Friday, September 23, 2016

“Di Penghujung Senja”
Oleh: Mukhlis Ahsya

Seorang lelaki tua di bawah langit sore sedang menikmati secangkir kopi bikinan menantunya. Ada rasa haru setiap kali lidahnya menyapu air hitam bercampur gula itu. Ada kenangan yang mencoba menerobos hatinya dengan menumpang pada aliran kopi yang membasahi kerongkongannya. Kenangan itu mengingatkan betapa senjanya ia kini, seperti langit jingga di Barat sana yang tak lama lagi dilumat gelap, dan membuatnya tak mampu membaca arah akan masa depannya. Di belantara gulita, yang tak dijumpai siapapun yang masih terpeluk raga.
Parsinah, perempuan manis yang hingga kini masih membungakan hatinya itu telah meninggalkannya sejak lama. Sudah lampau sekali masa itu, butuh dua puluh lima tahun lamanya untuk kembali ke sana. Mewariskan padanya dua orang lelaki tampan, Harjoko dan Mali. Yang kini telah memberinya hampir selusin cucu. Ah, kenangan itu benar-benar menyadarkan bahwa ia telah renta, delapan puluh tahun genap usianya kini.
Delapan puluh tahun lamanya ia menjadi bagian penghuni bumi, menjadi saksi akan tumbangnya beberapa tubuh manusia yang awalnya seperti dirinya, hidup dan bahagia dengan hidupnya. Bahkan isterinya sendiri, orang yang telah dijanjikannya kesetiaan itu, tumbang bersama tubuh-tubuh yang lain. Orang-orang menyebutnya ‘mati’. Dalam kesenjaannya, kadang ia masih berpikir nakal. Ingin menantang malaikat maut untuk segera menjemputnya kalau ia benar-benar ada. Namun, kadang seketika nyalinya menciut, bergidik memandang ketidakpastian panjang di depan sana. Ia boleh saja merasa malaikat maut hanyalah dongeng, bualan, omong-kosong. Ia boleh saja menganggap mati hanyalah sebuah kebetulan saja, hanya berlaku untuk orang-orang tertentu, dan mungkin tidak akan terjadi padanya. Akan tetapi, yang mampu ia cerna dengan akalnya, bahwa mati mirip dengan menua. Keduanya bukanlah sebuah kebetulan, bukanlah sesuatu yang tidak ada, tapi merupakan sebuah kepastian yang tidak pandang bulu, menginang pada siapa saja dan sekejap membuatnya tak berdaya.
Lelaki itu menarik panjang-panjang nafasnya, lalu menghembuskan pelan seolah ingin merasakan seperti apa wujud nyawa, barang kali ia tersangkut dalam udara yang ia keluarkan. Rambut kusamnya yang telah berseragam putih berjingkat-jngkat diterpa angin sepoi sore hari. Mengisyaratkan kesepian panjang yang tidak habis-habis, keengganan untuk diterpa waktu yang semakin kusut. Seorang lelaki tua, kursi, sepoi angin, serta kesepian adalah komponen yang serasi saat dipadukan, namun hambar.
“Kapan aku mati?”
Lelaki itu masih saja sama, menghabiskan waktu dengan satu rasa penasaran akan rasa sebuah kematian. Ingatannya sering kali berloncatan, melewati ruang dan waktu. Bertemu kembali dengan kesombongannya yang lalu.
“Aih, mati itu urusan nanti, tak perlu diingat-ingat. Kalau ada orang punya hutang padaku, nah tentu itu yang perlu diingat.”
“Memberi uang pada orang yang membutuhkan? Buat apa? Aku pun masih butuh uang.”
“Yang penting punya uang banyak, kalau perlu bawa mati uangnya.”
Kalimat-kalimat itu dulu adalah sebuah kebanggaan. Suatu hal yang dapat dijadikannya sebagai sebuah pembuktian bahwa ia orang hebat. Namun semua itu kini menua bersama dirinya, keriput disapu zaman dan tidak menarik lagi. Satu-satunya hal yang menarik baginya hanyalah menatapi langit sore bersama kenangan akan kehebatannya dulu.
Dua anak kecil berwajah riang dengan santainya meraih pangkuannya. Tertawa-tawa hingga membuat lamunannya melarikan diri menumpang sekawanan angin dari Timur. Meski gundah sempat menyambanginya, namun seketika sirna saat wajah-wajah lugu menyenangkan itu tempiaskan kedamaian. Anak-anak, bagi orang setua dirinya ibarat embun di tengah kemarau, keajaiban yang bening dan menyejukkan. Didekapnya erat dua cucu mungilnya itu, dan seketika tubuhnya terasa diterbangkan ke awan, dipeluk angin basah.
Lelaki tua itu terlalu sering merenung. Jarang waktu yang ia miliki ia pakai untuk tidur. Takut saat lelap membutakannya, tetiba ajal datang dan ia tak sempat menyambutnya. Padahal sudah setengah windu ia menanti-nanti cemas akan datangnya saat-saat langka itu. Mati yang hanya sekali itu ingin diresapinya dalam-dalam, meski sebagian dari hatinya ingin tetap di dunia. Ia hanya menunggu, menunggu tamu istimewa yang terasa semakin dekat, meski sebenarnya ia ingin sang tamu tersesat.

No comments:

Post a Comment