Hujan, yang tempiaskan sejuk dari sela butir-butirnya, angankan indah akan sesudut senyum di wajah malam. Terbiasa kutanya pada sunyi, mengapalah rindu merebut kalbu setiap rinai mendekap bumi? Sebanyak kubertanya, sebanyak itu pula hanyalah kosong yang mampu kurengkuh. Waktu telah melemparku pada ruang yang dapat kudengar nada-nada cinta, namun tak sebutirpun menyusupi rasaku. Semua telah tersekat, oleh satu nada yang diritmekan dawai-dawai emas.
Sepi merayu, kuatkan jerat-jeratnya tuk menyekap jiwaku. Penjarakan hidup pada penatian panjang yang melingkar, yang akan berujung bila kuberhenti, tak menanti lagi.
Sepanjang kujejaki bumi, hanyalah usap senyum anggun yang terbawa angin yang kucari. Semakin dekat, terbatas dinding baja sekalipun, masihlah taburan senyum itu menyisa di udara. Semesta tahu, bukanlah raga yang kumau, cukuplah nama dan rasa yang tertitip di jendela-jendela senja, hingga berkelebat di senyuman fajar yang kumiliki. Cukuplah itu sebagai pengharum rasa hebat yang telah habiskan terlalu banyak waktu tuk menyetiai satu mimpi, kau.
Thursday, March 23, 2017
Ingin Ada
Ingin kulangkahkan hati pada ruas hidup yang tak ada engkau di sana
Namun di setiap cabang jalan yang kutempuh ada dirimu jua
Kau ada di setiap hening dan ramaiku
Bahkan kau ada di semangkuk bubur yang kupesan pagi tadi
Enyah saja dirimu
Pergilah dari pendengaranku
Dari jangkau tatapku
Dari harap menjelang tidurku
Dari syarafku agar kosong pikirku darimu
Namun berdiam dirilah pada kakimu saat ini
Izinkan aku datang setelah terjagamu
Dan putuskanlah sesukamu
Hanya saja nanti aku ingin ada untukmu
Namun di setiap cabang jalan yang kutempuh ada dirimu jua
Kau ada di setiap hening dan ramaiku
Bahkan kau ada di semangkuk bubur yang kupesan pagi tadi
Enyah saja dirimu
Pergilah dari pendengaranku
Dari jangkau tatapku
Dari harap menjelang tidurku
Dari syarafku agar kosong pikirku darimu
Namun berdiam dirilah pada kakimu saat ini
Izinkan aku datang setelah terjagamu
Dan putuskanlah sesukamu
Hanya saja nanti aku ingin ada untukmu
Thursday, October 6, 2016
Tuhan Kecil
Oleh: Mukhlis Ahsya
Kau tahu, kawan
Tak cukup jariku berhitung
Akalku pun tumpul
Terlalu banyak yang berbaris di sana
Tuhan-tuhan kecil
Konon, Negeriku yang lalu sempat dilabuhi Tuhan Kecil
Dia terlalu banyak menyusun sandiwara
Menciptakan tokoh-tokoh cerita sekehendaknya
Orang-orang dipaksa bersalah
Atau harus mau mengaku jahat agar halal dibunuhinya
Terlalu banyak malaikat pencabut nyawa yang bertugas
Namun tak ada yang mau pensiun dini
Konon, Tuhan Kecil yang masyur itu sudah tak menjadi Tuhan lagi
Ia ditelan bumi
Musnah
Menjelma seperti dongeng yang tak masuk akal
Bagaimana mungkin ada Tuhan sekeji itu?
Kini era perubahan
Tuhan-tuhan Kecil bertumbuh bagai panu
Meski tak sekejam Tuhan Kecil yang lalu
Tapi tetap sama saja penindas
Selalu mengharuskan orang lain untuk salah
Agar ia menjadi Maha Benar
Menjerumuskan manusia pada kejahatan
Agar ia dapat maujud pahlawan
Ada-ada saja Tuhan kecil ini
Tingkahnya Maha Raja
Berupa-rupa wujudnya
Ia bisa menjadi presiden dan jajarannya
Menjadi wakil rakyat
Menjadi dosen
Menjadi guru
Menjadi saudagar
Menjadi apapun
Kawan, mudah sekali mengendus keberadaan Tuhan Kecil
Cukup saja perhatikan
Jika kau temui manusia yang selalu merasa benar lakunya
Memaksa menjadikan orang lain sebagai tersalah
Selalu beralasan namun tak mau menerima alasan
Merasa istimewa karena jabatan
Suka menyusun skenario untuk hidup orang lain
Dialah Tuhan Kecil
Tuhan Kecil bukanlah Tuhan
Mereka hanya seonggok tubuh
Sama hinanya seperti kita
Tapi selalu merasa paling berkuasa
Tuhan Kecil
Percayalah
Tuhan yang sesungguhnya tidak diam
Dia mengawasi
Dia berhitung
Kau tahu, kawan
Tak cukup jariku berhitung
Akalku pun tumpul
Terlalu banyak yang berbaris di sana
Tuhan-tuhan kecil
Konon, Negeriku yang lalu sempat dilabuhi Tuhan Kecil
Dia terlalu banyak menyusun sandiwara
Menciptakan tokoh-tokoh cerita sekehendaknya
Orang-orang dipaksa bersalah
Atau harus mau mengaku jahat agar halal dibunuhinya
Terlalu banyak malaikat pencabut nyawa yang bertugas
Namun tak ada yang mau pensiun dini
Konon, Tuhan Kecil yang masyur itu sudah tak menjadi Tuhan lagi
Ia ditelan bumi
Musnah
Menjelma seperti dongeng yang tak masuk akal
Bagaimana mungkin ada Tuhan sekeji itu?
Kini era perubahan
Tuhan-tuhan Kecil bertumbuh bagai panu
Meski tak sekejam Tuhan Kecil yang lalu
Tapi tetap sama saja penindas
Selalu mengharuskan orang lain untuk salah
Agar ia menjadi Maha Benar
Menjerumuskan manusia pada kejahatan
Agar ia dapat maujud pahlawan
Ada-ada saja Tuhan kecil ini
Tingkahnya Maha Raja
Berupa-rupa wujudnya
Ia bisa menjadi presiden dan jajarannya
Menjadi wakil rakyat
Menjadi dosen
Menjadi guru
Menjadi saudagar
Menjadi apapun
Kawan, mudah sekali mengendus keberadaan Tuhan Kecil
Cukup saja perhatikan
Jika kau temui manusia yang selalu merasa benar lakunya
Memaksa menjadikan orang lain sebagai tersalah
Selalu beralasan namun tak mau menerima alasan
Merasa istimewa karena jabatan
Suka menyusun skenario untuk hidup orang lain
Dialah Tuhan Kecil
Tuhan Kecil bukanlah Tuhan
Mereka hanya seonggok tubuh
Sama hinanya seperti kita
Tapi selalu merasa paling berkuasa
Tuhan Kecil
Percayalah
Tuhan yang sesungguhnya tidak diam
Dia mengawasi
Dia berhitung
Secangkir Kopi Kenangan
Oleh: Mukhlis Ahsya
Jika angin-angin bertanya padamu tentang kenangan, jawab saja,”Ia telah hilang, tenggelam dalam secangkir kopi.”
Memang tak banyak kebaikan dalam secangkir kopi, hanya sekedar pencair rasa penat, teman kesepian, dan tempat pembuangan kenangan.
Setiap kutemui titik-titik indah dalam hidup ini, aku akan simpan sejenak dalam lembar memori, dan kubiarkan ia menjadi kenangan. Lalu dalam hitungan waktu yang berbeda, kuambil gula dan kucampuri bubuk kopi hitam, lalu kutuangkan titik-titk indah yang telah menjadi kenangan itu bersama berguyur-guyur air panas, dan menjelmalah secangkir kopi kenangan.
Kau mungkin telah bercampur dalam secangkir kopi kenanganku, teraduk bersama kenangan-kenangan yang lain. Dan hanya akan kuambil ketika semesta mengangguk, dan purnama ada di antaranya.
Jika angin-angin bertanya padamu tentang kenangan, jawab saja,”Ia telah hilang, tenggelam dalam secangkir kopi.”
Memang tak banyak kebaikan dalam secangkir kopi, hanya sekedar pencair rasa penat, teman kesepian, dan tempat pembuangan kenangan.
Setiap kutemui titik-titik indah dalam hidup ini, aku akan simpan sejenak dalam lembar memori, dan kubiarkan ia menjadi kenangan. Lalu dalam hitungan waktu yang berbeda, kuambil gula dan kucampuri bubuk kopi hitam, lalu kutuangkan titik-titk indah yang telah menjadi kenangan itu bersama berguyur-guyur air panas, dan menjelmalah secangkir kopi kenangan.
Kau mungkin telah bercampur dalam secangkir kopi kenanganku, teraduk bersama kenangan-kenangan yang lain. Dan hanya akan kuambil ketika semesta mengangguk, dan purnama ada di antaranya.
"Tetap Berhitung"
Oleh: Mukhlis Ahsya
Bila terbentang waktu yang lebih panjang lagi, tentulah kutetap menunggu
Berdiam hati di rindangnya pohon rindu
Berhitung sejak pertama kali daun jatuh
Mengumpulkan embun-embun sejuk dari setiap lembar-lembarnya
Berselimutkan angin pagi, siang, dan petang
Bersinarkan rembulan yang berjajarkan bintang-bintang
Bersembunyi dalam gulita
Melangkah di pintu fajar
Menguap bersama terik
Termenung di bawah langit keemasan
Lalu ditelan malam, hilang
Biar saja waktu semakin memanjang
Aku kan tetap di sini
Dalam ketiadaan
Tetap berhitung
Hingga daun-daun rindu habis
Dan aku benar-benar tiada
Bila terbentang waktu yang lebih panjang lagi, tentulah kutetap menunggu
Berdiam hati di rindangnya pohon rindu
Berhitung sejak pertama kali daun jatuh
Mengumpulkan embun-embun sejuk dari setiap lembar-lembarnya
Berselimutkan angin pagi, siang, dan petang
Bersinarkan rembulan yang berjajarkan bintang-bintang
Bersembunyi dalam gulita
Melangkah di pintu fajar
Menguap bersama terik
Termenung di bawah langit keemasan
Lalu ditelan malam, hilang
Biar saja waktu semakin memanjang
Aku kan tetap di sini
Dalam ketiadaan
Tetap berhitung
Hingga daun-daun rindu habis
Dan aku benar-benar tiada
Puisi Kehidupan
"Seni Kehidupan"
Oleh: Mukhlis Ahsya
Adakah yang lebih menarik daripada perjuangan?
Apakah ada yang indah melibihi cinta?
Adakah yang pesonanya melebihi pesona kebaikan?
Tak ada
Tapi sayang sekali, Bunda
Perjuangan, cinta, dan kebaikan telah terbeli oleh uang
Mereka berjuang karena uang
Mereka mencintai karena uang
Mereka baik karena uang
Kalau uang tak landai di telapak tangan, mereka setan
Nurani tak bersuara lagi
Hening
Kesepian di tandusnya kehidupan
Terasing dari peradaban
Menatap nanar panggung sandiwara uang
Dulu mereka meneriaki angin
Ingin dikabarkan pada dunia bahwa estafet perjuangan ada di jari mereka
Namun sekejap menjadi banci
Berkata pada angin,”Kalau perut tak terisi bagaimana bisa berjuang?”
Keringaat kami adalah emas
Kenapa harus peduli terus?
Kapan kami dipedulikan?
Kalau semua hal harus diuangkan, lalu di mana letak kemanusiaan kita?
Semua berebut
Bukan berebut untuk berjuang
Bukan berebut untuk berbuat karena cinta
Bukan berebut dalam laku yang baik
Tapi mereka berebut dengan menjadikan perjuangan, cinta, dan kebaikan sebagai topeng kepalsuan
Seni kehidupan kini bukan perkara menderita asal di jalan yang benar
Seni kehidupan kini menjelma dalam kemahiran berganti-ganti wajah agar tetap dipandang benar
Oleh: Mukhlis Ahsya
Adakah yang lebih menarik daripada perjuangan?
Apakah ada yang indah melibihi cinta?
Adakah yang pesonanya melebihi pesona kebaikan?
Tak ada
Tapi sayang sekali, Bunda
Perjuangan, cinta, dan kebaikan telah terbeli oleh uang
Mereka berjuang karena uang
Mereka mencintai karena uang
Mereka baik karena uang
Kalau uang tak landai di telapak tangan, mereka setan
Nurani tak bersuara lagi
Hening
Kesepian di tandusnya kehidupan
Terasing dari peradaban
Menatap nanar panggung sandiwara uang
Dulu mereka meneriaki angin
Ingin dikabarkan pada dunia bahwa estafet perjuangan ada di jari mereka
Namun sekejap menjadi banci
Berkata pada angin,”Kalau perut tak terisi bagaimana bisa berjuang?”
Keringaat kami adalah emas
Kenapa harus peduli terus?
Kapan kami dipedulikan?
Kalau semua hal harus diuangkan, lalu di mana letak kemanusiaan kita?
Semua berebut
Bukan berebut untuk berjuang
Bukan berebut untuk berbuat karena cinta
Bukan berebut dalam laku yang baik
Tapi mereka berebut dengan menjadikan perjuangan, cinta, dan kebaikan sebagai topeng kepalsuan
Seni kehidupan kini bukan perkara menderita asal di jalan yang benar
Seni kehidupan kini menjelma dalam kemahiran berganti-ganti wajah agar tetap dipandang benar
Friday, September 23, 2016
“Di Penghujung Senja”
Oleh: Mukhlis Ahsya
Seorang lelaki tua di bawah langit sore sedang menikmati secangkir kopi bikinan menantunya. Ada rasa haru setiap kali lidahnya menyapu air hitam bercampur gula itu. Ada kenangan yang mencoba menerobos hatinya dengan menumpang pada aliran kopi yang membasahi kerongkongannya. Kenangan itu mengingatkan betapa senjanya ia kini, seperti langit jingga di Barat sana yang tak lama lagi dilumat gelap, dan membuatnya tak mampu membaca arah akan masa depannya. Di belantara gulita, yang tak dijumpai siapapun yang masih terpeluk raga.
Parsinah, perempuan manis yang hingga kini masih membungakan hatinya itu telah meninggalkannya sejak lama. Sudah lampau sekali masa itu, butuh dua puluh lima tahun lamanya untuk kembali ke sana. Mewariskan padanya dua orang lelaki tampan, Harjoko dan Mali. Yang kini telah memberinya hampir selusin cucu. Ah, kenangan itu benar-benar menyadarkan bahwa ia telah renta, delapan puluh tahun genap usianya kini.
Delapan puluh tahun lamanya ia menjadi bagian penghuni bumi, menjadi saksi akan tumbangnya beberapa tubuh manusia yang awalnya seperti dirinya, hidup dan bahagia dengan hidupnya. Bahkan isterinya sendiri, orang yang telah dijanjikannya kesetiaan itu, tumbang bersama tubuh-tubuh yang lain. Orang-orang menyebutnya ‘mati’. Dalam kesenjaannya, kadang ia masih berpikir nakal. Ingin menantang malaikat maut untuk segera menjemputnya kalau ia benar-benar ada. Namun, kadang seketika nyalinya menciut, bergidik memandang ketidakpastian panjang di depan sana. Ia boleh saja merasa malaikat maut hanyalah dongeng, bualan, omong-kosong. Ia boleh saja menganggap mati hanyalah sebuah kebetulan saja, hanya berlaku untuk orang-orang tertentu, dan mungkin tidak akan terjadi padanya. Akan tetapi, yang mampu ia cerna dengan akalnya, bahwa mati mirip dengan menua. Keduanya bukanlah sebuah kebetulan, bukanlah sesuatu yang tidak ada, tapi merupakan sebuah kepastian yang tidak pandang bulu, menginang pada siapa saja dan sekejap membuatnya tak berdaya.
Lelaki itu menarik panjang-panjang nafasnya, lalu menghembuskan pelan seolah ingin merasakan seperti apa wujud nyawa, barang kali ia tersangkut dalam udara yang ia keluarkan. Rambut kusamnya yang telah berseragam putih berjingkat-jngkat diterpa angin sepoi sore hari. Mengisyaratkan kesepian panjang yang tidak habis-habis, keengganan untuk diterpa waktu yang semakin kusut. Seorang lelaki tua, kursi, sepoi angin, serta kesepian adalah komponen yang serasi saat dipadukan, namun hambar.
“Kapan aku mati?”
Lelaki itu masih saja sama, menghabiskan waktu dengan satu rasa penasaran akan rasa sebuah kematian. Ingatannya sering kali berloncatan, melewati ruang dan waktu. Bertemu kembali dengan kesombongannya yang lalu.
“Aih, mati itu urusan nanti, tak perlu diingat-ingat. Kalau ada orang punya hutang padaku, nah tentu itu yang perlu diingat.”
“Memberi uang pada orang yang membutuhkan? Buat apa? Aku pun masih butuh uang.”
“Yang penting punya uang banyak, kalau perlu bawa mati uangnya.”
Kalimat-kalimat itu dulu adalah sebuah kebanggaan. Suatu hal yang dapat dijadikannya sebagai sebuah pembuktian bahwa ia orang hebat. Namun semua itu kini menua bersama dirinya, keriput disapu zaman dan tidak menarik lagi. Satu-satunya hal yang menarik baginya hanyalah menatapi langit sore bersama kenangan akan kehebatannya dulu.
Dua anak kecil berwajah riang dengan santainya meraih pangkuannya. Tertawa-tawa hingga membuat lamunannya melarikan diri menumpang sekawanan angin dari Timur. Meski gundah sempat menyambanginya, namun seketika sirna saat wajah-wajah lugu menyenangkan itu tempiaskan kedamaian. Anak-anak, bagi orang setua dirinya ibarat embun di tengah kemarau, keajaiban yang bening dan menyejukkan. Didekapnya erat dua cucu mungilnya itu, dan seketika tubuhnya terasa diterbangkan ke awan, dipeluk angin basah.
Lelaki tua itu terlalu sering merenung. Jarang waktu yang ia miliki ia pakai untuk tidur. Takut saat lelap membutakannya, tetiba ajal datang dan ia tak sempat menyambutnya. Padahal sudah setengah windu ia menanti-nanti cemas akan datangnya saat-saat langka itu. Mati yang hanya sekali itu ingin diresapinya dalam-dalam, meski sebagian dari hatinya ingin tetap di dunia. Ia hanya menunggu, menunggu tamu istimewa yang terasa semakin dekat, meski sebenarnya ia ingin sang tamu tersesat.
Oleh: Mukhlis Ahsya
Seorang lelaki tua di bawah langit sore sedang menikmati secangkir kopi bikinan menantunya. Ada rasa haru setiap kali lidahnya menyapu air hitam bercampur gula itu. Ada kenangan yang mencoba menerobos hatinya dengan menumpang pada aliran kopi yang membasahi kerongkongannya. Kenangan itu mengingatkan betapa senjanya ia kini, seperti langit jingga di Barat sana yang tak lama lagi dilumat gelap, dan membuatnya tak mampu membaca arah akan masa depannya. Di belantara gulita, yang tak dijumpai siapapun yang masih terpeluk raga.
Parsinah, perempuan manis yang hingga kini masih membungakan hatinya itu telah meninggalkannya sejak lama. Sudah lampau sekali masa itu, butuh dua puluh lima tahun lamanya untuk kembali ke sana. Mewariskan padanya dua orang lelaki tampan, Harjoko dan Mali. Yang kini telah memberinya hampir selusin cucu. Ah, kenangan itu benar-benar menyadarkan bahwa ia telah renta, delapan puluh tahun genap usianya kini.
Delapan puluh tahun lamanya ia menjadi bagian penghuni bumi, menjadi saksi akan tumbangnya beberapa tubuh manusia yang awalnya seperti dirinya, hidup dan bahagia dengan hidupnya. Bahkan isterinya sendiri, orang yang telah dijanjikannya kesetiaan itu, tumbang bersama tubuh-tubuh yang lain. Orang-orang menyebutnya ‘mati’. Dalam kesenjaannya, kadang ia masih berpikir nakal. Ingin menantang malaikat maut untuk segera menjemputnya kalau ia benar-benar ada. Namun, kadang seketika nyalinya menciut, bergidik memandang ketidakpastian panjang di depan sana. Ia boleh saja merasa malaikat maut hanyalah dongeng, bualan, omong-kosong. Ia boleh saja menganggap mati hanyalah sebuah kebetulan saja, hanya berlaku untuk orang-orang tertentu, dan mungkin tidak akan terjadi padanya. Akan tetapi, yang mampu ia cerna dengan akalnya, bahwa mati mirip dengan menua. Keduanya bukanlah sebuah kebetulan, bukanlah sesuatu yang tidak ada, tapi merupakan sebuah kepastian yang tidak pandang bulu, menginang pada siapa saja dan sekejap membuatnya tak berdaya.
Lelaki itu menarik panjang-panjang nafasnya, lalu menghembuskan pelan seolah ingin merasakan seperti apa wujud nyawa, barang kali ia tersangkut dalam udara yang ia keluarkan. Rambut kusamnya yang telah berseragam putih berjingkat-jngkat diterpa angin sepoi sore hari. Mengisyaratkan kesepian panjang yang tidak habis-habis, keengganan untuk diterpa waktu yang semakin kusut. Seorang lelaki tua, kursi, sepoi angin, serta kesepian adalah komponen yang serasi saat dipadukan, namun hambar.
“Kapan aku mati?”
Lelaki itu masih saja sama, menghabiskan waktu dengan satu rasa penasaran akan rasa sebuah kematian. Ingatannya sering kali berloncatan, melewati ruang dan waktu. Bertemu kembali dengan kesombongannya yang lalu.
“Aih, mati itu urusan nanti, tak perlu diingat-ingat. Kalau ada orang punya hutang padaku, nah tentu itu yang perlu diingat.”
“Memberi uang pada orang yang membutuhkan? Buat apa? Aku pun masih butuh uang.”
“Yang penting punya uang banyak, kalau perlu bawa mati uangnya.”
Kalimat-kalimat itu dulu adalah sebuah kebanggaan. Suatu hal yang dapat dijadikannya sebagai sebuah pembuktian bahwa ia orang hebat. Namun semua itu kini menua bersama dirinya, keriput disapu zaman dan tidak menarik lagi. Satu-satunya hal yang menarik baginya hanyalah menatapi langit sore bersama kenangan akan kehebatannya dulu.
Dua anak kecil berwajah riang dengan santainya meraih pangkuannya. Tertawa-tawa hingga membuat lamunannya melarikan diri menumpang sekawanan angin dari Timur. Meski gundah sempat menyambanginya, namun seketika sirna saat wajah-wajah lugu menyenangkan itu tempiaskan kedamaian. Anak-anak, bagi orang setua dirinya ibarat embun di tengah kemarau, keajaiban yang bening dan menyejukkan. Didekapnya erat dua cucu mungilnya itu, dan seketika tubuhnya terasa diterbangkan ke awan, dipeluk angin basah.
Lelaki tua itu terlalu sering merenung. Jarang waktu yang ia miliki ia pakai untuk tidur. Takut saat lelap membutakannya, tetiba ajal datang dan ia tak sempat menyambutnya. Padahal sudah setengah windu ia menanti-nanti cemas akan datangnya saat-saat langka itu. Mati yang hanya sekali itu ingin diresapinya dalam-dalam, meski sebagian dari hatinya ingin tetap di dunia. Ia hanya menunggu, menunggu tamu istimewa yang terasa semakin dekat, meski sebenarnya ia ingin sang tamu tersesat.
Subscribe to:
Posts (Atom)