Wednesday, November 8, 2017

Ia Kenyamanan




Ia tinggal di langit sana
Serupa awan hatinya
Senyumnya jingga
Tatapnya adalah mentari selepas fajar

Ia adalah malam saat berbintang
Laut gemuruh dengan bias cahaya rembulan
Langkahnya serupa kafilah angin berembun
Tempiaskan sejuk di bekas-bekas jejaknya

Ia adalah kenyamanan yang kuharap menjadi rinai setelah mendung menuai purna

Saturday, July 22, 2017

Kera Lebih Hebat dari Albert Einstein

Pandangan kita terhadap suatu hal sangat ditentukan dari sudut mana kita memandang. Menurut saya, kera lebih hebat dari Albert Einstein, ‘jika dipandang dari kemampuan memanjat mohon’. Einstein memang ilmuan dunia yang kemampuannya dalam ilmu pengetahuan sangat melegenda. Hanya saja, dari perkara memanjat pohon dia pasti akan kalah hebat jika dibandingkan dengan kera. Berbeda lagi jika sudut pandangnya dirubah, yaitu dari segi berpikir misalnya. Jika dibandingkan dengan kera, dari segi berpikir Einstein akan terlihat seperti langit di atas pegunungan, kemampuannya melampaui jauh di atas kera.
Dari hal di atas, sebenarnya saya ingin menunjukkan suatu kesalahan besar dari para pelajar dalam memandang dirinya dan kesalahan guru dalam memandang muridnya.
Banyak pelajar merasa bahwa dirinya bodoh hanya karena mendapat nilai kecil pada beberapa mata pelajaran di sekolah, misalnya Matematika, Bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Keyakinan mereka bahwa mereka benar-benar bodoh diperkuat dengan peringkat kelas yang selalu berada di urutan terakhir. Keadaan tersebut akan membuat kepercayaan diri mereka menjadi redup dan akan semakin menjauh dari ilmu. Dalam hal ini siswa terjebak dalam satu sudut pandang saja, yaitu orang yang berhasil mendapat nilai baik berarti dia pintar dan yang mendapat nilai buruk berarti bodoh. Padahal, jika siswa mau memandang dari sudut yang lain, mereka akan tahu bahwa sebenarnya mereka tidak bodoh, melainkan istimewa seperti istimewanya seseorang yang selalu mendapat nilai tinggi. Kok bisa? Begini ceritanya ....
Misalnya dalam suatu kelas ada siswa A yang pandai dalam semua mata pelajaran, dan ada siswa B yang sama sekali sulit mencerna semua mata pelajaran, namun si B sangat ramah. Jika dlihat dari sudut kemampuan menguasai pelajaran, siswa A lebih hebat dari siswa B. Namun, jika dilihat dari keramahannya, siswa B lebih hebat dari siswa A. Kesimpulannya, mereka sama-sama hebat, mereka semua istimewa. Si A tidak lebih baik dari si B, si B tidak lebih buruk dari si A, mereka sama-sama baik dan sama-sama berkualitas. Dalam hal ini siswa tidak boleh buru-buru mengklaim bahwa dirinya bodoh, karena sesungguhnya ia hebat. Mungkin seseorang memang sulit mendapatkan nilai yang baik di kelas, namun perlu disadari bahwa hebat atau tidaknya seseorang, bodoh atau tidaknya seseorang, tidak seutuhnya ditentukan oleh itu. Orang yang tidak ramah juga dapat dikatakan bodoh; bodoh dalam bersosial, bodoh dalam bertatakrama. Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah cara pandang kita terkadang terlalu sempit dalam mendefinisikan ‘bodoh’ itu sendiri.
Guru juga sangat sering memandang murid dari sudut padang yang sempit, sehingga bagi mereka hanya ada dua kategori siswa, yaitu siswa pintar dan siswa bodoh. Ironisnya, guru hanya memandang dari sisi ‘kemampuan siswa dalam menguasai pelajaran’ saja. Tentu ini sangat tidak adil bagi siswa. Seperti ilustrasi di atas tadi, jika kita melihat hanya dari segi kemampuan memanjat pohon saja, maka kera akan jauh lebih hebat dari Einstein; sehingga Einstein akan terlihat bodoh di sini. Tentu hal ini adalah sebuah ketidakadilah bagi Einstein, seperti ketidakadilan guru terhadap murid-muridnya. Guru harus memperluas cara pandang. Sehingga siswa dengan keunikannya masing-masing akan terlihat pintar semua, terlihat hebat semua.
Tentu saja dalam segala hal selalu ada kendala, termasuk dalam hal merubah cara pandang yang sudah mengakar ini. Namun, kita permudah saja semuanya dengan tindakan nyata, ‘terus belajar’.


Tuesday, April 25, 2017

Dewi

Engkau bukan dewi malam
Bukan pula sepotong rembulan yang jatuh ke bumi menjelma manusia
Engkau adalah sewujud gelap dalam gelap
Karenanyalah aku hendak mencarimu

Bisa saja di sepenggal langkah yang lalu aku menjumpaimu
Tapi sayangnya aku tak benar-benar tahu engkau yang mana
Aku bisa saja menemukanmu
Hanya saja lagi-lagi belum kutahu yang benar-benar dirimu

Kau adalah dewi fajar dan senja
Dewi siang dan malam
Dewi gelap dan terang
Dewi dalam lelap dan terjagaku


Thursday, March 23, 2017

Menyetiai Ketidakpastian

Aku tak mengerti, ketika kesetiaan nyaris sirna di luar sana, ketika satu lelaki tak cukup berpasang dua perempuan, ketika cinta seolah hanya dagangan murah, aku masih saja sama; mencintai satu wanita yang tersekap dalam kesemuan. Aku lebih memilih setia pada ketidakpastiaan.
Kurasa, angin mampu mengusap hati saat kuukir namanya. Jantungku selalu ketakutan saat namanya dibawa angin merapati pendengaranku. Aku hampir saja tak miliki waktu untuk tak rindui dirinya. Dalam setiap nafasku, kurasa cinta menjelma oksigen yang terpeluk aliran darah. Seperti sungai beraliran bening yang membawa kehidupan. Ia membawaku pada muara damai yang dijajah keindahan.
Senyumnya, telah kupetik dan kutitip pada mentari, agar disampaikan pada rembulan kala gulita merapat. Di awal pertengah bulan, selalu kulihat senyum itu mengindah bersama semesta. Oh, ingin rasanya waktu membeku saat itu terjadi. Hingga mencair kembali saat purnama benar-benar sempurna.

Melebur

Waktu menerjangku dengan anggun
Melemparkan sayap matahari, mendekap dengan gulita
Memadukan damai dan ketakutan pada butir-butir hujan
Meniupkan sepoi dari penjuru mata angin

Aku telah berdiri di trilyunan titik
Menjumpai hingga jutaan warna hidup
Menggores kisah dari tiap lembaran hari
Namun, di titik manapun aku, dengan warna apapun kujalani hidup, di setiap kisah yang kugores, selalu terlukis satu nama
Meski semua berubah
Semesta berbeda
Tapi tatapku tetap sama
Tertuju pada satu titik, yang seolah tak kutemui indah bila kuberalih pandang

Kuingin seperti air bening yang mengalir, membawa cinta sebagai nafas
Menembusi masa
Dihantui kemarau
Terhuyung oleh angin
Bergumul dengan riak
Hingga pada titik yang kutuju
Cinta telah melebur dalam darahku


Lihatlah Hujan

Ada masa saat hujan menghentikan hati kita
Untuk sedikit menengadah langit
Dan menghirup aroma cinta yang terhempas dari terjangan derasnya

Lama, lama sekali
Berdiam diri dengan dada yang terlalu pengecut
Menanti keajaiban tanpa berbuat apa-apa

Berilah maaf
Pergilah
Ikut saja aliran bekas hujan yang berarak
Biar kuantar dengan tatap kekalahan

Aku akan tetap sama
Tak akan merubah warna emas menjadi abu-abu
Masih seperti langit sore
Emas

Biarlah rindu-rindu hanyut
Tergenang masa hingga melapuk
Dan hanya tinggaal sisa-sisa kenangan
Yang indahnya adanya jika kupaksa-paksa

Hujan, lihatlah hujan
Sebanyak butirnya lah jumlah rasaku
Terlalu takut kemarau
Kering dalam kehilangan

Kau

Hujan, yang tempiaskan sejuk dari sela butir-butirnya, angankan indah akan sesudut senyum di wajah malam. Terbiasa kutanya pada sunyi, mengapalah rindu merebut kalbu setiap rinai mendekap bumi? Sebanyak kubertanya, sebanyak itu pula hanyalah kosong yang mampu kurengkuh. Waktu telah melemparku pada ruang yang dapat kudengar nada-nada cinta, namun tak sebutirpun menyusupi rasaku. Semua telah tersekat, oleh satu nada yang diritmekan dawai-dawai emas.
Sepi merayu, kuatkan jerat-jeratnya tuk menyekap jiwaku. Penjarakan hidup pada penatian panjang yang melingkar, yang akan berujung bila kuberhenti, tak menanti lagi.
Sepanjang kujejaki bumi, hanyalah usap senyum anggun yang terbawa angin yang kucari. Semakin dekat, terbatas dinding baja sekalipun, masihlah taburan senyum itu menyisa di udara. Semesta tahu, bukanlah raga yang kumau, cukuplah nama dan rasa yang tertitip di jendela-jendela senja, hingga berkelebat di senyuman fajar yang kumiliki. Cukuplah itu sebagai pengharum rasa hebat yang telah habiskan terlalu banyak waktu tuk menyetiai satu mimpi, kau.