Thursday, March 23, 2017

Menyetiai Ketidakpastian

Aku tak mengerti, ketika kesetiaan nyaris sirna di luar sana, ketika satu lelaki tak cukup berpasang dua perempuan, ketika cinta seolah hanya dagangan murah, aku masih saja sama; mencintai satu wanita yang tersekap dalam kesemuan. Aku lebih memilih setia pada ketidakpastiaan.
Kurasa, angin mampu mengusap hati saat kuukir namanya. Jantungku selalu ketakutan saat namanya dibawa angin merapati pendengaranku. Aku hampir saja tak miliki waktu untuk tak rindui dirinya. Dalam setiap nafasku, kurasa cinta menjelma oksigen yang terpeluk aliran darah. Seperti sungai beraliran bening yang membawa kehidupan. Ia membawaku pada muara damai yang dijajah keindahan.
Senyumnya, telah kupetik dan kutitip pada mentari, agar disampaikan pada rembulan kala gulita merapat. Di awal pertengah bulan, selalu kulihat senyum itu mengindah bersama semesta. Oh, ingin rasanya waktu membeku saat itu terjadi. Hingga mencair kembali saat purnama benar-benar sempurna.

No comments:

Post a Comment