Thursday, September 22, 2016

Cerpen Lucu Romantis "Inaya"

“Inaya, Gadis Rembulan”
Oleh: Mukhlis Ahsya

Sudah sebulan ini Pak Kasdun dan Bu Eem, yang tak lain adalah orang tua Harun, nyaris gantung diri. Sudah beberapa kali mereka bersekongkol untuk mengakhiri hidup bersama-sama. Hanya saja, mereka urung. Membayangkan masa depan di alam lain sana, yang diyakini khalayak sebagai alam pembalasan, nyali mereka mengeriput.
“Manusia yang paling dzalim, paling pengecut, paling miskin rasa syukur, adalah yang membunuh dirinya sendiri. Kecewa bukan main Tuhan dengan orang macam begini. Terlaknat, bahan bakar api neraka.” Kalimat Mbah Rebon, sesepuh kampung yang mengetuai Aliansi Orang Bijak Anti Bunuh Diri di kampung mereka terngiang-ngiang, serupa bunyi ambulance yang pernah mereka dengar di televisi. Maklumlah, jalan kampung pegunungan tempat mereka tinggal benar-benar mengenaskan, sulit dijelaskan dengan bahasa apapun, hingga mobil jenis apa saja, termasuk ambulance, kehilangan nyali untuk melewatinya. Televisilah satu-satunya jalan orang-orang kampung itu untuk mengenal ambulance; melihatnya, mendengarnya, menaikinya dalam mimpi. Jika punya rezeki lebih, mereka membeli posternya di pedagang keliling.
“Rupanya kita tidak berbakat bunuh diri, Pak,” keluh Bu Eem, sambil kepala disandarkan pada pundak suaminya.
“Benar, wajah Mbah Rebon berseliweran terus-terusan, ngeri aku.” Pak Kasdun menanggapi sambil bergidik, membuat isterinya tersenyum geli. Di atas sana, rembulan menatap mereka dari sela daun-daun randu, lalu tersenyum tipis.
Kasus percobaan gantung diri sepasang suami-isteri dari desa terpencil di leher gunung itu, adalah karena ulah Harun, anak semata wayang mereka. Pasalnya, anak yang tidak terlalu jelek, namun juga kurang meyakinkan untuk dibilang tampan itu telah membuat aib. Hal memalukan yang diperkirakan Pak Kasdun tidak akan sanggup ditanggung hingga tujuh turunan.
Setiap hari Harun keliling kampung, menanyai setiap orang yang ditemuinya tentang Inaya, gadis yang menurutnya membawa aura rembulan, teduh. Harun sempat menyangka bahwa keteduhan yang dimiliki Inaya tak lain dan tak bukan disebabkan karena Inaya adalah sejenis manusia pemakan rembulan, yang menyebabkan terjadinya bulan sabit. Tidak masuk akal memang. Tapi, Harun acuh tak acuh mendapat cibiran setiap kali ia menjelaskan tentang Inaya, gadis rembulan yang ia cari-cari itu.
Semua orang di kampung terpecil itu sudah pernah ditanyainya tentang Inaya, dari yang tua sampai yang muda, laki dan perempuan, besar maupun kecil, bahkan yang masih dalam kandungan pun ditanyainya pula.
“Apakah Bapak tahu gerangan keberadaan Inaya?”
“Apakah Bapak pernah melihat Inaya?”
“Apakah Inaya pernah menitip surat kepada Bapak?”
“Apakah Bapak adalah Inaya?”
Hanya gelengan kepala serta tatapan mengutuk yang Harun dapat, tapi lebih sering ia ditertawakan, diejek, diusir, bahkan dikatai gila. Namun Harun tetap tersenyum santun, menjauh dengan khidmat. Jika dilihatnya memungkinkan, ia akan kembali menanyakan Inaya lagi.
Pak Kasdun dan Bu Eem nyaris putus asa oleh kelakuan Harun. Jika yang dituduhkan orang-orang bahwa Harun sudah gila adalah benar, maka Harun adalah orang gila pertama di kampung itu. Itulah yang menyebabkan Pak Kasdun tertekan batin, dihantui aib sepanjang malam. Hingga tiba-tiba Aminem, keponakan dari adik laki-lakinya datang membawa semacam solusi.
“Pakde tanyai saja si Alif. Alif kawan akrabnya Harun itu.”
Tidak berpikir lama, Pak Kasdun pun segera mencari orang yang disebut-sebut Aminem sebagai kawan akrabnya Harun. Alif, laki-laki yang pernah disunat tapi nyaris kehilangan sisi maskulinnya itu pun akhirnya digelandang Pak Kasdun ke rumahnya. Mirip tertuduh pencurian ayam, Alif diinterogasi oleh Pak Kasdun di meja makan, disaksikan Bapak Kepala Kampung beserta jajarannya, tokoh agama, tokoh masyarakat, tim keamanan kampung, dan tidak ketinggalan ketua Aliansi Orang Bijak Anti Bunuh Diri, Mbah Rebon.
“Inaya itu cantik tiada tanding. Pesona yang dimilikinya adalah warisan dari rembulan, meneduhkan,” jawab Alif bersemangat saat dikepung wajah-wajah penuh ingin tahu.
“Benarkah? Siapa Inaya itu sebenarnya?”
“Aku tidak tahu.” Alif acuh.
“Di mana kau pernah bertemu dengannya?”
“Aku belum pernah bertemu dengannya.”
“Omong kosong!” bentak seorang anggota keamanan kampung. Bentakan itu mewakili rasa dongkol seluruh peserta sidang. Tapi Bapak Kepala Kampung, sebagai pemangku jabatan tertinggi di kampung itu, merasa tersinggung.
“Siapa yang menyuruhmu bicara wahai tukang keamanan kampung? Jangan mendahului atasan!” Bapak Kepala Kampung bersungut-sungut. Yang dimarahi pun merunduk takzim penuh sesal.
“Omong kosong!” bentak Bapak Kepala Kampung. “Jadi Inaya yang seperti rembulan tadi hanya bualanmu?” lanjutnya sambil menatap tajam. Hadirin pun ikut menatap tajam kearah Alif. Laki-laki cenderung feminim itu gelagapan.
“Jawab!” Pak Kasdun tidak sabar.
“Emm ... Bukan begitu. Inaya memang memiliki kecantikan yang teduh seperti rembulan, itu menurut Harun. Harun sudah bercerita banyak tentang Inaya sebelum akhirnya ia gila.”
“Apa katamu? Beraninya kau bilang anakku gila?” Pak Kasdun naik pitam, Alif semakin kalut.
“Tenang Pak Kasdun, biarlah anak ini selesaikan dulu ceritanya.” Wajah Bapak Kepala Kampung berubah teduh, bagai juru damai. Alif menarik nafas dalam-dalam. Tidak mau dia salah ucap lagi.
“Harun bertemu Inaya sewaktu di pasar, Harun takjub oleh kecantikannya. Mereka berkenalan lalu mengobrol sebentar. Sebelum berpisah Inaya memberinya batu berbentuk setengah hati. Setelah itu Harun nyaris tidak pernah tidur, otaknya penuh oleh Inaya.”
“Batu setengah hati?”
“Betul.”
Pak Kasdun bergegas ke kamar anaknya mencari batu yang dikatakan Alif. Harun sendiri telah meninggalkan rumah sejak pagi, seperti biasanya, ia keliling kampung mencari Inaya dan akan pulang menjelang petang. Tidak butuh waktu lama, lelaki berambut hitam-putih itu telah keluar lagi dengan membawa sebongkah batu hitam pekat. Persis yang dikatakan Alif, bentuknya setengah hati.
Dengan jalan musyawarah, akhirnya batu itu dipalu hingga hancur berkeping-keping. Dan peserta sidang pun bubar dengan wajah puas. Tinggallah Pak Kasdun dan Bu Eem yang gelisah menunggu kepulangan anaknya. Yang diyakini mereka, Harun sore ini akan pulang dalam keadaan sudah waras. Sayangnya, hingga larut malam Harun belum juga pulang, padahal biasanya ia selalu pulang sebelum petang.
Warga kampung di leher gunung itu geger mendengar kabar hilangnya Harun. Esoknya, beramai-ramai mereka menyusuri sungai, masuk lembah, hingga ada yang turun gunung demi membantu Pak Kasdun menemukan kembali anaknya. Sampai sepuluh hari proses pencarian dilakukan, tak ada jejak. Harun dilupakan dengan sendirinya, sampai datangnya Alif membawa lembar-lembar aneh.
“Ada lima lembar jumlahnya, lihatlah!” seru Alif di hadapan hadirin sidang yang dipimpin Bapak Kepala Kampung. Mereka berebut ingin melihatnya. Harun menulis satu kalimat dalam setiap lembarnya, tulisan-tulisan itu di tempelnya pada batang pohon di sepanjang jalan dari rumahnya menuju pasar.
Alif meraih lembar-lembar yang bercecer di meja dengan sigap, seketika semua mata terarah padanya. Dengan menganggap dirinya seolah pahlawan atas misteri menghilangnya Harun, Alif mulai membacakan satu per satu secara urut kalimat-kalimat itu, dari rumah sampai pasar.
“Aku pengembara cinta, hendak berjalan kaki menuju langit tuk menjawab rinduku pada gadis rembulan.” Alif berhenti berkomat-kamit, matanya menyelidik para hadirin yang terpana oleh kalimat yang dibacakannya. Sebenarnya Alif mengumpat dalam hati, bagaimana bisa si Harun yang tidak lulus SD dapat menulis kalimat semanis itu.
“Setelah kubertanya-tanya sepanjang hari, pada orang-orang, pada rumput-rumput, pada tupai, pada belalang sembah beserta kawan-kawan sesama binatangnya, namun tak satu pun jua yang tahu gerangan Inaya, gadis rembulanku.” Lelaki feminim itu tuntas membaca lembar kedua. Ia segera mengambil lembar ketiga.
“Hingga kumengira-ngira, mungkinkah Inaya tinggal di langit sana, di hamparan rembulan?” Alif memejam mata, seolah terhanyut dalam kata-kata kawannya sendiri.
“Sampai tekadku membuncah-buncah kala kudapati sebongkah batu setengah hati, yang dipindahkan langsung dari tangan Inaya ke tanganku, hancur berkeping-keping.” Wajah Alif merah padam seakan merasakan kemarahan kawannya. Tanpa ia sadar, bahwa biang keladi atas hancurnya batu itu adalah dirinya sendiri.
“Terakhir ... “ ucap Alif sewibawa mungkin. Semua yang hadir berdesakan mendekat, takut-takut kalau ada kata yang lolos dari tangkapan telinga.
“Kuputuskan mendaki langit, berbekal endapan rindu dan tetesan rasa ingin jumpa, menemui ia yang indah, pewaris pesona rembulan.”
Alif membungkukkan badan. Orang-orang yang hadir nyaris bertepuk tangan jika tak ingat bahwa itu adalah suasana berduka.
Gelombang bulan menghapus nuansa tragis dari kemalangan seorang lelaki pendiam, Harun. Masyarakat kampung di leher gunung sudah kembali sibuk dengan takdirnya yang sangat anggun, bertani. Hanya saja, Alif belakangan bertingkah aneh. Saban hari keliling kampung sambil bertanya pada setiap orang yang ditemuinya.
“Apakah Anda tahu di mana Inaya, gadis rembulan itu?”

Monday, January 11, 2016

"Di Batu Putu Bersama Cinta"

Oleh: Mukhlis Ahsya

“Kita terus mendaki karena kita yakin gunung ini ada puncaknya!” Sebuah teriakan meluncur menaiki tanah terjal yang hampir saja membanting ketahanan fisik. Nyaringnya menipis saat sampai di telingaku.
Aku tersenyum. Di sela sengal-sengal nafas, entah seperti apa wujud senyum itu. Saat kutoleh, seorang anak kecil bersusah payah mengejarku. Ialah Ibad, bocah kelas satu SD yang buatku takjub bukan main. Ia mendaki di keterjalan lebih dari 60 derajat, dengan kondisi medan yang baru diguyur hujan.
“Ayo, pasti ada puncaknya di atas sana!” Suara itu kembali muncul. Meski diucapkan dengan kuat, nyatanya terdengar pelan juga saat sampai di telinga. Kak Rudi, dia pemilik suara itu. Ingaatanku langsung melayang pada kegiatan semalam, mabit di Masjid Al-Amin, masjid mungil di Batu Putu, Teluk Betung Utara.
“Pekerjaan bisa mendatangkan pahala jika kita atur dengan baik. Dan pastinya jangan menghambakan diri pada manusia saat bekerja, caranya ya kerjakan baik-baik apa yang sudah ditugaskan untuk kita. Bukan karena takut pada atasan, tapi semata karena mengharap ridho dari Allah.” Begitu kata Kak Rudi, yang saat ini bekerja di sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Beliau yang dijadikan pemberi ceramah dadakan di agenda mabit kelompok ngaji Al-Mughoyyir, nyatanya tetap bisa menyampaikan materi yang berkualitas.
“Jangan menuhankan ikhtiar!” tekan lelaki yang belum terlalu lama menggugurkan status lajangnya itu. Dengan mengutip Surah Al-Ikhlas beliau melanjutkan,”Allah lah tempat kita menggantungkan segala sesuatu.”
Al-Mughoyyir; “from the circle to the world”, adalah wadah kami menimba ilmu keislaman yang dibimbing oleh Ustadz Ramadhan. Setiap hari Minggu, dari bakda magrib sampai waktu yang sulit ditetapkan, kami mencoba untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah muslim sejati, yang bangga pada agamanya, yang setia mempelajari ilmu-ilmu langit yang diturunkan ribuan tahun yang lalu. Jika tidak ada halangan, setiap seminggu sekali, secara bergiliran kami berdiskusi tentang Islam, mendengarkan shirah nabi, hafalan al-quran sedikit-sedikit, dan hafalan 10 hadis arba’in setiap satu semester. Banyak orang hebat di sini (kecuali aku), salah satu contohnya adalah Riki Septiawan. Temanku satu ini pernah bersepeda lebih dari 15 KM untuk mengaji bersama. Jarak yang fantastis jika ditempuh di bawah gelapnya malam. Tapi, nyatanya Riki pernah mencobanya, dan dia bahagia.
Islam adalah cahaya, mempelajarinya adalah cara memindahkan cahaya itu ke dalam hati. Banyak cara, banyak waktu, banyak kesempatan untuk mendalaminya ketika kita sadar bahwa itulah jalan untuk menjadikan ibadah semakin nikmat, beribadah dengan ilmu. Islam adalah cinta, karenanya hati kami lekat dalam ukhuwah, seperti malam kemarin, di Batu Putu.


Tunggu kelanjutan ceritanya di “Jalan Menuju Pacet”. Kisah pendakian yang mendebarkan.

Sunday, January 10, 2016

“Hal Termahal 2”

Oleh: Mukhlis Ahsya

12.45, Banjarrejo.
Desing kendaraan berpelantingan di telinga Rade. Pemuda bertas gendong itu berboncengan di atas Jupiter Z bersama Agil. Agil yang merupakan pengusaha pemasok dana untuk penelitian Rade ingin ikut melakukan observasi di rumah Prof. Yudha. Ia selalu terbayang-bayang keuntungan yang akan dia raup jika dapat memperoleh resep ramuan anti selingkuh. Bayangkan, jika obat itu benar-benar mujarab, berapa banyak ibu-ibu rumah tangga yang akan mengordernya. Belum lagi para pegiat cinta jalanan yang mulai meragukan kesetian pasangan abal-abalnya, pasti akan memburu obat ini. Bisa jadi berbisnis obat ini akan jauh menguntungkan dibanding berjualan narkotika. Sebagai pebisnis yang peka terhadap pasar, Agil tampak ingin menerkam peluang dengan memanfaatkan jiwa petualang Rade.
Sebuah rumah bercat hijau berdiri kokoh di tepi area persawahan. Agil memarkir kendaraan birunya tepat di sisi kiri pelataran rumah yang terasa asri itu. Buru-buru Rade melompat dan segera merapati pintu rumah.
“Assalamu’alaikum … !”
“Assalamu’alaikum …!”
Tidak ada jawaban. Namun, terlihat ada yang memutar gagang pintu dari dalam.
“Ohi, siapa ya?” Seorang perempuan dengan rambut sebahu keluar. Matanya menyelidik penuh curiga. Di tangannya sebuah kipas kertas dengan hiasan gambar geisha tidak henti-hentinya berayun.
“Saya Rade, Tante. Mau ada per … .”
“Ohi, Tante? Jangan panggil saya ‘Tante’!”
“Oh, sorry! Saya harus panggil bagaimana?”
“Panggil saya ‘Bibi’. Ya, panggil ‘Bibi’ saja. Tepatnya Bibi Meida.”
“Oke. Sepertinya lebih santun,” serobot Agil sambil mengulurkan tangan.
“Saya Agil Pramusaji.”
“Oh, maaf! Kita bukan mahram, jadi tidak boleh berjabat tangan.” Meida menelungkupkan telapak tangannya di depan dada.
“Bibi sangat menjaga diri, tapi kenapa tidak berjilbab?” tanya Rade sehalus mungkin agar tidak menyinggung.
“Karena saya bukan Muslimah. Tapi saya suka dengan ajaran agama kalian, apalagi tentang larangan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, it’s amazing!” terangnya dengan gembira. “Menjaga kesucian cinta untuk pasangan maupun calon pasangan itu juga harus diaplikasikan dengan menjaga diri dari mereka yang tidak halal untuk kita sentuh,” lanjut wanita ekspresif itu. Rade dan Agil terbengong-bengong dibuatnya. Diam-diam mereka begitu bangga dengan ajaran agamanya.
“Ohi, kalian ada perlu apa?”
“Kami ingin bertemu Prof. Yudha,” jawab Rade.
“Oke-oke. Kalian tidak terlihat seperti penjahat, silakan masuk!”
Rade dan Agil diantar Meida menuju ruang kerja Prof. Yudha. Rade sedikit heran dengan situasi rumah yang tampak biasa, tidak seperti rumah-ramah peneliti pada umumnya yang banyak pernak-pernik yang berbau ilmiah.
“Saya Yudha Kegawa. Ada apa mencari saya?”
“Ah, saya tampak tidak asing melihat Anda. Wajah Anda mirip salah satu personil Boy’s Band tersohor, One Direction,” ucap Agil politis. Prof. Yudha tersipu, lalu mengangguk-angguk salah tingkah.
“Saya Rade, mahasiswa yang sedang meneliti obat anti selingkuh buatan Anda. Dan ini donatur saya, Bapak Agil Pramusaji,” terang Rade dengan nada khasnya. Prof. Yudha kembali manggut-manggut.
“Apa kami bisa langsung mewawancarai Anda, Prof?” kejar Agil dengan tidak sabaran.
Prof. Yudah tersenyum. Matanya sesekali melirik dua tamunya secara bergantian.
“Kalau nyawa kalian hanya satu, lebih baik urungkan niat kalian. Sudah ada yang menunggu kalian di luar sana.” Prof Yudha menatap tajam pada Rade.
Sesaat berselang, Rade menyadari sesuatu. Telinganya menangkap suara mencurigakan, seperti ada ledakan-leakan kecil di luar sana. Ia mundur selangkah menyejajari Agil. Lalu bergegas keluar sambil menyambar tangan donaturnya itu.
“Sial! Apa-apaan ini? Siapa yang melakukannya?” pekik Agil penuh emosi. Rade takjub menyaksikan pemandangan di depan matanya. Ia tidak menyangka dengan hal yang baru saja terjadi.
“Hari ini sepeda motor kalian yang dibakar, mungkin besok giliran kalian berdua,” tutur Meida dengan tatapan kosong.
“Ini bukan masalah yang bisa diatasi oleh mahasiswa sepertimu, Rade. Pulanglah! Persoalannya tidak seremeh yang kamu kira,” timpal Prof. Yudha.
“Kalian pasti tahu pelakunya, saya akan tuntut kejahatan ini!” gertak Agil dengan suara melangit.
“Sama saja kalian menyerahkan kepala di kandang buaya lapar. Kalian sedang berhadapan dengan kejahatan yang tersistem dengan baik.”
Agil dengan emosi berjalan cepat ke arah Prof. Yudha. Ditariknya kuat-kuat kerah baju pria setengah baya itu. Tangan besarnya mengepal kuat-kuat, siap untuk dihantamkan ke wajah Prof. Yudha. Secepat kilat tangan itu melayang dengan kencang ...


Bersambung ...

Friday, January 8, 2016

"Hal Termahal"

Oleh: Mukhlis Ahsya

Rade melebar-lebarkan kupingnya. Ia ingin mendengar lebih banyak tentang hal besar yang terjadi menjelang subuh tadi. Dari teman-teman kos, anak-anak organisasi, bahkan teman-teman di kelasnya pun membincangkan hal yang sama. Sebenarnya Rade memiliki kesempatan emas untuk menatap langsung peristiwa langit di gerbang fajar itu. Sayangnya, saat ia melangkahkan kaki ke masjid, tak ada sedikitpun hasrat untuk melayangkan mata ke langit.
“Aku melihat kereta Nyi Roro Kidul melintas di langit Ganjar Agung,” terang Yugo. Matanya berkedip-kedip mengamini setiap lafadz dari lidahnya. Yugo sebenarnya pembual kelas wahid di kelas Rade, tapi untuk kali ini lelaki penyuka tupai itu berusaha untuk mempercayainya. Setidaknya sudah lebih dari sepuluh orang membicarakan hal yang sama, tentang kereta Nyi Roro Kidul yang terbang tanpa awak.
“Aku juga melihatnya,” sambut Fiktaj Sinlouz tidak mau kalah. “Bahkan aku sempat melihat Nyi Roro Kidul ada di dalam kereta,” lanjutnya dengan yakin.
“Benarkah? Tapi itu kereta tidak berawak, kan?” kejar Yugo.
“Ya, tidak ada supirnya. Tapi ada Nyi Roro Kidul di dalamnya.”
Rade mendekat, merapati sumber perbincangan. Tidak ingin secuilpun informasi dia lewatkan. Ini mupakan peristiwa terlangka yang pernah tersangkut di telinganya. Dan pasti ada sesuatu di balik semua itu.
“Sayangnya, aku tidak setuju kalau kereta itu terbang di Ganjar Agung. Jelas-jelas benda itu terbang di atas rumahku, di 15 Polos.” Fiktaj mengacungkan telunjuknya. Kumisnya di ujung bibir berirama turun-naik.
“Jadi, kamu kira aku berbohong?” sergah Yugo.
“Ya, bisa jadi. Biasanya kan memang seperti itu. Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu bicara jujur?”
Situasi memanas. Pembicaraan yang seharusnya menarik berubah jadi hambar. Bagi Rade, informasi lah yang terpenting. Saat obrolan berubah menjadi ajang debat, ia yakin tidak akan mendapatkan apa yang ia mau. Perlahan wartawan kampus itu pun menyingkir.
***
Taman Kota Metro. 16:35.
Rade tergopoh-gopoh menghampiri Pandu, penjual obat yang sedang menjadi nara sumbernya. Pedagang keturunan Tionghoa itu berteriak-teriak nyaring di tengah kerumunan pengunjung taman yang melihat obat-obatan yang ia tawarkan.
“Semalam ada kereta Ratu Kidul melintasi kota ini. Pertanda buruk sedang mengintai kita.” Pandu berteriak lantang. Sebisa mungkin menarik perhatian para calon costumernya.
“Pertanda buruk apa, Ko?” tanya seorang ibu muda. Pandu terkekeh-kekeh. Merasa jebakan kalimatnya sudah membuat orang-orang tertarik.
“Pertanda bahwa perselingkuhan akan merajalela di kota kita ini.”
“Hah? Pasti situ bohong, kan! Biar obat anti selingkuhnya laku. Iya, kan?”
“Ya terserah saja kalau tidak percaya. Kan sudah terbukti juga kalau saat ini perselingkuhan itu terus menigkat jumlahnya.”
Obat anti selingkuh. Ya, obat ini yang sedang diburu informasinya oleh Rade. Sudah seminggu ini ia meneliti akan kebenaran khasiat ramuan anti selingkuh. Benarkah bisa membuat seseorang berubah menjadi sangat setia, tanpa sedikitpun ada hasrat untuk selingkuh?
“Sudah kubilang dari kemarin, jangan tanyakan ke saya. Tanya saja langsung ke pembuat obatnya!” Tegas Pandu saat Rade menanyakan cara kerja dari obat anti selingkuh. Pandu sudah mulai mengemasi dagangannya.
“Seharusnya Anda tahu, Pak Cina! Anda kan penjualnya.” Desak Rade. Pandu mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa ia tidak mau melanjutkan percakapan.
“Oke, setidaknya kasih tahu saya siapa pembuat obat ini!”
“Namanya Yudha, Profesor Yudha.”
“Alamatnya?”
Pandu menghela nafas panjang sebagai ekspresi bahwa ia sedang mempertahankan kesabarannya. “Di Banjarrejo. Tepatnya cari sendiri!”
“Baik. Tapi awas kalau sampai Anda membohongi saya!”
“Kamu mengancam saya?”
“Tidak.” Rade sedikit panik. Menyadari kesalahan dari kalimat yang ia ucapkan.
“Terus?”
“Saya hanya ingin mengingatkan Anda, bahwa bohong itu dosa! Juga melanggar undang-undang.”
“Memang ada undang-undang tentang kebohongan?”
“Ada. Dan hukumannya adalah lidah Anda akan dibuat sop, namanya sop lidah.” Rade beranjak meninggalkan Pandu yang tampak terbengong-bengong. Samar-samar Rade mendengar suara Pandu dari arah belakang.
“Hei, dari pertigaan 38, belok kanan! Terus saja sampai ketemu masjid. Masuklah ke gang seberang masjid.”
Pria berbaju koko itu terus berjalan seolah tak perduli. Tapi dalam hati, ada rasa yang menggelitiknya. Tiba-tiba ingatannya melayang menyambar Yugo. “Kalau ada undang-undang semacam itu, kira-kira Yugo butuh berapa lidah untuk hidup dalam satu bulan?” batinnya.
Bersambung ...

“Uler Keket”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Aku pernah berpikir kalau aku adalah makhluk paling sial di jagad ini. Dan yang teramat sial, aku sering kalap karena sentuhan. Jangan coba-coba, aku bisa bergelinjang-gelinjang jika jemari sok tak berdosa menyentuhku, aku geli bukan main. Aku sebetulnya heran, kenapa kulitku bisa begitu sensitifnya?
Orang Jawa menamaiku uler Keket. Makhluk yang terkenal kalem itu jago juga memilih nama. Karena aku suka klogat-kloget makanya digelari Keket, sehingga menjadi inspirasi dalam syairnya Didi Kempot “Uler Keket mlakune klogat-kloget, get … ”.
Aku berhutang budi pada orang Jawa, atas nama yang disematkan padaku. Aku juga terpukau dengan perangai mereka, santun merunduk-runduk. Tapi tetap saja, kalau dipajang di terminal mereka jadi beringas. Suka menarik semena-mena tas penumpang, caranya menawari tumpangan juga setengah mengancam. Ini sebenarnya jadi pembelajaran untuk Abah Namrud. Pasalnya, aku suka senewen dengan orang yang banyak cakap itu, yang pidatonya teramat memikat. Tahu kenapa? Aneh, orang yang daun gembelinanya sering kugasak itu begitu bangga dengan keapikan pekertinya. Dia tidak sadar apa, kalau dia itu hanya beruntung? Dia diselamatkan oleh lingkungan. Perangainya baik karena dia ada di tempat yang kondusif, nyaman, tentram, beradab, coba saja taruh di terminal, bejat bukan main.
Hebatnya lagi, cakapnya itu kadang bikin risih, tak sesuai dengan amalnya yang mbruwel. Menyeru orang agar bersedekah, tapi meditnya bukan kepalang. Berpersuasi agar orang ikhlas, qona’ah, tawadu’, tapi jika habis ceramah tak disumpali amplop, gerutunya tiada ujung. Aku yang teramat geli dengan sentuhan, ternyata lebih geli lagi dengan mata si Abah Namrud. Kedipnya bikinku bergelinjang hebat.
Sebagai ulat yang kadang hobi berkelana, aku pernah tersesat, tak tahu arah pulang. Galau bukan main. Bagai butiran debu. Kulihat persemayaman megah, tapi bikin meremang. Kuburan Cina rupanya. Manusia itu paling takut dengan kuburan, sarang setan katanya. Padahal, kadang mereka lebih menakutkan dari pada setan. Aku saksinya. Aku terpekik dan terlonjak kuat saat ada tangan merabaku. Pria muda rupanya. Ia menjerit histeris sejadi-jadinya. Matanya melototiku. Sangat tidak sopan. Seharusnya aku yang menjerit karena dengan tidak senonohnya ia merabaku. Tak tahukah dia jika aku juga pejantan? Dia merontokkan harga diriku. Aku masih normal, tahu .… .
Pria penjerit itu munafik adanya. Ia jijik dengat klogat-klogetku, tapi sejurus kemudian ia malah membuat teman wanitanya klogat-kloget tidak karuan. Mesum. Makhluk yang tidak memiliki konsistensi. Juga tak tahu diri. Pekuburan harusnya buatnya ingat mati, tapi malah dijadikan medan perbuatan hewani. Tak bermoral. Seperti itu menamakan diri sebagai manusia? Durjana!
Bangsaku, bangsa ulat, atau lidah Jawa menyebutnya uler, kadang jauh lebih mulia dari bangsa manusia. Di mata manusia, uler bisa tampak seperti malaikat. Tidak percaya? Itu dialami sendiri oleh sahabat kecilku, uler Kilan. Kilan artinya jengkal, orang Jawa juga yang menamai. Lenggoknya yang menjulur naik-turun terlihat seperti jari yang sedang menjengkali, atau ngilani, sehingga disebut uler Kilan. Dia amat keramat. Jika ada orang yang dirayapi si uler Kilan dari ujung kaki sampai kepala, maka orang tersebut akan sangat yakin bahwa sebentar lagi dia akan mati. Dahsyat tiada tandingan, memang. Temanku yang lucu itu bisa merebut job malaikat Izrail, mencabuti nyawa manusia. Horor, kuno, mitos tak berakal. Begitu mereka menyakini diri sebagai manusia? Kudengar dari burung seberang katanya manusia itu berakal, nyatanya? Bukan main bebalnya. Temanku, uler Kilan, jadi besar kepala karenanya. Ia sering terkekeh melayang ke angkasa. Menempel di ketiak gagak, sambil melambai seolah ia makhluk paling kuat di dunia. Sebenarnya satu yang kukhawatirkan, jika job malaikat Izrail direbut oleh si uler Kilan, kira-kira malaikat mulia itu mau melamar kerja di mana? Miris. Budaya jahiliyah masih saja mengakar.
Dulu aku pernah terjatuh dari pohon gembelina milik Abah Namrud. Gara-gara samar kudengar suara khas menyebut-menyebut “kepompong” dalam syairnya. Aku bukan terpesona karena indah lagunya, tapi karena syarafku pretel tersentak kata “kepompong”. Peganganku pun terlepas, hingga berdebum di tanah berkerikil, ngilu. Kalau bukan karena diiming-imingi akan jadi kupu-kupu yang dapat melayangi angkasa, aku tak sudi jalani ritual jadi kepompong. Tak terbayang rasanya bertapa dalam gelap, tak ada daun gembelina hijau yang dapat kusantap. Mengerikan. Pucat pasi aku membayangkannya.
Manusia itu kadang asal bicara. Bilang persahabatan bagai kepompong. Seram amat? Kalau persahabatan adalah kepompong, berarti manusia adalah ulat. Aku berani bertaruh atas nama bangsaku, mereka tidak akan sanggup jadi ulat. Apalagi menjelma dalam wujud kepompong, mustahil. Sepupuku sesama Keket geleng-geleng mendengar gerutuanku. Ia menukas tajam, menyakitkan,”Dalam lagunya, kan, ada kata “bagai”, itu artinya mereka mengibaratkan bahwa persahabatan itu mirip kepompong. Menggambarkan bahwa persahabatan itu sulit. Tapi kalau tabah, sabar, dan telaten, ujungnya indah, bak kupu-kupu, melayang; menenggak madu, sedap. Begini kalau ulat tak punya cita rasa sastra sama sekali. Suka senewen dengan bodohnya.” Lidah setajam silet, setajam rambut yang dibelah jadi tujuh. Sringgg! Rantas sudah hati ini, tercabik. Sakit, perih. Aku ulat senewen yang bodoh?
Entahlah, aku memang kurang suka dengan manusia. Serakah, penjajah. Egois, tak tahu diuntung. Bangsa ulat sering kali ditindas. Tak boleh di sini, tak boleh di situ. Tak boleh makan ini, tak boleh makan itu. Mau menang sendiri. Aku hanya kasihan dengan kerabatku nun jauh di sana, di sawah, di kebun, dan di ladang. Hidup mereka selalu was-was, penuh marabahaya. Mereka harus tergopoh-gopoh menghindari bangsa burung, predator ulung. Menyambar tanpa pri-keburungan. Mencabik-cabik dan menggiling tubuh-tubuh kecil itu di ususnya. Sadis. Juga mereka harus pandai berpayung daun agar tak tersembur cairan sengak beracun, pestisida sakaratul maut. Tragis nasib mereka. Padahal mereka tidak pernah meminta menjadi pemakan daun tanaman pangan, juga bukan karena kutukan. Semua terjadi alamiah, di luar kendali bangsa ulat. Berkali-kali kusarankan agar mereka berganti menu makan, kutawarkan daun gembelina, tapi ditolaknya dengan santun. “Kami tidak bisa melawan takdir,” tuturnya pasrah. “Mereka pantas tinggal di surga,” batinku dramatisasi, sok meramal masa depan. Uler Keket tak tahu diri.
Sebenarnya, aku tak sepenuhnya benci pada manusia. Biar bagaimanapun, mereka adalah pemimpin kami. Makhluk yang dengan tangannya diharap mampu menciptakan keseimbangan di bumi. Melindungi bumi beserta isinya dari petaka. Meski nyatanya, mereka malah menggoda petaka. Menantang langit. Dan memanahi kedamaian.
Tapi, ada juga manusia yang indah pekertinya. Meski hati merasa risih pada kami, bangsa ulat, tapi mereka menjaga sikap. Tak ingin makhluk tak berguna seperti kami tersinggung dan merasa hina. Mereka juga baik pada bangsa flora, dirawat. Jika tak benar-benar butuh tak akan dilukai. Senyum mereka tulus, tak ada sedikitpun modus. Alam benar-benar dijaganya, tak ingin ada yang terkoyak, tak ingin setetes darahpun tumpah, apalagi sampai tercecer di bumi.
Ahh, kurasa ada yang aneh pada diriku. Kepalu mendadak pening tak terkira. Badanku menggigil tiba-tiba. Akhirnya apa yang kutakutkan selama ini datang juga. Aku akan menghilang. Terkurung dalam gelap, menakutkan. Aku akan tergantung seperti kentongan yang pernah kulihat di gardu, digebuki hansip tanpa ampun. Aku akan tirakat sekian lamanya. Meninggalkan gemerlap dunia. Mengabdi penuh pada takdir. Ada satu sisi positifnya, aku tak akan lagi tersentuh tangan manusia, hingga aku tak perlu lagi bergelinjang-gelinjang, berjungkit-jungkit kegelian. Dan untungnya bagi mereka, aku tak akan lagi banyak mengkritik, tak akan lagi membuat mereka risih, jijik tak terkira. Karena setelah masa berat itu kurengkuh, aku akan segera terbang, melayang, mencandai bunga-bunga hingga terbuai, dan perlahan kuhisap madunya.











“Tolong Aku”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Melati masih belum percaya akan kematian Nili, sahabatnya sejak kecil. Tidak pernah terpikirkan oleh Melati jika Nili mati begitu cepat, di usia yang masih sangat muda, 24 tahun.
“Mel, aku ingin seperti kupu-kupu. Terbang di atas bunga-bunga dan menghisapi madu hingga lidahku tak bisa merasakan pahit lagi.” Ucapan Nili sehari sebelum kematian merenggutnya terus terngiang-ngiang di telinga Melati. Lalu menyeruduk gendang telinga dan memaksa menerobos ke hati. Jlebb. Air mata anak perawan itu meleleh secara perlahan, membuat garis sungai di wajah halusnya. Kecantikan Nili terasa menari-nari di hadapannya. Senyum indah tergambar jelas di wajah bulatnya. Jemari lentiknya terayun memberi isyarat agar Melati mendekat.
“Ikut aku, Mel! Ikut aku terbang dan berebut madu bersama kumbang-kumbang.” Melati mengusap air matanya. Gadis berpendidikan itu berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dia tidak mungkin mati sperti halnya Nili. Dia akan tetap hidup, hingga memiliki seribu keturunan. Dia ingin bersama pria yang dicintainya hidup dalam balutan madu, hingga dia dapat menjilat manis sepanjang masa. Anak-anaknya akan disuapinya dengan makanan keabadian, dan mereka akan lucu selamanya.
“Tidakkk! Enak saja, aku belum mau mati. Maksudku aku tidak akan mati,” gerutu Melati merutuki bayangan Nili yang tidak juga hengkang dari hadapannya.
“Mati itu indah, Mel. Kau akan dapat terbang nantinya….” Bayang Nili terus menggoda pikiran Melati. Wanita yang banyak digandrungi pria itu semakin kacau. Diacak-acaknya rambut yang setiap minggu dibawanya ke salon itu.
“Aku tidak mau, Nil….. Aku tidak mau…..”
***
“Nil, kamu lihat orang-orang itu? Menurutku mereka begitu membuang-buang waktu. Mereka memuja angan kosong belaka.”
“Aku setuju, Mel, mereka hanya diperbudak dongeng dan halusinasi saja.”
“Mereka pikir kita akan hidup lagi setelah mati. Hahaha. Ada-ada saja pemikiran seperti itu. Aku bahkan sedang berusaha agar tidak bisa mati.” Melati menjilat es krim kesukaan lidahnya. Ia begitu menikmati hidup. Baginya, bahagia itu jika ia sudah lupa dengan kematian. Ia membayangkan suatu saat tak ada lagi ritual-ritual bodoh di dunia ini. Tidak ada lagi penghambaan, kecuali penghambaan pada kebebasan. Kebebasan yang membuat makhluk cerdas sepertinya benar-benar merdeka.
“Mel, aku ingin seperti kupu-kupu. Terbang di atas bunga-bunga dan menghisapi madu hingga lidahku tak bisa merasakan pahit lagi.” Nili riang menatap langit. Senyumnya merekah indah seperti kekuntum mawar. Matanya bersinar menerawang. Terbang bersama kumbang-kumbang yang malu-malu menggodanya.
Melati ikut tersenyum. Seolah ia merasakan keindahan yang menyusup dalam jiwa Nili. Ia semakin yakin, bahwa ia adalah orang paling cerdas dan paling merdeka di dunia ini. Tak ada yang membatasi angannya. Tak ada sekat dalam perilakunya. Tak ada sedikitpun yang berhak mengusik kebahagiannya. Semua ia miliki. Kecantikan, harta, kecerdasan, jabatan, kekasih, dan semuanya. Ia bahagia dengan apa yang ia punya, ia bisa terbang ke mana pun ia mau. Tanpa terbebani oleh aturan-aturan teologi yang dianggapnya primitif.
“Kalau kita mati, kira-kira kita pergi ke mana ya?”
“Bodoh, kita akan hancur bersama tanah. Menjadi zat-zat makanan untuk menyuburkan tanaman.”
“Hahahaha…” Dua gadis muda itu tertawa bersamaan. Membuat irama nyaring menantang langit. Tidak ada sedikitpun gurat takut di hati mereka. Tak ada. Mereka benar-benar melayang dalam dunia yang begitu indah, dunia yang ingin mereka tempati selamanya.
Sebuah kijang putih berhenti di hadapan mereka. Mereka tetap tertawa, meleburkan suara dengan kebisingan taman kota. Seorang pria tampan keluar dari mobil dan gesit menghampiri mereka. Nili tampak terkejut. Yang datang adalah kekasihnya. Kekasih yang baru semalam merengek cinta padanya. Mengemis agar Nili tidak memutuskan cintanya. Pria pemujanya itu benar-benar mabuk kepayang oleh keindahan yang dimilikinya. Tapi Nili tak peduli, apa yang tidak dia sukai lagi berarti harus diganti.
“Nili, ikut aku!” Pria itu menarik tangan Nili. Memaksanya untuk segera masuk ke mobil yang dibawanya. Nili berontak. Wajahnya memerah marah dengan pemaksaan yang dilakukan mantan kekasihnya itu. Es krim tercintanya terpaksa ditimpukkan ke wajah pria yang sudah dianggapnya tiada harganya lagi.
“Hei, orang gila! Kenapa kamu memaksa temanku?” Melati menghardik dengan lantang. Emosinya membuncah melihat sahabatnya diperlaukan dengan kasar, mirip majikan memperlakukan seorang budak.
“Jangan ikut campur!” Ancam si pria. Telunjuknya lurus mengacung ke wajah Melati. Tapi Melati tidak peduli. Ia melepas sepatunya dan secepat kilat menghantam kepala si pria. Hak lancipnya telak mengenai pelipis si pria hingga darah membancir di wajahnya. Nili tampak terkejut. Cengkeraman di tangannya lepas seketika. Ia menutup mulut. Si pria meraung kesakitan sambil menahan darah keluar dari pelipisnya. Orang-orang di taman pun terpaku dengan pemandangan itu. Mereka berkerumun menunggu apa yang terjadi selanjutnya, tanpa ada yang berinisiatif melerai. Mata orang-orang di taman dipaksa untuk mendelik saat pria kasar yang menyatroni Nili menghunus sebuah pisau. Matanya tajam menyambar Melati yang tampak panik seketika.
Si pria berjalan dengan gesit menyerang Melati. Harga dirinya seakan diinjak oleh Melati yang berani membuat pelipisnya bocor. Namun secepat kilat pula Nili menghadangnya dengan memukulkan tas cangklongnya berkali-kali ke tubuh si pria hingga pisaunya terjatuh. Dengan sigap Melati meraih pisau yang yang terhempas di ubin taman. Sedangkan Nili sudah balik diserang oleh si pria. Lehernya dicekik dengan kuat. Ia mencoba meronta tapi tangan pria itu terlalu perkasa untuk membuatnya terbebas dengan cepat.
Dengan gugup Melati mendekat. Dihunusnya pisau yang tampak berkilau di tangannya. Ia terus mendekat. Dan dengan tangan bergetar ia tikamkan pisau tajam itu ke arah pria yang mencekik Nili. Tapi sialnya, Melati terlalu gugup. Hingga pisaunya meleset dan mengenai punggung Nili hingga tembus ke jantung. Nili terpekik. Gadis bak bidadari itu merintih kesakitan. Darah segar membanjir di baju putihnya. Tubuh indahnya tersungkur tak berdaya. Semua terpana. Si pria pun bukan kepalang terkejutnya. Melati menggeleng tidak percaya. Ia telah menikam sahabatnya sendiri. Ia seperti sedang bermimpi. Semua terjadi begitu cepat.
***
“Apakah aku akan benar-benar menjadi pupuk, Mel? Aku tidak mau. Aku ingin menjadi kupu-kupu yang dapat terbang dan merayu bunga-bunga bermadu.” Bayang Nili semakin jelas di pelupuk mata Melati. Kadang ia terlihat murung, kadang tertawa riang sambil terbang mengelilingi ruang bui yang mengerikan.
“Seperti apa rasanya mati, Nil?” Lirih bibir Melati berucap. Tatapannya kosong.
“Entahlah, Mel. Sulit digambarkan. Tapi rasanya sakit sekali saat kutahu kamulah yang membunuhku.” Melati melotot seketika. Ia tertohok oleh perkataan shabatnya itu.
“Aku tidak membunuhmu, Nil. Aku gugup. Aku, aku…. Ah…….. Persetan denganmu, Nil. Aaaah…. Aku tidak peduli. Pergi! Pergi…..!”
“Hei, hei, hei….! Ada apa denganmu?” Hardik seorang petugas. Nafas Melati memburu. Ia menatap ke segala arah. Mencari sesuatu yang sekejap hilang. Nili tak ada lagi. Tapi tiba-tiba muncul sosok makhluk dengan tampang mengerikan. Ia membawa palu sebesar paha gajah. Matanya menyala. Taringnya menyeringai tajam.
“Hah!” Melati tersentak. Tubuhnya dingin seketika. Matanya mendelik. Ia merasa begitu takut. Rasanya ia ingin meloncat menembus atap ruang tahanan. Dan terbang melayang ke angkasa. Tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Baru kali ini ia merasa benar-benar tidak berdaya. Ia seolah cacing kecil yang terkurung dalam botol, menggeliatpun percuma.
“Siapa kamu? Siapa kamu? Kamu mau apa? Kamu maaaau u.. u.. uang? Aku beri. Tapi kumohon pergi! Jangan mendekat!” Melati semakin kalut. Makhluk mengerikan itu semakin dekat. Matanya menyala tajam. Palunya terayun dengan tenang.
“Kurasa gadis ini sudah gila!” rutuk si petugas.
Melati benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Ia lunglai dalam kepasrahan utuh. Matanya sayu. Bibirnya bergetar. Ia meringkuk dengan memeluk kedua lututnya. Sedangkan si makhluk menyeramkan sudah tepat berada di depannya. Ia benar-benar menakutkan. Ia seakan ingin mencabik-cabik tubuh Melati.
Gadis dalam kondisi berantakan itu sudah berada pada puncak ketakutan. Ia takut mati mengenaskan. Ia membayangkan saat tubuhnya diremukkan oleh palu si makhluk misterius. Ia tidak berani menatapnya. Ia melihat lantai yang tampak compang-camping di bawahnya. Air matanya menetes deras menyapu wajah cantik yang sangat dibanggakannya. Dalam cengkeraman kematian yang seolah merontokkan sendi-sendi tubuhnya, terucap lirih dari bibir mungilnya,”Tuhan, tolong aku!” Bui hening seketika. Sepoi angin membawa syair-syair tak bernada. Merayapi tembok berkarat darah. Dan menyusup ke luar jeruji. Sekejap tedengar sayup jeritan pilu, rintih-rintihan melodi dari lembah kehinaan. Angan kosong, dongeng, dan halusinasi itu kini terlihat nyata.













“Titisan Cinta dan Perjuanganmu”

Oleh: Mukhlis Ahsya

Entah mengapa aku begitu bersemangat ingin menyaksikan puteriku berlomba. Walau sebenarnya aku sadar, mungkin perlombaannya sudah selesai. Karena seperti yang disampaikan puteriku, perlombaannya dimulai pukul 08.00, dan sekarang sudah pukul 13.45. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memenuhi permintaan puteri tercintaku. Kasihan dia, pasti hanya dia sendiri yang orang tuanya belum hadir di sekolahan.
Kucari sela untuk memarkirkan motorku. Setelah selesai, aku langsung menuju tempat perlombaan. Ramai sekali. Banyak sekali manusia di tempat ini. Seperti sedang menonton konser boys band saja. Tapi nyaliku mulai menciut saat kusadari akan sesuatu. Ternyata yang ada di tempat ini kebanyakan perempuan, atau mungkin semuanya perempuan. Karena tak kulihat wajah laki-laki kecuali wajah dua orang satpam dan lima oarang guru laki-laki. Berarti tamu undangan yang bergender laki-laki hanya aku sendiri. Bagaimana ini? Ah, masa bodoh. Aku datang ke sini untuk puteriku, bukan untuk mendata jenis kelamin para tamu.
Aku terus maju ke depan. Kucari keberadaan putriku di antara kerumunan anak-anak kecil berjilbab. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Kumpulan bidadari-bidadari cilik yang menjaga kehormatannya. Andai semua muslimah berhijab seperti bocah-bocah kecil itu, tentu negeri ini akan terlihat lebih asri. Tak kutemukan puteriku di sela-sela mereka. “Di mana keberadaan bidadari kecilku?” bisikku dalam hati.
“Kepada Ibu Halimah Cahyani, dipersilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara ketiga lomba Tilawatil Qu’an!” Terdengar suara wanita dari atas panggung. Kurasa wanita itu adalah pembawa acara Tilawatil Qur’an ini. Kulihat seorang ibu berjilbab besar naik ke atas panggung. Dengan penuh keakraban ia langsung mencium gadis kecil di atas panggung dan kemudian memeluknya. Ia terlihat begitu bangga dengan gadis kecil itu. Lalu seseorang menyodorkan sebuah piala besar kepada Ibu itu. Ibu itu lalu mengambilnya dan menyerahkan kepada si gadis kecil secara formal dan diikuti beberapa kali jepretan kamera. Ibu yang berjilbab besar itupun kemudian turun dari panggung. Kulihat sekeliling, para hadirin tampak takjub dengan pemandangan itu.
“Dan selanjutnya, kepada Ibu Fatmawati, dipesilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara kedua!” Seru pembawa acara. Mataku tertuju ke panggung lagi. Pemandangan yang sangat mirip dengan pemandangan pertama. Tapi ada yang sedikit berbeda, ternyata putriku juga ada di atas panggung. Sedang apa dia? Juarakah? Tiba-tiba hatiku brgemuruh. Ada harapan besar yang menggebu-gebu dalam hati.
“Baik, selanjutnya, kepada Bapak Haris Fuadi, selaku kepala sekolah, dipersilahkan untuk menyerahkan hadiah kepada juara pertama!” Terdengar kembali suara pembawa acara. Kali ini terdengar lebih lantang dan bersemangat. Jantungku berdetak tak beraturan. Ada rasa harap dan cemas yang beradu. Rasanya jantungku mau meloncat saja saat kulihat bidadari kecilku maju beberapa langkah. Sepertinya ia memang juaranya.
Kali ini bukan jantungku yang mau meloncat, tapi air mataku yang secara perlahan meleleh membasahi pipi. Benar saja, puteri cantikku yang menjadi juara. Bapak kepala sekolah menyalaminya, dan memberikan piala besar dan mewah untuknya. “Subhanallah! Ini kejutan dari-Mu, ya Allah. Dia anakku.” Gemuruh hatiku.
“Kepada sang juara pertama, Qamraa Al-Birr, dipersilahkan untuk menyampaikan beberapa patah kata. Silahkan, sayang!” ucap si pembawa acara sambil mencium puteriku. Wanita berkulit putih itu lalu memberikan mikrofon kepada anakku, Qamraa Al-Birr. Aku terpaku memandangnya. Dia gadis kecil yang sangat cerdas. Dia adalah titipan Allah yang sangat berharga untukku.
“Eeem... eeeem, eee...” Anakku terlihat gugup. “Ayo, bicaralah, Nak! Ayah bersamamu,” gumamku dalam hati. Ia menatap ke arahku. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia menundukkan kepalanya. Kurasa memang dia seperti aku. Merasa gugup jika bicara di hadapan orang banyak. Tapi bicaralah, Nak! Sedikit saja. Suasana menjadi sangat menegangkan. Tak ada satupun hadirin yang bersuara. Semua menunggu, menunggu puteri tujuh tahunku itu bicara.
“Lihatlah, pria berkemeja biru itu adalah ayahku!” tutur Qamraa tiba-tiba sambil menunjuk ke arahku. Dengan secepat kilat, ratusan pasang mata langsung tertuju padaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Tapi sungguh, ada rasa bangga saat puteriku berucap seperti itu.
“Saat kulihat teman-temanku hadir di sini ditemani Bunda mereka, aku bertanya, di mana Bundaku? Aku sangat rindu pada Bunda. Kata Ayah, insya Allah Bunda ada di tempat yang baik, karena Bunda adalah pejuang.” Dupppp! Seperti meledak rasanya jantungku. Air mataku berhamburan dengan derasnya. Badanku menggigil dan darahku seoah berombak-ombak dalam pembuluh. Aku bukan takjub dengan kalimat puteri kecilku, tapi aku takjub dengan kata ‘bunda’ yang barusan ia sebutkan. “Sayang, Bundamu lebih dari sekedar pejuang.”
“Saya tak akan menggugurkan kandunganku, Dok. Itu sama saja membunuh anakku yang tak berdosa,” tutur isteriku, Tiana Hanifah.
“Tapi, Bu, Anda terkena kanker rahim yang akut. Rahim Anda tidak bisa untuk ditempati janin. Itu sangat berbahaya,” terang sang dokter yang beberapa kali telah memeriksa kandungan isteriku.
“Saya pasrahkan semuanya pada Allah, Dok. Permisi, assalamualaikum!” ucap isteriku dengan penuh keyakinan, dia tidak mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari bu dokter. Ia lalu menyambar tanganku dan mengajakku keluar dari ruangan.
Pikiranku agak kalut menghadapi masalah rawan ini. Aku tak dapat berbuat banyak kecuali pasrah pada takdir Allah. Tapi aku akan mencoba berdiskusi sedikit dengan isteriku. Setidaknya aku akan mendapat keyakinan yang kuat setelahnya.
“Sayang, ku harap kamu jangan tersinggung. Aku sangat menyayangimu, dan jujur, aku sangat menghawatirkanmu,” tuturku saat kudapati isteriku siuman dari pingsannya. Ia pingsan di dapur saat memasak, dan mengalami pendarahan.
“Apakah kamu tidak percaya dengan pertolongan Allah, Mas?” Pertanyaan yang sangat memojokkanku. Aku tak mampu menahan air mataku. Kugenggam erat tangannya.
“Mas, anak dalam rahimku adalah titipan dari Allah, dan kita harus menjaganya. Aku ridho mempertaruhkan nyawaku demi anak kita. Janganlah kita ragu pada Allah! Allah telah memberikan yang terbaik untuk kita.” Aku kagum pada keteguhanmu, sayang. Aku merasa sangat miskin keimanan jika dibanding denganmu. Kau teguh bagai karang. Kau lembut bagai sutera. Kau tak pernah berprasangka buruk pada Alah. Kau mutiara yang mengindahkan hidupku, meninggikan martabatku.
Sembilan bulan terasa begitu lama. Namun isteriku begitu tegar menghadapinya. Beberapa kali ia harus dirawat di rumah sakit. Sering sekali ia harus berguling menahan kesakitan. Hampir-hampir, ia tak pernah tidur demi mempertahankan bayi dalam kandungannya. Beberapa kali dokter menyarankan untuk melakukan pengguguran karena kondisi rahim isteriku sangat tidak memungkinkan. Bukan hanya keselamatan isteriku yang dikhawatirkan, tapi juga keselamatan bayi yang dikandungnya. Para dokter yang sudah sangat ahli itu, takut jika perjuangan isteriku sia-sia. Tapi itulah isteriku, dia sangat yakin akan pertolongan Allah. Dia hanya percaya pada kekuatan Allah, bukan pada vonis dokter.
“Jika memang ini adalah cara Allah mencintaiku, aku ingin penderitaan yang lebih dari ini. Dan demi Allah, aku akan menjaga titipan Allah ini dengan ketulusan cintaku. Tak ada satu halpun yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah.” Subhanallah! Dia memang wanita pilihan. “Berjuanglah, sayang! Insya Allah aku akan selalu bersamamu.”
Suatu keajaiban terjadi saat usia kandungan isteriku menginjak sembilan bulan tiga hari. Jika saat-saat sebelumnya hari-harinya dipenuhi dengan derita dan sakit-sakitan, tapi sekarang ia tampak bugar dan sangat sehat. Aku sangat bahagia mendapati kondisi isteriku yang membaik.
“Perjuanganmu akan segera usai, sayang,” bisikku di telinganya sebelum ia dibawa masuk ke ruang bersalin. Aku berusaha untuk terlihat tegar. Dia tersenyum sangat manis. Tak pernah kulihat senyum semanis itu sebelumnya. Ia menggenggam erat tanganku. Dan berbisik lembut di telingaku. “Mas, aku sangat mencintaimu.”
Aku menunggu dengan sangat cemas. Aku terus berdoa agar Allah memberikan keselamatan pada isteri dan anakku. Semua keluarga yang ikut menunggu juga mengalami kepanikan sama sepertiku. Kami saling diam. Kami sibuk dengan doa masing-masing.
“Pak, silahkan masuk! Anak anda sudah lahir,” ucap seorang perawat kepadaku. “Allahuakbar!” Suara takbir langsung menggema dari mulut-mulut yang penuh kecemasan. Aku langsung masuk ke dalam ruangan dan diikuti anggota keluarga lainnya. Kulihat bayi mungil di dalam keranjang bayi. Lucu sekali. Ia sangat cantik seperti Ibunya. Aku angkat bayi mungil itu. Dan dengan ragu-ragu kukumandangkan adzan lirih di telinga kanannya, dan iqamat di telinga kirinya. Lalu kuserahkan bayi mungil itu pada neneknya yang sudah tidak sabar untuk menggendongnya.
Kulihat isteriku terbaring lesu. Kukecup keningnya. Ia menggenggam erat tanganku. Ia berusaha untuk bangun dan memeluk tubuhku. Kusambut tubuhnya dengan pelukan erat. “Betapa kuat dirimu, sayang,” batinku.
“Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu,” ucap isteriku.
Lidahku kelu mendengar ucapannya. Aku sangat beruntung dicintai oleh wanita sepertinya. Lidahku tak mampu membalas ucapan cintanya. Hanya dalam hati,”Aku juga mencintaimu, Dik!”
Kudengar sayup suara isteriku. Tidak jelas, tapi kalimat itu tidak asing bagiku. Astagfirlah! Dia mengucap dua kalimat syahadat. Kulepaskan pelukanku. Dan inilah akhir. Ia syahid dengan senyum seindah cahaya bulan. Meneduhkan.
“Ayah, ayo pulang! Dari tadi bengong aja.” Aku kaget bukan main. Puteriku sudah berada di hadapanku. Kutengok kanan-kiri, orang-orang sudah mulai sepi. Kutatap wajah bidadari kecilku. Tak sanggup kubendung air mataku. Kupeluk puteri titisan bidadari ini. Terngiang sepotong kalimat dari isteriku,“Tak ada satu halpun yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah.” Ya, tak sia-sia kau lahirkan permata hati ini. Ia sangat cerdas dan santun,soleha, ceria, cantik, dan senyumnya seperti senyummu, layaknya cahaya bulan, meneduhkan.