Friday, January 8, 2016

“Membopong Impian”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Aku seperti debu yang terus diombang-ambingkan angin peradaban. Tidak bisa berpijak lama di satu titik lembar krhidupan. Aku terbang, terus saja terbang. Hingga aku tidak tahu, ke mana sebenarnya aku akan hinggap. Sejak kecil, orang tuaku selalu berpindah-pindah tempat. Ada saja hal yang mengharuskan kami sekeluarga untuk pindah. Dulu, keluargaku hampir hidup dengan nyaman di wilayah Way Kanan, Lampung, tapi itu hanya hampir. Karena sebuah aksi kebejatan yang sangat luar biasa, kami harus beranjak dari Bumi Petani itu. Ayah berinisiatif memboyong aku dan ibu ke daerah Mesuji, daerah yang kala itu begitu bergejolak karena konflik lahan.
Kalau kuingat-ingat, rasa-sanya ingin meledak dada ini. Bagaimana tidak, ayahku diperas habis-habisan oleh sekelompok preman. Ayah dipaksa untuk menandatangani surat perjanjian palsu yang mereka buat. Dulu, ayah terlihat tidak gentar walau clurit dan parang melingkari tubuhnya. Ayah tampak tidak peduli. Tapi, pakdeku yang saat itu sedang berkunjung ke rumah, bersikap lain. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang fatal pada ayahku. Akhirnya pakde membujuk ayah untuk menandatangi surat perjanjian palsu itu. Ayah pun menandatangainya. Dan petaka itu benar-benar terjadi. Ayah selalu menjadi bulan-bulanan kelompok preman bejat itu, menagih isi surat perjanjian yang mengharuskan ayah membayar uang dua puluh juta pada mereka. Jangan tanya soal polisi. Ayah tidak terlalu paham dengan yang namanya polisi. Sebenarnya pernah mengadu pada seorang polisi yang merupakan tetangga nenek, tapi apa lacur? Polisi itu tidak juga berusaha mengulurkan bantuannya. Alasannya hanya satu, karena sudah adanya surat perjanjian. Tapi kenapa tidak dicoba untuk mencarikan solusi? Memberi arahan agar melaporkan ke kantor polisi, mungkin. Kan, jelas-jelas itu tindak pemerasan, kriminalitas, premanisme.
Saat pindah ke Mesuji, hidup bagaikan di alam rimba. Aku yang masih berumur enam tahun waktu itu harus terpaksa meninggalkan bangku sekolah, dan hidup di tengah orang-orang asing yang terlihat begitu beringas. Walau tidak lama di Mesuji, tapi itu bagaikan mimpi buruk yang berkepanjangan bagiku. Lalu ayah memboyong kami ke Kalianda. Dan tidak lama kemudian pindah ke Tulang Bawang. Dan akhirnya pindah lagi ke Kalianda. Benar-benar seperti buih di tengah lautan, terombang-ambing oleh gelombang kehidupan yang begitu pahit, seolah tidak ada lagi yang sanggup menolong. Dan kegetiran yang paling terasa adalah saat aku melihat anak-anak berseragam yang dengan ceria menjejakkan kaki untuk berburu ilmu. “Tuhan, aku ngin sekolah!” rintihku sepanjang hari.
Tapi ternyata aku salah, pertolongan Allah itu dekat. Allah mengirimkan manusia berhati malaikat. Ia oomku sendiri. Om Ifan.
“Dika mau sekolah?” Sebuah pertanyaan yang benar-benar membuatku takjub. Aku memang masih kecil waktu itu, baru berumur delapan tahun. Tapi aku benar-benar mencintai pendidikan. Aku begitu merindukannya seperti sedang merindukan sebuah kedamaian. “Sekolah? Masih bisakah aku sekolah?” batinku.
“Kalau Dika mau sekolah, ikut Oom saja! Biar Om yang sekolahin kamu,” lanjut Om Ifan dengan lembut. Om Ifan adalah anak terakhir dalam keluarga ayahku. Ia masih muda. Baru setengah tahun diwisuda dari kampusnya. Usianya baru 22 tahun. Seorang pejuang sejati. Menempuh masa kuliah dengan biaya sendiri. Dan lulus dengan nilai yang mengagumkan.
Aku menoleh ke arah ayah yang duduk tidak jauh dariku. Matanya nanar, ia mengangguk pelan. Ibu tiba-tiba mendekapku dari belakang. Seolah ia begitu kasihan padaku, anak delapan tahun yang begitu malang. Anak yang begitu rindu dengan seragam sekolahnya, tapi tidak kunjung juga mendapatkan haknya. Bukan ayah yang salah, juga bukan ibu. Tapi keadaan yang memang tidak memungkinkan. Kini semua tampak jelas di depan mata, seragam itu, buku, pensil, tas, sepatu, semua seolah berputar di atas kepala. “Oh, sekolah. Aku sekolah,” teriakku dalam hati. Air mataku pun perlahan mengalir. Kutatap paman penuh harap. Aku mengangguk pelan.
***
Aku masuk sekolah pada usia delapan tahun. Harus mengulang di kelas satu yang memang dulu belum genap kujalani. Namun, bukan hal yang mudah berada di lingkungan sekolah bagi anak rimba sepertiku. Sulit, sangat sulit. Apalagi di lingkungan kota seperti ini, aku seperti pemulung yang sedang tersesat di dalam mall dan tidak tahu jalan keluar. Di dalam kelas lebih miris lagi, aku tidak bisa apa-apa. Aku bingung. Aku lupa cara memegang pensil. Aku benar-benar anak rimba. Sendiri, gugup, terasa seperti seonggok kotoran sapi yang sama sekali tidak dilirik. Kerinduanku pada bangku sekolah sekejap sirna. Seolah yang kurindukan selama ini sudah tidak mengenaliku lagi.
Aku berjalan gontai menyusuri pinggiran jalan. Kontrakan paman letaknya tidak jauh dari SD yang tadi terasa seperti neraka. Aku sudah hafal rutenya. Jadi tidak perlu dijemput. Kupandangi sekeliling. Tampak toko-toko berjajar di sepanjang jalan. Didominasi oleh warung makan dan tempat fotokopian. Di kota kecil yang berjuluk Kota Pendidikan ini, atribut-atribut pendidikan lah yang menjadi objek utama dalam bisnis.
Tidak terasa aku sudah sampai di kontrakan Om Ifan. Hanya butuh waktu sepuluh menit.
“Sudah pulang, Dik?” sapa pria berambut tebal itu sumringah saat aku baru memasuki rumah. Aku tersenyum. Merasa canggung. Ada rasa bersalah karena hari pertama masuk sekolah yang sangat buruk.
“Sana, makan dulu!” suruhnya. Aku berjalan menuju kamar, berganti pakaian, dan menuju tempat makan. Lapar sekali rasanya setelah setengah hari seperti gelandangan di sekolahan.
“Kamu kenapa? Lha, kok, seperti ayam sakit?”
“Tidak, Om. Aku… Aku...” Aku gugup, memutuskan untuk tidak memberi penjelasan.
“Dika, dengerin, Om! Kalau kamu bisa melakukan suatu hal yang kamu anggap kecil dan biasa, maka jadikan kemampuan kamu itu sebagai modal untuk melakukan hal yang besar dan luar biasa!” jelas Om Ifan, seolah tahu bahwa aku sedang membutuhkan nasehat. Aku menatap Om Ifan tidak mengerti. “Misalnya, ketika kamu bangun tidur dan ternyata bisa menghirup oksigen, maka artinya kamu harus menggunakan oksigen itu untuk menjadikan hidupmu lebih baik. Saat kamu bangun tidur dan ternyata kamu masih bisa menggerakkan tanganmu, maka gunakan tanganmu sebaik-sebaiknya untuk berkarya, melakukan hal yang besar,” lanjut pria berjenggot rapi itu. Aku memang baru berusia delapan tahun, tapi aku termasuk tipe anak yang mudah mencerna suatu kalimat. Dan ucapan Om Ifan benar-benar telak menghujamku. “Aku masih bisa menggerakkan tangan, berarti seharusnya aku dapat melakukan banyak hal dengan tangan ini. Aku masih punya banyak kesempatan untuk belajar,” ucapku dalam hati.
***
Sekarang usiaku sudah dua puluh tahun. Berstatus sebagai mahasisiwa di Jakarta. Suatu hal yang begitu luar biasa bagiku. Ini semua karena kemurahan Tuhan, doa orang tua, dan juga uluran tangan lembut Om Ifan. Pria berwajah tampan itu yang telah banyak memberi pengarahan dalam hidupku. Mengajariku bermimpi, mengenalkanku pada kedahsyatan keyakinan, menggandengku dalam pengejaran mimpi, juga meyakinkanku bahwa aku adalah manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan dengan keadaan yang sebaik-baiknya. Aku masih ingat saat aku kepergok merokok oleh Om Ifan. Ia marah besar. Matanya berkaca-kaca, menatapku dengan penuh kasih sayang, menatap dengan ketegasan, dan mengucapkan kalimat yang sampai sekarang sulit untuk kulupa. “Dika, Om tidak terlalu berharap bahwa suatu saat kamu menjadi orang yang hebat, tidak. Hanya satu harapan Om, kamu menjadi orang yang berakhlak mulia karena ilmumu, karena sekolah yang dulu kamu rindukan itu, karena Tuhanmu. Om harap kamu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, lalu kamu memilih yang baik.” Aku menyesal, dan berjanji tidak akan merokok lagi.
Suasana bandara begitu riuh. Aku mengantar Om Ifan ke bandara setelah aku di pastikan menjadi mahasiswa di UI. Om Ifan sangat banyak membantu proses awalku masuk kuliah. Pria itu sekarang ada di hadapanku. Om Ifan. Walau sekarang dia sudah memiliki tiga anak, tapi dia tidak pernah lupa memperhatikanku. Dia orang yang adil dan tidak suka pilih-pilih. Tiba-tiba kurasakan tepukan di pundakku. Membuatku merasa begitu berharga.
“Dik, Om tidak bisa memberi banyak padamu. Om juga tidak meminta banyak. Inti dari pendidikan yang kamu jalani sampai saat ini adalah agar kamu bisa menjadi orang terbaik, orang yang memiliki akhlak mulia. Jadi, jika nanti kamu lulus kuliah dan kamu belum berakhlak mulia, bagi Om kamu belum lulus.” Om Ifan menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia terlihat menghembuskan nafas berat. “Kamu ingat tempat ini! Suatu saat nanti Om akan sangat merindukan bandara bersejarah ini. Karena apa? Karena Om ingin, suatu saat nanti, di tempat ini, Om melihatmu telah membopong semua impianmu.” Aku tersenyum. Dengan penuh keyakinan, dan meyakini akan kekuatan keyakinan itu sendiri, aku menganggukkan kepala.
“Aku akan berusaha, Om! Semaksimal mungkin. Aku selalu merindukan ilmu. Dan memeluk ilmu adalah obat dari rindu itu. Ketika aku sudah memeluknya, maka aku yakin, aku bisa membopong impian-impianku.” Aku yakin akan impian, aku yakin aku bisa mewujudkannya, dan aku percaya bahwa ilmu akan banyak membantu. Ketika aku masih bisa melakukan hal kecil, maka akan aku jadikan hal kecil itu sebagai modal untuk meraih yang besar. Sekarang Om Ifan yang tersenyum. Ia menepuk pundakku kembali.
“Jangan jadikan hidup ini sebagai beban! Tapi jadikanlah beban sebagai ladang untuk memanen pahala dalam hidup ini!” Om Ifan tersenyum kembali. Ia berbalik arah dan berjalan menjauh. Semakin jauh. Meninggalkanku sendiri di tanah rantau ini.
“Om Ifan, walau Om berada di tempat yang jauh, tapi Om akan selalu ada di sini, di hati ini. Menemaniku membopong semua impian. Aku akan selau merindukanmu,” bisikku dalam hati, lirih.











“Mas Zein”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Ia menyebutnya Mas Zein. Dan semua orang memang mengenalnya dengan nama itu. Nama lengkapnya Zeinar Hilman. Sesosok pria dengan penuh cinta. Lembut tuturnya. Teramat penyayang. Mungkin pengetahuannya tentang Islam tidaklah sempurna, tapi ia selalu menunjukkan sikap selayaknya sesosok yang berislam secara kaffah. Mas Zein tak pernah sedikitpun bertutur kasar padanya. Selama mengarungi bahtera pernikahan dengannya, Mas Zein selalu menunjukkan bahwa ia adalah suami yang penuh kasih. Tapi, baru saja ia melihat sendiri betapa Mas Zein begitu marah padanya. Hal yang belum pernah ia lihat selama ini.
“Seharusnya kamu lebih bersabar! Bukankah kita pernah berikrar bahwa akan menjadi pasangan dunia-akhirat? Tapi nyatanya kamu sama sekali tidak punya keyakinan. Kamu tidak mencintaiku.” Masih terngiang-ngiang ucapan terakhir Mas Zein sebelum akhirnya ia pergi.
Air matanya meleleh. Menjalari wajah ayunya yang sulit dipudarkan waktu. Di usianya yang setahun lagi sudah kepala tiga, baru kali ini ia dihadapkan pada kenyataan yang teramat sulit. Semua tentang Zein.
Empat tahun yang lalu Nafia menikah dengan Zein. Pria yang begitu mencintainya itu mempersuntingnya saat ia genap berusia 24 tahun, dan Zein sendiri 26 tahun. Usia yang begitu ideal. Dan mereka memang pasangan yang begitu serasi. Zein seorang pengusaha muda yang cukup sukses membangun kolam bisnisnya. Hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas yang penuh tantangan dan menguras waktu. Meski begitu, ia selalu meluangkan detik yang ia miliki untuk isteri tercinta. Karena baginya, keharmonisan keluarga, kasih sayang yang ia curahkan untuk sang isteri adalah salah satu kunci sukses dalam menggapai setiap impian besarnya.
“Dik, aku mencintaimu.” Kalimat manis itu yang sesempat mungkin selalu dibisikkan Zein pada Nafia. Dengan penuh rasa tulus dan jujur, karena memang Zein begitu mencintai isterinya itu.
“Maukah kau menjadi pasanganku?”
“Bukakankah kita memang pasangan, Mas?” ucap heran Nafia saat pertanyaan Zein terasa aneh.
“Maksudku, pasang dunia-akhirat,” tutur Zein lembut. Nafia tersenyum. Hatinya merekah indah.
“Tapi di surga sana banyak bidadari. Apa kamu yakin tidak akan tetarik pada mereka?”
Zein tersenyum. Matanya menatap langit-langit kamar. Nafasnya berhembus perlahan.
“Allah yang menggenggam hati. Andai aku bisa berada di surga, aku akan berdoa pada Allah, meminta kepada-Nya agar hatiku tetap ditautkan pada hatimu, selamanya. Kurasa seindah apapun bidadari, tidak akan mampu mengusik hati yang sudah terasi penuh dengan keindahan ini.” Zein beralih menatap Nafia. Perempuan cantik itu tersipu. Merasa betapa ia begitu beruntung memiliki Mas Zein. Pelan ia lantunkan sebuah kalimat.
“Aku sangat mau menjadi pasanganmu, Mas Zein, dunia-akhirat.”
***
Manis. Semanis madu yang meleleh dari sarang lebah. Itulah yang dirasa Nafia setiap saat ia berada di dekat Zein. Dan terasa ada yang kurang saat Zein bepergian jauh demi pekerjaan. Nafia sedang memeriksakan kandungan saat tiba-tiba sebuah nomor menelfonnya.
“Mas Zein kecelakaan, Mbak Nafia. Ia hilang ingatan.”
Nafia bergegas pergi. Tak dihiraukan lagi kandungannya yang sudah tua. Ia ingin segera melihat Zein. Ia begitu khawatir dengan kondisi Zein, orang yang begitu dicintainya itu. Sudah tiga hari ini memang Zein belum pulang ke rumah, padahal ia pamit pada Nafia untuk pergi sehari-semalam saja. Sebenarnya Nafia sudah memiliki perasaan yang kurang enak, tapi ia mencoba untuk tetap tenang dan menyerahkan semuanya pada Allah. Namun, baru saja ia dikejutkan oleh suara di seberang yang membawa kabar duka itu, Zein kecelakaan.
Tatapan Zein terasa asing. Ia tidak seperti Mas Zein yang Nafia kenal. Dan kenyataannya, Zein benar-benar lupa dengannya. Dada Nafia terasa sesak. Air matanya berhambur begitu saja. Digenggamnya erat-erat jemari lelaki yang terkulai lemah penuh balutan perban itu. Ia terus sesenggukan hingga air matanya terasa kering.
Hal yang aneh terjadi. Sepeninggal Nafia dari rumah sakit untuk membersihkan rumah, ia kembali mendapat kabar yang mengejutkan. Zein raib dari kamarnya. Seketika genggaman Nafia rapuh, gelas di tanggannya meluncur dan remuk menghantam lantai. Prangg!
Belum genap perempuan yang sedang mengandung anak pertamanya itu menumpahkan rasa sedih, ia keburu dihantam dengan kenyataan yang lebih pahit lagi. Zein hilang. Ia terus mencari dalam kepanikan, setiap kolega suaiminya itu dihubungi, tak ada petunjuk juga. Pihak Rumah Sakit menggeleng, semua seolah berada di luar kendali mereka. Polisi pun juga tak jua mengendus keberadaan Zein. Ia benar-benar sirna, bak larut dalam perut paus.
***
Empat tahun berlalu, Mas Zein ibarat album yang harus ditutup rapat oleh Nafia. Dugaan kuat Zein telah meninggal atau sudah hilang ditelan jagad dan hidup dengan ingatan yang baru. Nafia harus memikirkan masa depannya dan juga masa depan harta paling berharga yang ia miliki, Naffa. Ia adalah buah cintanya dengan Mas Zein.
Nafia menerima pinangan Salman, lelaki yang berikrar sanggup mencintainya dan juga Naffa. Namun, belum dua bulan ia mengarungi rumah tangga yang baru, sesosok pria datang dan tiba-tiba memeluknya saat ia menyapu halaman depan rumahnya. Ia terpekik. Jantungnya melonjak. Reflek ia hantamkan sapu pada pria yang dianggap tak beradab itu. Hingga ia melihat, betapa wajah pria kurang ajar itu terasa tak asing. Bahkan ia sangat kenal dengan wajah itu. Dulu, empat tahun yang lalu wajah itu adalah wajah yang ia tangisi sepanjang hari.
“Mas Zein?”
“Nafia … .”
Jutaan bunga seolah bertabur di mata Nafia. Beterbangan membentuk bayangan taman Firdaus. Ia merasa telah menemukan mentari yang empat tahun lamanya tak lagi terbit. Dan kini ia datang membawa sinarnya. Namun semua tak bertahan lama. Ia ingat akan kenyataan bahwa ia telah memiliki suami yang baru, Salman lah kini imamnya, bukan Mas Zein.
Kini dunia begitu membingungkan untuk perempuan berjilbab anggun itu. Andai saja Zein muncul sebelum ia menikah lagi, tentu ia bisa menumpahkan seluruh kebahagian yang ia rasa saat ini.
***
Dalam deraan rajam kebimbangan, Nafia tersungkur dalam sujudnya. Yang ia sesalkan, kenapa ia sampai lupa akan ikrar yang pernah ia ucapkan bersama Zein, untuk menjadi pasangan dunia-akhirat. Ia merasa bahwa kesetian tak mampu ia genggam dengan kuat, keyakinan tak mampu ia hidupkan hingga akhir hayat. Dan kini kenyataan menikamnya tanpa ampun. Membuat ia mengambang dalam lautan yang rumit.
Suara handphone mengejutkannya. Ragu ia angkat panggilan dari nomor tanpa nama.
“Assalamu’alaikum!” Terdengar lembut suara dari seberang. Dan tak perlu menunggu lama, telinganya sudah sangat akrab dengan suara itu, Mas Zein. Bergetar tubuhnya. Patah-patah ia coba menjawab salam dari pria yang begitu lekat di hatinya itu.
“Wa .. wa’alaikumsalam. Mas Zein?”
“Iya, ini Mas Zein. Aku ingin meminta izin untuk mengajak pergi Naffa siang nanti. Eee maksudku pergi jalan-jalan. Sore insyaallah aku antar lagi Naffa ke rumah.”
“Kamu tahu nama anak kita?”
“Ibu yang cerita. Maafkan aku kemarin bersikap kasar! Tidak adil rasanya jika aku menyalahkanmu. Tentu sangat sulit bagimu menjalani hidup selama ini. Namun, aku juga jalani hidup yang tidak mudah. Aku diculik dan dibuang ke Ambon dalam keadaan lupa segala-galanya. Dan …. dan baru seminggu yang lalu ingatanku pulih. Ma, maafkan aku, Dik!” Suara Zein tersendat. Air matanya mengalir pelan.
“Siapa yang melakukannya?”
“Entahlah, tapi kurasa ia sangat dekat dengan hidupmu sekarang.”
“Siapa, Mas?”
“Lupakan! Semoga saja ia telah bertobat dan berusaha memperbaiki segalanya. Aku ke rumahmu sekarang. Assalamu’alaikum!” Telfon ditutup, dan Nafia terpaku dalam gelanyut tanya teramat besar. Siapa yang melakukannya?
“Mas Salman?”
***
Nafia tak menyangka bahwa sore itu adalah saat terakhir ia melihat Mas Zein, saat pria istimewa itu mengantar Naffa pulang. Karena setelah itu Mas Zein tak pernah nampak lagi. Mertuanya pun bungkam tentang pria yang dicintainya itu. Hanya sebuah pesan yang ia dapat. “Zein bilang, jika Nafia kemari suruhlah ia bersabar, maafkanlah orang yang telah membuat kebersamaan kalian harus terputus. Yakin, bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah, dan akan baik jika kita ikhlas. Begitu, Nduk, pesan Zein. Hanya itu.”
Dan untuk yang kedua kalinya ia harus mendapati Mas Zein raib. Hilang dari hidupnya. Padahal kemarin hati Nafia begitu berbunga saat membuka pintu dan melihat Zein menggendong Naffa, seolah dunia kembali tersenyum padanya. Dan yang semakin menggelisahkan adalah teka-teki yang ditinggalkan Zein, ia semakin curiga pada Salman.
”Zein adalah saingan bisnisku. Dan aku ingin merebut semua yang ia miliki. Aku yang membuat ia celaka. Aku juga yang membuangnya. Tapi demi Allah, aku menyesali semuanya. Perasaan dosa bertahun-tahun membuat hidupku tak pernah bahagia. Aku mencari Zein, tapi ia tak bisa ditemukan. Hingga akhirnya aku memilih cara lain, menikahimu.” Salman menangis, bersimpuh di kaki Nafia. Ia berusaha jujur saat Nafia menanyakan tentang rahasia yang ia sembunyikan.
Tubuh Nafia bergetar. Air matanya berhambur tanpa awak. Dadanya terasa begitu sesak. Namun ia berusaha untuk tegar. Sekuat tenaga ia tahan air mata. Wajahnya mendongak ke langit kamar.
“Aku, a .. ku. Memaafkanmu, Mas. Tapi, tapi kumohon ceraikan aku! Aku ikhlas, Mas. Aku ikhlas seperti yang diminta oleh Mas Zein.” Air matanya berhambur kembali. Teramat sulit memaafkan orang yang telah mengganggu kebahagiaannya. Tapi ia sadar, memaafkan dan ikhlas adalah yang terbaik.
“Baiklah, Nafia. Ta, tapi, Zein memintaku untuk menjagamu dan Naffa. Ia sudah memaafkanku.”
“Ceraikan aku! Kumohon, Mas!” Suara serak Nafia meninggi. Tubuhnya berguncang hebat.
“Iya, maafkan aku, Nafia! Maafkan aku! Aku akan penuhi permintaanmu.”
***I
Nafia membelai wajah Naffa yang tumbuh dewasa dan ayu. Ia peluk erat tubuh buah hati yang ia cintai dengan sepenuh ketulusan itu. Ia tunjukkan sebuah foto besar. Foto yang ia simpan dalam waktu yang sekian lamanya.
“Ia Ayahmu, Nak. Namanya Zein. Dia orang yang baik, tulus sekali cintanya. Kamu pernah seharian bersamanya, kan. Kamu harus seperti dia, harus!”
Mas Zein ibarat permata yang tak berwujud. Namun, ia tersimpan rapi di hati Nafia. Hingga kini, bertahun-tahun ia tak pernah lagi bertemu dengan Zein. Hanya kelebat bayang senyum yang kadang datang menggodanya. Melebur setiap rindu menjadi pupuk cinta yang semakin manjur. Zein dengan segala yang ada pada dirinya adalah harapan. Harapan untuk dimilikinya kembali dalam ridho-Nya, dalam Jannah yang diimpikan setiap jiwa.
Entah kapan, tapi kali ini Nafia tak mau kecolongan. Ia menggenggam erat keyakinan, Mas Zein akan kembali padanya. Entah di dunia, atau mungkin di akhirat sana.>

“Lukisan Di Hati”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Mutia, temanku saat SMA dulu bilang bahwa cinta adalah tinta, di mana saja, ia akan memberi warna. Ia bisa digoreskan menjadi kalimat-kalimat pembuai kalbu. Ia membuat melayang saat disemburkan ke udara. Cinta adalah pembuat aksara-aksara keindahan di lembaran kehidupan.
“Kamu ingin membuat wanita jatuh cinta? Bacakan puisi! Pasti berhasil,” kata Bu Elfi, guru Kesenian di kelasku semasa SMA. Sepertinya kalimat itu tidak asing bagiku. Aku pernah mendengarnya di film favoritku, Spiderman. Kalau tidak salah Spiderman 2. Kurang lebih seperti itu lah kalimatnya. Tapi ternyata itu hanya bualan. Kalau dilakukan percobaan, aku yakin tingkat keberhasilannya hanya berkisar antara 0-30%. Kenapa? Karena cinta itu bukan hanya persolan kata semata, tapi persoalan hati yang tidak memiliki telinga, juga tidak mengenal tinta. Cinta itu seperti hujan, jatuh di mana saja, di gurun sekalipun. Ia tidak terikat oleh satu hukum. Apalagi terikat puisi, tidak sama sekali. Ia hanya terikat pada sang Maha Cinta.
Aku percaya, satu orang pria bisa mencintai seribu orang wanita dalam satu waktu. Karena apa? Karena pria itu sangat tertarik dengan keindahan wanita. Bahkan ada orang yang tekun beribadah dan rela mati di jalan Tuhan demi mendapatkan bidadari di surga. Wanita itu adalah cobaan berat bagi setiap pria. Dia masuk dalam tiga kategori godaan terberat yang dapat menyungkurkan pria ke tempat yang paling hina. Harta, tahta, dan wanita.
Senin yang indah. Matahari diselimuti awan tipis di angkasa. Membuat sinarnya menjadi jinak dan menghangatkan. Duh, nikmatnya … . Pagi hangat diselingi sepoi angin yang melenakan. Di kelas sudah ada dosen yang mengajar saat aku memasuki ruangan. Aku memang begini, saat suasana di luar begitu mendamaikan, aku akan memperlambat langkah untuk masuk kelas. Jarang-jarang cuaca bersahabat di musim kemarau seperti ini.
Aku mengulas senyum semanis mungkin. Dosen wanita biasanya sangat suka mendapat senyum manis dari mahasiswa prianya. Ini juga hanya teori, karena kenyataannya lebih banyak wanita yang suka duit daripada senyuman. “Emang makan senyum kenyang?” Begitu kira-kira semboyan mereka. Untungnya aku diizinkan masuk. Dan sudah menjadi tradisi di Negeri ini, jika masuk kelas belakangan pasti dapat kursi paling depan. Kursi belakang sudah penuh. Sebenarnya aku juga lebih nyaman duduk di belakang, lebih strategis saat kantuk menyerang.
“Baik, apa ada yang ingin kalian tanyakan pada teman baru kalian?” Bu Evi bicara dengan suara yang bening. Aku melihat ke depan, baru kutahu bahwa di depan ada seorang wanita asing yang berdiri malu-malu. “Tumben anak baru disuruh memperkenalkan diri di depan kelas? Seperti zaman SMA saja,” batinku.
“Sudah punya pacar belum?” celetuk Rudi bersemangat. Disusul suara gaduh kelas karena ulah pria humoris itu. Wanita asing di depan kelas hanya tersenyum. Dan, ya Tuhan…. Senyumnya masis sekali. Dan detik itu juga baru kusadar bahwa wanita yang berdiri di depan kelas sangatlah cantik. Indah.
“Rudi, jangan coba-coba menggoda keponakan saya, ya!” sela Bu Evi bergurau. Tenyata keponakan Bu Evi, makanya ada acara perkenalan segala.
“Kan usaha, Bu.” Rudi terkekeh.
“Oh, iya. Tadi namanya siapa? Saya belum tahu,” serobotku.
“Santika.” Suara lembut menjawabnya. Syahdu.
***
“Stop! Wanita adalah cobaan, berhenti memikirkan Santika!” Aku sedang berperang dengan perasaanku. “Hati-hati, wanita cantik biasanya membosankan!” Pikiranku terus bergulat. Dan hari itu aku tidak berani masuk kelasku, aku memilih mengambil di kelas yang lain.
Bukannya apa-apa, aku hanya bingung dengan diriku. Aku adalah tipe pria yang dingin terhadap wanita. Aku tidak terlalu peduli dengan makhluk yang katanya diciptakan dengan sejuta keindahan itu. Tapi, sejak aku melihat senyuman Santika, tiba-tiba ada yang lain. Aku terus-terusan memikirkannya. “Mending kalau dia juga memikirkanku,” rutukku dalam hati. Ah, bukan. Bukan itu masalahnya. Tapi, kurasa aku tertarik dengannya. Dan ini bahayanya. Aku benar-benar tidak ingin jatuh cinta dalam waktu dekat ini, jatuh cinta hanya akan menguras energiku. Bisa membuat otakku membeku dan tak dapat bekerja maksimal lagi. Jelas itu akan sangat merugikan seorang penuntut ilmu sepertiku. 
***
“Rama, ini buat kamu.” Sebuah suara memaksaku berhenti mengetik makalah. Makalah sialan. Siang nanti mau dipresentasikan, tapi sudah jam 09.00 belum kelar juga.
“Buat aku? Dalam rangka apa?” Aku kebingungan. Cepat-cepat kubuang pandangan saat kulihat senyum manis Santika merekah. Senyum itu yang bisa membuatku sengsara.
“Hadiah untuk seorang kutu buku.” Santika duduk di sebelahku tanpa meminta izin. “Sudah dua bulan aku di kelas ini, tapi kamu tidak pernah mengajakku ngobrol? Padahal kita memiliki kesamaan. Sama-sama suka membaca buku,” lanjut Santika membuatku terkejut. “Ngobrol? Aku bahkan ingin kamu segera pindah dari kelasku,” ucapku dalam hati.
“Kamu misterius, ya? Kenapa kamu suka buku?”
“Karena aku tidak suka wanita,” jawabku reflek.
“Hah? Jadi kamu homo?” Santika mengerutkan dahi. Astaga! Apa yang aku ucapkan? Aku jadi gugup sendiri dibuatnya.
“Bu.. bu, bu, bu, bu, bukan…” sanggahku sambil menghembuskan nafas dan tersenyum secara bersamaan. Gila. Kenapa jadi seperti ini? “Aku hanya becanda saja. Kamu tidak biasa becanda, ya?” Akhirnya aku menemukan kata yang tepat untuk mengarahkan pikiran Santika. Kucoba sekuat mungkin untuk bersikap biasa saja.
“Biasa, sih. Tapi, kamu tidak terlihat sedang becanda. Hahaha.” Gelak tawa Santika terdengar nyaring. Aku tersenyum. Wanita ayu itu pun bangkit dan meninggalkanku sendiri.
Tak sabar kubuka bungkusan ukuran sedang pemberian Santika. Kurobek-robek kertas pembungkusnya. Kuperhatikan dengan seksama. Aku benar-benar tidak menyangka. Sebuah gambar dalam bingkai yang indah. Lukisan yang membuat jantungku terlonjak hingga menubruk plafon kelas. Astaga. Seperti mimpi saja. Itu gambarku sedang membaca buku di kursi, kaca mata andalanku juga terukir indah di sana. Untuk apa Santika melukisku? Dan seni seperti apa yang ia kuasai hingga bisa menggambar sebagus ini? Untuk apa juga dia memberikan ini untukku? Apa dia tertarik denganku?
“Huhhhff…” Kusandarkan punggungku pada kursi. “Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?” Bayang Santika terus menggoda. Senyum indahnya tergambar jelas di pelupuk mata. Suara-suara lembut begitu membuai kalbu untuk segera dapatkan cinta. Aku seperti terperosok di bibir jurang dan hanya ada Santika di tepi jurang itu. Dia melambaikan tangan. Dan aku…
“Waw! Lukisannya bagus banget. Kamu terlihat lebih keren dalam lukisan.” Suara Raflan membuatku terlonjak. “Siapa yang ngelukis?” lanjutnya bertanya.
“Santika,” jawabku datar.
“Kamu menyukainya?”
“Apanya?”
“Santika.”
“Entahlah.”
“Wajar. Santika pantas membuat lelaki cerdas sepertimu jatuh cinta. Tapi aku yakin, dia tidak akan mampu membuat keimananmu goyah.” Raflan tersenyum. Pemuda pegiat Qiyamul Lail itu menatapku penuh arti. Aku merasa memiliki kekuatan. Raflan membuatku lebih tenang.
“Jika kamu sudah seyakin itu, aku bisa apa?” tuturku bersemangat. Kami tertawa. Tawaku dan Raflan membuat garis kekuatan baru untuk membentengi cinta yang datang bukan pada waktunya.
***
Entah sudah berapa juta daun yang gugur mengiringi bergulirnya waktu. Dan angin selalu setia mengusik hidup dan mati mereka. Hujan berderai-derai melapukkan mereka hingga melebur dalam wujud yang baru. Dan akar mencaplok wujud baru itu sebagai makanan yang lezat.
Hidup ya seperti itu, berputar-putar. Tapi sayangnya aku bukan daun. Aku lebih perasa rupanya. Perputaran membuatku pening. Kalau saja aku tak mengenal Tuhan, pasti aku sudah tersungkur dan tak dapat merangkak lagi.
Sudah tiga tahun aku meninggalkan dunia kampus. Lulus dan bergelut dengan rutinitas baru yang selalu kucoba untuk menikmatinya. Lalu sekarang aku kembali lagi, bukan kembali pada kampus, tapi kembali pada cinta. Cinta yang pernah menyambarku saat kuliah dulu. Kini Santika kembali menyambarku. Tapi tidak sendiri. Dia menyambarku bersama dengan Raflan, sahabat terbaikku. Baru sekitar dua bulan tidak kudengar kabar mereka, kini nama mereka mendatangiku dalam lembar undangan pernikahan.
Apa ini yang dinamakan takdir? Apa memang Raflan dan Santika memang diciptakan untuk bersama? Apa semua ini sudah tertulis di lauh-mahfudz? Aku benar-benar tidak menyangka. Kenapa harus Raflan? Aku seperti terhianati oleh keyakinanku selama ini, keyakinan bahwa Raflan adalah manusia terbaik yang pernah kutemui. Seharusnya dia tahu, hatiku akan sesakit ini saat melihat kenyataan.
Langkahku gontai. “Hufft .… . Aku harus tegar.” Aku berjalan sebaik mungkin. Memasang wajah seceria-cerianya. Berusaha untuk memberi senyuman terbaik untuk sahabat terbaikku. Aku ambil jalan berbeda dari tamu-tamu lainnya. Aku lewat belakang. Aku sengaja tidak ikut saat akad nikah dijalankan. Tidak terbayang, betapa sakitnya hati ini jika harus menyaksikannya.
“Hei, ada tamu tidak diundang rupanya.” Sebuah suara familiar memaksaku untuk menoleh. Raflan. Dupp. Entahlah, jantungku seperti dipalu saja rasanya. “Kenapa lewat belakang?” Aku tidak pedulikan pertanyaannya. Aku memeluknya erat-arat seolah ingin mengatakan “Jaga Santika baik-baik”. Aku tidak kuat membendung air mata.
“Kamu menangis?”
“Aku terharu, sahabatku sudah menikah rupanya,” jawabku asalan. Raflan mengernyikan dahi.
“Kamu tidak bahagia dengan pernikahanku?”
“Kenapa kamu asal menebak begitu?” Aku berusaha menyeka air mata.
“Mas, lama banget ke kamar mandinya?” Sebuah suara lembut mebuatku dan Raflan menoleh bersamaan. Seorang wanita dengan busana pengantin Islami terlihat gugup. Aku tertegun.
“Siapa dia?”
“Isteriku.”
“Kamu becanda? Bukankah isterimu Santika?”
“Hahaha. Bukan Santika, tapi Zantika,” tegas Raflan. Aku jadi bingung dibuatnya. “Oh, oh. Jadi ini yang membuat si kutu buku terlihat tidak suka dengan pernikahanku? Astaga …. Yang di undangan itu salah ketik. Ya, salah percetakannya. Seharusnya Zantika, ditulis Santika. Tapi karena sudak terlanjur cetak banyak, mau apa kagi? Kamu salah sangka rupanya. Hahaha.” Raflan terpingkal. Aku tersenyum. Malu rasanya. Tapi senang juga.
“Siapa Santika, Mas?” tanya isteri Raflan, Zantika.
“Aku Santika.”
Aku kaget bukan kepalang. Suara yang sangat kukenal. Kubalikkan badan. Darahku berdesir seketika. Dari mana datangnya Santika, tiba-tiba sudah berada di belakangku?
“Aku tadi membuntutimu saat kamu ke belakang,” ucap Santika. Aku hanya bengong.
“Rama, kamu sudah terlukis di hatiku, maukah kamu mengambil lukisan itu?” Santika kembali bersuara. Kali ini darahku tidak lagi berdesir, tapi berombak dalam pembuluh darah. Jantungku mau meloncat rasanya. Hatiku, entah apa rasanya, terlalu sulit untuk digambarkan. Raflan mendekatkan bibirnya di telingaku, ia berbisik lirih,“Sekarang cinta datang pada saat yang tepat, tunggu apa lagi?” Aku tersenyum gugup. Tidak menyangka akan ada kejutan hebat seperti ini.
“Iiiiiiii, iya, insyaalah aku akan ambil lukisan itu.”
“Kapan?”
“Eee.. Insyaallah, nanti malam.

“Koper Hitam”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Tanah tempatku berpijak dijuluki “Bumi Petani”. Di sini aku lahir, menghirup udara dan melanjutkan wasiat orang tua. Wasiat yang tidak ditulis, tidak pula diucapkan. Sudah mengakar. Mati jika tak sudi menggenggamnya.
Bapakku sudah sirna. Lebur di lambung bumi. Mungkin saja ia sudah terbawa air, dan ditenggak akar kamboja. Sudah lama, sejak usiaku dua puluh tahun. Sejak itu wasiat harus digenggam. Walau tangan harus berkapal-kapal, robek, perih, tapi tidak akan kulepas. Aku tak tahu apa-apa tentang dunia, bapak hanya mengajariku cara menggenggam cangkul, golok, dan arit. Itulah wasiat darinya. Cita rasa seni yang kumiliki hanya seni bercocok tanam. Mungkin hanya aku yang menganggap bertani adalah seni. Aku punya alasan yang kuat. Karena di tanah lahirku ini, jika tak kuanggap bertani adalah seni, maka tak akan bisa kurasakan indahnya bekerja. Terpanggang matahari tentu bukan hal yang sepele. Keringat yang harus terkuras sepanjang hari, otot yang tak sempat mengendur lagi, juga luka yang teramat sulit dihindari, nyaris tak bisa dielakkan. Tapi saat kutuai hasinya, tak ada harganya. Aku bisa apa? Aku tidak tahu tentang dunia. Jadi, kuangap saja bertani itu seni, seniman tak terlalu mempedulikan uang, tapi lebih terpukau nilai-nilai estetika perjuangannya.
Di Bumi Petani hujan adalah sumber kehidupan. Gemah ripah loh jinawi, itu yang kami impikan saat langit menangis. Singkong yang tak sungkan-sungkan tumbuh gemulai, padi yang serempak menghijau, dan pohon karet yang tak pelit akan getah, membuat harap berjejalan di dada. Tergambar masa yang indah, saat anak-anak kami tak lagi menangis karena lapar, mereka tumbuh dengan sehatnya, matanya berbinar cerah. Masa kering, masanya tirakat. Terik panjang merenggut segalanya. Membuat anak-anak kurus_ceking, dan banyak berdiam diri di rumah. Matanya sayu menatap heran, kenapa bapak tidak lagi ke ladang?
Di Bumi Petani, setiap lima tahun sekali kami mengadakan ritual. Kami menyebutnya “Pesta Bumi”. Ini karena bumi akan menyongsong babak barunya. Ia akan memiliki sosok baru yang berkuasa di atasnya. Sosok idealis yang menjadi menara harapan umat. Yang terpancang tegak, dan menjadi tempat berpegang saat beliung kehidupan datang menjajah. Di Pesta Bumi itulah kita dapat melihat orang-orang aneh bermunculan. Berduyun-duyun menenteng koper hitam.
“Dalam koper ini berisi ini, ini, dan ini.” Nyanyian rutin yang sudah mengurat-akar. Mereka menawarkan isi koper, dan bermaksud agar kami mau menukarnya dengan suara.
Sayangnya kami harus melongo berulang-ulang. Mengelus dada setiap harinya. Kami hanya dibuali. Ditipu secara rutin. Mereka seperti penjual yang tak berpekerti. Memberi janji-janji agar pundi-pundi suara kami dapat mereka kantongi. Setelah itu, mereka menjarah segalanya. Dan yang paling tak bermoral, mereka menjarah harapan yang telah kami kumpulkan dengan susah payah.
Aku masih ingat dengan kelakuan si Udin, pengusa Bumi Petani yang dalam hitungan hari akan kadaluarsa itu. Ia dulu naik ke atas panggung, menyejajari dua pesaingnya, Kadir dan Johan. Ia letakkan koper hitam di atas meja, dan dengan sangat berwibawa berujar,”Aku punya rahasia besar. Dalam koper ini ada lumpur ajaib, jika disiramkan ke jalan akan membuatnya hitam seketika. Halus dan kokoh tiada tanding. Bisa dilewati truk raksasa dengan muatan seratus ton. Dan mampu bertahan hingga satu abad.” Kami takjub bukan main. Terbayang jelas di pelupuk mata, jalan Bumi Petani yang berlubang-lubang, berlumpur, yang sangat sulit dilewati saat hujan datang, akan berubah seketika oleh lumpur ajaib dalam koper hitam itu. Jalan akan menjadi hitam, halus, dan kokoh hingga seabad. Pastinya hasil bertani kami akan mudah dijual di negeri seberang, dengan harga yang meninggikan hidup kami. Dan harga barang-barang industri akan turun karena biaya transportasi yang lebih murah. Duuuh, indahnya … .
Apa yang ada dalam koper hitam Udin jauh lebih berharga dari milik Kadir dan Johan. Kadir hanya menawarkan air sakti yang bisa menyembuhkan kusta, sebenarnya cukup menggiurkan. Sedangkan Johan menawarkan ramuan dari Cina yang bisa membuat anak-anak kami menjadi pintar, juga sangat menarik. Tapi, Udin seolah menawarkan hujan saat kami tercekam kemarau panjang. Kami bosan dengan jalanan yang ancur-ancuran. Kami ingin seperti yang lain, dapat berkendara tanpa mengalami retak tulang, seperti naik pesawat terbang, alus. Juga dapat mengusung hasil panen dengan mudah. Udin benar-benar tahu harapan petani. Aku bahkan menangis haru dengan apa yang dijanjikan Udin, aku terpesona habis-habisan.
Tapi … .
Tetanggaku bilang Udin itu pembohong. Hingga masa kekuasaannya akan habis, jalanan masih saja begini. Tubuh terseok-seok saat melewatinya, kadang terjungkal. Tak hanya retak tulang, tapi remuk tulangnya. Lumpur ajaib itu ternyata lumpur sungguhan. Ya, jalan kami benar-benar berlumpur. Kutatapi setiap hari, tapi tak kunjung juga menghitam. Malah harapan dan suara kami yang jadi hitam, hangus oleh mitosnya si Udin.
Dulu, sebelum si tukang tipu yang bernama Udin berhasil memperdayai kami, sebenarnya kami juga sudah kena tipu yang menyakitkan. Tertipu oleh Pak Muzar dan isi koper hitamnya. Pak Muzar yang terpandang itu bilang jika di dalam kopernya ada tongkat. Tongkat yang ia dapat saat kuliah di London. Ia bilang, dengan tongkat antiknya, getah karet yang kami kumpulkan dari kebun bisa disulap jadi berbagai komoditi layak jual. Bisa jadi ban, ember, sepatu, sandal, dan lain-lain. Dengan begitu, getah karet kami akan melonjak harganya. Kata Pak Muzar,”Harga karet akan naik seratus kali lipat.”
Takjub tak terkira yang kami rasakan. Kami bisa sejahtera berkat tongkat antik dalam koper itu. Bahkan aku menebak, Pak Odon yang kebun karetnya berhektare-hektare, bisa jadi orang paling kaya di dunia. Kami menukar suara kami dengan janji Pak Muzar, dan berharap kami bisa untung berlipat-lipat. Tapi, entah apa yang terjadi. Abra Kadabra, tongkat itu benar-benar sakti tak tertandingi. Harga karet turun drastis, dari Rp. 23.000 menjadi Rp. 5.000 per kilonya. Ya ampun, tongkat dari London benar-benar membawa aura sihir yang menakutkan, seperti kutukan.
“Sudahlah, setidaknya Pak Muzar bisa membuat pertunjukan sulap yang hebat. Itung-itung untuk hiburan,” kekeh Mbah Karsan, sesepuh kampung yang terkenal keikhlasannya.
Kata Adnan, teman baikku, sebenarnya pemimpin itu kerjanya gampang. Sumber devisa begitu banyak dan ada di depan mata, tinggal pintar-pintar membuat anggaran. Aku jadi teringat dengan Aminah, isteriku yang begitu lembut. Dia tidak pernah makan bangku sekolah, menjilatpun tidak. Tapi, beras sepuluh kilo dan uang Rp. 100.000 bisa cukup untuk satu bulan, tanpa ada kas bon sama sekali. Padahal kami memiliki tiga anak dalam fase kemaruk. Di sini poinnya. Artinya, isteriku itu jago dalam membuat anggaran, keadaan telah menempanya hingga menjadi seorang manager keuangan adiluwih. Juga kemampuannya mempengaruhi kami, agar hidup jangan berlebih-lebihan, syukur harus meroket. Timbulah pikiran nakalku. Bagaimana kalau isteriku aku calonkan jadi pemimpin Bumi Petani? Jelas ia pakar soal anggaran. Tapi mana bisa? Pendidikan formal adalah syarat mutlak jika ingin jadi penguasa Bumi Petani, minimal sarjana. Lagi pula, biayanya terlampau mahal. Bisa habis trilyunan untuk kampanye dan urusan administratif lainnya. Ongkos dari mana?
Ngomong-ngomong soal minimnya anggaran dalam keluargaku, itu karena “Pesta Bumi”. Aku yang digigit trauma atas janji-janji para penguasa, akhirnya mengambil langkah ekstrim. Hasil panen kujual semua guna membayar orang pintar untuk mengajari anak sulungku hal yang luar biasa. Kuminta para orang pintar itu untuk mengajari anakku ilmu mempertajam mata. Agar anakku bisa melihat benda-benda yang tersembunyi, di balik tembok sekalipun. Tujuannya jelas, yaitu agar anakku bisa melihat isi koper hitam yang ditenteng para calon penguasa. Biar kutahu pasti, mana yang kopernya benar-benar berisi.
***
Penduduk Bumi Petani tampak kuyu saat beranjak dari rumah masing-masing. Dengan malasnya mereka berbondong–bondong ke TPS (Tempat Penjualan Suara). Mata mereka memancarkan sorot traumatik yang mendalam, sama persis dengan mataku. Kami takut rugi lagi dalam transaksi ini. Suara hanya terbuang sia-sia, janji tak kunjung juga menunjukkan buahnya. Tapi, jiwa petani adalah jiwa yang penuh dengan harapan. Bahkan, harapanlah yang membuat kami bertahan hidup. Walau dikhianati beribu kali, kami akan tetap berharap. Berharap pada koper hitam musiman yang ditenteng orang-orang aneh. Berharap kali ini koper hitam itu benar-benar berisi keajaiban.
Kali ini ada tujuh makhluk yang meneteng koper hitam. Jumlah yang fantastis. Pakaian mereka hampir serupa. Celana hitam, kemeja merah, dasi kuning, dan jas pink. Hanya alas kaki yang berbeda. Dengan berwibawa naik ke atas panggung. Menatap tajam. Seolah ingin meyakinkan kami, bahwa mereka adalah wakil Tuhan. Koper hitam diletakkan di atas meja masing-masing. Hitam pekat. Seolah habis menyerap dosa-dosa seluruh penduduk bumi. Aku coba menebak-nebak, sepertinya kali ini akan ada yang menawarkan kacang ajaib, sekali telan kenyang selamanya.
Anak sulungku sudah bersiap siaga, konsentrasi penuh. Nafasnya teratur. Matanya tajam mengancam koper-koper hitam di atas meja. Kuamati baik-baik tingkah anak itu. Sekejap tubuhnya menggigil. Matanya terbelalak. Lalu terduduk pucat pasi. Semua berlangsung begitu cepat. Aku panik dibuatnya.
Anak sulungku mengalihkan pandangan. Ia menatapku ketakutan. Kucoba membuang rasa panik jauh-jauh. Kucengkeram kedua pundaknya kuat-kuat.
“Bagaimana, ada isinya tidak?”
“Koper-koper itu…” Suara anakku tercekat. Aku berdebar penasaran. “Kopernya… berisi tuyul semua, Yah. Hati-hati! Mereka akan mencuri uang kita.”
Dummmm. Kepalaku seperti ketiban palu. Pening, berat teramat sangat. Bocah-bocah botak berkain popok tiba-tiba berlarian mengelilingiku sambil mengibas-ibaskan uang. Dan, gelap … .













“Katra, Sang Legenda Cinta”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Cinta itu jika diperhatikan, sekilas mirip juga dengan hujan, ia jatuh di mana saja, di tengah gurun pun ia tak sungkan untuk bertabur. Kadang ia buta akan waktu, di tengah musim kemarau saja tak jarang ia menetes begitu saja.
Mata Nenei sembab setelah semalaman menangisi kemalangan nasib cintanya. Siapa sangka, hubungan cinta yang ia bangun bertahun-tahun dengan Rama, lelaki yang begitu dicintainya, kandas. Kadang ia merasa egois karena selalu meminta untuk dimengerti. Tapi apa salahnya? Toh ia wanita. Di jagad mana pun wanita memang selalu ingin dimengerti.
Tapi sebenarnya, Rama adalah pria yang kesabarannya nyaris tak tertandingi. Ia memaklumi sikap Nenei yang lebih sering kekanakan, mudah tersinggung, tidak konsisten, dan kurang respek terhadapnya. Selain itu, Rama juga memiliki cinta yang tulus. Cintanya jika disandingkan dengan gunung, akan terlihat berlipat-lipat lebih besar. Tapi hendak dikata apa, cinta memilih jalannya sendiri, meski mereka merasa saling tersakiti.
Tapi abaikan dulu tentang Nenei dan Rama, kita lihat di pojok kehidupan sana, ada sosok makhluk yang apabila ia bersyair rasanya waktu berjalan pelan sekali. Burung-burung akan lupa bagaimana cara untuk terbang, tikus dan beberapa makhluk kembarannya ternganga dengan gigi yang mengancam, sayap nyamuk lenyap seketika desingannya, gurun pasir dipenuhi embun tiba-tiba. Dialah Katra. Pria dengan rambut panjang ala seniman jalanan, yang sering berjalan gontai di dua alam sekaligus. Tak ada yang tak mengaguminya. Dia berwibawa meski berpenampilan ala kadarnya.
Tentang Katra, banyak yang menebak, kelak ia akan menjadi sosok yang bersejarah, lalu menjadi dongeng, dan berakhir sebagai mitos. Meski begitu, ia akan selalu menempati posisi sebagai makhluk yang sulit untuk dilupakan oleh siapapun yang mengenalnya. Ia selalu meninggalkan kesan, bahwa ia adalah mimpi ganjil yang bagaimanapun bentuknya selalu menarik untuk diurai kisahnya. Ia sang legenda, yang akan diwarisi budaya sebagai kisah turun-temurun.
Sekarang, apa jadinya jika Katra, makhluk elegan yang penuh dengan cinta itu kita masukkan di tengah kisah asmara Nenei dan Rama?
Katra meyakini, bahwa cinta adalah bagian dari takdir. Jadi, seburuk apapun perannya dalam sebuah kisah cinta, tetap akan ia jalani. Umur cinta Katra pada Nenei, lebih muda sedikit dibanding awal benih cinta Nenei dan Rama saat pertama kali tumbuh. Meski begitu, semua sudah dapat ditebak, cinta Katra tiada duanya. Jika sama-sama dimasukkan toples, cinta Rama akan lenyap oleh satu jilatan cintanya Katra. Meski kebalikannya, cinta Nenei padanya hanya ibarat butir debu yang satu abad lebih terjebak dalam kipas angin. Ironis memang. Tapi jika melihat senyum Katra, seolah ia adalah orang paling beruntung sedunia oleh cinta sebutir debu yang sudah tercacah itu.
Sekarang kita tahu, siapa tokoh utama dalam kisah ini, ialah Katra. Walau sekarang ia terlihat ibarat pecundang yang pantas untuk meratap-ratap, tapi mari kita giring ia untuk menjadi seorang pemenang!
Di saat perih hati yang melanda hati Nenei, berkelebat bayang Katra, orang yang pernah dikenalnya, yang dulu pernah membuat puisi manis untuknya. Tersulut ingin menutup lara hati karena Rama, Nenei mencoba mengulur tali komunikasi dengan Katra. Katra, sang pecinta sejati itu, bukan kepalang senangnya.
“Katra, kau tahu? Puisi-puisimu itu ibarat kalpanax, ia mengobati aib.” Suatu ketika Nenei membuka pembicaraan. Di tengah rasa canggung, Katra mencoba mencerna kalimat Nenei, tapi gagal.
“Andai aku boleh tahu, maksud kalimat indahmu itu sebenarnya apa, Nei?”
Nenei tersenyum. Manis sekali.
“Setiap aku membaca puisimu, aku seolah menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini, hingga aku merasa , aibku sirna. Pusisimu itu obat, Tra, membacanya dapat menyembuhkan semua sakit yang kumiliki, termasuk sakit yang aibnya setara dengan panu.”
“Benarkah? Mungkin membuat puisi adalah kerja sampingan yang dipercayakan Tuhan kepadaku, Nei.”
“Kurasa, Tuhan tidak pernah salah memilih orang. Kau orang yang tepat untuk puisi.” Nenei tersenyum tulus.
“Dan kau adalah puisi yang sesungguhnya, Nei.” Katra menunduk. Sejenak mendongak kembali. “Kau tahu, Nei? Puisi itu sepertimu, dunia melahirkannya sebagai hal spektakuler yang membuat masa kehabisan cara untuk menggerusnya.”
***
Tiga tahun kemudian …
“Aku memang menyukaimu, Tra, tapi tidak sedikitpun ada rasa cinta untukmu.” Tegas suara Nenei mengalun, Tidak peduli bahwa kalimatnya itu melukai hati yang paling bersih untuknya.
“Kenapa?”
“Takdir.’
Suasana hening. Pria berambut gonrong itu tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Dalam sekejap hidupnya terasa hambar.
“Lalu apa maksud sikapmu selama ini, Nei?”
“Aku hanya mencoba membuka hati untukmu, Tra, tapi maaf, aku tetap tidak bisa mencintaimu!”
“Karena Rama?”
“Iya.”
“Bukankah ia menyakitimu?”
“Iya, dulu. Sekarang ia datang dengan niat yang suci. Ia menemui Ayahku, melamarku. Hal yang sama sekali tidak berani kau lakukan. Cintamu hanya besar di kata, Tra, tapi buktinya nihil. Kau tidak lebih dari seorang pembual.”
“Dengan semua perasaan kasih yang kumiliki untukmu, kau bilang aku pembual?”
“Entahlah … .” Nenei tampak serba salah.
“Banyak yang ingin kusampaikan padamu, Nei. Tapi biarlah! Aku simpan saja untukku sendiri. Pergilah, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu! Mencintaimu saja bagiku sudah lebih dari cukup.”
“Maafkan aku, Tra!” Nenei tidak mampu menahan air matanya. Jauh di dasar hatinya, ia merasa sangat bersalah. Biar bagaimanapun, sebenarnya ia mencintai Katra, meski tidak besar. “Sudahlah, Rama lebih segalanya dibanding aku. Dia menunggumu, Nei, pergilah! Aku akan baik-baik saja. Kau akan melihatku sebagai orang yang paling lihai mengubah sakit hatinya, menjadi bahan bakar semangat untuk meraih puncak terbaik dari kehidupan ini.”
Perlahan, meski berat, Nenei membalik tubuhnya. Langkah demi langkah, ia semakin menjauh dari pria yang tetap mematung di tempatnya itu. Di balik derai air mata, hatinya berbisik,”Sebenarnya aku mencintaimu, Tra. Hanya saja cintaku pada Rama jauh lebih besar dari cinta yang kumiliki untukmu.”
Katra tetap tegak, ia terus menatap Nenei hingga tubuh gadis itu terhalang oleh gedung. Di saat hatinya sakit, ia masih bisa mengulas senyum. Manis, manis sekali senyum itu. Tidak ada sedikitpun dendam meski sekecil zarrah sekalipun. Meski dipecundangi cinta, ia tetap merasa menang. Ia mampu berdiri sampai saat ini, walaupun beribu sakit silih berganti menghajarnya. Tak ada sedikitpun niat untuk lari. Yang ia tahu cintanya bening, pun terus mengalir. Meski tak dilirik, ia tetap bisa meneguknya untuk dirinya sendiri. Jika kelak di masa selanjutnya ada yang menyebutnya sebagai orang yang bodoh, gila, aneh, maka dapat dipastikan orang itu tidak tahu apa itu cinta.
***
Daun yang hijau, kemudian menguning, lalu kering kecokelatan, hingga akhirnya membusuk; adalah tanda bahwa waktu tak punya jeda untuk sejenak mengistirahatkan diri. Ia terus berjalan, tanpa henti.
Kini, Katra telah membuka hati yang sekian lama terkunci oleh satu nama, Nenei. Tak sulit baginya, karena ia sosok yang sangat mudah untuk dicintai. Sudah berapa kali saja gadis-gadis mengharap cintanya, tapi selama ia bersama Nenei yang bukan siapa-siapanya, ia menutup rapat hatinya untuk yang lain. Pria yang sangat luar biasa, sang legenda yang akan diceritakan turun-temurun dalam masa yang panjang.
Nenei dan Rama hidup bahagia. Walau sering bertengkar, tapi tak ada sedikitpun niat untuk berpisah. Pernikahan memang tali yang kuat untuk melanggengkan sebuah cinta. Meski terkadang, Nenei berharap suatu saat hati Rama dan Katra tertukar tanpa sengaja. Sehingga ia dapat memiliki Rama, dengan kualitas cinta seperti Katra.
Dalam kurun masa yang lama, Nenei, Rama, dan Katra berakhir di liang lahat. Masa mereka untuk mengukir kisah di dunia telah habis. Tapi nama mereka hidup lebih lama, sebagai cerita yang terus bernafas di hati insan yang ingin mengambil hikmah dari kisah cinta mereka.
Memang, di salah satu sisi kenyataan, hidup hanya berkutat pada tiga hal; lahir – menjalani cinta yang rumit – MATI. Yang paling banyak mengingat mati, yang berpeluang besar menjadi orang yang beruntung.

“Hidup”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Banyak orang yang bingung mengartikan hidup. Adikku, Nabilla, selalu meprotes saat aku katakan,”Hidup itu kebahagiaan.”
“Kalau hidup itu kebahagiaan, mana mungkin Tuhan menciptakan rasa pedih?” bantahnya.
Benar apa yang dikatakan Pak Nuha,”Hidup itu sesuai dengan keyakinan kita. Dan keyakinan kita berasal dari apa yang kita rasakan.” Aku yakin marah itu ada, karena aku pernah merasa marah. Aku percaya benci itu ada, karena aku pernah membenci. Lalu, apakah Tuhan itu ada, sedangkan aku tidak pernah merasakan keberadaan Tuhan di dunia ini? Dua tahun yang lalu, pamanku dan juga keluarganya meregang nyawa dengan sangat mengenaskan. Rumah mereka disatroni perampok dan mereka dibunuh tanpa ampun. Ke mana Tuhan? Kenapa Tuhan tidak menolong mereka? Bukankah paman adalah seorang imam masjid yang begitu taat kepada-Nya. Uji, anak sulung paman juga adalah seorang hafidz sejak usia 17 tahun. Tapi kenapa Tuhan membiarkan dia ikut dibantai?
Aku heran, kenapa di dunia ini seringkali terjadi pertumpahan darah yang mengatasnamakan agama. Semua mengklaim bahwa mereka bertarung untuk Tuhan. Dan semua mengharapkan surga setelah gugur dalam pertempuran itu. Sebenarnya apa mau Tuhan? Kalau Tuhan benar-benar ada, kenapa Dia tidak menciptakan perdamaian di dunia ini? Menciptakan kehidupan yang tentram dan aman dalam kerukunan umat. Hidup dalam kasih-sayang yang kekal. Bukankah itu lebih sesuai dengan sifat Tuhan? Ya Rahim.
Dulu, saat masih kecil, aku begitu rajin pergi ke mushola. Bersama anak-anak tetangga aku belajar mengeja huruf hijaiyah. Aku begitu semangat mendengar kisah Nabi Isa bertarung dengan Dajjal. Lalu ketakutan saat membayangkan betapa tajamnya jembatan Siratal Mustakim. Juga terpana dengan perjalanan Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Aku benar-benar menikmati semua itu.
Kini, aku terasing. Dalam jeruji besi aku hanya tertunduk lesu. Membayangkan tentang kehidupan seperti apa lagi yang akan aku hadapi. Aku di sini karena sebuah kebenaran. Setidak-tidaknya, aku merasa tindakanku benar. Walau aku seorang pembunuh, tapi aku membunuh demi harga diri adikku. Kakak mana yang terima jika adiknya dicemari? Nabilla adalah anak yang baik, cerdas, dan juga rajin ibadahnya. Tapi, seseorang yang sangat kuhormati dengan biadab memperkosanya. Di mana Tuhan? Bukankah Nabilla seorang muslimah yang begitu menjaga auratnya? Jilbabnya lebar dan pakaiannya begitu tertutup, sama sekali tidak menampakkan lekuk tubuh. Bukankah Tuhan menyuruh muslimah menjulurkan jilbab agar mereka mudah dikenali dan tidak diganggu? Tetapi kenapa Nabilla malah diperlakukan dengan amoral? Di mana sebenarnya Tuhan?
“Makan dulu, Dik!” Pak Nafas menegurku. Pak Nafas adalah salah seorang pejabat Negara yang harus mendekam dalam bui karena fitnah. Sebuah makar dahsyat akhirnya berhasil memperosokkannya di kurungan para pecundang. Padahal dia adalah seorang ustadz, yang begitu santun dan derma terhadap sesama. Pak Nafas begitu peduli denganku, ia banyak bercerita tentang dirinya, dan juga kehidupan keluarganya yang begitu harmonis. Mungkin jika tidak ada dia aku sudah nekad bunuh diri. Apa saja akan aku gunakan sebagai media untuk mengakhiri hidup. Tapi Pak Nafas dengan kalem menohok kesadaranku,”Apa kamu yakin kamu tidak akan hidup lagi setelah mati? Bukankah kamu sudah merasakan sendiri bahwa kamu dulu tidak hidup, kemudian dihidupkan? Nah, kalau ternyata kamu nanti hidup lagi bagaimana? Dan ternyata kamu hidup di dunia yang lebih mengerikan dari pada bumi ini?” Otot-otot tubuhku terasa nyeri rasanya. Aku tiba-tiba begitu takut dengan kehidupan.
Pak Nafas yang begitu telaten merawatku. Mungkin orang-orang yang lain mulai menganggapku tidak waras, tapi Pak Nafas begitu yakin bahwa aku hanya terpukul. Cepat atau lambat akan sembuh rasa sakitnya. Ia memperlakukanku seperti keluarganya sendiri, walau aku sama sekali tidak mau berbicara padanya, pada siapapun. Aku hanya merasa takut akan hidup ini. Aku ngeri sepanjang hari. Aku merasa bahwa aku hanyalah makanan empuk kehidupan, yang jika lengah akan terlahap dan terkunyah-kunyah.
***
Aku melihat adikku menangis. Gadis yang baru mengenyam bangku kuliah itu begitu ketakutan, badannya gemetar.
“Aku diperkosa, Kak,” lirihnya.
“Hah! Biadab! Siapa yang melakukannya?” Emosiku meluap menembus ubun-ubun. Nabilla hanya menangis sesenggukan.
“Katakan, Billa! Katakan siapa yang melakukannya!” Kugoncang-goncang pundak adikku satu-satunya itu. Aku benar-benar tidak terima atas perlakuan yang diterima adikku.
Aku melompat setelah mendengar ucapan Billa. Dengan gesit kusambar pisau di dapur. Dengan cepat aku melejit ke rumah Pak Ma’ruf.
“Dasar dosen bajingan!” makiku setelah kuterobos masuk ke dalam rumah dosen yang juga pernah mengajarku itu. Kudapati pria berjenggot itu sedang makan malam bersama isteri dan dua orang anaknya. Tanpa banyak bicara langsung kuhujamkan pisau dapur ke dadanya berkali-kali. Hingga pria yang tampak terkejut dengan kedatanganku itu sempoyongan bersimbah darah, dan akhirnya kelojotan di lantai diiringi jerit tangis isteri dan kedua anaknya yang masih kecil. Ruang makan sekejap menjadi sangat mencekam. Tatapan memelas memancar pada mata isteri dosen amoral itu. Jantungku berdetak tidak beraturan. Aku baru sadar apa yang aku lakukan, aku telah menghilangkan nyawa dosen yang dulu pernah menjadi dosen favoritku. Tapi apa salahku? Dia hanya seorang pemerkosa. Nafasku sesak. Aku berlari ke luar rumah dan terus berlari. Berlari hingga aku megap-megap tidak kuat lagi. Syarafku terasa terpreteli satu per satu. Hingga kurasa detik selanjutnya pria-pria berseragam menyeretku. “Tidakkkkk………..!” teriakku. Aku begitu ketakutan. Kurasakan dunia begitu mengerikan. Para tuyul berlarian menertawakanku. “Tidakkkkk…………..!”
“Tenang, Dik! Tenang! Bangunlah! Kamu mimpi buruk rupanya.” Aku menatap sekeliling. Tembok dengan warna berantakan dan pagar besi yang kulihat. Pak Nafas dengan wajah teduhnya menatapku dengan panik. Hingga kurasa wajah teduh itu perlahan buram. Dan akhirnya hilang seketika.
***
“Di mana Tuhan? Di mana? Kenapa Dia membiarkan adikku dijamah pria sialan itu? Kenapa paman dan keluarganya tidak ditolong saat para penjahat membunuhnya? Kenapa Tuhan membiarkanku dipenjara seperti ini? Kenapa, Pak? Kenapa?” Aku mengamuk saat Pak Nafas menemuiku. Pria berwajah lembut itu sudah keluar dari tahanan. Aku tidak tahu sudah berapa tahun aku terkurung dalam ruang penderitaan itu. Bergelut dengan tembok kotor yang terus-terusan tersenyum kecut kepadaku. Apalagi setelah Pak Nafas sudah tidak ada lagi, aku semakin ketakutan. Aku rindu wajah teduhnya yang sedikit bisa mengurangi rasa takutku.
Dua orang petugas memegang tanganku kuat-kuat. Mereka khawatir aku akan memporak-porandakan ruang besuk itu. Tapi Pak Nafas memberi isyarat agar aku dilepaskan. Aku terduduk di hadapan pria yang pernah satu jeruji denganku. Air mataku meleleh. Mungkin aku memang benar-benar sudah gila. Tapi aku sadar aku tidak gila. Aku hanya merasa takut, sangat takut.
Dari lobang jendela kulihat orang-orang yang sangat aku kenal. Mereka adalah ayah, bunda, dan adikku Nabilla. Nabilla terlihat sangat dewasa. Dia sangat cantik dan anggun. Deraian air mata terus-terusan membanjir di wajah mereka. Mereka menatapku. Ya, menatapku di balik derasnya air mata.
“Besok kamu bebas, Dik. Bersiap-siaplah! Kita jalani hidup yang lebih baik.” Aku tertegun. Aku akan bebas? Akhirnya aku akan keluar dari tempat mengerikan ini. Tapi, bukankah kehidupan sama saja? Di mana pun tempatnya hidup hanyalah gambaran apa yang pernah aku rasakan, menakutkan.
“Apa kamu masih percaya Tuhan, Dik?” Pak Nafas menatapku serius. Aku menggeleng.
“Sama, aku juga tidak percaya Tuhan.” Aku tertegun. Mana mungkin Pak Nafas tidak percaya Tuhan? Selama di penjara hari-harinya hanya untuk ibadah, dzikir hampir-hampir tak pernah berhenti dari mulutnya. Sekarang dia mengatakan bahwa dia juga tidak percaya Tuhan? Apa-apaan ini?
“Tapi percaya atau tidak percaya akan Tuhan, tetap saja Tuhan itu ada. Sehingga mau tidak mau aku akhirnya percaya pada Tuhan. Kamu tidak percaya Tuhan karena kamu tidak merasakan keberadaannya, kan? Bagimu bukti yang ada di semesta dan juga firman-Nya hanya bualan semata, dan Tuhan tidak pernah menunjukkan keberadaannya. Itu masuk akal. Tapi ingat, Tuhan bukan makhluk, Tuhan bukan ciptaan. Tuhan bukan amarah, yang walaupun tidak berbentuk tapi bisa kamu rasakan. Tuhan lebih dari segalanya. Gunakan hatimu untuk merasakannya. Luangkan waktu, cari tempat yang tenang untuk bertafakur, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad di gua Hira. Gunakan pengetahuanmu untuk membantu. Lalu rasakan betapa Tuhan itu ada.” Aku mengikuti arah pembicaraan Pak Nafas. Benarkah apa yang dikatakannya? Sebenarnya akalku membenarkan keberadaan Tuhan, tapi hatiku tidak.
“Bisa saja Tuhan memberikan tempat yang lebih baik untuk pamanmu dan keluarganya. Tuhan tahu yang terbaik untuk makhluknya. Toh, ada atau tidak adanya kejadian itu, pamanmu dan juga keluarganya juga akan mati, benar kan? Juga adikmu, jika ia bersabar atas musibah yang menimpanya, tentu Tuhan akan meninggikan derajatnya di atas orang-orang pada umumnya. Semakin taat seeorang pada Tuhannya, maka ujian keimanannya akan semakin berat. Adikmu beruntung mendapat ujian yang berat, itu artinya ia memiliki kesempatan untuk lebih dekat pada Tuhan jika dia mengerti maksud Tuhan.” Pak Nafas memberi pengertian padaku. Aku merunduk, merasakan kebimbangan yang teramat sangat. Perlahan kutatap wajah pria setengah abad itu.
“Lalu bagaimana denganku?” lirihku. Pak Nafas tersenyum.
“Jika akhirnya nanti kamu dapat merasakan keberadaan Tuhan, maka keimananmu tidak akan ada duanya.” Tatapan Pak Nafas begitu tajam. Ia menukik dalam jantungku. Dan aku menyadari sesuatu, aku rasa ada Tuhan di sisiku. Ya, Tuhan yang telah menggerakkan hati Pak Nafas untuk menguatkan hatiku. Tuhan yang telah membuat pria mantan narapidana itu masih saja peduli denganku.
***
Udara terasa begitu sejuk walau matahari bertengger dengan gagah di langit Timur. Daun beringin melayang meninggalkan ranting diterpa angin. Burung gereja mencicit berkejar-kejaran, tampak bangga dengan sayapnya. Langit, oh langit. Betapa aku sudah lupa cara mendakinya. Padahal dulu aku ada di sana, menggantungkan setiap impianku pada bintang-bintang yang bersinar terang. Berharap suatu saat akan kembali lagi untuk memetiknya.
Dua ekor cicak terlihat saling serang di cabang pohon yang besar. Mengingatkanku pada protesku akan peperangan. Tapi kini aku sadar, perang dan segala macam kerusuhan di dunia ini, itu karena manusia sendiri. Ya, manusia diberi kekuasaan untuk berbuat, hak untuk memilih. Baik atau jahat seseorang itu karena dia memilihnya. Karena banyak manusia yang memilih menjadi jahat, maka harus ada orang-orang yang memilih menjadi baik. Dan akhirnya dua kekuatan besar itu dipertemukan di medan laga, untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat. Yang baik bertarung untuk kebenaran, untuk Tuhan, dan yang jahat bertarung untuk nafsu, untuk syetan.
Kuhirup udara sekuat-kuatnya, dan kuhembuskan perlahan. Kurasakan betapa nikmatnya karunia ini. Hidup adalah keyakinan, sama seperti yang dikatan Pak Nuha dulu. Dan aku yakin aku akan hidup dengan lebih baik setelah ini. Karena aku pernah merasakan kebaikan hidup saat masih kecil dulu. Dengan membuang semua keyakinan buruk, dan menggantinya dengan keyakinan yang indah, maka aku akan menjadi sosok yang baru. Ayah, bunda, dan Pak Nafas adalah orang-orang yang telah membuktikannya, bahwa mereka mampu menjalani hidup sampai saat ini, sampai menginjak usia yang tidak muda lagi. Nabilla, dia sudah menikah sekarang. Dengan Fahri, temanku sendiri. Pria jenius dan baik perilakunya. Kulihat seorang gadis kecil menggenggam erat-erat tangan Nabilla. Sangat cantik, seperti Nabilla saat kecil. Benar kata Pak Nafas, Tuhan punya rencana di balik semua kejadian. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya.
“Dik, ini anak Bapak.” Pak Nafas menunjukkan seorang wanita berkulit bersih, berjilbab dengan anggun, sangat indah. Dia tersenyum ramah dan menganggukkan kepala. Aku mencoba ikut tersenyum.
“Maukah kamu menikahinya?” tanya Pak Nafas mengejutkanku.
Aku tertegun. Gugup. Jantungku mau copot rasanya.

“Gurat Bidadari”

Oleh: Mukhlis Ahsya
Aku hanya bisa termenung memandangi hamparan sawah yang menguning. Terhuyung-huyung dihempas angin sore yang beraroma matahari. Burung-burung hinggap dengan takut-takut di atas bulir-bulir padi yang menggoda. Mematuk si bernas dalam bayang-bayang orang-orangan sawah. Di depan sana langit lepas terpampang mempesona. Memaksa batin untuk takjub pada Sang Pencipta. Awan yang berarak menutup cahaya membuat lukisan indah di gerbang senja. Disambut debu yang menari-nari diiringi gemercik air yang berirama bersama daun yang saling bersinggungan. Nyanyian alam yang melenakan insan dalam buai kesejukan. Meneteskan tinta dalam lembaran kisah cinta yang tak terperikan. Inilah hidup, dalam buai bayang bidadari yang mengangkasa.
“Hamid Sandrea, benar?” Tanya sosok wanita di depan pintu rumah.
“Iya, benar. Siapa, ya?” aku sedikit terkejut. Wanita itu tersenyum. Tercetak garis indah di sudut bibirnya.
“Hemmm, aku adalah aku. Aku hamparan tanpa ukiran. Aku bagai lembaran kosong yang menunggu cahaya jatuh. Untuk menerangiku, agar cinta dapat menemukan jalannya di lembaran kosongku.”
Aku takjub. Aku tahu siapa wanita di depanku. Bibirku pun melantun dengan pasti,”Dan cinta dapat memasuki titik di mana hatiku bersemayam. Lalu cinta melekat di sana. Menjadikan merah darah seelok warna pelangi.”
“Hahahaha…..” Kami tertawa bersama. Tidak kusangka, Hafsa hadir di hadapanku. Dia adalah melodi yang mengiringi kisah hijauku, saat kami bersama-sama merajut persahabatan yang lugu. Entah berapa tahun lamanya aku tidak melihatnya. Setelah ia pindah dan menghilang dari kehidupanku. Kini Hafsa sulit untuk dikenali. Hanya saat ia tertawa, yang mengingatkanku pada Hafsa berpuluh tahun yang lalu. Seorang gadis periang, yang kecantikannya sulit untuk digambarkan. Dan kini, keyakinanku tetap sama, kecantikan Hafsa memang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Ada gurat bidadari di rona wajahnya. Walau bukan bidadari sungguhan, namun saat melihatnya aku dapat menerka-nerka seperti apa bentuk bidadari. Hafsa, dia adalah wajah purnama yang hampir setiap hari menemani masa beliaku. Yang dengan setia menjadi pembaca syair-syair hasil tarian jemariku. Bahkan, ia melekatkannya di ingatan. Hafsa, dia lukisan di rapat senja. Karya artistik keagungan tangan Tuhan.
Aku menatap Hafsa. Ada ngilu merayap di ulu hati. Ada keganjilan yang sekejap menderaku. Kehadiran Hafsa memunculkan benih sesal. Sesal karena seminggu lagi aku akan menikah dengan Nadia. Wanita berkerudung yang bersedia merajut cinta bersamaku setelah melalui proses ta’aruf. Hatiku goyah. Hafsa adalah nada-nada yang ingin kudengar sepanjang masa. Yang kucari-cari sampai ke sarang lebah. Kukira ia diculik kawanan tawon karena disangka madu.
“Astagfirlah..!” Komitmenku diuji. Hatiku berdesis-desis berlumuran bisa.
***
Dering Handphone mengusik lamunanku. Kuraih. “Hasfsa….?” Aku terperanjat. Dengan ragu kuangkat telepon.
“Assalamualakum!” sapaku.
“Walaikumsalam.” Terdengar sahutan lembut. “Di mana, Mid?”
“Eee, aku. Aku sedang tidak di rumah.”
“Terus, di mana?”
“Aku di sawah tempat kita dulu sering mencari keong.”
“Oh. Aku ke sana, ya...!”
“Eh, jangan, jangan! Aku ke rumahmu saja. Ibumu ada di rumah, kan?” Tidak terbayangkan jika harus berduaan dengan Hafsa di pematang sawah seperti ini. Aku sadar sekali, kami bukan anak kecil lagi. Tidak bisa sembarangan berduaan. Hanya akan menimbulkan dosa dan fitnah.
“Iya, ada. Ya sudah, aku tunggu. Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam.....” Telfon dimatikan. Ada kebimbangan yang kurasakan. Entah perasaan apa yang kumiliki untuk Hafsa. Sayang? Cinta? Rindu? Apa ini? Jika mengeluh bukanlah hal yang dibenci Tuhan, tentu aku akan mengeluhkan sketsa cerita ini. Tentang kehadiran Hafsa menjelang acara pernikahanku.
“Mid, Hafsa itu sering nangis jika rindu sama kamu. Katanya kamu itu seolah bagian dari dirinya. Saat jauh, ya, terasa sulit. Kangen katanya,” ucap ibu Hafsa sambil melirik ke arah anak semata wayangnya itu.
“Iiiiih, Ibu ini apaan, sih? Ngarang cerita,” protes Hafsa.
“Ngarang bagaimana? Lha wong kenyataannya seperti itu, kok,” ibu Hafsa kembali menimpali. Membuat wajah Hafsa yang bagai bidadari memerah indah. Aku hanya mengulas senyum tipis. Ada tanya yang bertambah mengusik kalbuku. “Apakah Hafsa juga memiliki perasaan sama sepertiku?” Ahh, semoga saja tidak.
Lusa adalah hari pernikahanku, tapi aku belum memberitahukannya pada Hafsa. Aku benar-benar tidak berani mengungkapkan itu. Hafsa telah melekat di hatiku sejak kecil dulu. Dan itu semua menggoreskan kesan yang sulit untuk digambarkan. Yang pasti aku ingin seperti saat kecil dulu, selalu bersama Hafsa.
***
Dengan ragu kuketik sms, “Sa, maaf jika baru memberi kabar. Besok insyaallah aku akan menikah. Maaf juga karena tidak memberimu undangan. Anggap saja sms ini sebagai undangan spesial untukmu. Mohon do’anya, ya!”. Kutarik nafas dalam-dalam. Hatiku seperti dihimpit gunung, sesak. Air mataku jatuh saat kutekan tombol kirim di handphone.
Lama menunggu. Akhirnya ada pesan masuk dari Hafsa. Aku membacanya dengan penuh keraguan. “Aku terkejut. Dan aku juga senang mendengarnya. Selamat, ya! Semoga menjadi keluarga yang bahagia! Aamiiin!”.
Aku mengawang. Tak tahu harus senang atau pilu. Balasan pesan Hafsa mencipratkan dua rasa sekaligus. Gula dan garam.
***
Mentari pagi tersenyum begitu cerah. Angin lembut menyapa pori-pori tubuh ini. Dingin yang bercampur kehangatan melebur dalam tubuh yang penuh keraguan. Gerombolan burung terbang rendah menyapa dunia. Melewati kuning padi yang melambai pada sang surya. Gemercik air tetap menjadi nada-nada setia yang menghiasi kesunyian. Menemani para petani yang mulai menyabetkan aritnya. Memapas tangkai-tangkai padi dengan begitu lincahnya.
Aku berdiri mematung di pematang sawah. Memandang keindahan alam dan menikmati aroma khas persawahan. Mataku terus berkeliling, meniti setiap jengkal objek yang ada di sekelilingku. Berharap ada bekas-bekas masa laluku bersama Hafsa yang bisa kutemukan.
Aku melangkah. Pulang, dan mempersiapkan diri untuk menikah. Berusaha menguatkan hati, dan percaya bahwa inilah yang terbaik. Tidak perlu lagi mencari bayang Hafsa di pematang sawah, karena ada Nadia, yang bukan hanya sekedar bayangan. Ya, Nadia adalah calon istriku. Yang akan menjadi nada-nada baru di lorong hidupku.
***
Kini, Nadia telah resmi menjadi istriku. Orang baru dalam hidupku, yang harus kucintai dengan ketulusan. Aku memandangi Nadia yang sedang sibuk membongkar isi kado. Nadia begitu anggun dengan jilbab lebarnya. Ada sedikit rasa canggung, malu, dan segala macam perasaan aneh lainnya. Tiba-tiba aku teringat Hafsa. Dan aku pun segera menepisnya. Tapi gagal. Tadi Hafsa tidak hadir di pernikahanku. Ke mana dia? Sakit, kah? Atau….. “Ah, mungkin tadi dia datang, hanya saja aku tidak melihatnya,” bisikku dalam hati.
“Mas, ini ada surat dari dalam kado,” ucap Nadia yang membuyarkan lamunanku. “Kita baca sama-sama, yuk!” serunya. Aku melihat bungkus kado di atas pangkuan Nadia. Aku ambil, dan….. “Hafsa?”
“Ee, eeeee…. Kurasa surat itu untukku. Biar aku saja yang baca, ya!” tuturku. Kulihat ekspresi datar dari Nadia. Ia menyerahkan surat yang ditemukannya sambil mengulas senyum yang dipaksa. Aku jadi serba salah.
“Nadia, nanti akan kuceritakan padamu isi surat ini. Percayalah, Nadia! Aku suamimu.” Aku mencoba tersenyum lebar. Berharap Nadia dapat mengerti.
“Baca, lah, Mas! Nanti aku juga ada cerita untukmu.” Wanita cantik itu tersenyum sambil menyodorkan surat ke arahku. Aku langsung mengambilnya dan mencari posisi agak menjauh.

Hamid Sandrea
Sahabat Kecilku
Dari masa lalu kubawa rembulan pemberianmu. Cahaya teduh yang selama ini menyinari hatiku. Kalbu memang sering kali berubah, tapi tidak untuk kalbu yang bertabur cinta yang kuat. Dalam aroma sawah yang tak akan kulupakan, seorang anak belia terus berlari-lari dalam benakku. Hingga ia dewasa, hingga kusadari aku mencintainya.
Mid, aku menangis seharian saat kau kirim sms itu. Kau tahu, aku seakan kehilangan sebagian dari hidupku. Apa yang dikatakan Ibuku adalah apa adanya. Aku memang selalu merindukanmu.
Aku ingin dalam setiap hariku, kau selalu tuliskan puisi untukku. Aku berharap kita masih bisa terus memandangi hamparan sawah yang indah. Berlari-lari di pematang sawah, sambil lafazkan puisi-puisi indah darimu. Aku ingin sebelum tidurku, kau ucapkan kalimat lugumu yang dulu, “Aku akan menjadi pelangi dalam gulitamu”.
Biarlah harap terus jalani perannya. Dan biarlah takdir tentukan arahnya. Dan biarlah aku terus lafazkan puisi-puisi tentangmu. Kini aku sadar, bahwa kau tetap bagian hidupku. Ya, bagian dari perjalanan masa laluku. Kini aku akan berjalan sendiri, menyusuri pematang sawah, dan syairkan kata-kata indah. Aku akan sendiri, dalam buaian kisah masa lalu.
Selamat, ya, Mid!
Hafsa

Kurasa ada butir hangat yang merayapi pipiku. Jalan cerita ini sulit untuk dipahami. Apalagi untuk diterima. Sang bidadari terus melayang dalam pikiran. Ia bergelanyut dalam hati. Tetes air matanya membuat nyeri di kalbu.
“Mas, aku tahu apa yang kamu rasakan.” Suara Nadia berhasil menyentakku. Aku terkejut. Apa maksud Nadia?
“Kemarin ada wanita sangat cantik menemuiku. Namanya Hafsa. Ia bercerita banyak padaku.” Nadia menghela nafas. “Aku sempat cemburu saat ia banyak memujimu. Aku merasa kerdil, karena belum banyak yang kutahu tentangmu. Sebelum pergi ia memelukku. Dan dia menangis.”
“Nadia, ini….”
“Husssstttt!” Nadia memotong. “Hafsa berpesan agar aku selalu setia mencintaimu,” lanjutnya.
“Maksudmu?” Aku heran. Nadia mengusap pipiku yang dibasahi air mata. Ia tersenyum dengan lembut.
“Mas, walau aku tidak seperti bidadari layaknya Hafsa, dan aku tidak selembut Ibumu, tapi aku berjanji, aku akan berusaha untuk menjadi wanita yang terbaik untukmu, suamiku.” Tatapan Nadia begitu teduh. Secepat listrik ia menyengat kebekuan darahku. Mengusir gundah dan keraguan yang memenuhi rongga hati.
“Oh, Nadia…. Kau lah bidadariku.”