Friday, November 10, 2017

Nol

“Kalau bukan karena jasamu pada perusahaan ini, sudah kujebloskan kau ke penjara.” Lelaki itu masih saja merutukiku dengan amarahnya. Namun, kalimatnya barusan membuatku tahu ada semacam belas kasihan yang ia simpan untukku. Ia masih seperti yang kukenal pertama kali. Selalu menjadikan masalah sebuah hal yang sangat rumit, lalu mengakhirinya dengan solusi yang tidak masuk akal. Harusnya dengan segala perbuatan culasku, ia pantas memanggangku di atas perapian. Atau mencincangku sehabis-habisnya. Namun, ia terlalu pemaaf. Pantas banyak orang yang menaruh kagum padanya. Memandang ia sebagai atasan yang memang selayaknya di atas. Sedangkan bagiku ia hanya sebuah objek dari sekian objek yang kujadikan tempat untuk memuaskan seluruh ambisiku.
Aku hidup di belantara kegelapan ini sejak umurku masih belia. Menggabungkan diri pada komplotan yang diperkenalkan oleh teman sekelasku, Hery. Hery lebih dulu terjerumus dalam lembah masalah, lalu mengajakku bersamanya sampai kami dewasa. Kami adalah sekelompok orang yang memilih menjadi penipu agar dapat menikmati hidup di dunia dengan cara kami sendiri. Pekerjaan ini kami anggap sebagai sebuah lakon drama yang paling serasi untuk kami perankan. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, memberi sedikit imbalan pada pegawai siluman untuk mendapatkan banyak identitas.
Memiliki banyak identitas membuatku hampir tidak mengenali diriku sendiri. Bahkan atas perbuatan jahat yang aku lakukan, rasa-rasanya bukan aku yang melakukannya. Aku hidup begitu saja, bekerja untuk tim dan sedikitpun tak pernah berpikir akan kematian. Kematian adalah hal yang absurd karena aku tidak pernah merasa dilahirkan. Aku ada pada raga yang hidup, tapi sudah tidak ada sejak awal. Aku tidak akan mati. Tidak.
Kakiku melangkah meninggalkan sebuah perusahaan megah, meninggalkan Arham yang hampir dua jam penuh menceramahiku. Hanya sayangnya Ham tidak tahu aku yang sebenarnya, yang sudah terbiasa dengan makian sejak kecil. Ham hanya mengenalku sebagai pemuda sebayanya yang penurut dan bekerja sangat cekatan. Menjadikan popularitasnya melambung di mata para memegang saham. Segala kebusukanku ia tahu baru-baru ini. Dan dari cara bicaranya, ia tidak benar-benar menganggapnya sebagai sebuah kenyataan.
Aku terus melangkah dalam keadaan kosong. Aku terbiasa dengan masalah, namun tidak terbiasa dengan yang kurasakan saat ini. Aku merasa ada yang hilang dari diriku.
Sudah puluhan perusahaan kuhabisi keuangannya dengan waktu yang tidak lama. Aku selalu masuk sebagai karyawan baru yang kemudian bekerja dengan sangat giat untuk mendapatkan perhatian. Dengan penguasaan teknologi yang baik serta bakat manajemen yang kuasah sejak bergabung dengan komplotan penipu, menarik perhatian atasan adalah keahlianku. Hery pernah berpesan padaku,”Pandai-pandailah bicara, penuhi kepalamu dengan kosakata yang banyak, agar mudah kau mempengaruhi orang dengan kalimat yang tepat. Orang bodoh yang pandai bicara akan mudah dipercaya daripada orang yang jenius tapi gagu. Saranku, jadilah kau orang yang jenius yang pandai bicara.” Pesan Hery benar-benar kuamalkan untuk menguatkan posisiku sebagai seorang penipu yang cemerlang.
Satu perusahaan tidak lebih dari satu tahun setengah untuk dikeruk keuangannya. Jelas ini bukan jerih payahku sendiri, melainkan karena kerja tim yang solid dan profesional. Karena kerja tim yang begitu tersistem dalam mata rantai yang mengagumkan, kami nyaris tidak pernah bermasalah dengan hukum yang berat. Kami seperti sungai yang mengalir, mudah saja bagi kami melewati batu-batu.
Tapi ...
Semua menjadi berubah saat aku bekerja pada Arham dan berusaha untuk mengelabuinya seperti yang lain. Ham berbeda. Aku menghabiskan waktu tiga tahun lebih untuk mengakhiri aksi di perusahaan yang Ham pimpin. Dan aku tidak dapat mengakhirinya. Ham sendirilah yang kemudian mengakhirinya dengan membongkar semua jejak-jejak kejahatanku di perusahaan yang dipimpinnya. Aksiku tamat. Aku adalah maling yang tertangkap yang kemudian dikasihani.
***
Hery sudah menungguku saat aku memasuki rumah. Aku semakin merasa lelah ketika mendapatinya duduk santai sambil mengunyah sesuatu. Hery akan mencercaku.
“Kau memang pandai bermain kata-kata.”
“Apa masalahmu?”
Tampang bersih Hery menghadap lurus kepadaku. Tidak hanya ucapannya yang sering menghakimi, tapi juga tatapannya.
“Rayuan apa yang kau pilih sampai-sampai bosmu tidak menjebloskanmu ke penjara?” Hery memandang remeh, tapi aku tahu ia sedang penasaran.
“Seperti yang kau ajarkan.” Kujawab malas. Kulemparkan tas di meja dan aku duduk tidak jauh darinya.
“Kalau kau bisa membuatnya tidak memenjarakanmu, harusnya kau juga bisa menguras keuangan perusahaannya jauh-jauh hari. Baru kali ini kerjamu lamban.”
“Semua manusia memiliki saat-saat sialnya.”
“Diam!” Suara Hery melengking. Lelaki berjenggot sedang itu memang pernah membentakku, tapi tidak pernah kudengar sekeras ini. Wajah temanku sejak kecil itu memerah dan ia melanjutkan ucapannya,”Sejak kapan kau memiliki keyakininan semacam itu, hah? Tidak ada sial di dunia ini. Yang ada adalah kita gagal karena kita ceroboh dan lalai.”
“Oh, atau jangan-jangan kau ini sebenarnya gay dan terjebak hubungan asmara dengan bosmu itu.”
Rasanya kecut mendengar Hery mulai tidak rasional dan berbelit-belit dalam permasalahan. Dia benar-benar ingin melucutiku hingga habis, menyindirku dengan hal yang tidak mungkin.
“Aku yang gagal, Her. Harusnya aku yang gila, bukan kau.”
“Kau lupa kalau kita ini tim? Gagalmu adalah kegagalan kelompok. Tapi sebenarnya kita tidak perlu gagal jika kau ikut sistem yang kita buat, rencana yang kita bangun. Kau mengulur-ngulur waktu. Kepiawaianmu dalam bicara bukan untuk mengelabui lawan, tapi untuk merusak sistem kita sendiri.” Hery kehilangan kesabarannya. Aku semakin kehilangan sesuatu yang kurasa ada dalam diriku selama ini. Aku kehilangan rasa yang membuatku tidak mengenal belas kasihan. Justru dalam keadaan serumit ini aku merasa seperti pertama kali hidup dan mendapati diriku sendiri. Dan sekejap membayang kematian.
“Kau bukan orang bodoh, Her. Kau tahu apa yang terjadi. Tidak perlu berbelit-belit.”
“Yang terjadi adalah kau berlagak seperti manusia. Bagimu Ham tidak selayaknya menjadi korban seperti yang lainnya. Dan coba kutebak, alasanmu pasti karena Ham sangat baik padamu, baik yang tidak pura-pura, baik yang tidak karena memanfaatkan kehebatanmu semata. Benar, kan?” Hery menahan dirinya. “Jawab!” lanjutnya dengan suara yang begitu mengagetkan.
“Dia satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti robot atau hewan peliharaan.”
Aku beranjak dari duduk. Kuangkat kembali kakiku meninggalkan rumah.
***
Kau tahu, Al-Khawarizmi pernah menemukan sesuatu yang sangat hebat, angka nol, kawan. Nol tidak saja memudahkan seseorang dalam perhitungan, tapi bagiku nol adalah sebuah titik penyadaran bahwa seperti itulah kita pertama kali diciptakan. Saat lahir kita masih nol. Kita tidak tahu kalau saat itu kita lahir, kita melihat namun tidak paham dengan apa yang kita lihat. Kita belum dibebani oleh dosa-dosa atas segala kesalahan. Alangkah baiknya bila nanti saat kembali pada pencipta kita berulang menjadi nol. Berada pada titik di mana kita tidak memiliki apa-apa kecuali takdir.
Suatu hari aku berpikir begini, kawan. Setiap dari kita tidak ada yang tidak pernah berbuat kesalahan, artinya setiap dari kita pasti memiliki dosa. Hanya saja, setiap dosa itu memiliki dendanya masing-masing, yang apabila kita bayar atau laksanakan dendanya, maka tertebuslah dosa-dosa kita. Intinya, Sang Pencipta kehidupan ini menghendaki bahwa setiap manusia yang Dia ciptakan akan kembali pada-Nya dalam keadaan nol. Ini hebat. Nol dapat berarti juga titik equilibrium, posisi keseimbangan. Dan untuk berada pada keseimbangan itu, maka kita harus membuat berat dosa dan pahala dalam keadaan setara. Hanya saja, masalahnya, kita tidak tahu kapan keadaan setara itu tercapai. Jelas karena malaikat tidak pernah menunjukkan grafik berat dosa dan pahala kita. Maka, kesimpulannya, kita perlu membuat spekulasi dengan logika yang nyata. Apabila kita terus-menerus berbuat dosa dan terlalu sedikit berbuat baik, maka titik equilibrium menjadi hal yang tidak logis untuk kita capai. Maka, kita buat seolah seimbang. Ketika kita sadar banyak berbuat dosa, maka kita juga harus memperbanyak berbuat baik. Angka nol, titik equilibrium menjadi hal yang sangat mungkin kita dapatkan. Bagaimana menurutmu?
Celoteh Arham padaku saat minum kopi di tempat di mana aku duduk sekarang seketika mencuat. Tempat ini menjadi saksi di mana untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku adalah manusia. Angka nol yang dijelaskan Ham membawaku pada sebuah kenyataan bahwa aku akan mati. Nol juga yang akhirnya membuatku kembali merasakan nurani yang menuntunku untuk tidak sampai hati merenggut kebahagiaan Ham. Nol membuatku mengalami kegagalan terbesar dalam hidupmu, gagal dalam mengemban tugas komplotan.
Keteguk dalam-dalam segelas kopi yang sengaja kupesan tanpa gula. Aku ingin menjadikan pahit ini semakin pahit.
Aku terusik dengan orang-orang yang tiba-tiba berlarian. Mereka berhambur keluar kafe seakan terjadi gempa. Hanya saja aku tidak mendengar dan merasakan apa-apa. Seseorang yang sama bingungnya denganku mencoba bertanya pada yang lain.
“Ada apa?”
“Apa kau tidak mendengar suara tembakan?” jawab yang lain.
Aku mengangkat badan dan turut mereka. Tembakan? Aku benar-benar tidak mendengar ledakan apapun.
Tubuhku beberapa kali terhuyung karena harus beradu dengan tubuh-tubuh yang lain. Aku menjadi semakin penasaran dengan sesuatu yang sekejap menjadi perhatian massa. Di kejauhan aku melihat sosok yang sangat kukenal. Hery tampak berlari-lari kecil. Tangannya terlihat menyembunyikan sesuatu.
“Ia tadi melamun. Ada suara tembakan. Tiba-tiba ia sudah tergeletak seperti ini.” Sebuah suara samar terdengar.
Aku terus merangsek di kerumunan demi mendapatkan rasa ingin tahuku. Namun, ketika mataku menemukan sela untuk mengintip sesuatu yang tergeletak di depan kafe, kesadaranku seperti dihantam hal ganjil. Tubuhku seketika dingin sekali. Tulang kaki menghilang. Otakku dirampas kegelapan. Hanya sosok yang tergelatak yang tampak di mata. Ia menatap kosong. Pelipisnya ditembus peluru yang mengoyak sebagian matanya. Ia terlihat belum benar-benar mati. Bibirnya masih bergetar hendak mengucap sesuatu yang sama dengan yang ingin kuucapkan. Aku dan dia ingin mengucap maaf, maaf pada kehidupan ini. Dan kami sama-sama tak berdaya. Aku melihat diriku sendiri sekejap sirna.

No comments:

Post a Comment