dan malam
Dewi gelap dan terang
Dewi dalam lelap dan terjagaku


Thursday, March 23, 2017

Menyetiai Ketidakpastian

Aku tak mengerti, ketika kesetiaan nyaris sirna di luar sana, ketika satu lelaki tak cukup berpasang dua perempuan, ketika cinta seolah hanya dagangan murah, aku masih saja sama; mencintai satu wanita yang tersekap dalam kesemuan. Aku lebih memilih setia pada ketidakpastiaan.
Kurasa, angin mampu mengusap hati saat kuukir namanya. Jantungku selalu ketakutan saat namanya dibawa angin merapati pendengaranku. Aku hampir saja tak miliki waktu untuk tak rindui dirinya. Dalam setiap nafasku, kurasa cinta menjelma oksigen yang terpeluk aliran darah. Seperti sungai beraliran bening yang membawa kehidupan. Ia membawaku pada muara damai yang dijajah keindahan.
Senyumnya, telah kupetik dan kutitip pada mentari, agar disampaikan pada rembulan kala gulita merapat. Di awal pertengah bulan, selalu kulihat senyum itu mengindah bersama semesta. Oh, ingin rasanya waktu membeku saat itu terjadi. Hingga mencair kembali saat purnama benar-benar sempurna.

Melebur

Waktu menerjangku dengan anggun
Melemparkan sayap matahari, mendekap dengan gulita
Memadukan damai dan ketakutan pada butir-butir hujan
Meniupkan sepoi dari penjuru mata angin

Aku telah berdiri di trilyunan titik
Menjumpai hingga jutaan warna hidup
Menggores kisah dari tiap lembaran hari
Namun, di titik manapun aku, dengan warna apapun kujalani hidup, di setiap kisah yang kugores, selalu terlukis satu nama
Meski semua berubah
Semesta berbeda
Tapi tatapku tetap sama
Tertuju pada satu titik, yang seolah tak kutemui indah bila kuberalih pandang

Kuingin seperti air bening yang mengalir, membawa cinta sebagai nafas
Menembusi masa
Dihantui kemarau
Terhuyung oleh angin
Bergumul dengan riak
Hingga pada titik yang kutuju
Cinta telah melebur dalam darahku


Lihatlah Hujan

Ada masa saat hujan menghentikan hati kita
Untuk sedikit menengadah langit
Dan menghirup aroma cinta yang terhempas dari terjangan derasnya

Lama, lama sekali
Berdiam diri dengan dada yang terlalu pengecut
Menanti keajaiban tanpa berbuat apa-apa

Berilah maaf
Pergilah
Ikut saja aliran bekas hujan yang berarak
Biar kuantar dengan tatap kekalahan

Aku akan tetap sama
Tak akan merubah warna emas menjadi abu-abu
Masih seperti langit sore
Emas

Biarlah rindu-rindu hanyut
Tergenang masa hingga melapuk
Dan hanya tinggaal sisa-sisa kenangan
Yang indahnya adanya jika kupaksa-paksa

Hujan, lihatlah hujan
Sebanyak butirnya lah jumlah rasaku
Terlalu takut kemarau
Kering dalam kehilangan

Kau

Hujan, yang tempiaskan sejuk dari sela butir-butirnya, angankan indah akan sesudut senyum di wajah malam. Terbiasa kutanya pada sunyi, mengapalah rindu merebut kalbu setiap rinai mendekap bumi? Sebanyak kubertanya, sebanyak itu pula hanyalah kosong yang mampu kurengkuh. Waktu telah melemparku pada ruang yang dapat kudengar nada-nada cinta, namun tak sebutirpun menyusupi rasaku. Semua telah tersekat, oleh satu nada yang diritmekan dawai-dawai emas.
Sepi merayu, kuatkan jerat-jeratnya tuk menyekap jiwaku. Penjarakan hidup pada penatian panjang yang melingkar, yang akan berujung bila kuberhenti, tak menanti lagi.
Sepanjang kujejaki bumi, hanyalah usap senyum anggun yang terbawa angin yang kucari. Semakin dekat, terbatas dinding baja sekalipun, masihlah taburan senyum itu menyisa di udara. Semesta tahu, bukanlah raga yang kumau, cukuplah nama dan rasa yang tertitip di jendela-jendela senja, hingga berkelebat di senyuman fajar yang kumiliki. Cukuplah itu sebagai pengharum rasa hebat yang telah habiskan terlalu banyak waktu tuk menyetiai satu mimpi, kau.

Ingin Ada

Ingin kulangkahkan hati pada ruas hidup yang tak ada engkau di sana
Namun di setiap cabang jalan yang kutempuh ada dirimu jua
Kau ada di setiap hening dan ramaiku
Bahkan kau ada di semangkuk bubur yang kupesan pagi tadi

Enyah saja dirimu
Pergilah dari pendengaranku
Dari jangkau tatapku
Dari harap menjelang tidurku
Dari syarafku agar kosong pikirku darimu

Namun berdiam dirilah pada kakimu saat ini
Izinkan aku datang setelah terjagamu
Dan putuskanlah sesukamu
Hanya saja nanti aku ingin ada untukmu